
Jantung Diana seperti akan copot saat melihat foto Alona tertidur di atas ranjang bersama Xander. Foto itu menampilkan bagian belakang Alona dengan Xander memeluknya dari belakang. Pelukan Xander tidak begitu erat sehingga menyisakan sedikit jarak di antara keduanya. Liontin kalung huruf A menjuntai ke belakang leher Alona. Liontin itu memperjelas bahwa wanita yang ada dalam foto benar-benar Alona. Diana ingat, liontin kalung itu dia sendiri yang memilihnya. Saat itu Alvaro meminta bantuan Mamanya untuk menemaninya membeli kalung di pusat perbelanjaan. Kalung berliontin huruf A itu untuk hadiah ulang tahun Alona yang ke-17.
Dari kejauhan, bekas cengkraman Xander di leher bagian belakang Alona terlihat warna kemerahan, warnanya samar-samar terlihat seperti bekas gigitan cinta.
Foto itu terlihat seperti telah diatur oleh Xander. Fotonya di ambil dari sudut pandang yang pas, menampilkan bagian-bagian yang akan menimbulkan kesalah pahaman mata orang yang memandangnya.
Seorang ibu seperti apa Diana?, bisa menerima calon menantu yang jelas-jelas terbukti tidur bersama pria lain. Sangat jelas, Diana memiliki motif tersembunyi di dalamnya.
Xander semakin yakin, ingin menghancurkan wanita itu!
"Xander Kau bisa mengirimiku gambar seperti itu. Lihat saja Kau akan menyesal!, berurusan denganku" Diana tersenyum, seluruh wajahnya di penuhi kelicikan.
Diana bak artis papan atas. Kemampuan akting di depan khalayak banyak sudah tidak di ragukan lagi. Bahkan kemampuan aktingnya sudah menjadi keahlian nomor satu dalam hidupnya. Berpura-pura bukan suatu hal yang menyulitkan bagi wanita itu. Banyak cara bisa di lakukannya, tidak peduli melanggar norma hukum, moral, dan sesuatu yang lainnya....
T-tidak ada, Diana tergagap menjawab Alvaro. Teh ini sangat panas saat Mama meminumnya, lidah Mama seperti akan melepuh.
Diana berpura-pura merasakan panas di lidahnya. Cangkir yang ia pegang bergetar menandakan bahwa teh di dalamnya benar-benar panas.
"Ma..., hati-hati" Alvaro mengingatkan Mamanya.
"Eem...." Diana tersenyum dan meletakkan cangkir tehnya di atas meja.
Ma ponselku ada di mana?, aku ingin menelepon Alona. Dia janji mau datang menemaniku di sini.
Diana cemas dan takut saat anaknya meminta ponselnya. Wanita itu sangat khawatir!, bagaimana ini!?
Membuat kepalaku pusing saja!
Anak zaman sekarang tidak dapat di percaya. Alona!, bagaimana wanita itu bisa ada di rumah Xander. Bahkan tidur di ranjang yang sama dengan pria itu.
Tidak bisa, Diana bergumam dalam hati dan mengerutkan keningnya. Kepala wanita itu menggeleng ke kanan dan ke kiri. Aku harus mencari cara agar Varo tidak menghubunginya sekarang.
Diana tidak ingin anaknya melakukan sesuatu yang lebih fatal dari sebelumnya. Diana berusaha menutupi kejadian itu, ia tidak ingin anaknya mengetahui bahwa Alona sedang bersama Xander. Aku tidak ingin Varo melakukan sesuatu yang lebih mengerikan dari kecelakaan itu. Mungkin saja anaknya akan benar-benar bunuh diri jika melihat foto Alona dan Xander.
Suara Diana lembut, siapa saja yang mendengar suaranya pasti percaya begitu tulus dan lembut hati wanita itu. "Varo sayang, hari ini masih terlalu pagi. Alona juga pasti masih tidur, Nak. Nanti Mama akan meneleponnya."
"Ma...." Alvaro sedikit merengek pada Mamanya.
Sayang...., Diana menatap wajah anaknya seperti mengisyaratkan agar patuh pada perintahnya.
"Ma aku bosan di sini, aku ingin keluar jalan-jalan ke taman" Alvaro merajuk dengan Mamanya. Mukanya terlihat tidak senang, terlihat lesu dan kurang bersemangat.
Varo, Mama mengerti perasaanmu Nak....Tapi tolong berperilaku baiklah.
