
Kaca yang besar di dalam ruangan itu memperjelas bukti kejahatan Xander. Alona bisa melihat semua letak gigitan itu. Tengkuk, punggung, leher, tulang selangka, dada, perut, paha dan kaki. Lebih tepatnya Ia seperti terkena sengatan segerombolan lebah bukan gigitan cinta!
Alona merapihkan pakaiannya. Ia menata baju itu agar bisa menutupi semua bekas gigitan yang terlihat. Ia mengoleskan krim untuk wajah ke bagian-bagian yang masih terlihat bekas gigitan.
Riasan wajahnya natural dan hampir tidak terlihat jika ia mengenakan make up. Ia hanya menonjolkan bagian bibirnya yang sedikit terlihat merona. Riasan itu sangat cocok dengan kulitnya.
Rambut panjangnya ia biarkan terurai menutupi punggung, dan kedua sisi bagian lehernya.
Alona memakai sepatu dan kaca mata hitam yang terletak di atas meja. Ia tidak tahu kaca mata siapa yang ia pakai, ia hanya peduli untuk menutupi matanya dari pandangan orang lain saat ia keluar nanti.
Tatapan mata Xander tidak bisa berpaling dari wanita cantik, tepat di hadapannya. Ia melihat Wanita itu sangat memesona dengan gaun berwarna biru salem dan sedikit kombinasi warna putih. Rambutnya yang basah menetes ke lantai. Handuknya masih melingkar di lehernya. Ia mengenakan celana panjang dan kaos polos berwarna biru. Penamilannya terlihat sederhana tapi megah, ketampanannya terlihat seperti seorang remaja.
"Nona!, Kau tidak bisa keluar sesuka hatimu!"
"Aku tidak peduli!, jika Kau manusaia. Kau akan menepati janjimu itu!"
Xander mengejar Alona untuk menghentikannya, agar ia tidak pergi.
Wanita itu berlari sangat cepat menuju lift dan segera menutupnya. Ia bertanya-tanya apa yang diinginkan oleh pria itu, sehingga ia tidak membiarkannya pergi begitu saja.
Berada di dalam lift itu Alona seperti terjebak di sangkar burung. Ia sulit untuk bernapas dan ingin segera terbebas dari belenggu pria itu. Bagi Alona, lift yang sedang ia naiki merupakan lift terlama yang pernah ia gunakan. Ia terkurung di sana seperti menunggu 1000 abad lamanya.
"Aaaakh, sial pintunya sudah tertutup."
Pria itu memencet tombol lift berkali-kali, menunggu pintu terbuka.
Benar saja, saat Alona berjalan menuju pintu keluar semua mata memandangnya, ia seperti seorang model yang sedang berada di runaway-nya.
Banyak suara yang sahut-sahutan membicarakannya.
"Manis sekali, ia terlihat seperti boneka Barbie!"
"Cantik!, bentuk tubuhnya aku banget."
"Apakah dia selebriti?"
"Kulitnya putih banget, kaya porselin!"
__ADS_1
Tidak diragukan lagi kecantikan dan kemolekan tubuh Alona bisa mengalihkan semua aktivitas orang yang melihatnya.
Hari ini ia benar-benar berbeda dari seorang gadis remaja yang masih belia. Tingginya yang semampai, dadanya yang sudah berisi serta bentuk wajahnya yang tegas menjadikannya terlihat seperti gadis sudah dewasa. Gaya ini jelas bukan gayanya yang biasa, ia hanya menyesuaikan dari desain gaun yang dipakainya.
Sehari-hari Alona biasanya mengunakan pakaian yang tertutup. Ia tidak ingin memancing mata yang memandangnya. Ia biasa berdandan seperti umurnya. Ia bukan gadis yang pesolek!.
Anita yang bertugas sebagi resepsionis tahu betul baju yang di kenakan wanita itu adalah baju yang ia beli atas perintah bosnya.
Anita, terperangah melihat Alona yang sedang berjalan di depan matanya. Ia sedikit menutupi mulutnya dengna kedua tangannya.
"Apakah itu pacar bos? Cantik sekali, rambutnya sangat indah, Aku sangat iri padanya!"
"Pantas saja bos tidak ingin di ganggu!" Gumam Anita.
*****
"Ting.... Pintu lift terbuka."
Pintu lift terbuka, Xander segera berlari mengejar Alona.
"Nona, kuingatkan padamu. Berhenti!"
Alona terus berjalan dan tidak mempedulikan Xander yang sedang membuntutinya.
"Aku akan berteriak jika Kau tidak berhenti."
"Berteriaklah!, jika Kau tidak takut menjadi pusat perhatian."
Xander meraih tangan Alona dan memegangnya sangat erat. Alona mengernyitkan alisnya dan sedikit menarik tangannya, ia merasakan sakit akibat genggaman Xander yang terlalu menekan tangannya.
"Tuan, lepaskan tanganku!"
"Tidak akan ku lepaskan, sebelum Kau kembali!"
__ADS_1
"Apa maumu? Kau tidak ada hak menahanku!"
"Tidak ada, Aku hanya ingin bersamamu."
"Omong kosong!, Aku tidak peduli. Kau mau jungkir balikpun Aku tidak akan sudi bersamamu."
"Nona!, jangan keras kepala!. Kakakmu masih bersamaku."
"...." Alona tidak menjawab dan terus berjalan menuju mobil yang sudah di pesannya terlebih dahulu.
Xander dan Alona terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang bertengkar. Pria yang sedang membujuk kekasihnya untuk berbaikan, sementara wanita masih dengan egonya tidak ingin berbaikan.
Mereka seperti tontonan gratis bagi orang-orang yang melihat. Mereka terlihat sedang memainkan peran dalam sebuh film pertengkaran kekasih yang di saksikan oleh orang banyak.
Alona menginjak dengan sangat keras kaki Xander, sehingga tangan yang menggenggam tangannya terlepas.
"Aaaaw...!" Xander kesakitan akibat tendangan kaki Alona.
Taxi online sudah menunggu Alona di depan lobi utama. Alona segera masuk ke dalam mobil.
Melihat Alona sudah pergi, Xander menjadi lesu dan tidak bersemangat. Hanya tersisa wangi parfum Alona yang masih terbawa oleh hembusan angin. Setelah Alona pergi, Alexander memilih kembali ke kamarnya. Langkah kakinya gontai berjalan menaiki lift menuju kamarnya.
*****
Green Garden House
"Nona, Kau sudah kembali?" Di mana Tuan? Apa sebenarnya yang telah terjadi?, Nona hanya meninggalkan kertas yang mengatakan kalau rumah di rampok dan Tuan terluka."
"Maaf Bi, nanti saja aku jelaskan. Aku lelah ingin istirahat."
"Baiklah, Nona! Apa Nona ingin makan? Aku akan menyiapkannya untukmu"
"Siapkan saja Bi, Aku akan turun 30 menit lagi!"
Alona ingin segera tidur, tapi ia merasa lapar. Ia menyadari dia tidak makan sejak kemarin.
Kamar yang sama dan masih sama seperti kemarin ia tinggalkan. Alona merebahkan badannya ke atas kasur. Perasaan nyaman ia rasakan, akhirnya ia bisa bebas dari kandang srigala. Alona berguling-guling merasakan setiap sudut kasurnya yang empuk.
__ADS_1
"Aku ingin pergi, pergi menjauh. Sejauh mungkin!"