
Rumah sakit, Gunawan hospital. Rumah sakit paling elit di kota J, memiliki peraturan paling ketat dan aman. Semua pengunjung tidak bebas keluar masuk , harus melakukan serangkaian pemeriksaan meliputi keamanan dan kesehatan pengunjung. Pengunjung tidak dapat mengetahui kamar pasien tanpa persetujuan pihak keluarga. Privasi dan kenyamanan pasien sangat di utamakan. Dari ribuan pasien yang di rawat di rumah sakit itu, semua memiliki status tinggi dan pejabat pemerintah. Biaya rawat inap setidaknya harus menghabiskan uang sepuluh juta rupiah per malam, dan harus menyetor deposit minimal seratus juta rupiah, itupun termasuk kelas paling rendah.
Diana rela melakukan cara apapun demi kebahagiaan dan masa depan cerah anaknya. Wanita itu membayar seseorang untuk mendapatkan informasi tempat Alona di rawat. Metode jalan belakang seperti ini sudah sering ia lakukan untuk mendapatkan berbagai informasi yang diinginkannya.
Awalnya Diana tidak pernah berfikir bahwa ia akan bertemu dengan keponakannya bersama Alona di dalam ruangan itu. Diana hanya ingin datang mengunjungi Alona, ia berniat memperbaiki jalinan kasih antara Alona dan Alvaro yang sempat retak bahkan sudah sampai berakhir. Walaupun ia belum mengetahui kepastiannya, wanita itu lebih memilih menyelesaikan masalah secepat mungkin, sebelum hubungan itu benar-benar berakhir.
Tidak disangka saat ia masuk ke ruangan itu ia menyaksikan Xander dan Alona sedang melakukan sesuatu yang membuatnya marah. Wanita itu marah sekaligus senang saat menyaksikan Alona dan Xander berciuman di depan matanya. Itu artinya ia tidak perlu repot-repot menyemai bibit perselisihan. Ia cukup memetik hasilnya saja. Wanita itu sungguh manipulatif!
Xander sengaja melakukan semua adegan itu. Ia ingin menimbulkan kesalahpahaman antara Ibunya Alvaro dan Alona. Meskipun begitu, Xander menyadari tidak akan mudah menghancurkan wanita itu.
"Alona aku sangat kecewa padamu! Anakku Alvaro, kekasihmu belum sembuh, masih berbaring di ranjang rumah sakit ini. Tapi, Kau malah asik bermesraan bersama pria lain."
Diana wanita tamak, ia memanfaatkan kejadian itu untuk menekan Alona. Wanita itu menginginkan Alona mengejarnya dan meminta maaf padanya. Dengan begitu, ia bisa menguasai hubungan Alona dan Alvaro. Pikiran wanita itu sungguh licik!, memanfaatkan segala sesuatu yang akan menguntungkannya di masa depan.
"Ma..., Maafkan aku. Aku tidak ada hubungannya dengan dia." Alona mengarahakan jari telunjuknya ke arah Xander. Alona meraih tangan Diana, "Ma..., Aku hanya mencintai Varo. Tolong percayalah Ma...."
Xander memegang pipinya yang berwarna merah. Sakitnya masih terasa membekas hingga gendang telinganya berdengung.
"Apa aku punya masalah denganmu, Bibi!?" Xander menatap wajah wanita itu. Tangannya sudah gatal ingin membalas tamparan Diana, tapi ia urungkan saat melihat Alona ada di sampingnya.
"Harusnya aku tanya padamu, apa otakmu bermasalah!? Dia calon menantuku. Berani-beraninya Kau menyentuhnya."
Diana melepaskan tangan Alona dan melempar buket bunga di atas ranjang, sementara buah yang dipegangnya ia hempaskan di atas meja. Langkah kakinya sangat cepat keluar dari ruangan itu. Diana membanting pintu ruangan dengan sangat kuat, hampir seluruh paku-paku yang menancap di pintu itu seperti akan terlepas.
Alona sudah bangun dari tempat tidurnya, ia ingin turun dan mengejar Diana. Tangan Xander dengan cepat menahan wanita itu. " Hentikan Alona!, apa Kau ingin mempermalukanku lagi!?"
"Xander aku ingin menemuinya. Aku harus menjelaskan kesalah pahaman ini. Aku tidak mau kejadian ini di salah artikan."
" Bagus!, temuilah dia. Temuilah Alona!" Xander berteriak pada wanita itu, urat-urat di seluruh badannya seperti akan keluar. " Tapi, ingat! sebelum Kau sampai, aku sudah mengirimkan foto telanj*ngmu bersamaku di malam itu!"
