Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Seekor rubah betina tidak akan pernah berubah menjadi seekor kucing yang jinak!


__ADS_3

Alona kembali tertidur, setelah di berikan suntikan obat penenang ke dalam botol infusnya. Ruangan itu menjadi seperti semula tanpa suara teriakan ataupun tangisan wanita itu.


Xander bernapas lega setelah melihat Alona tertidur nyenyak di atas kasur.


Wajah Alona terlihat pucat dan menyedihkan, tapi, kecantikan dan aura menggodanya masih terpancar jelas di setiap inci wajahnya.


Mata lelaki tidak akan berbohong saat melihat sesuatu yang indah. Mata coklat milik Xander telah terpikat oleh pesona Alona. Bibir tipis wanita itu sedikit bergerak seperti memanggil Xander untuk segera menciumnya. Aura agung Xander seketika luntur di terpa wanita itu. Keangkuhannya terkikis secara perlahan. Dendam yang awalnya setinggi gunung kini sudah seperti tumpukan rumput, hanya waktu yang akan menghancurkannya. Sama seperti pupuk kompos!, hancur pada waktunya.


Pria itu membelai pipi Alona, gerakannya lembut membersihkan sisa air mata yang membasahi pipi wanita itu. Xander meraih tangan Alona, ia melihat ada bekas luka jarum di tangannya. Melihat luka itu hatinya seperti tersayat-sayat jarum yang menusuk di tangan Alona. Hatinya sakit!


Xander mengelus-elus kening Alona dan menciumnya. "Tidurlah.... Aku akan menjagamu." Xander berbisik di telinga wanita itu.


Apa artinya perasaan ini!?


Saat dekat aku takut kehilangannya, seperti saat ini aku tidak ingin memejamkan mataku. Aku takut, ketika aku mengedipkan mataku dia sudah pergi meninggalkan ku.


Saat jauh ada rasa rindu, tapi bukan rindu. Mungkin lebih tepatnya tidak ingin jauh darinya.


Mungkin, ini yang dinamakan cinta tanpa syarat!?


Aku sendiri, merasakan cintaku yang bertepuk sebelah tangan. Berharap suatu saat nanti tangannya menepuk sebelah tangan cintaku.


Xander mendesah, menyenderkan badanya di kursi. Ia mendongak mengalihkan pandangan matanya ke arah langit-langit di ruangan itu. Badanya terasa sakit seperti dililit ular piton.


Kelelahan menemani Alona di rawat di rumah sakit, Xander merasa kelaparan dan haus. Pria itu mengambil mantel hitamnya di atas sofa, ia ingin pergi keluar mencari makan dan udara segar. Xander membutuhkan sedikit ketenangan di hati kecilnya yang sedang terluka oleh wanita itu.


"Dokter Maria, tolong jaga dia! Aku ingin keluar sebentar. Jika terjadi sesuatu padanya Kau bisa memanggilku kapanpun." Xander meminta tolong pada dokter itu.


Saat ia akan melangkahkan kakinya keluar ruangan, Xander kembali mengingatkan dokter Maria. " Jangan biarkan orang asing masuk tanpa seizinku. Jaga dia baik-baik, aku tidak mau dia terkena goresan apapun, sekalipun itu nyamuk menggigitnya. Aku akan melenyapkanmu! jika itu terjadi." Aura pria itu sangat menakutkan, tatapan matanya seakan-akan dapat membunuh orang di depannya.


"Baik...Tuan." Dokter Maria menjawab dengan sedikit terbata-bata bercampur rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya.


Xander telah keluar dari ruangan itu, sudah tidak terlihat bentuk tubuhnya. Hanya aura membunuhnya saja yang masih tertinggal.


Dokter Maria menghela napasnya. "Lebih baik menjaga ruangan mayat dari pada menjaga di ruangan ini. Setidaknya mayat tidak akan membunuhku. Jika aku melakukan kesalahan di sini, bisa dipastikan aku yang akan menjadi mayat."

__ADS_1


Dokter Maria meraih kursi dan duduk di samping ranjang Alona. Ia memperhatikan setiap inci tubuh Wanita itu sesuai yang sudah di perintahkan.


Dokter Maria memperhatikan wajah Alona. "Nona Kau sangat cantik, sayang sekali kekasihmu tak ubahnya seperti serigala. Pria itu sangat mempedulikanmu walaupun tingkah lakunya menakutkan. Entah itu keberuntungan mu atau sebuah kutukan. Semoga saja pria itu benar-benar peduli padamu dan hanya kasar pada orang lain."


*****


Secangkir kopi hangat di sajikan di atas meja. Uap panasnya terlihat jelas menyebar ke permukaan. Aroma kopi menyebar memasuki lobang hidung penikmat sejatinya, aroma khasnya menenangkan pikiran wanita itu.


Diana meminum kopi kesukaannya, kopi hitam dengan sedikit gula. Ia baru tiba 10 menit yang lalu, menunggu seseorang.


