
Malam sebelum misi penculikan Alona. Xander duduk termenung memikirkan apakah misinya akan berhasil atau justru akan gagal total. Mengingat bahwa Alona sangat mencintai Alvaro. Tentu akan sulit untuk membawa Alona pergi.
Mendapat undangan dari Alona di pagi hari membuat Xander lebih yakin untuk menjalankan misinya. Meskipun Pria itu belum mengetahui apa maksud Alona meminta bantuan untuk menolongnya. Pria itu tetap akan menculik gadis itu. Dia wanitanya!
Rencananya sudah matang..., tidak mungkin untuk di gagalkan oleh orang lain.
Ketika misinya berhasil Xander turun ke bawah melalui pintu rahasia.
Xander berjalan memasuki pintu utama hotelnya. Matanya dengan cepat menangkap sosok Diana tengah berdiri di depan meja resepsionis. Xander memicingkan matanya saat Diana berteriak pada Anita untuk memanggilnya keluar. Xander berjalan tanpa peduli dengan Diana. Ia malas untuk bertengkar. Namun, melihat sikap Diana yang semakin menjadi-jadi, berteriak histeris hingga tamu hotel merasa risih. Xander akhirnya memutuskan untuk datang menemui Diana.
Ketika Xander sampai di samping Diana, tanpa ragu ia berkata. "Bibi ada apa mencariku?!"
Diana membalikkan badannya menghadap Xander. Tangannya terasa panas, tidak tahan ingin menampar pria di depannya. Tangan Diana terangkat ke atas, belum sempat menampar, Xander sudah mundur selangkah ke belakang. "Apa tidak bisa di bicarakan dengan baik-baik?" ucap Xander tanpa ekspresi. "Aku bisa menuntut Bibi ke pengadilan." seru Xander dengan nada mengancam.
"Heh!" Diana tersenyum menyeringgai. Di mana Kau sembunyikan Alona, Xander?!"
"Apa maksud ucapanmu itu, Bibi? Aku tidak mengerti," katanya dengan sikap santai.
"Alexander! aku ulangi sekali lagi di mana Kau sembunyikan Alona?!" teriak Diana tidak sabaran.
"Aku tidak pernah menyembunyikan seseorang Bibi. Apa Bibi punya bukti bahwa aku menyembunyikan Alona?"
Diana terdiam mendapat tekanan dari Xander. "Kau pemilik hotel ini, tentu Kau harus bertanggung jawab!"
"Apa yang harus aku pertanggung jawabkan." tanya Xander dengan acuh.
"Alona hilang ketika lampu mati. Itu pasti perbuatanmu," kata Diana.
"Apa karena mati lampu Bibi jadi menuduhku! dia hilang karena aku begitu maksud Bibi? Lebih dari satu bulan ke belakang Aku tidak pernah bertemu dengannya. Selain itu aku baru masuk ke hotel ini," Kata Xander menyankal.
"Kau tetap harus bertanggung jawab!" ucap Diana. "Kurangnya keamanan di hotel mu membuat menantuku hilang." Diana tetap pada pendiriannya. Tidak ingin kalah.
"Aku akan bertanggung jawab. Jika itu memang aku yang melakukan kesalahan. Setahuku acara di lantai lima sudah di jaga sangat hati-hati. Selain itu CCTV di hotel ini berfungsi dengan baik. Bibi bisa lihat sendiri hasil rekamannya. Jangan menuduhku sembarangan! Bibi!"
"Aku akan melihatnyal," kata Diana.
"Ide bagus!" jawab Xander. "Dengan begitu Bibi bisa melihat apakah aku pelakunya, bukan?"
Diana dan Xander pergi ke ruang pemantau keamanan hotel. Dimana ruang CCTV di letakkan.
10 menit rekaman video sudah memutar. Rekaman video menunjukkan bahwa Alona pergi ke toilet dan keluar ruangan. Selepas itu Alona menghilang tanpa jejak.
Sebenernya hasil rekaman itu sudah di edit oleh Xander sendiri. Sebelum ia masuk ke dalam hotel.
