
Alona tetap diam. Dia seperti enggan memberikan jawaban dari mulutnya. Hati Alona sedang bergemuruh sementara jantungnya terus bergejolak. Dia dengan susah payah menenangkan hati dan rasa egonya.
Melihat Alona tetap diam Michael kembali berbicara beberapa kata. Michael mencoba untuk menarik simpati adiknya. Mungkin dengan itu, ia bisa diberikan satu kesempatan. Tidak ada salahnya jika Michael ingin mencoba.
"Alona...., Kau tentu tahu pengaruh perusahaan ku di luar maupun di dalam negeri. Aku bisa saja mencarimu sampai ke seluruh penjuru dunia. Bukannya aku tidak ingin, tapi aku hanya tidak mau mengganggu kebahagiaan adikku, kebahagiaan keluarga yang menjaga adikku. Aku tidak ingin melanggar janji yang telah ku ucapkan. Aku akan pergi menjauh, jika Kau keberatan dengan adanya aku di sini." Kata Michael mencoba untuk tegar.
"Aku tidak mau!!!" Jawab Alona kasar.
"Alona, Kakak tidak pernah mengajarkan kamu untuk berkata kasar dan sombong." Kata Alan mulai geram dengan adiknya.
"Kakak, sudah kubilang aku tidak mau! jangan paksa aku untuk menerimanya."
"Alan biarkan saja. Mungkin dia butuh waktu untuk menerimaku. Aku akan pulang malam ini ke kota J. Terima kasih Kau telah menjaga Myrah selama ini. Bagiku dia tetap adikku." Selah Michael.
Michael berjalan menuju pintu keluar. Sebelum sampai ke penghujung pintu Michael menoleh menatap ke arah Alona yang tengah duduk di samping suaminya dengan wajah tertutup kain.
"Alona..., dengarkan Kakak kali ini saja." Bujuk Alan untuk meluluhkan hati adiknya. "Kesempatan tidak akan selalu datang untuk kedua kali atau ketiga kalinya. Michael tidak pernah ingin menemuimu. Dia datang ke sini karena Kakak yang memohon padanya. Seharusnya Kakak mendengar kata Michael untuk tidak menemuimu dan menutupi semua kebenaran ini. Sekarang Kakak kecewa dengan mu yang tidak bisa memberikan kesempatan pada orang lain."
Alan menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kedua tangannya terkepal di antara kedua kakinya yang tengah terbuka duduk di sofa.
"Aku tidak mau jika hanya satu kali menjadi adiknya. Aku juga ingin bertemu dengan Kakak ku Michelle." Kata Alona sedikit bergetar.
"Alan, Michael, Alexander, "....!!!"
Mereka bertiga terdiam beberapa saat. Ada rasa tidak percaya saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alona.
""Alona? K- Ka- Kau tidak salah bicara, kan? Kakak tidak salah dengar, Kan?" tanya Alan.
Michael yang awalnya sudah berada di luar pintu, kini berbalik arah. Pria itu tersenyum hingga wajahnya berbinar-binar seperti anak kucing menemukan induknya.
Alexander langsung saja memeluk istri di sampingnya. Kain penutup wajah di buka dan ia cium wajah istrinya dengan lembut. "Sayang aku senang, Kamu bisa menerima kenyataan ini."
Michael menghambur menghampiri Alona. Michael langsung saja merebut Alona dari pelukan Alexander. Dia tidak mempedulikan apakah Alexander akan marah atau tidak. Akhirnya Michael menyadari bahwa perasaannya selama ini, saat bertemu dengan Alona ialah rasa ingin melindungi adiknya, bukan perasaan cinta seperti seorang kekasih.
"Aku akan memanggilmu Myrah. Iya, Myrah Beverly Gunawan. Kau adikku."
Alona membalas pelukan Michael. Perasaannya sangat aneh saat Michael memeluknya. Sangat terasa asing, namun pelukan itu terasa hangat seperti ada cinta yang terpancar di dalamnya. "Kak, Michael, Kau Kakak ku. Kau tidak akan pergi meninggalkan ku, kan? meskipun aku mempunyai satu Kakak tapi aku tidak keberatan menjadi angkuh dan serakah. Aku sangat senang mempunyai dua Kakak sangat tampan. Aku akan menjadi adik yang paling bahagia di dunia ini."
"Aku tidak akan pergi" balas Michael. "Bagimanpun takdir kita akan bertemu saat ini. Kakak tidak pernah berniat ingin pulang ke kota J. Entah kenapa tahun ini hati Kakak sangat mantap untuk pindah dan memindahkan semua kantor pusat Gunawan grup ke kota J. Mungkin itu salah satu bukti kekuatan cinta Kakak terhadapmu. Kakak tidak pernah membayangkan akan bertemu denganmu lagi."
