
Alexander mulai gelisah. Perasaannya sangat tidak enak. Dalam pikirannya selalu terbayang Alona, istrinya. Meskipun begitu, pikirannya tetap fokus mendengarkan Tuan Albert berbicara mengenai kerjasama pembangunan hotel.
Dalam acara pertemuan terakhir sedang membahas masalah pembagian keuntungan. Tuan Albert sebagai investor menginginkan keuntungan tinggi dengan perbandingan 40% untuknya dan 60% untuk Alexander dengan bunga pinjaman 0.3%. Perjanjian awal kesepakatan 30% berbanding 70% bunga 0.2% dalam jangka waktu 5 tahun.
Alexander bukan orang yang mudah di tipu ataupun berbaik hati pada orang lain. Baginya bisnis tetaplah bisnis. Mendengar Tuan Albert merubah keputusan pembagian keuntungan, Xander mulai terpancing emosi. "Tuan Albert, apa kamu berniat merampokku?" Tanya Xander sedikit kesal.
Tuan Albert tersenyum dingin. "Tuan Alexander, apa aku terlihat ingin merampok mu?" Tanya balik Tuan Albert.
"Aku tidak bisa membaca pikiran seseorang, tapi, dari raut wajahmu aku bisa menilai ada maksud tersembunyi di dalamnya. Untuk hal tersembunyi itu hanya Tuan Albert yang tahu pasti." Sindir Xander lembut, menukik tepat sasaran.
Tuan Albert tertawa. "Tuan Alexander terlalu berlebihan. Aku tidak ada maksud di dalamnya. Lagipula Tuan Alexander pemain baru. Aku perlu menjaga keamanan uangku." Pungkasnya.
"Pilihan terakhir, terserah pada Tuan ingin setuju atau tidak. Aku akan memberikan 35% keuntungan, dan bila perusahaan mengalami rugi maka Tuan hanya perlu menanggung 30%" Kata Xander tegas.
Meskipun persentase hanya naik 5%, tapi itu setara dengan 2 milyar rupiah pertahun, tentu sangat menguntungkan. Dengan uang 2 milyar sudah bisa membeli apapun di seluruh dunia bahkan bisa membuat satu perusahaan kecil.
Alexander lebih memilih kehilangan 5%. Dia lebih memilih Alona. Dia sangat yakin pasti sesuatu sedang terjadi di rumahnya. Alexander memiliki felling yang sangat bagus, dan, tidak pernah salah.
"Cukup menarik!" Jawab Tuan Albert sambil menopangkan dagu dengan tangan di sandaran sofa. "Beritahukan sekertaris Tuan Alexander untuk mengganti kontrak kerjasamanya sekarang." Ucapnya pasti.
Alexander menjulurkan tangannya ke arah Tuan Albert. "Maaf aku tidak bisa berlama-lama. Ada seseorang yang sedang menungguku. Sekretaris Rudy akan memperbaiki semuanya. Tuan Albert bisa tanda tangan terlebih dahulu, dan, aku akan kembali membawa langsung surat perjanjiannya ke kantor anda di kota D." Ucap Xander tidak sabar menunggu, namun masih dengan sikap tenang.
"Alona sayang..., aku akan kembali. Apa yang terjadi padamu? perasaanku bisa tidak enak seperti ini?" Ucapnya dalam hati sambil menyalakan ponselnya.
*****
Sisi lain di Villa bukit Merindu.
Dokter Risma memegang dadanya saat tiba di depan pintu gerbang Villa bukit Merindu. Dokter Risma terlambat akibat ban mobilnya bocor. Beruntung ada bengkel di sekitar lokasi kejadian. Sehingga ia hanya terlambat 10 menit saja.
Mobil dokter Risma melaju begitu saja memasuki Villa tanpa ada security check sebelum masuk. Dokter Risma menoleh ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang bisa ia tanya. Dokter Risma sedikit binggung memikirkan sesuatu. "Kenapa Villa sebesar ini tidak ada penjaganya di depan gerbang. Apa keluarga ini sangat pemberani?" Tanya dokter Risma dalam hati. "Mungkin saja begitu. Atau bisa jadi mereka hanya mengawasi melalui CCTV di ruang keamanan khusus." Imbuhnya.
Ketika sampai di pintu utama rumah, Dokter Risma mengalami kejanggalan untuk kedua kalinya. Pintu rumah mengangah lebar. Bulu kuduk Dokter Risma merinding karena ketakutan menjalar perlahan ke seluruh tubuhnya. Namun, ia semakin penasaran apa sebenarnya yang sedang terjadi di dalam rumah milik Tuan barunya. "Apakah ada yang merampok rumah di dalam. Tidak, tidak, tidak mungkin. Aku harus memastikannya terlebih dahulu. Mungkin saja mereka sengaja membiarkan pintu terbuka agar aku bisa langsung masuk ke dalam." Ucapnya menenangkan pikiran kalutnya sendiri.