"Xander! Apakah Kau benar-benar manusia yang tidak mempunyai hati dan perasaan!?"" Aku lelah Xander, Aku lelah...." Alona menagis dan berteriak histeris. "Kau selalu memperminkan hidupku!"
"Xander.... Aku ingin menemui Varo, aku ingin melihat keadaannya. Ibunya ada di sini, aku pasti bisa menemuinya."
__ADS_1
Wanita itu jatuh kelantai memeluk tiang ranjangnya.
"Diam! Berhentilah berteriak di depanku Alona!"
Xander mengeluarkan ponselnya. Ia menggulir layar ponselnya dan menelpon bagian pelayanan pelanggan. Pria itu mengajukan keluhan pada rumah sakit. Saat sambungan telepon berdering dan di jawab oleh seorang wanita, Xander langsung berteriak tanpa memberikan wanita di ujung telepon berbicara. Pria itu memaki dengan suara lantang dan berapi-api, "siapa yang memberikan informasi pasien di ruangan 4771, apa rumah sakit ini minta di tutup!? Katakan pada pimpinan kalian untuk segera datang. Jika tidak aku akan menutup rumah sakit ini, segera!" Xander memberikan ultimatumnya. Teleponnya langsung di putus saat ia selesai berbicara, tanpa memberikan nama pelapor ataupun data lainnya.
Maya yang bertugas mengangkat telepon saat itu sangat ketakutan. Wanita itu langsung menagis, seluruh badannya gemetar. Suhu panas badannya langsung turun seperti lemari pendingin bersuhu -10°celcius.
Deriktur, dengan nadanya yang sesenggukan menangis, Maya ingin menyampaikan maksudnya tapi selalu tercekat di tenggorokannya. Kedua telapak tangannya menutupi wajahnya. Wanita itu kembali menagis tersedu-sedu.
Deriktur rumah sakit itu memutusakan mendengar rekaman telepon masuk. Setelah mendengar isi rekaman telepon, Pria itu langsung pergi menuju ke ruangan 4771.
Tidak sampai 5 menit pria paruh baya itu sampai di ruangan 4771. Langkah kakinya tertatih-tatih, keringat sudah bercucuran membasahi sekujur tubuhnya.
Pria itu mengetuk pintu dan masuk, "maaf Tuan, rumah sakit kami telah melakukan kesalahan. Saya akan bertanggung jawab dengan segala sesuatu yang terjadi. Saya akan memberikan kompensasi terhadap kerugian yang Tuan alami. Kami akan mengganti ruangan ini dengan ruangan eksklusif di lantai paling atas, di sana akan di jaga security 24 jam."
"Tidak perlu memberikan kompensasi apapun, aku masih sanggup membayar tagihan rumah sakit ini." Xander menolak pemberian kompensasi itu, ia hanya ingin mengganti kamar rawat inap.
*****
Setelah Alona di pindahkan, ruangan itu terlihat tenang. Xander yang awalnya marah sudah terlihat mulai bersahabat.
Malam sudah tiba, musim panas sudah beralih ke musim hujan. Kilatan cahaya petir terlihat menembus tirai berwarna putih di ruangan itu. Sepertinya malam ini akan turun hujan disertai badai dan angin kencang. Kilatan demi kilatan petir terus memancarkan cahayanya. Alona ketakutan, ia tidur meringkuk di atas kasur. Wanita itu menarik selimut hingga menutupi seluruh badannya. Terdengar samar-samar dari balik selimut, ia menaggis menahan ketakutannya. Kali ini wanita itu tidak ingin mendekati Xander. Ia lebih memilih menangis sendirian.
Waktu itu belum terlalu malam, Xander masih terjaga duduk di sofa sedang membaca dokumen penting. Pria itu sangat serius dengan pekerjaannya, hingga ia mengabaikan segala sesuatu di ruangan itu.
Ruangan itu sangat luas. Terdapat 2 kasur berukuran besar. Satu untuk pasien, satu untuk keluarga pasien yang berjaga. Ruangan itu lebih mirip hotel bintang lima dibandingkan dengan rumah sakit.
Suara guntur menggelegar, sangat keras. Alona berteriak ketakutan, matanya sudah merah dan bengkak. Xander yang mendengar teriakan Alona langsung menghampiri wanita itu. Ia membuka selimut Alona dan memeluknya dari belakang. "Tenaanglah aku ada disini, jangan takut...!" Alona menjadi tenang, tidak ada rasa takut saat Xander memeluknya dari belakang. Suara Alona serak dan berbicara pada Xander, "Xander aku ingin pulang dari sini." Xander mengelelus kepala Alona, "besok kita akan pulang..., tidurlah hari sudah malam."
