
Mata Alona seketika membesar melihat tangan kekasihnya bersiap-siap mengiris urat nadinya. Alona seperti terhempas dari atas jatuh ke dalam jurang yang dalam. Sungguh sakit hatinya. Teriakannya sangat kencang menghentikan tindakan bunuh diri dari kekasihnya.
"Varo apa yang Kau lakukaan, Jauhkan pisau itu dari tanganmu."
Badan Alona gemetar ketakutan. Ia dengan cepat menarik kursi roda Alvaro menghadap ke arahnya.
"Alona aku ingin Kau melihat ku mati. Aku ingin menghabiskan hidupku disampingmu."
"Varo, Varo, Varo..., Jangan!, aku mohon lepasakan pisau itu." Alona menahan pisau dari tangan Alvaro.
Alvaro tersenyum dan sedikit meneteskan air mata. "Alona selamat tinggal sayang. Aku akan menunggumu." Suaranya parau saat berbicara dengan wanita itu.
Alvaro mendorong Alona dari hadapannya. Wanita itu jatuh tersungkur ke lantai. Ia menangis, "Varo!"
Saat Alona melihat ke arah Alvaro. Tangan pria itu sudah dipenuhi darah segar. Darahnya mengalir sangat deras seperti aliran sungai. Bau amis darah menyebar keseluruh ruangan.
Pria itu tersenyum menatap Alona. "Alona jangan pergi sebelum aku menutup mataku. Aku hanya ingin melihat wajahmu sebelum aku pergi."
Alona merobek baju bagian depannya. Ia kemudian mengikat pergelangan tangan pria itu menggunakan sobekan bajunya untuk menghindari darah keluar lebih banyak.
Pisau buah sudah jatuh ke lantai. Alona segera meraihnya dan membuangnya ke dalam kamar mandi di ruangan itu. Alona takut kekasihnya akan melakukan hal yang lebih ekstrim dari menyayat urat nadinya.
"Varo, kenapa Kau seperti ini?"
Alona menagis tersedu-sedu. Pandangan matanya kabur tertutup genangan air mata. Wanita itu kebingungan memikirkan cara menyelamatkan kekasihnya. Semua tulangnya sudah terasa remuk, tidak bertenaga. "Aku harus kuat, aku harus menemukan cara untuk menyelamatkannya."
"Varo bertahanlah!"
__ADS_1
Alona berlari bolak balik mencari solusi. Ia mencoba membuka pintu, tapi tetap tidak bisa terbuka. "Siapapun tolong bukakan pintu ini. Alona memukul, menendang pintu itu sangat kencang."
Kamar rawat inap itu di lengkapi keamanan paling canggih. Jika kartu akses dicabut, maka otomatis pintu tidak bisa di buka dari dalam maupun dari luar. Kartu akses itu memiliki berbagai macam fungsi bukan hanya sekedar untuk membuka pintu. Tapi, kartu itu juga sebagai monitor pembayaran rawat inap di rumah sakit. Jika pasien belum membayar biaya tagihan, pintu juga akan menutup kamar dari dalam secara otomatis. Dengan begitu pasien rumah sakit tidak bisa kabur jika belum membayar tagihan. Selain itu, ruangan itu juga kedap suara. Tidak akan terdengar suara apapun dari luar, meskipun seseorang berteriak di dalamnya. Rumah sakit itu benar-benar menjaga kenyamanan pasien. Seorang pasien akan nyaman beristirahat bila ruangan tidak menimbulkan suara bising.
Alona berlari memencet bel di samping ranjang pasien. "Dokter tolong, selamatkan kekasihku. Dia sudah kehilangan banyak darah."
"Tuhan tolong aku, selamatkan dia." Alona terus berdoa untuk keselamatan kekasihnya.
Alvaro hanya memandangi kekasihnya yang tengah sibuk berlari. Senyuman manisnya terus menghiasi wajah tampannya. Pria itu tidak merasakan lemas ataupun ke sakitan.
"Alona kemarilah, temani aku. Setidaknya peluklah aku sebelum aku benar-benar pergi. Tidak ada gunanya kau memencet bel itu. Bel sudah tidak berfungsi ketika kartu itu di cabut."