Hatinya gugup. Wanita itu terus memperbaiki irama suaranya. Ia sedikit berdehem " Kehem,kehem...," untuk memastikan bahwa ia siap menemui penyelamat anaknya. Wanita itu sudah menyiapkan kata-katanya untuk berterima kasih pada orang yang menyelamatkan anaknya.


*****


Xander mendorong gagang pintu memasuki cafe di rumah sakit itu. Ponsel di saku celananya tiba-tiba berdering menampilkan notifikasi pesan baru. Xander mengerenyitkan alisnya saat melihat isi pesan di ponselnya.


"Tuan, ini aku, ibu dari anak yang Tuan selamatkan. Maksudku.... aku ingin bertemu khusus untuk berterima kasih padamu. Maaf sepertinya aku kurang sopan, seharusnya aku yang datang ketempatmu di rawat. Tapi, rumah sakit sangat pelit memberikan informasi pasiennya. Aku mendapat nomormu dari suamiku, Tuan memberikannya pada saat suamiku datang ke rumah sakit, bukan? atau begini saja jika Tuan keberatan aku akan mengunjungi Tuan. Kirimkan saja alamat atau tempat Tuan dirawat, padaku."


Diana sudah merangkai kata-kata indah dalam pesannya. Wanita itu terlihat angun di luar tapi sangat berbahaya di dalam. Hanya orang yang sudah mengenalnya cukup lama bisa mengetahui semua rencana jahatnya. Wanita itu bermuka dua!


Tangan Xander mengetik pesan dengan sangat cepat, "Kirimkan saja alamat Nyonya aku akan pergi sekarang." Isi pesan itu terlihat seperti sebuah pengakuan keagungan seseorang yang menerima pesan itu.


Diana sudah mengetahui tidak akan ada yang bisa menolaknya. Wanita itu sangat yakin bahwa penyelamat anaknya mengetahui status tingginya, sehingga penyelamat itu dengan mudah bersedia menerima permintaannya.


Tangan ramping dan seksi wanita itu sangat berhati-hati mengetikan kata demi kata dalam pesannya agar terlihat angun dan sopan.


" Saya di ruangan khusus, XYZ Cafe di rumah sakit ini. Tuan bisa menemui ku disana."


"Baik...." Xander menjawab singkat tanpa penjelasan apapun. Pria itu terkesan memberikan sikap dingin dan acuh tak acuh.


Xander yang awalnya sudah memasuki Cafe umum rumah sakit, kini memutar tubuhnya keluar ruangan itu.


Langkah kakinya pasti, tanpa keraguan menemui wanita itu. Seorang wanita yang sudah lama ia tidak lihat.


*****

__ADS_1


"Kau....!" Diana terkejut menatap Xander melangkah berjalan ke arahnya.


"Bibi.... Kebetulan sekali kita bertemu di sini." Xander menyapa Diana tanpa rasa ragu.


"Apa yang Kau lakukan di sini!?" Diana bertanya sinis pada Xander.


" Bibi sendiri yang mengirimiku pesan." Xander menjawab singkat dan seadanya.


"Maksudmu!? Kau yang sudah menyelamatkan anakku!?" Wanita itu kaget dan tidak percaya pada apa yang sudah terjadi.


"Iya itu aku...." Xander menjawab tanpa basa-basi ataupun keraguan.


"Terima kasih," Diana menjawab dengan rasa enggan. 'Silahkan duduk!"


"Emm...." Pria itu menundukkan kepalanya dengan satu tangan di saku celananya. Xander tersenyum menyeringgai, menarik kursi dan duduk.


Diana mengingat video yang diperlihatkan Alvaro padanya. Xander yang sedang menggendong Alona masuk ke dalam Mobil. Wanita itu tidak membuang kesempatan sama sekali untuk memperingatkan xander.


"Xander aku tahu Kau selalu mengganggu hubungan anakku. Hentikan sekarang juga!"


"Tidak ada yang bisa mengatur hidupku Bibi. Maaf maksudku Nyonya Nugroho...." Xander menekankan kata Nyonya menandakan sebuah gelar wanita itu. "Aku baru ingat Kau bukan Bibiku lagi."


"Aku memperingatkan mu Xander. Jangan ganggu anak dan calon menantu ku lagi."


Xander tersenyum dan tertawa lepas menatap wanita itu. "Seekor rubah betina tidak akan pernah berubah menjadi seekor kucing yang jinak. Aku harusnya menyadari itu!"


"Benar, kan Nyonya Nugroho!?" Xander bertanya pada wanita itu.


"...." Wanita itu terdiam beberapa detik. Ia tersadar saat Xander memanggilnya.


"Nyonya..., Nyonya, Nyonya." Xander melambaikan tangan sebanyak 3 kali ke arah wajah wanita itu.


"Maaf.... Aku tidak mendengarmu!," Diana meminta maaf pada Xander atas ketidak fokusannya saat berbicara di meja itu.


"Tolong ulangi lagi apa yang Kau katakan tadi." Diana memohon pada Xander untuk mengulangi kata-katanya.

__ADS_1


"Sudah.... Lupakan saja! Aku tidak suka mengulangi kata-kata yang sama saat aku berbicara." Jawab Alexander.


__ADS_2