Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Aku belum puas! mendapatkanmu Sayang


__ADS_3

Selamat malam semuanya, Aku Dion pembawa acara malam ini. Semoga kalian bersenang-senang di acara pernikahan sahabat kita Niko dan Yura. Semoga pernikahan mereka utuh sampai maut memisahkannya.


"Plok..., plok..., plok...." Terdengar tepuk tangan dari tamu undangan.


"Baiklah tiba saatnya di acara puncak, menari bersama pasangan anda. Aku harap kalian semua menikmati setiap iringan musik yang kami sajikan. Terima kasih."


Jantung Alona memompa lebih cepat, keringat di telapak tangannya sudah terasa mengalir. "Aku tidak bisa menari dengan seseorang yang selalu menindasku." Ucapnya dalam hati.


Mata Alona terpejam membayangkan bahwa ia begitu bodohnya mengikuti semua perintah pria itu.


Suara lembut dan halus membangunkannya dari lamunan panjang.


"Nona Alona, tolong bekerjasamalah jika Kau masih menginginkan kekasihmu!"


"Maksudmu?" Alona bertanya pada Xander.


"Aku akan mengatakan pada kekasihmu, jika Kau dan aku sudah melakukan segalanya. Jadi jangan sekali-kali mencoba mengacau! Aku juga tidak ingin menari bersamamu jika tidak terpaksa, ini hanya demi sahabatku."


"Ingat!" Kata Xander memberikan peringatan kepada Alona.


"Xander aku harap setelah ini Kau mengizinkan ku membawa kakakku pulang, dan berhentilah mengganggu kehidupanku."


"Mimpi!" Xander menjawab tepat di telingga gadis itu.


"Xander Kau sudah berjanji untuk melepaskannya!" Alona menyangkal.


"Tidak! Aku bukan pria baik, jadi aku berubah pikiran." Jawab Alexander lantang.


"Aku belum puas!, mendapatkanmu sayang," gumam Alexander sedikit kencang namun terdengar samar-samar.


"...." Apa maksudnya dia belum puas? apa dia ingin membunuhku atau kakakku juga?


Suara alunan musik suduh terdengar, semua pasangan telah turun di lantai dansa, tidak terkecuali Alona dan Xander. Lampu terang berubah menjadi cahaya remang-remang.


Alona merasa gelisa karena belum terbiasa menari bersama pasangan.


"Alona ikuti gerakanku sayang, aku akan menuntunmu membawa ke alam lain. Menari bersamamu akan menciptakan suatu pertunjukan yang spektakuler malam ini."


Perlahan-lahan Xander mengerakan tubuh Alona, ia menuntun gadis itu mengikuti setiap gerakannya. Awalnya gerakan itu seperti tarian biasa, Indah dipandang mata, semakin lama Xander semakin hanyut. Gerakan demi gerakan semakin terasa sensual, tubuh Alona tidak dapat menahan sentuhan Xander. Wanita itu ingin menepis setiap kali tangan Xander memegang pinggulnya, tapi, itu tidak mungkin, akan ada banyak mata yang melihat mereka.


Tatapan mata pria itu tidak bisa mengalihkan pandangan Alona. Wanita itu terhanyut dalam tariannya bersama Xander.


Mata pria itu membuat Alona terbuai, sedikit rayuan saja dari pria itu, sudah dipastikan Alona akan menuruti semua permintaan Xander. Mata pria itu seperti menghipnotis semua mata yang memandangnya. Alona membelai pipi pria itu, ia tersenyum kearah Xander.


Napas mereka seperti terputus-putus kelelahan menari.Cahaya lampu masih redup. Nafas Alona memberikan kehangatan bagi Xander. Pria itu kemudian mendekatkan wajahnya dengan Alona. Tanpa disadari kedua tangan Xander membelai pipi Alona. Mata mereka terpejam dan merasakan setiap napas yang keluar. Bibir Xander tidak dapat menahan rasa untuk mencium bibir Alona.

__ADS_1


Tepat bersamaan dengan menyalanya lampu terang, Xander mencium Alona. Sorotan cahaya lampu tepat di atas kepala mereka berdua. Semua tamu terperangah melihat mereka berciuman. Kejadian itu sontak menjadikan mereka sebagai pusat perhatian. Banyak cahaya flash camera menangkap moment mereka berciuman.


Kaget dengan cahaya terang, Alona sedikit mendorong dada bidang Xander. Bukannya berhenti, ciuman Xander semakin dalam dan memburu.


Wanita itu ingin menampar Xander saat itu juga. Niatnya ia urungkan mendengar suara halus Xander di telinganya, "Sayang ingat jangan mengacau!." Tangan Wanita itu terkepal dan ***-remas jarinya hingga warnanya berubah kemerahan.


Acara pernikahan sudah berakhir, semua tamu satu per-satu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Xander, aku ingin pulang!"