"Apa Bibi puas?!" tanya Xander saat rekaman CCTV berhenti di putar.
"Aku tidak percaya!" Kata Diana.
__ADS_1
"Lalu Bibi mau bagaimana?" Tanya Xander.
"Aku akan membuat laporan ke pihak kepolisian." jawab Diana.
"Silahkan! Aku tidak takut! lakukan sesuka Bibi!" ujar Xander menantang Diana.
Diana membalikkan badannya berjalan ke arah pintu keluar. Tangan Diana memegang gagang pintu, berhenti sejenak berbalik badan memandang Xander dengan tatapan sinis.
"Satu hal yang perlu kamu tahu Xander!, Alona sedang mengandung cucuku. Jika terjadi sesuatu padanya aku akan mencarimu lebih dulu."
Detik berikutnya, Diana membanting pintu sangat keras saat ia keluar, bam! "Aku sangat yakin pasti dia pelakunya!" Muka Diana menghitam seperti terkena semburan lumpur. "Tidak ada yang akan menculik seorang wanita di dalam hotel dengan CCTV menyala di mana-mana. Pasti ada orang dalam!" gumam Diana sambil berjalan menuju ballroom hotel lantai 5.
Xander terdiam di tempat. "Tidak!, tidak mungkin Alona hamil anak Alvaro" Gumam Xander dalam hati. Dia tidak percaya dengan kenyataan pahit itu.
Xander tersenyum kecut melihat punggung Diana berjalan di koridor dari layar CCTV. Xander merasa dirinya lucu! bagaimana ia bisa tidak menyadari bahwa Alona sudah hamil anak orang lain. Lalu Apa arti keberhasilannya membawa Alona pergi.
Tidak lama Diana pergi. Xander pergi ke ruang kerjanya di lantai 30. Xander duduk di kursi menatap layar laptop yang sedang menyala. Pikirannya melayang memikirkan Alona. "Apa bener Alona sedang hamil? apa benar anak itu anak Alvaro?" tanyanya dalam hati.
Memikirkan bahwa Alona hamil, emosi Xander tidak terbendung. Buku di atas meja ia lemparkan. Memikirkan itu ia membayangkan bagaimana Alona sedang di sentuh Alvaro.
Mata Xander seketika berkaca-kaca. "Tidak!" Xander berteriak menjambak rambutnya. "Alona aku sangat mencintaimu. Aku akan menerimamu apa adanya. Tidak penting anak siapa di dalam perutmu. Asal Kau bersedia bersamaku, aku akan menyayangi anak itu sama seperti menyayangi mu."
*****
Pukul 14:00 Alona tiba di Kota F. Jarak tempuh penerbangan 35 menit. Helikopter perlahan mendarat di lapangan dekat sebuah rumah dua lantai menghadap sebuah danau biru dengan angsa dan bebek sedang berenang serta burung bangau sedang mencari makan di tepinya.
Selain danau rumah itu di kelilingi taman bunga dan persawahan, padinya sedang menguning dan burung berterbangan memakan biji padi di tangkainya.
Datang seorang wanita paru bayah. Wanita itu tersenyum dan menyapa Alona. "Halo Nona, nama saya Ani. Nona bisa memanggil Saya Bibi Ani. Tuan Xander sudah memberi tahu Saya bahwa Nona akan tinggal di sini.
Alona membalas senyuman Bi Ani dan berkata. "Halo Bi, Saya Alona. Maaf membuatmu report."
"Tidak sama sekali." Jawab Bibi Ani. "Aku senang mempunyai teman di tempat ini." Ucap Bi Ani dengan wajah tersenyum gembira.
Alona berjalan dengan Bibi Ani di sampingnya. Mereka terlihat asik mengobrol hingga tanpa terasa sudah sampai di depan pintu masuk ke dalam rumah.
Bibi Ani dengan sopan menunjukkan tempat tidur Alona. Wanita itu tahu pasti naik helikopter tidak nyaman. "Nona Alona bisa istirahat di dalam. Saya sudah merapihkan semuanya untuk Nona."
