Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Mengalihkan situasi


__ADS_3

Alona ingin mendorong tubuh Xander. Ia sudah berusaha namun tidak ada kekuatan untuk mendorongnya. Kegilaan Xander membuatnya lelah dan tidak bisa berkutik. Seluruh tubunhya bagaikan makanan lezat bagi pria di depannya. Alona di tekan sangat kuat hingga susah untuk bernafas. Suara keduanya saling beradu, keringat sudah menyatu tidak dapat di bedakan mana keringat di antara keduanya. Alona semakin takut ketika pintu lift terbuka. Ingin meminta tolong tapi perasaan takut lebih dominan. Ingin memberontak percuma, tidak akan ada yang menolong seseorang yang sedang bermesraan kecuali ketika pria itu baru ingin melakukannya ia langsung berteriak. Alona akan di anggap membuat lelucon jika sudah melakukannya baru berteriak.


Alvaro tersadar ketika mendengar suara erangan dari kedua orang di depannya. Perutnya bergejolak cukup kuat rasanya ia mau muntah menyaksikan kegilaan di dalam lift. Alvaro melambaikan tangannya ke arah sopir Dodi dan berkata. "Pak kita langsung ke pusat informasi saja lewat eskalator. Jangan lewat sini." Alvaro merasa risih melihat kedua orang sedang bergumul di dalam lift itu. Ia mengurungkan niatnya untuk naik ke dalam lift. "Apa tidak ada hotel di sekitar sini sehingga melakukan hal-hal seperti itu di tempat umum. Bagaimana jika anak-anak menyaksikan mereka" Kata Alvaro geram menyaksikan adegan intim pria dan wanita di dalam lift tepat di depan matanya.


Xander sudah ingin melepaskan ciumannya dengan Alona. Tiba-tiba Alona mendengar suara Alvaro saat pintu lift menganga lebar. Alona tahu betul suara kekasihnya. Ia sudah ketakutan bahkan terlihat sangat syok. Alona meraih leher Xander dan mencium bibirnya lebih dalam dan terkesan penuh nafsu. Kemudian ia memeluk pria itu agar tidak bergerak menutupi tubuhnya dari pandangan Alvaro. Alona tidak ingin Alvaro melihatnya dalam keadaan berciuman dengan pria lain di dalam lift.


Mungkin dunia akan runtuh saat itu juga. Jika Alvaro mengetahui bahwa Alona kekasihnya ada di dalam lift itu sedang berciuman bersama pria lain.


Xander kebingungan dengan sikap Alona secara tiba-tiba menciumnya dengan lembut dan penuh gairah. "Mungkinkah wanita itu sudah membalas cintanya!?, secepat itu!?" Xander tidak peduli dengan semua pikirannya. Terpenting baginya Alona sudah berinisiatif menciumnya merupakan sebuah kebahagiaan tidak terlupakan.


Ketika pintu lift tertutup rapat. Sopir Dodi segera mendorong kursi roda menjauh dari lift menuju pusat informasi.


Alona mencium pria itu hanya untuk mengalihkan situasi. Hanya itu yang bisa ia lakukan saat itu.


Setelah mendengar pintu lift tertutup Alona mendorong pria itu sangat kuat. Detik berikutnya, sebuah tamparan mendarat di pipi Xander. Alona menunjuk pria itu dengan jari telunjuknya dan berkata. "Jangan pernah menyentuhku!!!"


Alona memencet semua nomor lantai berulang kali. Ia ingin keluar secepatnya. Tidak peduli lantai berapa yang ia tuju. Alona sudah tidak tahan berada di dalam ruangan yang sama dengan pria itu.


Xander memegang pipinya yang terasa panas akibat tamparan wanita itu. Kemudian ia tertawa lalu menatap sinis Alona dan berkata. "Alona apa aku tidak salah dengar. Bukankah Kau yang mencium ku terakhir kali!?. Aku sudah melepaskan mu sebelumnya!"


"Alona menoleh dan mendelikkan matanya ke arah Xander. "Apa kamu pikir aku mau melakukannya jika tidak terpaksa!?. Lebih baik aku mencium an*ing dari pada menciummu Xander. Menjijikkan!. Kau pikir aku tertarik padamu?"


