
Alan duduk termangu menatap ke luar jendela. Pandangan matanya tertuju ke arah langit malam, memandang bulan dan bintang yang sedang bersaing memancarkan kilauan cahayanya.
Sementara jangkrik dari luar kamar terdengar mengeluarkan suara nyaring penuh irama dan melodi indah. Suaranya seakan menjadi teman setia bagi Alan pada malam itu.
Kini, suara nyaring jangkrik perlahan mulai menghilang menyisakan malam yang sunyi. Jangkrik pun tahu bahwa Alan sedang ingin sendirian. Sungguh jangkrik itu seorang teman yang sangat pengertian...
Di tengah keheningan malam, dalam lamunan yang tidak jelas, Alan tersenyum dan tertawa getir. Ia mentertawakan dirinya sendiri. Nasib keluarganya hancur gara-gara seorang wanita licik!
Memang salah ayahnya tidak menuntaskan kisah cinta yang rumit. Cinta segitiga antara Diana, ibunya dan ayahnya yang membawa malapetaka. "Diana Maringka! Kau manusia terkutuk! berani sekali Kau menghabisi keluarga ku yang harmonis. Aku akan menyiapkan siasat untuk melawanmu, mulai saat ini! Kecelakaan itu, Kau sudah merencanakannya sejak dulu. Aku akan menyeret mu ke dalam penjara. Dan, membiarkan mu membusuk di dalamnya."
Aku tahu Kau memanfaatkan kelemahan ku. Adikku menjalan kasih dengan anakmu. Dengan itu, Kau semakin menjadi leluasa menginjak martabat keluarga ku.
Alona, adikku yang malang... Kau selalu mudah di bodohi oleh seseorang. Kau sangat polos. Aku sudah mengingatkan mu berulang kali untuk tidak berpacaran dengan Alvaro. Aku sudah melarangmu. Tapi, apa dayaku.... Aku tidak akan tega memarahimu bahkan membentakmu saja aku tidak bisa."
Alan menarik nafas beratnya, kemudian tenggelam dalam pikirannya. "Kakak sangat senang Alona..., Kamu pada akhirnya tidak jadi menikah dengan Alvaro, anak dari wanita ular itu! aku sungguh tidak bisa menerima kenyataan bila Kau bersamanya. Sebetulnya kakak juga masih ragu dengan suamimu saat ini. Aku takut dia hanya mempermainkan mu saja. Semoga dugaanku salah! dan, menjadi awal yang baik untuk menghapuskan kesalah pahaman antara keluarga kita dan keluarga Utama."
Alan menjambak rambutnya cukup kuat untuk menghilangkan rasa pening di kepalanya. Andai saja tidak terjadi kesalahpahaman antara keluarga Raharja dan Utama. Tentu dia sudah berhasil menghabisi Diana.
Mengingat kejadian itu Alan mengusap wajahnya. "Apa yang harus aku lakukan untuk memecahkan masalah perselisihan dan kesalah pahaman itu. Aku sudah hampir menghabiskan seluruh waktu ku untuk mencari bukti kongkrit. Namun, kenyataan sangat pahit! Aku belum menemukan apapun. Aku berpikir pasti ada orang dalam yang bermain atas tragedi tersebut. Tapi, untuk apa? Siapa yang mereka incar dari kasus tersebut? Mungkin aku bisa mulai dari siapa orang yang paling banyak mendapatkan keuntungan dari peristiwa itu?!"
Alan tersentak kaget setelah pikirannya berkeliaran. "Tidak salah lagi dugaanku pasti benar. Kejadian lima tahun lalu pasti ada hubungannya dengan kasus kematian ayah dan ibuku." Gumam Alan dalam hati.
Alan menarik nafas dan mengeluarkannya secara perlahan. "Masalah itu, aku akan menyelesaikannya setelah kasus wanita ular itu selesai." Kata Alan sambil tersenyum malas dan menundukkan kepalanya.
Alan kembali teringat tentang kejadian waktu itu. Hari penuh darah, drama, dan dendam membara.
Hari itu, di Green Garden House.
Alexander datang dengan 10 pasukan kuda hitam-nya. Alat pendeteksi wajah untuk masuk ke rumah sudah ia retas sebelumnya.
Alexander masuk ke dalam rumah bebas hambatan, tanpa perlu berlama-lama
menunggu.
"Alan!" Teriak Alexander. "Keluar Kau dari ruangan mu."