Acuh tak acuh pria itu menjawab Alona. "Pulang saja, jika Kau ingin pulang, tidak ada yang melarang. Aku akan mengginap di hotel ini. Aku mengantuk jadi tidak bisa mengemudi."


"Apa!?" Alona terkejut bahwa Xander tidak berniat untuk pulang ke rumahnya. "Mobilku dirumahmu Xander!"


Xander dan Alona terus berjalan menyusuri koridor menuju lobi utama hotel.


"Kau ambil saja sendiri!" Gerbang pintu utama terbuka 24 jam, jadi Kau bisa pergi sendiri kalau Kau mau.


"Berikan ponsel dan tasku aku akan pulang sendirian."


"Tidak!" Semua barang yang ku sita, sudah menjadi milikku. Kecuali Kau menebusnya!"


"Xander!" Alona berteriak pada pria itu.


"Ting...." Pintu lift terbuka. Xander segera masuk ke dalam lift dan menekan angka lantai 30. Sebelum pintu tertutup Alona segera masuk mengikuti Xander.


"Berikan aku uang!" pinta Alona.


Alona berniat menginap di rumah temannya. Dia akan menggunakan uang itu untuk naik taxi ke rumah temannya.


"Uang?, uang didapatkan setelah bekerja, Nona! Kamu pikir uang itu bisa didapatkan dari menggali tanah. Uang tidak jatuh dari pohon, Sayang!"


"Xander! Kau sangat senang mempermainkan hidupku." Maki Alona.


"Iya. Memang itu hobiku, bersenang-senang!" jawab Xander lantang tanpa keraguan.


"Xander!" Alona berteriak, menghentakan kaki dan memukuli dada Xander.


Pria itu tidak marah, ia tersenyum melihat tingkah Alona yang seperti anak kecil, kekanak-kanakan.


Menarik napas dalam-dalam, dan sedikit menarik rambut di kepalanya yang terasa akan pecah. Wanita itu sesekali mengigit jarinya dan bergumam tidak jelas. Ia terduduk di dalam lift dan membenamkan kepalanya di antara kedua pahanya.


Pulang kerumah naik taxi, sama saja tidak bisa masuk tanpa kartu pemilik rumah.


Menelepon Alvaro sama saja menggali lobang kematianku sendiri.

__ADS_1


Telepon kerumah, tidak hafal nomornya!


Sepertinya aku akan benar-benar menjadi gila!


"Ting...." Pintu lift terbuka, Xander melangkahkan kakinya, kedua tangannya ia masukan ke dalam saku celananya. Alona keluar membuntuti pria itu.


"Berikan tas dan ponselku, aku akan menebusnya besok."


Pria itu menarik tangan Alona dan menyenderkan-nya ke dinding. Ia membelai rambut di kening wanita itu dan berbicara padanya. "Kau pikir, aku tukang kredit. Memberikan pinjaman sekarang dan dibayar besok atau lusa."


"Lalu, apa yang Kau inginkan, Xander!"


"Aku butuh penghangat ranjang malam ini!"


"Plak..., plak..., plak...." Terdengar suara tamparan yang menghujani kedua pipi Xander.


"Alona!"


Pria itu berteriak. Gerakannya sangat cepat menggendong Alona dan membawanya masuk ke dalam kamar hotel miliknya.


"Xander!, turunkan aku." Kaki wanita itu menendang-nendang dan memukuli dada Xander.


"Xander!, turunkan aku"


"Bruk!"


Xander melemparkan wanita itu di atas kasur yang berukuran besar, "super king size."


Bayangan malam ketika Xander mengambil seluruh masa depannya terlintas dipikirannya. Kejadian itu terus membayangi setiap tarikan napas Alona hingga membuat ia merasakan ketakutan luar biasa. Air matanya sudah membasahi seluruh pipi gadis itu. Dada wanita itu kembang kempis menahan isak tangisannya. Napasnya sudah tersendat-sendat akibat menagis.


"Xander! Jangan mendekat!" Wanita itu mengacungkan jari telunjuknya ke arah Xander.


"...." Tatapan mata pria itu gelap, segelap badai melanda bumi dan seisinya. Sorot matanya fokus ke arah wanita itu. Ia seperti serigala mengintai mangsanya, bola matanya awas dan tak bergerak sekalipun.


"Xander! Hentikan!, jangan Lakukan itu!" Alona menagis tersedu-sedu. Badanya beringsut menjauh dari pria itu.


Alexander, "...!!!"


Sisi lainnya....


"Ting..." Notifikasi pesan berita di ponsel Alvaro kembali masuk di sela-sela kesibukannya.


Alvaro dengan rasa gembira membuka pesan masuk, ia berharap isi pesan itu berasal dari kekasihnya, Alona.


Acara pernikahan bisnis antara putra tunggal keluarga Wijaya dan putri tunggal Sanjaya berlangsung meriah.

__ADS_1


"Alona!?" Melihat isi berita itu, Alvaro menjadi emosi. Ia berteriak dan membanting semua barang di atas mejanya.


__ADS_2