
"Michael tolong bawa aku pergi dari sini" Kata Alona dengan muka memelas.
"Cepat! Masuk!" Perintah Michael dengan suara sexy khas pria dewasa.
Lampu merah berubah hijau setelah Alona masuk. Michael mengemudi dengan santai dan berwibawa.
"Michael mobilnya mengikuti kita!" Kata Alona sambil menoleh kebelakang.
"Pasang seatbelt-mu Alona. Aku akan mempercepat laju kendaraan." Jawab Michael sambil melihat mobil di belakang lewat kaca spion mobilnya.
Mobil melaju kencang. Berkelak kelok seperti ular tangga. Alona memejamkan mata dan memegang dadanya. "Michael!" Teriak Alona ketakutan.
"Alona duduk dan tenaanglah. Aku tidak bisa berkonsentrasi jika kau berteriak seperti itu."
Alvaro dengan mobil sport-nya memacu laju mobil sangat cepat mengejar mobil Michael di depannya. Pandangan Alvaro tidak berkedip melihat mangsa di hadapannya. " Alona kamu harus menjadi milikku. Apapun yang terjadi Kau tetap miliku selamanya."
Michael melemparkan headphones ke arah Alona. "Pasang ini!" Perintah Michael. "Aku akan menambah kecepatan lebih tinggi. Dengarkan musik yang membutmu bisa tenang."
Alona meraih headphones wireless dan memasangnya. Lagu rock yang menghentak sampai ke bawah tanah mengalun merdu di telinga Alona. Alona menjadi lebih tenang karena tidak mendengar suara ban mobil berdecit atau suara deruan angin yang kencang.
Mobil Alvaro dan Michael masih saling kejar mengejar. Michael yang sudah terlatih dan Alvaro yang sudah berpengalaman dengan kecepatan mobil sport-nya saling beradu memperlihatkan kemampuan masing-masing.
Alona yang sedang mendengarkan musik menghentak terus memegang perutnya. "Nak, baik-baik di dalam. Kita sedang dalam bahaya! ibu akan selalu melindungimu. Kita akan selamat!" Seru Alona pada bayi di dalam perutnya.
Bibir Alona sudah berubah menjadi pucat. Denyut nadinya seperti aliran sungai yang tersumbat. Alona terus berdoa di dalam hatinya. "Tuhan selamatkan aku, anakku dan Michael."
Michael memasang headset bluetooth-nya untuk menghubungi polisi lalu lintas. Layar monitor di depannya memperlihatkan rekaman gambar plat mobil di belakangnya "Pantau pergerakan mobil di belakang mobilku. Nomor plat mobil B9999AA. Lakukan rekayasa lalulintas untukku. Aku sedang di buntuti seseorang. Dia sudah mengejarku selama 30 menit. Aku tidak bisa bebas melakukan pergerakan, ada seorang wanita bersamaku. Aku tidak bisa membahayakan nyawanya."
"Baik Tuan Michael, ikuti arahan kami. Anda terus jalan kedepan, 50 meter lagi ada lampu merah. Kami akan menyalakan lampu itu saat anda sudah melintas. Pastikan jarak anda sekarang 5 sampai 10 meter dari mobil di belakangmu. Setelah lampu merah belok ke kiri sampai penghujung jalan anda belok ke kanan dan lurus, di sana terdapat sebuah gedung dan danau di belakangnya. Kami akan membuka gerbang dan menutupnya saat Anda sudah masuk ke dalam."
"Aku sudah mempercepat laju kendaraanku jarak kami terpaut 6 meter." Kata Michael mengkonfirmasi keberadaanya saat ini. "Aku sudah dekat dengan lampu merah."
"Semua siap! nyalakan!" Polisi lalu lintas di kantor pusat menyalakan lampu merah. Sementara petugas kepolisian lain berjaga di setiap persimpangan jalan. Selebihnya menunggu kedatangan Michael di gedung putih milik instansi pemerintah.
"Sial!" Alvaro memukul setir mobilnya saat lampu merah menyala. Mobil yang membawa Alona semakin menjauh darinya.
Mobil sport berwarna hitam milik Michael perlahan mengurangi kecepatan laju kendaraan. Mobil itu berhenti tepat di pinggir danau. Michael membuka headphones yang ada di kepala Alona. "Buka matamu.Kita sudah aman."Kata Michael.
Alona membuka matanya dengan jantung yang masih memompa kencang. "Terima kasih Michael." Ucap Alona dengan wajah pucatnya.
"Sama-sama." Kata Michael dengan aura dingin menyelimuti pria itu. "Siapa orang yang mengejarmu. Tanya Michael penasaran.
"Alvaro...." Kata Alona dengan tangan memegang dadanya.