Xander tidak habis pikir. Ia hanya di manfaatkan oleh Alona untuk menutupi kesalahan yang telah ia lakukan pada wanita itu di dalm lift. Mengingat kejadian itu membuatnya terlihat lebih mengerikan.


Xander marah, mukanya sudah berubah muram. Kenapa ia tidak menyadari bahwa orang di belakang mereka adalah kekasih wanita itu. Rasanya ia ingin sekali menunjukkan aksi itu di depan Alvaro secara langsung. Jika ia tahu lebih awal Xander akan memutar posisi mereka agar tubuh Alona terlihat jelas oleh kekasihnya secara terbuka dan terang-terangan. Xander menatap tajam wajah Alona dan berkata. "Baiklah jika begitu aku akan menjadi an*ing untukmu Alona."


"Heh...," Alona tersenyum sinis dan mengejek. " Aku pikir Kau juga tidak lebih baik dari an*jing Xander!. Maaf tapi itu kenyataan!"


"Baiklah..., aku akan menunjukkan padamu bagaimana cara an*ing memperlakukan wanitanya." Xander menarik wanita itu ke dalam pelukannya lalu menggendongnya ke luar dari lift itu ketika pintu lift terbuka menuju lantai parkir mobil....


"Xander lepaskan aku!. Aku bukan barang yang bisa kau pindahkan kemana saja sesuka hatimu" Alona memberi peringatan pertama.


Xander terus berjalan tanpa mempedulikan wanita itu....


"Aku akan berteriak jika Kau tidak melepaskan ku." Kaki Alona menendang-nendang ke segala arah untuk melepaskan diri dari pria yang menggendongnya.


"Berteriaklah!" Kata Xander. "Jangan lupa kekasihmu ada di sini. Lakukan jika kau berani. Aku akan menggendongmu sampai di hadapannya."


"Jangan coba-coba mengancamku Xander." Alona sudah mulai tersulut emosi.

__ADS_1


"Aku ingin tahu sampai mana kemampuanmu." Xander tersenyum menyeringgai.


Alona sudah kehabisan nafas akibat melawan Xander. Dadanya sudah terasa sesak, kembang kempis menghirup udara baru.


Melihat tidak ada orang di dalam gedung itu membuat Alona cemas. "Aku...!!!, bagaimana ini!?, aku berteriak saja tidak akan mungkin bisa di dengar orang lain."


"Turunkan aku Xander!!" Alona berteriak.... "Kau akan membawa ku kemana?" Tanya Alona ketakutan.


"Hotel!"Jawab Xander santai seakan kata-katanya tidak ada yang salah.


Alona diam dan menghentikan memukul pria itu. Alona berbicara dalam hatinya. "Tidak, tidak, aku tidak ingin Alvaro marah lagi. Mungkin tidak akan ada kesempatan lainnya. Aku harus pulang malam ini apapun yang terjadi."


Sura mikrofon dari pusat informasi mengemah. Suara itu memberitahukan bahwa Alvaro menunggunya di pusat informasi lantai satu.


"Xander tolong lepaskan aku." Pinta Alona dengan suara serak dan sedikit terbata-bata. Alona ingin segera menemui Alvaro yang sudah menunggunya di pusat informasi.


Semakin Alona memberontak semakin kuat Xander memegang tubuhnya. Sampai di parkiran mobil Xander membanting Alona masuk ke dalam mobil. Kepala Alona terbentur ke pintu mobil membuatnya meringis kesakitan. Xander tidak mempedulikannya dan berkata pada sopir yang sudah menunggu sejak tadi. "Jalan!!!"


Sopirnya dengan cepat menginjak gas meninggalkan mall Center c.


Alona tidak kuat menahan rasa sakit di kepalanya akibat terbentur di pintu mobil. Ia menagis dengan menutup mulutnya rapat-rapat. Xander yang sudah terbakar emosi menarik tubuh wanita itu ke dalam pelukannya. Gerakannya sangat lembut memijat kepala Alona yang sudah terbentur ke pintu mobil. "Berhentilah memberontak. Kau akan menyakiti diri sendiri Alona." Kata Xander dengan suara lembut dan perhatian.