Dokter Risma memberanikan diri melangkahkan kakinya memasuki rumah mewah itu. Dia tetap mengetuk pintu terlebih dahulu walaupun pintu sudah terbuka. Akan tetapi, setelah satu menit mengetuk pintu tidak ada jawaban. Akhirnya dokter Risma masuk dan mendapati seorang wanita paruh baya tergeletak tidur di atas sofa. Dalam ruangan itu tercium wangi menyengat. Dokter Risma sudah berpengalamanm. Dia sudah tahu bahwa wangi itu ialah wangi aromaterapi bius yang bisa mengakibatkan seseorang tertidur sangat lelap. Segera, Dokter Risma menutup hidungnya dan mencari sumber wangi aromaterapi itu.
Ketika ia berjalan kakinya menabrak bongkahan seperti kristal. Wangi itu kian menyengat dan hampir melumpuhkan kesadaran dokter Risma. Kadar bius dari wangi aromaterapi bola kristal itu sangat tinggi. Sehingga obat biusnya dapat bekerja kurang dari 5 menit saja.
Dokter Risma memunggut bongkahan itu dengan sarung tangan dari dalam tasnya untuk menghindari kontaminasi tidak terduga. Bongkahan kristal itu ia lemparkan ke luar rumah. Segera setelah itu, Dokter Risma mengoyangkan badan Bibi Ani yang terkena biusan dari wangi aromaterapi. Dokter Risma mengeluarkan alat bantu untuk menyadarkan seseorang yang tertidur karena obat bius. "Bibi bangun, Bi bangun." Kata dokter Risma mulai cemas.
__ADS_1
Bibi Ani mengerakan badannya dan memijat kepalanya yang terasa pusing. Melihat itu, dokter Risma menarik napas lega. "Syukurlah...," Ucapnya. "Bibi akhirnya bangun. Bibi aku dokter Risma. Apa yang terjadi di rumah ini? aku sudah menemukan Bibi tidak sadarkan diri di atas sofa saat sampai. Di mana Nyonya Alona?" Tanyanya kembali cemas.
Bibi Ani segera bangkit berdiri. "Tidak!" Bibi Ani menggelengkan kepalanya. "Nyonya Alona dalam bahaya." Jawabannya dalam hati sambil mengulang kejadian sebelum ia tertidur. Kemudian Bibi Ani menanyakan semua berkas-berkas dokter Risma di hadapannya. Ia ingin memastikan secara detail, demi menghindari tertipu untuk kedua kalinya.
"Apa kamu dokter Risma, asli?!" Cecar Bi Ani.
"Ya Bibi. Aku dokter Risma asli."
"Kalau begitu Nyonya Alona sedang dalam bahaya. Telepon Tuan Xander sekarang! untuk membantu kita." Perintah Bi Ani pada dokter Risma.
*****
Lantai dua kamar Alona.
Seorang wanita bersuarakan setengah wanita setengah pria berdiri di hadapan Alona. Melihat itu Alona melongo tidak percaya. Siapa orang di depannya ini? Tapi, sekarang suara orang di depannya berubah menjadi seorang pria tertawa menatap Alona. "Coba tebak siapa aku?" Tanyanya dengan tersenyum.
"Aku tidak tahu siapa Kau. Apa yang Kau inginkan?!" Teriak Alona sambil berjalan ke arah pintu ke luar kamar.
Wanita setengah pria kembali tertawa. "Hahaha, Kau tidak akan bisa kabur Alona Sayang." Pintu itu sudah aku kunci dari dalam. Dan, kuncinya ada di tanganku." Ucapnya sambil memperlihatkan kunci kamar.
"Pergilah Kau! Aku tidak ada urusan denganmu." Kata Alona sambil melemparkan barang ke arah pria setengah wanita setengah pria itu.
Pria itu berjalan ke arah Alona. "Jangan mendekat." Kata Alona mengingatkan sambil mengacungkan tangan ke ara Alvaro.
Wajah Alona sudah ketakutan. Bibirnya gemetar dan giginya saling beradu bertabrakan.
"Sayang bagaimana kabar bayiku di dalam perutmu?" Tanya Alvaro sambil berjalan pelan ke arah Alona.
"Bayiku baik-baik saja." Jawab Alona. " Tolong pergi dari sini. Aku sudah menikah." Imbuhnya.
Alvaro tertawa terbahak-bahak. "Kau sangat berani menikah dengan bayiku masih di dalam perutmu Alona?!" Teriaknya.