Alan kebingungan mendengar suara orang berteriak memanggil namanya di lantai bawah. Dia hanya sendirian waktu itu. "Jadi, siapa orang yang memanggilnya."Tanyanya keheranan.
Alan lantas keluar dari ruangan kerjanya untuk memastikan siapa pria yang memanggilnya.
__ADS_1
Alan terkejut saat mendapati Alexander sudah berdiri tegak di dalam rumahnya di lantai satu. "Alexander?!" Kata Alan tidak menyangka saat mengetahui bahwa yang datang Alexander adik dari mantan kekasihnya, Michelle.
"Alan.... Aku ingin menuntut pembalasan atas kematian ayah, ibu dan Kakakku." Ucap Xander pasti.
Kaki Alan terhenti saat menuruni anak tangga. "Alexander, apa maksudmu? aku tidak mengerti?!"
"Tidak usah berpura-pura bodoh! Perusahaan ayahmu sudah memfitnah ayahku melakukan kecurangan dalam pengobatan di rumah sakit. Ibuku mati gantung diri karena ayahku meninggal akibat hukuman itu. Dan, Kakak ku, Kau telah berani menodainya."
"Alexander, jangan bertindak bodoh! Perusahaan ayahku juga sudah di fitnah. Perusahaan ayah ku tidak pernah melakukan itu. Ibumu bunuh diri juga bukan salahku. Terutama kakakmu, aku tidak punya hubungan apapun dengannya. Kami hanya sebatas teman. Apa yang aku lakukan hingga bisa membuat kakak mu mati?"
Alexander tertawa seperti iblis. Tawanya sangat nyaring terdengar seperti suara genderang perang. "Hahahaha, apa Kau pikir aku buta, Alan?! jelas-jelas waktu itu Kau datang ke rumah ku , menodai kakakku secara paksa.
"Alexander, aku katakan padamu. Aku tidak pernah melakukan kejahatan yang keji seperti itu pada kakakmu. Kami memang memiliki hubungan, tapi, kami sudah putus dari jauh hari. Apa ada buktinya bahwa aku yang datang ke sana?" Tanya Alan.
"Alan! aku tidak menyangka Kau manusia berkepala ular!"
Alexander pada masa itu, sangat emosional. Bahkan seekor lalat saja hinggap di badannya akan terbakar oleh panas tubuhnya.
Alexander benar-benar merasa di permainkan takdir. Dia ingin keadilan atas kematian ayahnya. Namun, apa yang dia dapatkan saat tiba, dia malah menerima sebuah lelucon dari Alan yang menyangkal semua perbuatannya.
Alexander menjadi lebih emosi dan marah. Ia hanya butuh pengakuan bersalah. Dia tidak berniat membunuh seseorang. Dia hanya ingin keadilan untuk ayah, ibu, dan kakaknya.
"Alexander aku katakan padamu sekali lagi. Aku tidak pernah datang ke rumah mu. Dan, foto itu bukan aku." Sangkal Alan sangat yakin bahwa bukan dirinya di dalam foto.
Alan sungguh terkejut melihat foto mirip dirinya mencium bibir Michelle. Dia bahkan belum pernah berciuman secara intim seperti yang ada di dalam foto. Selama mereka berkencan, mereka hanya bergandengan tangan dan mencium pipi saat bertemu.
Alexander melambaikan tangan ke arah pengawalnya. Tangan Xander menengadah keatas meminta pistolnya. Seorang pria berbadan kekar dan memakai kacamata hitam menyerahkan sepucuk pistol ke tangan Xander. "Seret dia ke bawah." Perintah Xander pada anak buahnya untuk menyeret Alan menuruni anak tangga.
Alan di seret secara paksa menuruni anak tangga. Dua pengawal Alexander berdiri di samping Alan bertugas memegang tangannya. "Alan pistol ini yang akan membuatmu bicara." Kata Xander sambil mempermainkan pistol di tangannya.
Alexander memicingkan matanya menatap kaki Alan. Dia hanya menargetkan pinggiran kakinya untuk mengertak pengakuan Alan.
Dor!
Tembakan pertama lepas di pinggiran kaki bagian sebelah kanan. Alan meringis menahan sakit. Meskipun peluru tidak menembus kakinya, itu cukup sakit seperti tersayat pedang tajam. "Alexander..., hentikan semua ini! Kita bisa bekerja sama menggali siapa dalang di balik semua kejahatan yang menimpa ayahmu. Aku sedang menyelidiki kasus kematian ayah dan ibuku. Aku sangat yakin bahwa peristiwa yang menimpa ayahmu pasti ada sangkut pautnya dalam kecelakaan ayah dan ibuku."
