Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Dalam bahaya!!!


__ADS_3

Heaven Place, malam hari....


Alexander sedang memikirkan Alona sambil menatap ke arah luar jendela yang terlihat gelap karena bulan tidak bercahaya terang. Melihat situasi sedang tidak kondusif Xander tidak berani melakukan panggilan telepon. Walaupun hanya untuk mendengar suara Alona. Semua itu ia lakukan untuk menjaga keamanan wanitanya. Meskipun ia bisa melenyapkan seluruh history panggilan telepon. Xander lebih memilih jalan teraman.


Bibinya Diana sudah pasti melakukan pengawasan padanya siang dan malam. Selain itu, Diana juga intelijen negara pada masa ia bersama dengan pamannya. Setelah dia menikah dengan Jaya Nugroho barulah ia memutuskan keluar. Diana bukan wanita yang gampang di taklukkan seperti penjahat biasa. Diana salah satu wanita unggul dalam segala bidang. Hanya saja arah jalan yang ia tempuh tidak sesuai dengan norma-norma yang ada. Penyebabnya karena putus cinta yang rumit!


Baru saja Xander melepaskan lelah setelah meeting seharian. Rasanya baru satu detik ia merebahkan tubuhnya di sofa depan TV. Bahkan ia belum sempat menikmati empuknya sofa. Tiba-tiba terdengar bunyi ketukan pintu. 4 orang dari petugas kepolisian datang untuk menjemput Xander di rumahnya. "Selamat malam Tuan Xander. Kami menjemput Anda untuk menjelaskan tentang penculikan Nona Alona. Sebagai pemilik Golden Hotel kami perlu penjelasan anda terkait masalah tersebut."


Xander sudah mengetahui rencana Bibinya Diana. Namun, ia berpikir tidak akan secepat ini. "Baik..." Jawab Xander mengikuti petugas kepolisian. Xander bersikap kooperatif sebagai warga negara yang taat hukum.


Di ruang interogasi....


Xander duduk berhadap-hadapan dengan petugas kepolisian. "Tuan Xander. Nyonya Diana telah melaporkan bahwa Anda telah menculik menantunya Nona Alona Arunika Raharaja. Apa bener?"


Mendengar pertanyaan pertama Xander langsung terkejut. Harusnya mereka menanyakan keberadaan ku dan lain-lain saat kejadian berlangsung. Tapi, pertanyaan itu! sama saja dengan menganggapnya sebagai seorang tersangka.


"Aku tidak pernah mencuri apapun apalagi seseorang." Sangkal Xander.


"Kami mendapatkan sebuah bukti. Sebelum hari pertunangan, Nona Alona mengirimkan undangan pada Anda? benar?"


"Hanya undangan pertunangan biasa, apa itu termasuk bukti bahwa aku pelakunya?"


"Kami juga menemukan buku panduan kehamilan di dalam rumahmu. Aku rasa pria lajang tidak akan pernah membeli buku panduan kehamilan, bukan?" petugas itu mencurigai hasil temuannya karena mengetahui bahwa Alona sedang hamil.


"Itu bukan punyaku." Jawab Xander tegas.


"Tuan Xander itu rumahmu! aku rasa tidak logis Kau mengatakan bahwa itu bukan punyamu."


"Rumah memang punyaku, tapi buku itu punya sekretaris pribadiku. Rudy!" Jawab Xander seadanya. Buku itu memang bukan punyanya, tapi ia pinjam dari sekretarisnya Rudy untuk mengetahui semua tentang wanita hamil. Alexander ingin menjadi suami yang bisa diandalkan ketika istrinya sedang hamil.


"Baiklah kami akan memanggil sekretaris pribadimu besok pagi. Kami tidak bisa membebaskanmu malam ini. Silahkan hubungi pengacara Anda besok pagi." Kata polisi itu sambil berjalan keluar ruangan.


Xander tidur di ruang interogasi semalman. Tidur di lantai yang hanya beralaskan tikar pandan.