"Keluar Alvaro!" Perintah Alona.
"Aku akan keluar bersamamu dan bayiku." Jawabnya.
"Tidak akan! lagipula bayi di dalam perutku belum jelas benar anakmu atau bukan." Jawab Alona memprovokasi.
"Kamu ingin memastikannya, kan, Alona? mari kita ke rumah sakit." Tantang Alvaro.
__ADS_1
Dari luar kamar terdengar suara pintu di putar. Bibi Ani dan dokter Risma mencoba membuka pintu kamar Alona. "Nyonya Alona ini Bibi. Buka pintunya Nyonya."
"Bibi tolong buka pintunya. Aku tidak bisa keluar!" Teriak Alona dari dalam.
"Nyonya bertahanlah, Bibi akan menyelamatkan Nyonya. Tetap tenang di dalam."
Alvaro semakin mendekat ke arah Alona hingga badan Alona terhimpit di dinding. "Sayang, kenapa kamu meninggalkan aku di hari pertunangan kita demi pria itu?" Tanya Alvaro sambil memegang dagu Alona.
"Kau sudah gila Alvaro. Kita sudah tidak punya hubungan apapun. Tapi, kau tetap memaksaku."
"Ya. Aku memang sudah gila karena ulahmu Alona! apa kelebihan pria itu di banding aku? kekayaannya? ketampanannya? aku memiliki semuanya Alona." Teriak Alvaro di depan wajah Alona.
Alona menggelengkan kepalanya. "Bukan seperti itu Varo. Kau pria tampan, kaya dan mapan carilah wanita yang lebih baik dari aku. Aku tidak pantas untukmu Alvaro!" Sanggah Alona.
"Oh! benar dugaan ku. Kau menyukainya karena kemampuan di ranjangnya. Apa seperti itu Sayang? aku bisa memberikannya padamu! mari kita lakukan di kamarmu bersama suami mu Alona." Teriak Alvaro.
"Alvaro. Jangan bodoh! aku sudah menikah!" Alona kembali mengingatkan.
"Aku semakin tertarik karena kau sudah menikah. Bukankah dulu kau melakukan bersama pria itu pada saat kita sedang menjalin asmara. Kau kekasihku pada saat itu Alona?!"
"Alvaro jangan..." Ucap Alona dengan tangisan membasahi pipinya.. "Bibi selamatkan aku." Teriak Alona meminta tolong pada Bi Ani di luar kamar.
"Percuma! Alona! mereka tidak akan bisa membantumu. Rumah ini sudah di kepung oleh orangku. Dan, pintu itu sudah aku letakkan alaram. Ketika alaram itu berbunyi mereka akan keluar menyerang rumah ini."
Badan Alona mendadak menjadi lemas. "Bagaimana ia harus bertahan? bagaimana suaminya jika mengetahui semua ini? akankah suaminya memaafkannya?"
Alona hampir terjatuh ke lantai, tidak kuat menerima kenyataan bahwa ia harus menghadapi semua ini. "Alona, bangkit! kuatkan dirimu. Suamimu pasti datang!" Ucap Alona dalam hati menenangkan pikirannya.
Alvaro dengan mata berapi-api langsung menarik badan Alona dan menggendongnya. Kemudian ia meletakkan Alona di atas kasur. "Sayang..., kita lihat setelah ini, apakah suamimu akan menerimamu dalam keadaan seperti ini?" Tanya Alvaro sambil mengunci Alona di bawah dekapannya di atas kasur.
Alona menggelengkan kepalanya. "Varo maafkan aku. Dia tidak bersalah..., Jangan lakukan hal ini padaku. Aku bisa melakukan apapun untukmu asal jangan lakukan ini padaku. Aku mohon...." Isak Alona menaggis memohon.
Alvaro tersenyum menyeringgai. Dalam hatinya dia berpikir; pada saat Alona melakukan hal tersebut pada lelaki itu membuat pikirannya semakin gila.
Alvaro memegang kedua tangan Alona dan menekannya di atas kepala Alona. Alvaro bersiap-siap mencium bibir Alona dan akan memakan wanita itu setelahnya.
Sementara Alona memejamkan matanya menahan sakit di tenggorokan akibat berteriak.
Ruangan berubah menjadi hening. Hanya hembusan nafas yang terdengar. Detik, menit, berlalu terasa seperti pedang tajam yang menghunus tepat di jantung Alona.
__ADS_1
"Tolong aku!" Jerit Alona dalam hati dengan berlinang air mata di pipinya. "Suamiku..., tolong aku! aku membutuhkan pertolonganmu saat ini." Rintihnya lagi.