Michael mengerutkan alisnya saat mendengar nama Alvaro. "Bukankah dia kekasihmu!?" Tanya Michael terkejut.
"Bukan! dia orang gila!" Bantah Alona.
Michael tersenyum mendengar kata-kata orang gila dari mulut Alona.
Apa para wanita selalu seperti itu. Saat cinta mereka akan bilang dia kekasihku, dia pujaan hatiku, dialah masa depan dan pangeran ku. Saat kau sudah di campakan maka panggilanmu juga akan ikut berubah seperti orang gila, pria brengsek, matilah Kau, terkutuklah Kau.
"Kenapa dia mengejarmu." Tanya Michael semakin penasaran.
"Tuan Michael kenapa Kau terlihat sangat tertarik dengan kehidupan pribadiku!?"
"Apa aku salah!?" Tanya Michael acuh.
"Tidak salah. Tapi Kau dari tadi tidak berhenti bertanya seperti seorang yang sedang mengintrogasi pelaku kriminal." Sangkal Alona dengan memalingkan wajah kesalnya.
"Kau terlihat sangat menggemaskan saat marah " Kata Michael menggoda Alona.
"Michael! aku bukan anak SD yang bisa Kau rayu seperti itu."
"Aku tidak merayumu! aku hanya berkata apa adanya...." Kata Michael tersenyum.
"Kita di mana!?" Tanya Alona mengalihkan topik pembicaraan.
"Rumah dengan danau di sampingnya."
"Michael aku bertanya serius."
"Memangnya mukaku terlihat bercanda!?" Michael mengangkat kedua tangannya, tanda bahwa ia serius.
"Kenapa Kau bisa ada di kota F?" Tanya Alona berbasa-basi.
__ADS_1
"Aku seorang pengusaha. Tentu saja aku selalu bermobilitas. Kau tahu seharusnya aku sekarang di mana?" Tanya Michael.
Alona menggelengkan kepalanya. "Kau tidak memberi tahu ku, mana bisa aku menebak di mana seharusnya Kau saat ini!" Balas Alona sedikit ketus.
"Aku seharusnya ada di ruang meeting pemegang saham mayoritas. Dan Kau mengacaukan semua agendaku hari ini."
"Aku minta maaf Michael. Kenapa Kau menolongku? jika akhirnya Kau malah memarahi ku seperti ini!?"
"Aku juga manusia. Meskipun aku memiliki uang yang banyak aku tidak bisa hidup sendiri. Kau juga akan seperti itu bukan!?" Kata Michael sambil melihat buku catatan penting. "Sebagai manusia harus saling membantu. Itu namanya perikemanusian!" Ucap Michael serius tanpa mengalihkan pandangannya pada buku berwarna hitam di tangannya.
"Lalu, bagaimana aku bisa mengucapkan terima kasih padamu!? selain makan malam!" Kata Alona sambil melirik Michael dengan bola matanya tanpa menoleh.
"Memangnya Kau mau memberiku apa!?" Tanya Michael.
"Apa saja yang kau inginkan! selain makan malam tentunya"
"Apa saja yang ku inginkan... makan siang!" Jawab Michael.
"....!!!" Alona mendelikkan matanya mendengar ucapan Michael. Makan siang!!!
"Memang dia pria tidak tahu malu!" Gumam Alona dalam hati.
"Aku rasa orang gila sudah pergi!" Kata Michael menyindir Alona.
"Belum" Kata Alona. "Masih ada satu lagi di depanku." Balas Alona.
"Ya..., aku memang gila!" Jawab Michael sambil melihat muka cemberut Alona. "Gila padamu." Sambung Michael sambil tersenyum mengejek Alona.
"...." Ya kau memang pria gila. Jawab alona dalam hati sambil menopang kepalanya dengan malas ke samping jendela kaca mobil.
"Aku ada janji dengan klien dari perusahaan properti Nugroho Grup di kantorku siang ini. Aku tidak bisa mengantarmu pulang sekarang. Kau ikut atau mau pulang sendiri?" Tanya Michael.
"Michael siapa Kau bilang Nugroho Grup!?
"Ya! memangnya Kau tuli. Aku tidak bilang Tuan Jaya Nugroho atau Alvaro Maldini Nugroho, Alona! Mereka hanya perwakilan penanggung jawab proyek Sky Cipta Gunawan di kota F. Lagipula Kau bisa bersembunyi di ruang istirahat di dalam kantor ku." Ucap Michael panjang dan lebar.
"Kau ikut atau tidak!?" Tanya Michael dengan sedikit meninggikan suaranya. "Sudahlah Kau ikut saja. Merepotkan! bertanya dengan seorang sepertimu! sekalian Kau melunasi hutangmu makan siang dengan ku." Kata Michael sedikit emosi namun hatinya tersenyum gembira.
