
Alona!
Alona!
Alona!
Xander memanggil nama Wanita itu dengan sangat lantang. Ia berteriak ke arah lautan lepas.
Alona menolehkan kepalanya dan menatap penuh keheranan pada pria itu. "Kenapa Kau meneriakan namaku!?" Alona bertanya pada Xander.
Pria itu tersenyum dengan sejuta makna di dalamnya. Kedua tangannya ia masukan ke saku celananya. "Tidak ada. Mungkin suatu saat nanti kita akan kesini lagi dan Kau akan mengingat bahwa aku pernah memanggil nama mu."
"Se-sederhana itu!?" Alona menjawab sedikit ragu.
"Alona, terkadang hal sederhanalah yang akan membuat kita selalu ingat akan sesuatu." Jawab Xander meyakinkan wanita itu.
"...." Alona hanya tersenyum mendengar pernyataan Xander.
Manajer restoran telah mengirimkan sebuah notifikasi bahwa pesanan telah tersedia dan mengisyaratkan bahwa mereka harus kembali ke restoran untuk menikmati makanan yang telah di sajikan.
Xander dan Alona pergi menuju restoran. Mereka saling bergandengan tangan, mengobrol dan tertawa saat menuju restoran, "Cat&Dog." Mereka terlihat akrab seperti telah mengenal satu sama lain untuk waktu yang cukup lama.
Xander bukan pria romantis tapi ia mengetahui segala sesuatu tentang Alona, bahkan pengetahuannya melebihi kekasih asli wanita itu. Tentu saja ia mengetahui apa yang disukai dan tidak di sukai wanita itu. Diam-diam ia memesan se-ikat bunga mawar merah untuk wanita itu. Xander memberikan se-ikat bunga itu kepada Alona, ia seperti kekasih yang sangat penyayang dan perhatian.
"Bagaimana Kau tahu, bahwa aku menyukai bunga Mawar?" Tanya Alona saat Xander memberinya se-ikat bunga mawar merah. Wanita itu mencium wangi bunga itu, ia terlihat sangat menikmatinya.
Senyum merekah mengembang di wajah bening wanita itu. Perhatian Xander padanya membuat Alona sedikit canggung. Sikap Wanita itu seperti seorang wanita pertama kali bertemu saat kencan pertama dengan seorang pria.
"Ketika seorang pria memutuskan berkencan dengan seorang wanita, tentu ia harus mencari sesuatu yang dapat memikat hatinya, bukan?" Xander memberi jawaban yang terlihat sedikit ambigu.
Wanita itu tersenyum dan tersipu malu. Hatinya seakan-akan ingin meledak akibat gelombang kebahagiaan yang terus menerpa hati terdalamnya.
Melihat Alona tersipu malu, Xander memberanikan diri untuk bertanya lebih mendalam tentang kehidupan pribadi wanita itu. "Apakah kekasihmu tidak pernah memberikan se-ikat bunga?"
Alona menggelengkan kepalanya. "Tidak pernah sama sekali, ia hanya memberikanku barang mewah seperti mobil, cincin berlian, kalung, tas, gaun." Alona menyebutkan satu persatu pemberian Alvaro untuknya. "Mungkin, ia menganggap ku wanita materialistis atau terlalu memanjakan ku hingga ia lupa memberikan ku se-ikat bunga, seperti yang Kau lakukan." Alona tersenyum, sedikit bercanda pada Xander.
Xander tersenyum senang, karena selalu dia pria pertama untuk gadis itu. "Oh!, jadi ini yang pertama untukmu."
"Iya. Sepertinya begitu." Senyuman demi senyuman terus merekah di wajah gadis itu, senyumnya sangat indah seperti bunga sakura sedang mekar di musim semi.
Mengobrol dan makan selama tiga jam waktu yang cukup lama, tapi, belum ada tanda-tanda mereka akan beranjak dari meja tersebut. Meskipun meja tempat makan itu bukan ruangan khusus, tapi masih terhitung meja VIP dan harus membayar sewa sekitar 2 juta perjam menikmati makanan dengan melihat pemandangn indah.