"Kak Michael, aku juga ingin bertemu dengan Kak Michelle. Bolehkah?"
"Myrah..., saat ini Kakak tidak tahu keberadaan Kakak mu Michelle. Michelle meninggalkan Kakak pergi lima tahun yang lalu. Dia sudah menikah dengan seorang pria militer. Sehari setelah menikah suaminya langsung di berikan tugas lapangan untuk ikut andil dalam peperangan antara suku di daerah terpencil. Dua hari berselang, suaminya dinyatakan meninggal tertembak panah beracun di dadanya. Michelle ikut menyusul ke daerah perbatasan tersebut. Sampai saat ini dia tidak ada kabar. Kakak sudah berusaha mencarinya, namun semua hanya sia-sia."
"Jangan sedih, Kak. Aku akan membantu Kakak mencari Kak Michelle." jawab Alona sambil tersenyum menghibur Michael. Alona pun membelai pipi Michael. Ia mngusap wajah Kakak nya untuk pertama kali. Bola mata Alona memancarkan sejuta kehangatan. Ada rasa kebahagiaan setiap kali pupil matanya bergerak memandag ke arah Michael.
Melihat keintiman itu, membuat Alexander cemburu. Dia tidak bisa untuk berdiam diri.
"Michael, aku tahu kamu Kakak nya tapi sekarang aku suaminya. Aku tetap cemburu meskipun Kau adalah Kakaknya. Jadi tolong segera lepaskan pelukan itu. Aku ingin bermain malam ini dengannya. Kalian bisa tidur di kamar tamu. Di sini kalian harus self service, aku tidak menyewa asisten untuk kalian tinggal lebih lama." Ucap Xander dengan nada menyindir sekaligus mengingatkan. Dia seperti tidak ingin berbagi istrinya kepada orang lain, sekalipun itu Kakak kandungnya.
"Alexander apa Kau sudah bosan hidup? aku paling berhak atas adikku" selah Alan. "Dia selama 17 tahun selalu tidur bersama ku saat musim hujan. Kau tahu seperti apa tingkahnya? dia selalu menendang wajah dan bokong ku saat tidur!" Canda gurau Alan.
"Kak Alan, jangan katakan itu. Aku sudah besar sekarang. Sebentar lagi aku juga akan memiliki anak. Aku berharap dia seorang perempuan. Aku bosan, tidak ada teman. Atau Kau bisa carikan aku Kakak ipar yang cantik dan baik hati. Dan Kau Kak Michael, jangan berpura-pura, aku juga menginginkan seorang Kakak ipar untukku." Balas Alona.
Alan, Michael, "....!!!"
Mereka berdua berpura-pura tidak mendengar.
Menjadi lajang di depan pasangan harus kuat menahan segala cobaan. Apalagi di depan pasangan baru menikah. Kamu harus kuat mata dan telinga. Jika tidak, pasti Kamu akan menderita....
__ADS_1
"Sayang, biarkan mereka melajang sampai mereka siap untuk menikah. Jangan menggoda mereka lagi. Sebaiknya kita pergi ke kamar, hari sudah mulai malam. Aku takut Kamu tidak dapat merasakannya lagi."
Alexander memberikan kode kerasnya.
"Sayang, aku baru saja bertemu dengan Kakak ku. Bagaimana Kau bisa tidak tahu malu." Jawab Alona.
"Alona Sayang, malam ini aku ingin mengajarimu permainan baru. Kau tentu sangat ingin tahu, bukan? permainan ini sangat asik. Kamu pasti sangat menyukainya."
Wajah Alona memerah menahan malu. "Sayang bisakah mulut mu jangan seperti baskom bocor?"
Alexander hanya tersenyum. Dia tidak peduli sama sekali. Baginya menggoda istrinya itu selalu membuatnya bahagia.
"Pergilah!, kalian selalu seperti pasangan tua, tidak tahu malu. Tolong bila sedang bersama kami jangan bicarakan kegiatan malam kalian. Dan, satu lagi tolong volume suara burung dan bebek kalian di kecilkan. Aku geli mendengarnya." Goda Alan teringat saat ia pertama kali datang.
"Kak jika Kau iri segeralah cari mangsa!" balas Alexander.
"Aku yakin kalian sudah tidak tahan, Kan?" godanya lagi.
Michael, Alan, "....!!!"
Mereka saling memandang aneh satu sama lain. Kali ini Mereka benar-benar kalah dengan bocah kecil. Jika mereka tidak sedang menumpang ingin sekali rasanya menghajar adik iparnya itu.