"....!!!" Michael! Pria ini terbuat dari es dan besi. Mukanya dingin dan hatinya besi. Gumam Alona dalam hati sambil meremas-remas jari jemarinya. "Kalau bukan dia yang menolongku, sudah lamu ku hajar muka es-nya." Gerutu Alona dengan suara kecil.
"Tidak ada. Aku hanya bilang hari ini sangat cerah dan hatiku sangat gembira karena Tuan Michael menolongku." Jawab Alona dengan memaksakan senyum di wajahnya.
*****
Kota J, di kantor polisi. Pengacara Jason datang membebaskan Xander.
"Pengacara Jason terima kasih Kau sudah datang menyelamatkan ku. Aku akan pergi ke kota F menyelamatkan istriku. Dia dalam bahaya sekarang!"
"Pergilah!" Kata pengacara Jason. "Aku akan mengurus semua administrasimu." Ucap Jason menenangkan Xander.
Xander langsung bergegas pulang ke kota F. Sesampainya di sana Xander langsung menghubungi Bibi Ani. "Bi Ani? bagaimana keadaan Alona? apa Bibi berhasil menyelamatkannya?"
"Tuan Nona Alona hilang!"
"Apa!? bagaimana dia bisa hilang?" Tanya Xander panik sambil menahan sakit di wajahnya.
"Bibi sudah ke rumah sakit. Tapi Nona tidak Ada."
"Posisi Bibi sekarang ada di mana!?"
"Bibi masih di depan rumah sakit. Tuan tenang saja aku pasti menemukan Nona Alona. Bibi sedang melakukan peretasan camera CCTV rumah sakit dan CCTV jalanan kota." Jawab Bi Ani serius.
Tidak lama setelah itu telepon Bibi Ani berdering. "Bibi Ani, ini aku Alona. Aku selamat. Jangan khawatirkan aku. Setelah jam makan siang aku akan pulang."
"Nona di man---" Belum sempat Bibi Ani berbicara sambungan telepon sudah di pitus.
Alona mengirim pesan. "Bi jangan takut! aku di selamatkan oleh seseorang. Bibi tolong jangan bilang pada Tuan Xander. Aku tidak ingin dia marah!"
"Nona Aku akan menjemputmu pulang. Tuan bisa memecatku jika aku tidak membawa Nona pulang ke rumah bersama. Kirimkan alamat Nona sekarang."
"Sky Cipta Gunawan gedung lama." Balas Alona.
*****
Michael membuka ruang istirahat di dalam kantornya menggunakan remot control. "Istirahat di dalam. Aku akan mulai meeting di lantai bawah. Kau bisa menekan tombol di samping tempat tidurmu jika butuh sesuatu."
__ADS_1
"Emm..." Alona menganggukan kepalanya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang kantor Michael.
Alona belum pernah melihat kantor semegah ini. Kantor kakaknya di Raharaja industry sudah megah namun milik Michael sangat megah seperti di negeri dongeng modern.
Alona tidur di kasur menunggu Michael selesai meeting. Jam 12 siang tepat Michael keluar dari ruangan meeting.
"Nona Alona!" Teriak Michael tidak sabaran dari ruang kerjanya. "Bangunlah! Kau lapar kan!?"
Alona keluar dari kamar istirahat dengan rambutnya yang sedikit kusut. "Bisa tidak? jangan berisik. Kepala ku pusing mendengar Kau berteriak." Komplain Alona pada Michael.
"Kau tidur saja di ruang mayat, jika tidak ingin berisik." Jawab Michael.
"Makan di mana!?" Tanya Alona tanpa basa-basi.
"Restoran MM." Jawab Michael singkat.
"Ayo jalan!" Kata Alona tidak ingin berlama-lama. "Aku ingin segera pulang, tidak tahan mendengar ocehanmu."
"Emmm..., pantas saja Kau tidak awet dengan kekasihmu" Ucap Michael asal.
"...!!!" Alona terdiam. "Memangnya aku peduli."
Michael menggenggam tangan Alona saat jalan turun ke bawah. Semua mata memandang aneh ke arahnya. Alona ingin melepaskan tangan itu. Namun Michael semakin erat memegangnya. "Tuan Michael tolong lepaskan tanganmu." Kata Alona berbicara pelan dengan mulut tertutup.
"Tolong hargai image-ku di depan para karyawan ku." Jawab Michael pelan sambil tersenyum menyapa karyawan yang berpapasan dengannya.
"Dia pikir image-ku tidak penting" Gumam Alon.