Bibi Diana pergerakanmu sungguh cepat. Bahkan telah melaporkan bahwa aku penculik Alona.


Xander sudah menyiapkan seorang pengacara untuk membantunya. Tidak lupa pula untuk memesan seorang dokter wanita untuk menemani Alona di kota F. Dokter akan tiba di kota F tiga hari lagi karena masih ada pekerjaan belum selesai di sebuah desa terpencil.


Pagi-pagi sekali Diana dan Alvaro datang ke kantor polisi. Xander tengah tertidur waktu itu. Gerakan Alvaro sangat kasar membangunkan Xander yang tidur di lantai. Alvaro menendang kaki kemudian menarik tubuh Xander. "Bangun!" Teriak Alvaro.


Seketika Xander terbangun dari tidurnya. "Di mana Kau sembunyikan Alona ku?" Tanya Alvaro membentak Xander.


"Pak!" Sebuah pukulan tinju mendarat di sudut bibir Xander. Pukulan dan tamparan terus menghujam ke wajah Xander sampai wajahnya berubah menjadi memar dan biru. Darah segar terus menetes di sudut bibirnya.


"Jika Kau diam. Aku akan memukulmu lebih dari ini." Kata Alvaro dengan suara mendominasi penuh ancaman.


Diana ikut bersuara. "Alexander cepat katakan di mana Alona?!"


Xander tersenyum sinis menatap Bibi nya. " Bibi jangan ikut campur dan mengancamku. Aku tidak pernah menculiknya. Dan Kau Alvaro! aku mengganggap pukulan mu ini sebagai penebusan dosa di masa laluku padamu."


Xander tidak membalas pukulan itu. Bagaimanapun ia ikut bersalah telah merebut kekasih orang lain di awal masa pembalasan dendamnya.


Diana mencibir. "Kau akan mendekam di penjara Tuan Alexander, sama seperti pamanmu Andreas!"


"Bibi Diana aku hanya tidak ingin mengungkapkan keburukanmu di depan anakmu." Xander mengancam dengan pandangan mata yang menyala terang.


Diana menendang kaki Xander mengunakan sepatu hak tinggi 10 CM. "Jika Kau berani. Aku akan membunuh adikmu lebih dulu." Ancam Diana dan segera setelah itu ia pergi.


Alvaro dengan tatapan beringas sudah mengepalkan tangannya ingin memukul pria yang telah menodai sekaligus mencuri kekasihnya Alona.


Tangan Alvaro sudah mengayun ke udara. Suara deringan ponsel menghentikan tangannya. Nada dering panggilan sudah di atur khusus untuk panggilan telepon dari ketua pasukan keamanan perusahaan ayahnya. "Tuan Alvaro, Nona Alona ada di rumah sakit Mom and Kid Hospital di kota F"

__ADS_1


Begitu suara itu mengemah di saluran telepon Alvaro mengaktifkan loudspeaker panggilan.


Xander bisa mendengar bahwa Alona ada di Mom and Kid Hospital. "Apa yang akan Kau lakukan pada Alona, Alvaro!?" Teriak Xander.


"Kamu pikir siapa dirimu Tuan Alexander. Dia kekasihku tentu saja aku akan merebutnya kembali. Apa kamu pikir aku akan diam!? Alona juga mempunyai bayiku di dalam perutnya."


Alexander tertawa lalu berkata asal untuk memancing emosi Alvaro. "Hahaha.... Apa Kau yakin bahwa itu anakmu Alvaro!?"


"Diam!" Alvaro berteriak. "Apa aku harus menunjukkan bukti tes DNA di hadapanmu Alexander!?"


"Lakukan! jika Kau punya keberanian Tuan Alvaro." Xander mengancam balik.


Alvaro terdiam membeku..., tidak punya keberanian mengeluarkan kata-katanya.


"Kenapa diam? Tuan Alvaro! apa ucapanku benar!?" Tanya Xander saat Alvaro berdiri mematung.


