
Bebas itu seperti tidak ada hambatan untuk melakukan apapun.
Ia bebas ingin pergi!
Ia bebas ingin terbang!
Ia bebas ingin pulang!
Ia bebas ingin berjuang!
Seperti burung bebas terbang tanpa dikurung di sangkar oleh majikannya ataupun pemburunya.
Ia bebas melakukan segalanya!
Pikiran Alona terbang memikirkan nasib dan tujuannya! Ia ingin seperti burung yang liar bebas kemanapun pergi!
Ia sudah kehilangan masa depannya!
Kekasihnya?, akankah kekasihnya menerima keadannya yang sudah seperti ini? rusak dan terjamah.
Sahabatnya, akankah sahabatnya masih setia menemaninya? sahabat sepertinya yang keluarganya sudah hancur berantakan.
"Sudahlah, Aku lelah! Seandainya kekasihku ingin pergi menjauhi ku maka kubiarkan ia pergi? Aku tidak ingin ada hati yang terluka!"
"Sudahlah, Aku lelah!" Seandainya sahabatku ingin pergi menjauhi ku maka kubiarkan ia pergi? Aku tidak ingin ada pertemanan palsu!"
"Biarkan waktu yang akan menjawab!"
Pertanyaan demi pertanyaan terus menguji pikirannya, ia kelelahan bermain dengan pikirannya sendiri. Akhirnya ia tertidur pulas.
Malam semakin larut, perasan Xander semakin semeraut. Ia memikirkan Alona dan Alona.
Kenapa wanita itu terus membayangi pikiranku?
Kenapa wanita itu terus hadir dalam mimpiku?
Kenapa selalu ada dia?
Ibu apa yang telah ku lakukan salah?
Ayah apa yang telah ku lakukan salah?
Kakak apa yang telah ku lakukan pada wanita itu salah?
__ADS_1
Kak, wanita itu wanita yang pernah ku cintai, tapi dengan kejadian malam itu aku membencinya, sangat! Tapi kenapa pikiranku selalu di penuhi olehnya?
Mata mengantuk tapi tak ingin terpejam, ingin di paksakan terjaga tapi badan sudah mulai goya. Badanku sungguh tersiksa, tidurlah!
Angin malam berhembus secara perlahan menerpa mata Xander. Angin itu seperti tangan yang mengisyaratkan untuk pergi tidur, matanya semakin berat dan semakin berat hingga matanya tertidur dengan sendirinya.
Matahari pagi, cahayanya hangat dan menyilaukan. Tetesan embun pagi masih tersisa di dedaunan pohon di depan rumah Alona. Udara sejuk, membuat selimut semakin ditarik menutupi badannya yang kedinginan. Alona ingin tidur samapi siang.
"Tok..., tok..., tok...."
"Nona..., Nona..., Nona...!, Pacarnya sudah datang menjemput. Hari ini Nona ada jadwal kuliah, kan?"
Mendengar ketokan pintu dan mengatakan bahwa pacaranya sudah datang menjemputnya, Alona panik dan langsung menghambur bangun dari tempat tidur.
"Iya Bi..., katakan padanya tunggu sebentar. Aku akan segera keluar."
"Baik, Nona. Akan ku sampaikan!"
"Bagaimana ini? Alvaro sudah menungguku."
Tanpa berpikir panjang Alona pergi ke kamar mandi. Ia mandi membersihkan tubuhnya. Ia mandi secepat kilat. ia tidak ingin membuat kekasihnya menunggu lebih lama.
Alona membuka lemari dan memilih baju yang cocok untuknya. Hampir semua baju ia keluarkan dari lemarinya. Satu per satu ia coba paskan ke tubuhnya tapi tidak ada yang bisa menutupi bekas gigitan itu.
Sedikit memoles wajahnya yang sudah cantik untuk menambah kilauan cahaya di wajahnya.
Lipstick berwarna natural, serta blush berwarna peach ia aplikasikan di wajahnya yang terlihat sedikit pucat akibat kurang tidur dan kelelahan.
"Sayang.... Maaf membuatmu lama menunggu!"
"Tidak apa-apa, menunggu gadis cantik memang harus lama!" jawab Alvaro.