Kepala Diana terasa ingin pecah!, melihat tingkah laku anaknya. Kesalahanku memanjakannya sejak ia kecil. Semua yang ia inginkan harus di turuti.
"Ma..., aku ingin Alona menemani ku jalan-jalan titik!" Alvaro membalikkan badannya membelakangi Diana.
__ADS_1
Iya..., iya Mama akan meneleponnya nanti. Kali ini Diana memilih mengalah dengan anaknya. Semua ia lakukan demi kesembuhan Alvaro. Wanita itu sudah lelah bolak baik ke rumah sakit, bahkan sampai tidak pulang ke rumah.
*****
Xander sudah merasa lebih baik dari kondisi sebelumnya.
Mata Xander tidak bisa berpaling dari pemandangan di depannya. Lekuk tubuh wanita itu seperti lukisan tiga dimensi, nyata dan indah. Setiap lekuknya terlihat sempurna. Rambut hitam panjang terikat seperti gumpalan emas memancarkan Kilauan cahaya. Kulit putih mulus seperti porselen terbaik yang pernah ada di dunia.
Xander terus memandangi Alona yang sedang tertidur membelakanginya. Xander menggoda wanita itu, ia memegangi telingga, leher, dan sedikit menarik rambut Alona. "Kak Alan, jangan ganggu aku. Aku masih mengantuk"
Kebiasaan kakaknya Alan, saat Alona sedang tidur dia selalu menggodanya sampai Alona bangun.
Alona mempunyai kebiasaan buruk, saat tidur ia akan melupakan segalanya. Wanita itu tidak akan sadar dengan kejadian apapun. Alona tidak ada bedanya dengan mayat!
Alona tidak menyadari bahwa ia tidak tidur di kamarnya. Kakanya juga tidak di rumah!
Apa yang di lakukan wanita itu. Apa dia berpura-pura ingin menggoda pria itu!?
Separah itukah saat dia tidur!, ingatannya hilang. Mungkinkah Alona sekarang di rasuki setan penggoda, ia terlihat bukan seperti dirinya!
Xander memperhatikan tingkah polos Alona. Wanita itu terlihat seperti seorang anak kecil berumur delapan tahunan.
Pria itu tersenyum melihat penampilan Alona. Xander memperhatikan setiap inci wajah Alona. Dari depan raambut Alona terlihat mengembang seperti rambut singa. Lipstick di bibirnya sudah tidak beraturan mengenai wajahnya.
Xander kembali menggoda wanita itu. Kali ini ia menggelitiki leher dan ketiak Alona. " Kak Alan!, jangan mengangguku aku ingin tidur sampai siang" Alona menepis tangan Xander, kakinya menendang-nendang kesana kemari seperti ulat di buah nangka busuk.
Pria itu turun dari ranjangnya dan turun ke dapur memasak makanan yang lezat untuk mereka berdua. Seluruh dapur tercium wangi bumbu. Wanginya menyebar keseluruh ruangan itu.
Mata Alona masih terpejam, hidungnya mengendus mencium aroma ayam goreng. Alona persis seperti anjing pelacak menyisir jejak pelaku pembunuhan. Wanita itu tidak tahan dengan wanginya. Perutnya sudah lapar, tapi, dengan kantuk yang masih melanda ia memilih tidur ketimbang mencari makan.
Xander mengangkat ayam goreng kremes mendekati hidung Alona. Xander sangat menikmati pertunjukan itu. Nampaknya pertunjukan itu lebih seru dari pada pertunjukan sirkus lumba-lumba, pertunjukan favorit Xander pada saat masih anak-anak.
Semakin lama wangi makanan itu semakin nyata. Alona kembali mengendus mencari sumber makanan itu.
Wangi Ayam goreng kremes tidak bisa menahannya untuk tidur lagi. "Kak Alan, aku akan bangun, sisakan satu untukku!" Alona bangkit dari tempat tidur, berlari mencari kamar mandi.
Xander menggelengkan kepalanya melihat tingkah Alona, pergi ke kamar mandi tanpa membuka mata.
Apa wanita itu tidak takut menabrak dinding!?
Alona mencuci muka dan menggosok giginya.
Dari luar kamar mandi Xander berbicara padanya, "turunlah aku akan menunggu mu di meja makan."
Alona tersadar, ini bukan rumahnya. Lalu aku dimana!?