"Hahaha! apa aku anak kecil yang bisa Kau bodohi Alan?! perusahaan ayahmu lah yang mengakibatkan semua itu. Bahkan pihak perusahaan ayahmu selalu memojokkan ayahku di dalam persidangan. Dan, penanggung jawab kontrak itu adalah Kau sendiri Alan. Kau bahkan tidak menampakkan batang hidungmu selama setengah tahun saat kasus ayahku sedang bergulir. Di mana Kau waktu itu?" Teriak Alexander semakin marah.
Alan diam tidak bisa berbicara... Dia mengalami kesulitan untuk memulai mengutarakan penjelasannya. Lidahnya terasa kelu. Bagaimanapun memang dia harus bertanggung jawab atas kasus itu. Dia tidak tahu bahwa ayahnya melindunginya saat kejadian sedang berlangsung.
__ADS_1
"Kau bahkan tidak bisa menjawab. itu artinya kau memang bersalah!" Sergap Xander menghakimi.
Dor!
Satu tembakan lagi kembali di lepaskan ke pinggiran kaki sebelah kiri Alan.
"Mengaku atau aku akan membunuhmu!" Teriak Alexander.
"Alexander sudah ku katakan padamu. Aku tidak pernah menyentuh kakakmu. Dan, masalah aku yang menjadi penanggung jawab kontrak itu memang benar. Tapi, aku tidak pernah melakukan kecurangan seperti itu. Penanggung jawab utama adalah pamanku, bukan aku. Aku hanya belajar di sana. Aku juga tidak mengetahui bagaimana obat itu bisa masuk ke rumah sakit dalam keadaan seperti itu."
"Aku beri satu kesempatan lagi untukmu mengakui semuanya Alan!"
"Alexander aku juga mempunyai adik perempuan. Mana mungkin aku melakukan hal tercela seperti itu pada kakakmu. Masalah ayahmu aku akan bertanggung jawab. Aku akan membuat laporan keterangan ke kantor polisi bahwa aku juga terlibat dalam proyek itu." Jelas Alan meyakinkan.
Alexander menembakkan peluru sisanya ke arah dinding, menembak vas bunga, "Lihatlah vas bunag itu Alan! tubuhmu akan hancur seperti itu!" Ucap Xander dengan tatapan penuh kebencian. Alexander kembali melambaikan tangannya ke arah pengawalnya. "Ganti pistol!" Teriak Alexander.
"Alexander..., Kau akan menyesal suatu saat nanti. Aku harap Kau puas dengan membunhku! Semoga setelah ini, hati dan matamu bisa terbuka, bisa melihat mana yang benar mana yang dusta."
"Pengawal lepaskan dia aku akan menembaknya!" Teriak Alexander.
"Alan hanya tersenyum. "Tembak aku Alexander! jika itu membuatmu senang. Tapi, Kau harus ingat jangan pernah menyentuh adikku sedikit pun. Aku tidak akan tinggal diam." Teriaknya.
Alan tersadar dari lamunannya saat mendengar suara rusuh dari kamar di sampingnya. "Oh! tuhan... tidak bisakah mereka bermain cantik sedikit saja." Gumam Alan saat mendengar suara pertengkaran malam hari adiknya di atas ranjang.
Suara ranjang berderit sangat kencang membuat telinga Alan menderita. Ia mengambil bantal dan menutup kedua telinganya. Suara teriakan Alona semakin kencang. Ingin rasanya Alan menyalakan petasan lalu ia ledakkan di kamar sebelahnya.
"Alexander..., bisa pelan sedikit tidak?! kakiku sakit." Teriak Alona. "Dan, tanganmu itu, tolong singkirkan dari dadaku. Aku tidak bisa bernafas."
"Sayang, pelankan suaramu. Semua orang akan bangun jika kamu berteriak seperti ini." Kata Xander sambil mengertakan giginya.
"Biar saja...." Jawab Alona acuh.
"Alona, mereka akan mengangapku menyiksamu kalau suaramu kencang seperti itu."
"Memang!" Jawab Alona lagi.
"Baiklah kalau begitu berteriak histeris lah." Jawab Xander. "Mereka juga pasti ingin mendengar pertengkaran ini."
Baru jam 3 pagi Alan bisa tertidur nyenyak menunggu suara lenyap dari pendengarnya. "Tidak ku sangka mereka sangat memalukan. Sangat amatir!" Gumam Alan sebelum memejamkan matanya.
__ADS_1