Saat ini Alona hanya mengharapkan keajaiban datang padanya. Ia ingin segera lepas dari pria itu. Alona menyesal tidak mendengarkan kata-kata Alvaro untuk tidak keluar rumah tanpa sopir dan pengawal.


"Bagaimana jika aku tidak mau?" Xander bertanya dengan maksud lain.


"Aku bukan tawananmu Xander!!!" Alona berteriak hampir memenuhi seluruh ruang dalam mobil. Sopir yang sedang mengemudi kaget dan berhenti mendadak. Nafas wanita itu sudah tersengal-sengal. Wajah dan lehernya sudah di penuhi keringat. Kulitnya yang putih seperti porselen terlihat berubah merah merona akibat marah.


Setelah keheningan sesaat, Alona mulai lagi. Wanita itu tertawa seperti iblis. "Apa yang Kau inginkan dari ku Xander!? apa?, apa!? Katakan! "


"Apa aku memang mainan yang menyenangkan bagimu. Apa akau harus bunuh diri sama seperti kakakmu agar Kau puas!?"


Xander diam dan mengepalkan tangannya. Tangannya sudah dibanjiri keringat panas dan dingin bercampur jadi satu.


"Tidak bisa bicara!, apa artinya benar Xander?" Alona berteriak dan memukuli dada pria itu."


"Katakan!!!" Alona berteriak....


"Aku sudah mengetahuinya dari diary kakakmu. Aku mengetahui segalanya Xander!

__ADS_1


"


Alona menyadari bahwa mobil itu berhenti di pinggir jalan. "Baik aku akan melakukannya di depan mu agar Kau puas dan kau bisa bahagia dengan dendammu." Alona memegang pintu dan menariknya. Alona ingin menabrakkan dirinya sendiri ke mobil yang melaju kencang di jalanan itu.


Sebelum pintu mobil terbuka, Xander dengan cepat menarik tangan Alona dan memeluknya erat. "Alona apa Kau gila!!!" Ia berteriak histeris.


"Ya. Aku memang sudah gila sejak Kau hadir di hidupku." Alona memukul punggung Xander dan menagis sesenggukan di dada pria itu. Air matanya sudah jatuh seperti aliran sungai musim hujan deras dan tidak beraturan.


"Alona dengarkan aku...." Xander memelankan suaranya.


"Apa yang bisa aku dengarkan darimu Xander? omong kosongmu!!! haruskah aku mendengarkanmu." Alona berteriak tepat di wajah Xander dan melepaskan pelukan pria itu.


Xander kemudian memegang ke dua tangan Alona. "Alona aku mohon dengarkan aku sekali saja. Tolong...." Xander memohon.


Alona menundukkan kepalanya. Matanya kini terasa perih dan kabur.


Xander memegang kedua pipi Alona dan menyeka air mata wanita itu. "Alona jangan menagis. Kau juga tahu bahwa aku mencintaimu. Aku tidak tahu harus mengatakan dari mana. Perasaan ini tidak bisa aku ungkapkan Alona. Setidaknya Kau bisa memberikan aku kesempatan walaupun kemungkinan itu tidak ada. A-aku tidak bisa melihatmu bersama pria itu. Ya, aku akui aku egois tapi aku tidak tahu harus bagaimana mengatasi perasaanku ini Alona!"


"Xander biarkan aku pergi. Aku tidak memiliki perasaan apapun terhadap mu. Aku tidak akan menyimpan dendam denganmu Xander. Aku akan melupakan semua yang telah terjadi di antara kita. Kau dan aku akan semakin terluka jika kau seperti ini. Aku mengerti bagaimana perasaanmu kehilangan orang tuamu, kakakmu. Aku sudah membayar semua dendam mu."