Alona mengeluarkan ponselnya dan segar menelepon Diana mamanya Alvaro. Berulang kali ia melakukan panggilan tapi tidak ada jawaban. Alona menghentikan panggilan telepon itu dan menelepon bagian pelayanan rumah sakit. Hal serupa terjadi, telepon itu tidak di jawab. Hanya terdengar suara otomatis menjawab, "maaf telepon layanan kami sedang sibuk silahkan menghubungi kembali."
Alona mendekati pria itu, ia berlutut di hadapan kekasihnya. "Varo, apa Kau sudah gila!? Kenapa Kau melakukan ini?"
"Ya. Aku memang sudah gila sejak bertemu denganmu Alona." Pria itu bersikap seperti tidak ada hal yang membahayakan nyawanya. Pria itu benar-benar sudah kehilangan keinginan untuk hidup.
Alona kembali merobek baju bagian belakangnya. Ia menutup luka itu lagi. Kali ini ikatannya lebih kencang.
"Varo, aku sangat mencintaimu. Aku melakukan ini karena aku takut ditinggalkan lebih dulu darimu."
"Alona tidak ada gunanya lagi kau mengatakan mencintaiku. Aku akan segera pergi. Kau bisa hidup bahagia dengan siapapun pilihanmu. Jika kau berkenaan kunjungi pemakamaku saat hari jadi kita berdua."
"Varo jangan katakan itu. Aku tidak bisa hidup tanpamu. Tapi aku tidak punya pilihan saat ini."
"Alona, cinta kita berdua sudah berakhir. Jangan bersedih aku yang akan mengalah. Kau bisa pergi dengan pria itu. Kau mencintainya Kan!?"
__ADS_1
Alona yang mulanya berlutut di lantai, kini sudah jatuh tidak kuat menahan berat badannya. Wanita itu terduduk di lantai kakinya sudah mati rasa. Air matanya tidak henti mengalir. Ia terus menangis tersedu-sedu. "Varo...!, aku hanya mencintaimu. Hidup dan matiku hanya untukmu. Aku tidak pernah mencintai pria manapun selain dirimu."
"Alona, jangan menyiksa dirimu. Aku tidak percaya lagi dengan kata cinta. Lebih baik Kau siapkan segera tempat tidur untukku."
"Varo, jangan tinggalkan aku pergi."
Kulit tangan, wajah dan seluruh tubuh Alvaro sudah terlihat memucat. Ia menyenderkan badannya di kursi rodanya. "Alona ingatlah bahwa aku selalu menjaga cintaku hanya untukmu. Aku selalu setia."
Varo....
Alona menundukkan kepalanya. Lalu ia meraih tangan pria itu. "Varo, jangan pergi. Berjuanglah!, aku akan menikah denganmu ketika Kau sudah sembuh."
Alvaro hanya tersenyum menyeringai memandangi Alona di depannya.
"Varo, berjanjilah bahwa Kau akan menerimaku apa adanya. Aku akan menyelamatkanmu."
Alona menarik kursi roda Alvaro. Ia menjauhkan pria itu dari bawah lampu.
Alona melemparkan ponselnya ke arah lampu di ruangan itu. Lampu itu pecah dan memercikkan api. Detik berikutnya suara alaram kebakaran berbunyi di seluruh ruangan ruma sakit.
Ruangan menjadi gelap tanpa cahaya. Alona segera menghampiri kekasihnya dan mencium kening Alvaro. "Sayang, jangan takut. Aku akan selalu bersamamu. Hidup atau mati."
Semua pasien dan pengunjung rumah sakit sudah berlalu lalang keluar dari rumah sakit. Sementara petugas sibuk membantu mengevakuasi pasien yang tidak bisa berjalan. Hanya Alona dan Alvaro yang terjebak di ruangan itu.
Varo, maafkan aku yang tidak jujur dari awal. Aku takut Kau meninggalkanku. Aku egois hanya memikirkan diriku sendiri. Sekarang penyesalan tidak ada artinya.
Aku ingin memulai lembaran baru bersamamu. Seperti kertas putih belum ternoda. Mari kita lupakan masa lalu dan memulainya dari awal. Aku Alona siap menghabiskan hidupku bersamamu selamanya, sampai akhir hayat....
__ADS_1