Entah itu pujian atau sindiran untuknya tapi Alona senang karena ia tidak bertanya yang aneh-aneh padanya.
"Sayang, apakah Kau mau sarapan?" tanya Alona penuh cinta.
"Tidak usah, Kita sarapan di kantin saja. Sudah siang takut terlamabat jam pertama." Kata Alvaro.
"Ok, baiklah Aku akan membawa segelas susu dan sandwich saja" balas Alona.
"Bi, aku pergi. Mungkin akan pulang sore. Bibi tidak usah membuatkan makan siang untukku."
"Iya, Non." Sahut Bibi dari dapur.
__ADS_1
Mobil berwarna kuning telah terparkir di halaman rumah Alona. Mobil dengan dua pintu itu terlihat seperti mobil sport keluaran McLaren. Alona tidak mengerti tentang otomotif, baginya yang penting bisa jalan, nyaman dan selamat sampai tujuan.
Berbeda dengan pacaranya yang sangat menggemari otomotif. Ia sangat pemilih dalam segala hal tentang mobil. Harus begini, harus begitu? Alona lebih baik mengalah daripada berdebat tentang mobil dengan pacarnya.
Selama dalam batas wajar, Alona tidak pernah mempermaslahkan hobinya itu. Hobinya juga mendatangkan uang, ia bisa membeli itu semua berkat usahanya sendiri menjual mobil-mobil sport. Pacarnya sangat pandai memanfaatkan teman-teman orang tuanya yang secara keseluruhan memiliki kekayan di atas rata-rata.
Bagi Alona pacarnya itu tidak pernah menyia-nyiakan waktu dan tidak pernah membuang peluang yang sudah terlihat di depan matanya.
"Suami idaman!" Dalam hati Alona berkata dan sedikit tersenyum.
Meminum susu dan sandwich membuat perut Alona hangat dan terasa nyaman.
" Sayang, apakah Kau mau?"
Sebelum Alvaro menjawab Alona sudah memasukan sepotong sandwich kemulutnya.
"Trima kasih, Sayang!" Rasa-rasanya Aku pingin cepet-cepet halalin kamu!
"2 Tahun lagi Aku tamat! kita bisa menikah!"
"Apa sebaiknya kita bertunangan dulu?" Tanya Alvaro.
"Tidak, Aku tidak ingin bertunangan. Aku ingin langsung menikah." Jawab Alona.
"Baiklah, Nona. Jika Kau sudah siap Aku akan menikahimu besok pagi." Kata Alvaro sedikit bercanda.
"Alvaro, Aku tidak ingin bercanda!" Jawab Alona sedikit mendelikkan matanya.
Alona sedikit tersenyum sendiri, merasa bahagia di dalan hatinya.
Tangan sebelah kiri Alvaro memegang dan menggenggam tangan Alona dengan penuh kehangatan. Mata Alona sedikit terpejam, porsi jam tidurnya belum cukup. Alona menyenderkan kepalanya di bahu Alvaro dan tidur dengan nyenyak selama perjalanan menuju kampus.
"Sayang, bangun kita sudah sampai!" kata Alvaro dengan nada lembut bak suara kicauan burung di pagi hari.
Alvaro mencium kening Alona. Ia melihat wajah Alona sedang tidur, wajahnya sangat polos dan terlihat lucu dengan jepit rambut berwarna pink.
Melihat tidak ada pergerakkan dari Alona membuat Alvaro ingin membelai wajahnya yang terlihat polos. Alvaro memegang bibir Alona yang merona dan terlihat menantang seperti sedang memanggilnya untuk segera mencium bibir itu.
"Alvaro, tahan. Akan ada saatnya. Semua akan lebih indah pada waktunya nanti!" Air liur Alvaro terlihat naik turun di leher jenjangnya. Ia seperti sangat menginginkan nya.
Badan Alona sedikit bergerak, syal di lehernya sedikit melonggar dan memperlihatkan bekas gigitan itu.
Mata Alvaro berhenti tepat di leher Alona yang sedikit memperlihatkan warna merah bercampur biru kehitaman.
__ADS_1
" Alona? apa yang Kau lakukan di belakangku?"