"Alexander hentikan omong kosongmu! sebentar lagi Alona akan kembali padaku. Lihat foto ini, foto Alona di rumah sakit. Siapa tahu ini terakhir kali kamu melihatnya."


"Alvaro jangan pernah menyentuh Alona. Dia milikku!"


"Bermimpilah Tuan Alexander. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku. Hubungan kami baik-baik saja sebelum Kau datang mengganggu hubunganku dengan Alona."


Alvaro pergi dan membanting pintu...


"Alona, sayang cepat pergi dari sana! ponselku di mana? Aku harus menelepon Bibi Ani."


Beruntung Xander membawa ponsel dan tidak di sita polisi saat melakukan interogasi.


Suara panggilan telepon berdering cukup lama sebelum di angkat. "Bibi Ani ayolah angkat teleponnya. Alona dalam bahaya."


"Halo Tu-"


"Bi di mana Alona?" Potong Xander dengan cepat.


"Dengan siapa dia pergi!?" Tanya Xander.


"Nona Alona pergi sendiri membawa mobil Tuan di garasi."


"Apa!? Bi kenapa Bibi membiarkan Alona pergi sendiri!" Xander memukul tembok. "Bibi cepat susul Alona ke rumah sakit Mom and Kid Hospital. Dia dalam bahaya!


"Baik Tuan. Aku akan menyelamatkan Nona."


Bibi Ani pergi membawa mobilnya. Kecepatan mobil di atas rata-rata. Dengan headset bluetooth di telingany Bibi Ani melakukan panggilan telepon. Telepon tidak di angkat, Bibi Ani menekan voice note "Nona Alona cepat pergi dari sana. Bibi akan menjemputmu di pintu gerbang."


******


Di sisi lain.....


Pasukan elite keamanan perusahaan Nugroho Grup sedang menyebar ke seluruh penjuru Kota F.


Mereka mendapatkan informasi bahwa Alona pergi ke rumah sakit, Mom and Kid Hospital.


Alona datang untuk melakukan cek up kandungannya sekaligus berniat melakukan tes amniosentesis.


Dokter Carey sengaja memperlambat pemeriksaan Alona. Sesuai dengan instruksi dari Nugroho Grup.


Dokter Carey, tersenyum menatap Alona di ruang pemeriksaan. "Nyonya Alona, selamat pagi." Sapa Dokter Carey.


Alona balas tersenyum, "Pagi Dokter Carey."


"Apa yang Nyonya Alona rasakan saat ini?' Tanyanya.

__ADS_1


"Aku tidak bisa makan Dok. Aku hanya ingin makan es krim dan roti setiap hari. Namun akhir-akhir ini aku juga memuntahkannya."


"Ibu hamil memang terkadang memiliki kebiasaan susah makan dan tidur."


"Apa Nona datang dengan seseorang atau dengan suami?"


Alona menggelengkan kepalanya."Tidak aku datang sendiri."


"Sebelumnya saya mohon maaf...., Nona bisa menunggu dulu di ruang tunggu. Saya dokter magang di sini. Saya hanya bertugas mendata pasien yang ingin berkonsultasi dan berobat dengan dokter Siska. Saya tidak bisa menanggani keluhan Nyonya Alona. Dokter Siska akan datang 30 meniit lagi. Beliau datang pukul 09:00 sesuai jadwal di rumah sakit." Ucapnya.


"Bisakah Aku menyewa kamar di sini?" Tanya Alona. "Pinggangku sedikit sakit, aku ingin berbaring sebentar. Mungkin kelelahan di jalan." Kata Alona.


"Tentu!" Dokter Carey dengan sigap mengantar Alona ke dalam kamar tunggu VIP.


Setelah menerima telepon dari David


Alvaro langsung pergi ke kota F menuju rumah sakit, Mom and Kid Hospital.