Saat itu matahari mulai beranjak naik ke tengah permukaan langit. Awan berwarna putih dan biru dengan setia menemani matahari menyinari bumi. Alona dan Xander mengakhiri sarapan paginya. Perut mereka sudah terasa kenyang. Setelah sarapan pagi yang menyenangkan, mereka memutuskan untuk berkeliling melihat-lihat pemandangan indah dekat hotel itu.
Jam menunjukkan pukul 11.00, saat Xander mengajak Alona pergi berenang. Pria itu sudah berkeringat selepas berkeliling melihat keindahan danau di sebelah utara hotel. Ia merasa tidak nyamanan jika berkeringat terlalu lama.
__ADS_1
"Kau ingin ikut denganku?," Xander bertanya pada Wanita itu.
"Kemana?" Alona menjawab penuh minat ajakan Xander.
"Berenang! Aku ingin mengajakmu berenag di sana." Xander menunjukkan sebuh bangunan pada Alona.
"Kelihatannya menarik.Tapi, aku tidak bisa berenang," jawab Alona menyayangkan ketidak mampuannya.
"Tidak masalah. Aku akan mengajarimu, jika Kau tidak keberatan."
"Sepertinya, akan sulit untukku. Aku memiliki phobia berenang di kolam"
"Kau cukup menemaniku saja!" Xander menyarankan dengan penuh harap.
"Baiklah!" Alona menyerah dan mengikuti permintaan pria itu.
Saat sampai di kolam renang, Alona duduk dan merebahkan badannya di kursi panjang tepi kolam.
Xander menuju kamar ganti. Kolam itu kolam pribadi jadi tidak ada satupun orang yang akan melihat mereka. Xander mencelupkan kedua kakinya terlebih dahulu sebelum berenang.
Bukan Xander namanya. Jikalau ia tidak memiliki sejuta ide gilanya.
Pria itu sudah memasukkan seluruh badannya kedalam kolam dan melambaikan tangannya ke arah wanita itu. "Alona kemarilah," seru Xander memanggil Alona. Wanita itu mengelengkan kepala menolak ajakan Xander.
"Sebentar saja, aku butuh bantuan mu Alona. Rasanya ada sesuatu yang mengigit punggung ku." Pria itu menunujkan wajah penuh keseriusan.
Pria itu langsung menyeret Alona masuk ke kolam bersamanya saat wanita itu tengah memeriksa punggungnya. Alona menjerit ketakutan, wanita itu membayangkan kejadian saat ia masih kecil. Ia hampir mati tenggelam di Kolam renang belakang rumahnya akibat terpeleset saat mengambil bola yang terjatuh ke dalam kolam. Bayangan itu akan terus menghampiri ketika ia berada di dalam kolam penuh air.
"Xander!" Teriak Alona memanggil Alexander.
Alona meraih leher Xander, ia memeluknya dengan sangat erat. Tubuh wanita itu bergetar. Bibirnya berubah menjadi ungu kebiruan. Matanya terpejam, kepalanya berkunang-kunang.
Hal seperti itulah yang diinginkan pria itu. Memeluk Alona tanpa ia memintanya pada wanita itu.
"Alona, buka matamu sayang! Kau tidak akan tenggelam ada aku disini." Xander meyakinkan wanita itu.
Alona menggelengkan kepalanya. "Xander aku ingin naik ke atas," Alona memohon pada pria itu. Tubuh wanita itu sudah lemas dan kaku seperti batu, Ia akan tenggelam jika di biarkan mengambang di air.
"Aku ada disini. Jangan takut!" Xander memeluk dan menenangkan Alona.
"Tidak!, Aku seperti akan mati, jika aku berada di sini Xander. Aku sudah pernah berusaha menghilangkan trauma ku. Tapi, tidak pernah berhasil."
Alona menanggis, suaranya tersendat-sendat, detik berikutnya pegangan nya melonggar pada leher Xander. Wanita itu sudah hilang kesadarannya.