*****
Xander menepati janjinya pada wanita itu, saat matahari sudah mulai terang dan Alona sudah menyelesaikan sarapannya. Ia segera menghubungi dokter Maria. Dokter yang bertanggung jawab atas keselamatan dan perawatan Alona. Dokter Maria sudah memberikan izin untuk pulang, kesehatan Alona sudah tidak ada masalah. Dokter maria mengingatkan Alona sebelum pulang dari rumah sakit. "Semua aktivitas sudah bisa dilakukan seperti semula kecuali berolahraga berat, makanan yang berminyak dan pedas harus dihindari, pastikan pikiran selalu tenang dan jangan stres."
__ADS_1
"Terima kasih, Dokter Maria. Aku akan mendengarkan saranmu" Alona tersenyum ia meraih tangan Xander dan segera pergi dari rumah sakit.
Xander mengantarkan Alona sampai ke depan rumahnya, ia tidak mampir. Pekerjaannya sudah menumpuk selama seminggu ditinggalkan cuti. Pria itu langsung pergi ke kantornya di jalan Selatan Raya.
*****
Keesokan harinya, saat pertengahan hari, Alona bosan sendirian di rumah. Wanita itu mengirim pesan pada Mamanya Alvaro.
"Ma... Maaf kejadian kemarin itu bukan seperti yang Mama lihat. Aku akan menjelaskan semuanya. Aku mau menjenguk Alvaro, boleh ya Ma?"
Pesan terkirim. Diana langsung membalas pesan itu, "datang saja kesini Alona sayang..., Alvaro anak Mama sangat membutuhkanmu saat ini."
Alona tersenyum dan langsung bersiap-siap. Ia membuka lemarinya dan meraih gaun model sabrina berwarna peach, panjang gaunnya lima sentimeter di atas lutut, bagian tengah punggungnya terdapat pita berwarna putih. Gaun itu hadiah dari Alvaro, pria itu mengatakan pada Alona untuk memakai baju itu saat mereka sedang bertengkar, maka pria itu akan mengingat hubungan mereka lebih penting dari pada hal lainnya tidak peduli apapun, mereka harus tetap bersama.
Alona memakai aksesoris anting kepala kelinci, memakai kalung berwarna silver berliontin huruf A. Setelah mencocokan semua pakaiannya, Alona merias wajahnya. Polesan demi polesan diwajahnya menambah nilai kecantikannya. Riasannya natural, aura bahagia wanita itu terpancar jelas hingga menimbulkan kilauan cahaya dari wajahnya. Kilauan itu menambah kecantikan alaminya.
Saat ia tiba di rumah sakit semua mata tertuju padanya. Wanita itu sangat sempurna dari ujung kaki sampai ujung kepala. Sepatu hak tinggi lima sentimeter dengan tali yang melingkar di kaki jenjangnya menambah keanggunannya saat ia berjalan. Semua pasien rumah sakit yang sedang berjalan melintasinya dapat merasakan kesembuhan secara tiba-tiba. Bahkan seorang dokter muda dan tampan menabrak orang yang sedang berjalan di depannya.
Sepanjang jalan memasuki rumah sakit itu ia tersenyum menyapa setiap orang yang melihat ke arahnya. "Halo paman, halo bibi."
Keheningan berakhir saat ia tiba di meja resepsionis, "Nona, Aku ingin mengunjungi kekasihku Alvaro Maldini Nugroho, Bisa?"
Wanita di depannya tersenyum melihat Alona, "tunggu sebentar, Nona cantik. Nona bisa duduk di ruang tunggu dan check up kesehatan. Saya akan menelepon pihak keluarganya."
Alona tersenyum dan menjawab ramah wanita itu. "Ok..., aku akan menunggu."
*****
Saat siang ruangan kerja terasa pengap meskipun AC sudah menyala. Xander merebahkan badanya di kursi putar. Pria itu memejamkan matanya, ia merasa kelelahan bekerja seharian. Bunyi deringan ponsel membangunkan pria itu dari tidurnya. Xander merasa kesal, terganggu dengan suara deringan ponsel yang terus-menerus berbunyi tanpa henti. Ia meraih ponselnya dan mlihat kiriman foto dari Diana. Pria itu mengepalkan tangannya dan meninju meja kerjanya
Xander berteriak memanggil sekretarisnya, " Rudy segera buatkan surat pemindahan saham. Cepat!, lima menit atau aku akan memecatmu!"
Hati pria itu sangat panas, lebih panas daripada bara api saat melihat foto di layar ponselnya. "Alona!, Kau...."
__ADS_1