Alvaro dengan setelan kemeja berwana putih dibalut jas warna hitam melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit Mom and Kid Hospital. Tatapan matanya tertuju pada ruangan VIP. "Sebentar lagi aku akan bertemu denganmu Alona, kekasiku sekaligus calon istriku." Katanya dalam hati.


Alona sudah berbaring cukup lama menunggu dokter memeriksa kandungannya. 30 menit berlalu begitu saja. Dokter Siska belum juga datang ke dalam ruangan untuk memeriksa kesehatan janinnya. Bosan menunggu, Alona meraih ponsel di dalam tasnya yang sudah ia silence. Ada puluhan voice note yang masuk. Alona pergi! sinyal bahaya dari Bibi Ani.


Nona Alona segera pergi dari sana. Nona Alona dalam bahaya teriak Bi Ani dalam rekaman suara.


Alona segera keluar dari ruangan VIP. Dari ujung koridor sudah terlihat sosok Alvaro berjalan ke arahnya. Alona langsung menghambur berlari menjauh. "Alona kemana Kamu akan pergi." Teriak Alvaro.


Alona tanpa menoleh berlari-lari kecil meninggalkan Alvaro. Tidak peduli! Aku harus selamat bersama anakku. Alona semakin jauh berlari hingga ke area parkir di lapangan. Alona mencoba membuka pintu mobil satu persatu untuk bersembunyi.


Sekuat Alona melangkah lebih kuat Alvaro berlari mengejarnya. " Sayang! apa kamu ingin meninggalkan ku?" Kata Alvaro sambil menyenderkan tubuhnya ke mobil yang sedang di parkir.


Alvaro menarik Alona dan memasukkannya ke dalam mobil. "Varo lepaskan aku." Teriak Alona.


"Diam atau aku akan membuat perhitungan pada kekasih gelapmu Alona!" Teriak Alvaro mengancam.


"Varo kita sudah berakhir. Tolong jangan ganggu aku lagi."


"Apa kamu ingin membawa anaku pergi Alona?"


"Varo! hentikan kegilaanmu. Kamu juga memiliki seseorang yang mencintaimu."


"Alona... hanya kamu yang aku inginkan. Mengerti tidak!? Mama dan Papa juga pasti tidak terima kamu membawa cucunya pergi."


"Al... Aku sudah tidak mencintaimu. Kita sudah dewasa. Belajarlah menerima semua kenyataan bahwa aku sudah tidak memiliki perasaan untukmu. Masalah anak aku akan melakukan tes amniosentesis untuk membuktikan bahwa dia anakmu atau anaknya."


Alvaro naik darah dan menampar Alona pada saat itu juga. Alvaro memegang kedua sisi pipi Alona dan mencengkeramnya. "Alona tidak ku sangka kamu seperti ini padaku."


Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah sakit. "Varo Kau mau membawaku kemana!?" Teriak Alona.


"Aku akan membawamu pulang Alona!"


"Varo cukup! aku benar-benar tidak bisa denganmu! aku sudah tidak memiliki perasaan apapun denganmu"


"Aku tidak butuh perasaanmu padaku Alona, yang aku inginkan kamu, ragamu ada di sisiku"


Lampu merah sedang menyala. Mobil ikut berhenti. Alona kembali memberontak. "Turunkan aku Varo...!"


Alvaro tidak bergeming tetap fokus memegang kemudi mobil. Sesekali ia melirik Alona di sampingnya.


Alona menarik gagang pintu yang tidak terkunci dan berlari keluar mobil. "Alona berhenti!" Teriak Alvaro.


Alona tidak menghiraukan panggilan Alvaro. Alona terus berlari ke mobil yang berhenti paling depan dan menarik pintunya. "Pak tolong bantu aku..." Kata Alona memohon pada pria yang sedang mengemudi di dalam mobil. Alona mengetuk kaca mobil. "Pak tolong aku!"

__ADS_1


"Alona!?" Pria di dalam mobil terkejut dan membukakan pintu mobil.


__ADS_2