"Alona!" Alexander berteriak memang nama Alona untuk menyadarkannya.
__ADS_1
"Dokter!" Pria itu memanggil dokter yang sedang bertugas di kawasan wisata itu.
Seorang pria tampan memakai jas berwarna putih berlari ke arah sumber suara. Pria tampan itu dengan sigap mengulurkan tangannya untuk membantu Alona.
Juluran tangan pria itu langsung di tepis oleh Xander. "Jangn sentuh dia!" Xander memperingatkan dokter tampan itu.
"Tuan tolong bekerjasamalah jika kau ingin kami memeriksanya."
"Tidak!," Xander menjawab penuh keyakinan. Panggilkan saja dokter wanita.
Sikap egois pria itu sangat tinggi. Ia tidak mau jika Alona di sentuh pria lain.
"Maaf...Tuan. Tim kami tidak ada wanita, semuanya laki-laki."
Kalau begitu menjauhlah! Aku tidak butuh kalian.
Dokter tampan itu membujuk Xander dan mencoba meyakinkannya. "Tuan tolong hargai kami. Kami akan disalahkan jika terjadi sesuatu dengan wanita itu."
Xander menjawab acuh tak acuh, pria itu bahkan terkesan sombong dan meremehkan. "Itu urusanmu! Tidak ada sangkut-pautnya dengan ku"
Dokter tampan itu sangat terkenal bersahabat dengan semua sikap pasien maupun keluarga pasien. Jadi ia menyarankan sebuah solusi pada Xander. "Baiklah, aku tidak akan menyentuhnya sedikitpun. Hanya kau yang akan menyentuhnya, aku akan menginstruksikan langkah-langkah pemeriksaan kepada mu."
Xander menganggukan kepalanya tanda ia setuju pada saran dokter itu.
*****
Air keringat membashi baju tidur berwarna merah di tubuh wanita yang tengah terbaring di atas kasur. Wanita itu bermimpi buruk untuk kesekian kalinya. Ia berulangkali terbangun dan tertidur lagi.
Xander membaringkan tubuhnya di samping wanita itu. Ia terus mengawasi Alona.
Salah satu pilihan terbaik saat ini membawa wanita itu pulang ke kota.
Perjalanan pulang diperkirakan akan memakan waktu cukup lama. Jalanan terlihat padat, akibat pelonjakan pengunjung ke tempat wisata dekat gunung.
Xander meraih kepala Alona dan memegang keningnya. Pria itu mengernyitkan alisnya saat merasakan panas di kening wanita itu. Alona mengigil kedinginan. Perasaan pria itu sedikit cemas. Xander memutuskan memarkir mobil di pinggir jalan. Tangan pria itu mengambil sekotak obat yang telah di resepkan oleh seorang dokter di kolam renang itu. Ia membaca aturan pakai dan segera mengeluarkan 3 tablet berukuran besar.
Xander mengoyangkan tubuh Alona yang sedang tertidur lelap. Wanita itu tidak bergerak, mata indahnya masih terpejam, mulutnya tertutup sangat rapat, bibir tipisnya kering dan pucat. Pria itu berusaha membangunkan Alona untuk meminum obatnya. Tapi, tidak ada tanda-tanda Wanita itu akan bangun apalagi membuka mulutnya walau hanya sedikit.
Gerakan Xander sangat lembut memegang leher wanita itu. Ia mencium, melumat dan sedikit menggigit bibir Alona. Alona membuka mulutnya karena sulit untuk bernafas. Pria itu menenangkan Alona. Segera setelah itu ia memasukkan 3 tablet sekaligus ke mulut Alona dan memberinya minum.
Alona terbangun, matanya terlihat berwarna merah dan sedikit ber-air.
"Tidurlah..." Xander mengusap kepala wanita itu.
"Aku akan menjagamu." Katanya dengan suara lembut dan penuh perhatian.
__ADS_1
Alona, "...."