"Terima kasih Bi" Jawab Alona lembut dan tersenyum.
"Bibi akan menyiapkan makanan untuk Nona. Apa Bibi boleh tahu makanan kesukaan Nona?" Tanya Bibi Ani tanpa ragu.
Alona menundukkan kepalanya. "Aku menyukai apapun Bi. Tapi, akhir-akhir ini aku tidak bisa makan apapun." Jawab Alona sendu.
"Kenapa?" Tanya Bibi Ani penasaran. "Apa Nona Alona sedang sakit?"
"Tidak Bi. Aku tidak sakit. Hanya saja aku sedang---"
__ADS_1
"...." Bi Ani memperhatikan dengan cermat saat Alona berbicara. Mendengar kata-kata Alona terpotong membuat Bibi Ani bertanya-tanya.
"Sudahlah Bi. Buatkan apa saja. Nanti aku akan mencoba memakannya," ucap Alona.
"Baik Non. Bibi akan membuatnya."
Bi Ani membuat Sop daging ikan dengan sayuran. Setelah selesai, Bi Ani lantas memanggil Alona.
"Nona makanan sudah siap." Kata Bi Ani berdiri di depan pintu kamar Alona.
"Iya Bi aku akan turun," jawab Alona dari dalam kamar.
*****
Hari sudah mulai sore. Xander menelepon Bi Ani di kota F. "Bi Ani bagimana kabar Alona di sana?"
"Nona Alona baik Tuan. Hanya saja dia selalu muntah setelah sampai. Apa Nona punya maag?" tanya Bibi Ani serius.
"Aku rasa tidak ada Bi. Apa benar dia sering muntah, Bi?"
"Iya Tuan. Nona Alona juga tidak bisa makan. Dia selalu memuntahkannya." Jawab Bi Ani.
"Bi, tolong jaga Alona. Mungkin aku tidak bisa ke sana dalam waktu dekat. Dan satu lagi jangan hubungi saya dalam keadaan apapun. Uang sudah saya transfer. Jika terjadi sesuatu pada Alona pastikan untuk menelepon sekretarisku dan lakukan hal terbaik untuk Alona."
"Baik Tuan." Jawab Bi Ani sebelum sambungan telepon di putus.
Bibi Ani berdiri di luar rumah saat itu. Ia berpikir bagaimana bisa seorang wanita sering muntah. "Apa Nona hamil?" Tanya Bibi Ani terkejut. Bibi Ani ingin bertanya pada Alona. Tapi ia takut menyinggung perasaannya.
Mendengar Alona sering muntah Xander terduduk lemas di kursinya. "Alona benar-benar hamil anak Alvaro. Apa yang harus aku lakukan?" Ucap Xander seraya menjambak rambutnya lagi.
"Aku bisa gila jika seperti ini terus!?" Kata Xander.
*****
Diana selalu benar dengan ucapannya. Diana tidak perlu mengikuti aturan pihak kepolisian untuk menunggu melaporkan orang hilang dalam waktu 24 jam.
Dengan kekuatan suaminya, ia melangkahkan kakinya ke kantor polisi di temani dua orang pengawal di kedua sisinya.
Diana menarik kursi dan duduk di dalam kantor pelayanan pengaduan masyarakat. Melepas kacamata lalu tersenyum manis. Tanpa basa-basi Diana langsung mengucapkan kata-katanya. "Tangkap Tuan Milan Allegri Alexander McQueen Utama!"
Polisi tentu tidak akan menanyakan alasannya. Semua perintah wanita di depannya itu seperti ucapan seorang Dewi. Mereka pasti percaya.
"Tuan Alexander sudah menculik menantu saya, Alona Arunika Raharaja."
Petugas polisi mengetik dengan cepat.
"Sekarang!" Bentak Diana.
__ADS_1
"Baik Nyonya!" ucap polisi yang sedang berdiri di samping petugas pencatat laporan.
Semua orang yang berada di dalam ruangan itu langsung bergetar ketakutan, tidak bisa membantah ataupun menolak perkataan wanita itu.