Alexander lantas menggendong Alona dan pergi ke kamarnya. Sementara Michael dan Alan masih saja berdiam diri di sofa.
Keesokan harinya....
Meja makan di penuhi makanan lezat. Sepanjang pagi Bibi Ani memasak di bantu dokter Risma.
Ada total 10 hidangan lezat pagi ini. Alexander sudah berpesan pada Bi Ani untuk membuat sarapan sepesial.
Bibi Ani sangat ahli membuat masakan rumah. Ia mewarisi bakat dari neneknya terdahulu.
Semua orang sudah berkumpul di meja makan untuk menikmati sarapan pagi.
Mereka menikmati semua sarapan dengan sangat gembira. Kecuali Alexander dan Dokter Risma.
Alexander sangat tidak senang karena istrinya telah di ambil alih kedua kakaknya. Sementara dokter Risma sangat kesal dengan kelakuan Michael pagi ini. Mereka bertengkar memperbutkan kamar mandi. Wanita itu sangat kesal karena Michael mendahuluinya, padahal ia sudah mengantri terlebih dahulu.
Bibi Ani sangat tahu situasi. Bagimanpun dia pernah memimpin pasukan perang. Dia tentu tahu segala sifat dan karakter bawahannya apalagi cuma segelintir orang di hadapannya saat ini. "Tuan Alexander aku memasak cumi goreng tepung. Tuan pasti menyukainya." Ucap Bi Ani untuk menghidupkan suasana hangat.
"Landak betina!" gerutu Michael memandang dokter Risma yang mencoba mengambil udangnya.
"Beruang kutub!" balas Dokter Risma masih kesal. Wanita itu mengertakan giginya dan mendelikkan matanya. "Tuan, tolong lepaskan udang ku" Ucapnya lembut tapi dengan tatapan mengancam.
"Nona Dokter kita yang cantik. Bibi sudah memasak sate telur puyuh kesukaanmu." Kata Bi Ani tersenyum ke arah Dokter Risma saat sedang tertangkap basah berebut makanan dengan Michael. Mereka berebut udang asam manis.
"Terima kasih Bi...." Jawab Dokter Risma. Wanita itu melepaskan udang di atas piring tersebut. Ia memilih menjaga imagenya.
Alona dan Alan mengedarkan pandangannya dan menarik kedua pundaknya tanda mereka tidak peduli dengan kekacauan pagi ini.
"Tuan Michael, tamu istimewa pagi ini. Bibi sudah memasak gurame pecak khusus untuk mu." Ucap Bi Ani sambil memberikan piring berisi gurame pecak kepada Michael.
"Terima kasih Bi. Bibi sangat tahu makanan kesukaanku." Puji Michael mengambil hati Bibi Ani.
Akhirnya perkelahian antara Michael dan Dokter Risma bisa mereda. Mereka berenam bisa menikmati sarapan pagi dengan tenang setelah melewati perdebatan cukup sengit.
*****
Hari sudah beranjak siang....
__ADS_1
Alexander sedang fokus menatap layar laptopnya di ruang tamu. Dia sedang memutar video rapat yang sempat ia tinggalkan.
Alan sedang membaca dokumen investigasi Diana. Alan sangat serius membaca setiap keterangan yang tertulis di dalamnya.
Alan menyenderkan tubuhnya ke sofa. Dokumen di tangannya ia letakkan di atas meja. "Alexander apa yang sedang Kau kerjakan? apa Kau sibuk?" tanya Alan.
"Tidak ada, aku baru saja melihat video hasil meeting kemarin malam. Katakan saja bila Kakak membutuhkan bantuan ku." Jawab Alexander.
Michael datang dari taman bersama Alona. Dia pagi ini mengajak adiknya keliling taman untuk mendekatkan hubungan antara Kakak dan adik.
"Apa Kau juga butuh bantuanku?" sahut Michael.
Alona yang tidak tahu menahu langsung pergi ke kamarnya. Ia ingin istirahat sebentar untuk meredakan rasa sakit di kakinya akibat terlalu lama berjalan.
Alan langsung ke inti pembicaraan.
"Alexander aku ingin meminta pendapatmu. Dan, Kau Michael, sebagai Kakak asli dari Alona aku juga meminta persetujuan mu. Ini tentang kasus Diana."
"Katakan terlebih dahulu. Baru kami akan menyetujui mu" Jawab Michael. Meskipun dia baru bertemu adiknya. Namun dia tidak akan sembarangan membahayakan keselamatan adiknya.