Sikat gigi ini?, sabun muka ini?
__ADS_1
Alona mencuci mukanya sekali lagi. Ia mengedarkan pandangannya menyapu semua sudut kamar mandi. "Bodoh, bodoh, bodoh!" Alona menepuk keningnya. Kenapa aku sangat bodoh tidak menyadari kalau ini bukan rumahku!?
Merapihkan semua penampilannya Alona turun menuju meja makan. Alona berjalan dengan menundukkan kepalanya. Pipinya berubah merah menahan malu.
Duduklah.... Xander mengangkat tangannya mengarah kursi di depannya.
Alona menarik kursi di seberang Xander. Meja makan itu berukuran kecil hanya cukup untuk berdua.
Apa Kau yang memasak semua ini Xander!?
Xander menganggukan kepalanya tanpa menjawab wanita itu.
Alona sedikit kaku dan merasa canggung. Alona mencoba mencairkan suasana. Ia bertanya lagi pada pria itu.
Xander apa Kau tidak punya asisten rumah di sini?, Alona bertanya pada Xander.
Tidak, aku sendiri di sini. Aku tidak suka orang lain mengusik kehidupan pribadi ku.
Apa Kau tidak berniat menikah!?
Alona menggigit bibirnya. Pertanyaan macam apa itu!?. Kenapa mulutnya seperti rem blong tidak bisa di rem sedikitpun. Aku rasa penyaring mulutku tidak berfungsi, mungkin sudah rusak.
Ruangan itu seketika menjadi beku.
Maaf.... Alona menggaruk kepalanya. Semua yang ia lakukan terlihat canggung dan memalukan. Maksudku, Kau bilang tidak suka orang lain mengusik kehidupan pribadimu. Aku ingin bertanya, "emm...." Alona langsung meraih gelas berisi air dan meminumnya. Wanita itu mencoba menghindari omongannya yang sudah melantur kemana-mana.
Xander mengangkat kepalanya menatap wanita itu. "Bagaimana jika aku bilang, aku hanya akan menikah dengan mu!." Wajah Xander tidak memperlihatkan perubahan apapun saat mengatakan itu. Tidak serius, juga tidak terlihat sedang bercanda. Ekspresi mukanya tidak bisa di tebak.
Alona yang sedang meminum airnya langsung menyembur ke segala arah. Wanita itu tersedak air minumnya sendiri. Air minumnya memasuki lobang hidungnya. Rasanya perih seperti terbakar. Alona terbatuk dan memukul dadanya.
Xander bisa Kau ualngi, apa yang Kau katakan tadi. Aku tidak mendengarnya dengan jelas. Aku hanya mendengar kau akan menikah. Benarkah!?, siapa wanita itu? aku ingin tahu!. Alona sangat bersemangat, itu artinya pria itu tidak akan mengganggu hubungannya lagi. Alona sangat senang mendengar berita itu. Ternyata pertanyaan itu tidak sia-sia. Kenapa aku tidak menanyakannya sejak dulu, jika aku tahu dia akan menjawabnya dengan muda.
Xander mengernyitkan alisnya. Pria itu menyesal sudah menjawab pertanyaan Alona. Xander meletakan sendok makannya dan beranjak pergi. "Lupakan!. tidak penting." Xander pergi begitu saja tanpa mempedulikan wanita itu.
"...." untuk beberapa saat Alona terdiam di tempat duduknya. "Apa aku melakukan kesalahan!?"
Xander tunggu aku. Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.
Alona berlari mengejar Xander yang sudah berada di tengah-tengah tangga.
Aaaakh, alona terpleset saat menaiki anak tangga.
Tangan kekar dan berotot dengan sigap meraih tangan Alona. Pria itu menopang pinggang Alona. Seketika jantung Alona memompa sangat kencang, Alona menatap wajah pria itu. Tangan Alona tanpa sadar memegang wajah Xander. Matanya berkilauan, Alona berbicara dalam hatinya. "Xander, ternyata sangat tampan. Alisnya tebal, bulu matanya lentik, hidungnya mancung, bola matanya coklat, kulitnya sangat halus. Aku suka!"
Xander mengoyangkan tubuh wanita itu, " Alona apa aku terlihat sangat tampan sehingga matamu tidak berkedip sedikitpun. Matamu terus menatapku dari tadi. Apa matamu tidak sakit"
Alona, "....!!!"
__ADS_1