"Alona...." Xander memluk wanita itu. Alona ingin mendorongnya lalu Xander berkata. "Sebentar saja..., untuk terakhir kalinya. Aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini"


10 meniit kemudian Alona melepaskan pelukan pria itu. "Xander aku pamit. Aku doakan semoga Kau mendapatkan wanita yang bisa mencintaimu dengan tulus.Aku tahu Kau orang baik dan berhati lembut. Hanya saja Kau selama ini tidak bisa mengikhlaskan apa yang sudah menimpa keluargamu. Mungkin aku juga sepertimu jika itu menimpa keluargaku. Tapi cobalah untuk mengikhlaskannya, kau pasti akan bahagia. Percayalah padaku...."


Alona membuka pintu itu dan keluar dari mobil. Alona berjalan di trotoar pinggir jalan raya. Hatinya terasa hampa. Perasaan macam apa ini. Ketika aku sudah bisa bebas darinya. Kenapa hatiku terasa sakit dan seperti kehilangan sesuatu dari jiwaku. Tulangku terasa remuk dan tidak berdaya. Tidak memiliki kekuatan sedikitpun untuk tidak menangis. Apa sebenarnya yang sudah terjadi padaku. Apa yang diinginkan hati ini....


Mobil yang semula berhenti kini terasa sunyi. Hanya ada keheningan. Sopir yang sedang duduk di depan diam tidak bisa mengatakan apapun. Ia tidak berani bergerak bahkan mengatakan sesuatu. Xander yang sedang marah menggenggam tangannya dan memukul pintu kaca mobil, "bam!!!" Kaca retak dan hampir pecah. "Jalan!!!"Teriak Xander pada sopir di depan.


"B-baik Tuan" Tubuh sopir itu gemetaran dan seperti akan mengeluarkan air kencingnya di celananya sendiri. Ia sangat ketakutan melihat tuannya yang sedang marah.


Alona terus berjalan dan menagis. Mengingat bahwa Alvaro ada di mall Center C sedang mencarinya ia segera mengeluarkan ponsel dan mengetik pesan singkat untuk Alvaro. "Sayang aku tidak jadi mampir ke Center C. Aku langsung pulang ke rumah saja. Maaf lama membalas SMS mu." Alona tidak ingin menemuinya dalam keadaan menyedihkan seperti ini.


Alona melambaikan tangan di pinggir jalan. Berharap ada taxi lewat. Tidak lama saat Alona melambaikan tangannya berhenti mobil merah sport dan pria tampan di dalamnya. Alona tidak memperhatikan dengan jelas mobil itu. Ia langsung masuk saja dan juga tidak menyadari bahwa ia duduk di samping kemudi mobli.


Pria tampan itu memberikan selembar tisue pada Alona untuk menyekah air matanya. "Terima kasih...." Alona mengucapkannya tanpa melihat ke arah pria itu. "Yellow Residance." Alona menyebutkan alamat rumahnya pada pria yang mengemudi.


Pria tampan itu tidak bersuara. Ia hanya tersenyum menatap paras cantik Alona. Ia merasa iba pada wanita itu. Tidak biasanya ia rela memberikan tumpangan pada orang yang tidak ia kenal sama sekali.


"Menagiislah sampai puas" Kata pria itu menenangkan hati Alona. Pria itu memberi Alona tisue lebih banyak untuk menagis dan mengelap hingus di hidung. Ia tidak merasa jijik dengan Alona. Biasanya ia selalu merasa jijik melihat orang menagis. Tapi kenapa melihat wanita itu menagis hati nuraninya sangat ingin melindunginya.

__ADS_1


Saat tiba di rumah Alona mengeluarkan dompetnya. " Berapa!?" Tidak ada jawaban. Alona kesal dan segera mengeluarkan sejumlah uang kertas. Pandangan Alona berhenti saat menyadari tidak ada argo taxi di mobil itu. Kemudian ia mengedarkan pandangannya ke samping. Alona kaget saat tahu bahwa bukan mobil taxi yang ia tumpangi. Pria itu tersenyum saat Alona menatapnya. "Kau....!, Si-siapa Kau!?" Alona bertanya sekaligus panik. Ia takut orang tersebut ingin berbuat jahat padanya.


"Michael" jawabnya singkat dan menjulurkan tangannya ke arah Alona.


__ADS_2