Ketika Alona dan Michael keluar semua orang di dalam gedung menjadi ribut membicarakan bos-nya. Bos tampannya sudah memiliki kekasih. Semua para karyawati menjadi patah hati. Dan para lelaki tersenyum karena bos-nya memiliki seorang kekasih. Artinya kesempatan para lelaki mendekati rekan kerja perempuannya semakin terbuka lebar.
Michael dan Alona masuk ke dalam mobil. yang sudah di parkir di depan pintu utama kantornya. Mobil mulai bergerak melaju. Mereka saling diam di dalam mobil tanpa bersuara hingga sampai di Restoran MM.
Alona dan Michael duduk di ruang VVIP. Hanya mereka berdua yang duduk di dalam ruangan itu. Makan dengan tenang, menikmati pemandangan di luar.
"Kau mau makan apa!?" Tanya Michael.
"Aku sudah makan tadi pagi. Dan aku juga sedang diet." Jawab Alona mencoba menghindari makan. Bukan tidak lapar hanya saja ia tidak ingin muntah di depan orang lain terutama di dalam restoran seperti ini.
"Ya... sudah kalau begitu. Kau temani aku makan saja." Ucap Michael santai. "Tapi di sini es krimnya sangat enak loh!" Kata Michael sambil memperhatikan tatapn Alona yang tidak berpaling dari gambar es krim di buku menu paling depan miliknya.
Air liur Alona naik dan turun. Dengan cepat ia berkata. "Tidak jadi diet. Pesankan satu untukku."
Michael tertawa renyah. "Alona! Alona! badan sudah kurus begitu apanya yang mau di kurusin" Ucap Michael menyindir.
Seketika pandangan Alona tertuju pada lekuk tubuhnya. Alona tidak percaya dia sudah benar-benar kurus, lebih kurus dari sebelumnya. Seperti kulit membungkus tulang.
Tidak lama hidangan makanan sudah tertata rapih di atas meja. Es krim rasa vanilla berhiaskan toping coklat, keju, dan stroberi sangat menggoda. Alona meraih sendoknya dan berkata dalam hati. "Jangan muntah, jangan muntah." Lumeran es krim meleleh di dalm mulut Alona. Matanya membelalak begitu es krim masuk dan menelannya. "Sangat enak dan terasa nyaman di dalam perut."
"Terima kasih Michael. Aku akan sering berkunjung ke sini. Es krimnya benar-benar enak" Ucap Alona dengan wajah berseri-seri.
Michael mengeluarkan sebuah kartu berwarna emas bertuliskan VVIP restoran MM. "Ambil ini. Kartu ini untukmu."
Alona sempat terkejut melihat kartu member bergengsi itu. "Michael aku tidak bisa menerimanya. Nanti Kau tidak bisa datang lagi, menikmati layanan nomor satu di sini."
"Ambilah! aku dapat 2 kartu, hadiah dari teman. Daripada kartu yang satu lagi tidak di pakai. Lebih baik aku berikan padamu." Ucap Michael tulus.
"Baiklah... terima kasih." Kata Alona.
"Alona Kau sangat can---" Belum sempat Michael mengucapkan kata cantik. Kata-katanya sudah lebih dulu di potong oleh Alona.
"Maaf Michael. Bibiku sudah menjemputku di depan restoran. Terima kasih untuk hari ini." Kata Alona yang sudah beranjak berdiri ingin pergi meninggalkan restoran.
Michael duduk membeku di kursinya. "Selalu gagal lagi dan lagi. Tidak masalah!, aku masih memiliki peluang. Dia suda putus dengan kekasihnya." Ucap Michael dalam hati.
Alona melihat mobil Bibi Ani yang sedang terparkir di pringgir jalan. Alona segera berlari ke arah mobil itu. "Maaf Bi Ani merepotkanmu harus memutar balik mobil. Orang yang menyelamatkan ku memaksa makan di restoran ini."
Bibi Ani menganggukan kepalanya. "Nona cepat masuk..., Tuan Xander sudah menunggu di rumah"
"Bibi tidak bilang, kan! jika aku pergi sendirian?"
"...!!! Bibi Ani terdiam. Aku tidak bertanggung jawab. Selesaikan saja masalah hati kalian berdua. Aku akan berpura-pura tidak dengar saat di rumah." Ucapan Bi Ani dalam hati sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.
Alexander terus berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. "Alona awas kamu kalau sudah sampai di rumah... Aku akan menghabisimu." Ucap Xander.
"Sayang... aku sampai." Kata Alona saat tiba di pintu seperti tanpa bersalah.
__ADS_1
Alexander langsung memeluk Alona dan mencium wanita itu. Sementara Alona diam tidak bergerak.