"Aku sudah mengawasi Diana selama ini. Aku menyewa detektif swasta untuk mengintai segala pergerakan Diana. Diana sudah memerintahkan seseorang untuk menculik Alona. Diana hanya tahu bahwa bayi yang di kandung Alona adalah cucunya. Ia ingin Alona kembali bersama Alvaro. Bagaimana menurut kalian? apa yang bisa kita lakukan sekarang."
"Apa motif di balik semua ini? Diana itu siapa?" tanya Michael yang belum tahu sama sekali permasalahannya.
"Michael, Diana itu adalah ibu dari mantan kekasih Alona. Dia sudah membunuh kedua orang tua ku. Selain itu dia juga berkomplot dengan pamanku untuk mendapatkan saham perusahaan Raharja Industry. Diana juga sudah menyebabkan kesalahpahaman antara keluarga Raharaja dan Utama lima tahun lalu. Dia wanita licik!"
"Emm..., aku mengerti"
Michael sangat cepat tanggap mencerna permasalahan yang terjadi. Meskipun dia belum mengetahui keseluruhan permasalahan namun dengan tingkat kecerdasan yang tinggi dia dapat menyimpulkan dengan mudah.
"Alan sebaiknya Kau mendaftarkan perusahaan keluarga mu menjadi terbuka untuk umum. Aku akan membelinya, semua sahamu akan aku kembalikan setelah kasus ini selesai. Aku tahu nilai saham perusahaannu selalu stabil, sehingga banyak pihak yang menginginkannya. Menjadikan perusahaan mu terbuka untuk umum akan mendapatkan sisi positif di mata masyarakat setelah kasus campylobacter. Selain itu kita bisa memancing dalang di balik kasus lima tahun yang lalu. Mungkin saja Diana hanya tameng dibalik semua kasus ini. Alexander aku juga menyarankan agar saham di tangan mu kau juga jual kepadaku 40% selebihnya berikan kepada orang lain. Sementara saham Alona biarkan itu menjadi umpan pancing bagi kita."
"Aku setuju..." Jawab Alexander.
Alan menganggukan kepalanya. "Aku juga setuju."
"Lalu apa rencana kita selanjutnya?" tanya Michael.
"Diana sangat menginginkan Alona. Selain bayi mungkin saja dia ingin membunuh semua keluarga ku. Sebelumnya dia juga pernah mengancam untuk membunuhku. Aku punya rencana.Tapi ini sangat berbahaya." Jawab Alan.
"Katakan saja, Kak. Kita akan bekerja sama untuk melakukannya." Kata Alexander.
"Aku ingin menjadikan Alona sebagai pancingan untuk mengeluarkan semua orang yang berkerja di belakang Diana. Kita hanya perlu membawa Alona pulang ke kota J. Dengan begitu, anak buahnya Diana pasti akan menculik Alona. Entah itu untuk mengembalikan Alona pada Alvaro atau untuk hal lainnya."
"Kak aku tidak setuju. Bagaimana pun Alona sedang hamil. Aku tidak ingin membahayakan nyawa anak dan istriku."
"Alexander..., Kau tahu Davis Moyes. Dia orang yang di perintahkan Diana untuk menculik Alona. Dia adalah anak gelapnya Diana. Selain itu Diana sudah meminta bantuan Davis untuk menyelamatkannya saat pemindahan tempat tahanan terakhir."
"Kapan persidangan kasus Diana selesai?" tanya Michael.
"9 sampai 10 bulan. Diana sudah membayar pengacara terkenal. Selain itu Dia bukan wanita biasa. Kita harus bekerja ekstra keras untuk membuktikan bahwa Diana bersalah atas kasus kecelakaan orang tuaku."
"Aku akan memperlambat proses persidangan menjadi 12 bulan, Itu salah satu solusinya. Alona pasti sudah melahirkan 12 bulan kedepan." Jawab Michael.
"Tidak! apapun yang membahayakan Alona aku tidak setuju!" bantah Alexander.
"Aku punya rencana untuk itu. Nanti aku beritahu Kakak setelah rencana ku bisa berhasil mulus atau tidak"
"Alexander kita harus bergerak lebih cepat!" Jawab Alan.
__ADS_1
"Kakak urus saja pendaftaran Raharaja Industry. Aku akan memikirkannya malam ini." balas Alexander tidak ingin menyetujui rencana Alan.
"Alan dan Alexander kalian boleh mengurus semua strateginya. Aku akan menjaga Alona di sini. Aku ingin lebih lama bersama adikku Myrah. Kalian bisa menghubungi ku jika kalian membutuhkan bantuanku." Jawab Michael sangat yakin.