
Pria itu mengepalkan tangannya, butir-butir keringat sudah berjatuhan dari wajahnya yang muram, warnanya berubah menjadi merah padam karena menahan emosi yang bergejolak di tubuhnya.
Langkah kakinya berjalan sangat cepat, secepat api menyambar tumpukan jerami. Tatapan matanya gelap, segelap hati dan dendam nya. Kini la tak lagi mampu menahan gejolak emosi di dalam jiwa nya.
Alona mengigil kedinginan melihat sikap lelaki itu. Perubahan sikapnya menjadi 360° berbeda dari sikap sebelumnya membuat Alona semakin takut hingga Ia duduk meringkuk di tepi dinding.
"Tak..., tak..., tak...."
Pria itu kini berdiri tepat di depan Alona. Ia dengan cepat memegang dan menekan bahu Alona. Kemudian Pria itu mengencangkan pegangan pada kedua bahu Alona lalu Ia menarik paksa wanita itu hingga posisi keduanya saling berhadapan. Segera setelah itu ia mencengkram leher Alona lalu menekan tubuh Alona ke dinding sehingga Alona tidak memiliki ruang untuk bergerak.
Alona merasakan tatapan pria itu sedingin gunung es yang tak akan mencair walau di siram dengan air panas. Cengkraman pria itu membuat Alona susah untuk bernapas, air matanya turun secara perlahan. Matanya terasa perih!.
Napasnya sudah tak beraturan, mulutnya tersengal-sengal seperti ikan yang ke luar dari kolamnya.
"hah..., heh..., hah..., heh...."
Tidak ada tanda-tanda pria itu akan melepaskan cengkramannya. Alona mencoba melepaskan cengkraman itu mengunakan kedua tangannya. Ia menahan dan mencoba mengoyangkan tangan lelaki itu, kemudian ia menghentakan kaki dan tubuhnya. Ia mencoba melakukan pemberontakan namun tidak ada pergerakan dari usahanya itu.
Alona sudah kehabisan akal dan hampir menyerah dengan nasib hidupnya pada saat itu.
Wajah Alona dan lelaki itu sangat dekat. Hampir tidak ada jarak diantara keduanya. Alona mendekatkan bibirnya dengan lelaki itu, seperti adegan di film romantis. Pria dan Wanita itu seperti memerankan sepasang kekasih yang sedang melakukan adegan intim, dengan sisa-sisa kekuatan yang Ia miliki Ia menggigit bibir lelaki itu.
Lelaki itu tersadar akan perbuatannya. Ia kemudian memegang sudut bibirnya yang sudah bengkak, seperti di gigit serangga. Ia menjulurkan lidahnya ke sudut bibirnya. Ia merasakan sedikit asin pada bibir itu. Noda darah terlihat keluar dari sudut bibirnya yang merah alami.
Ia menyadari bahwa yang dilakukannya hampir membunuh gadis itu.
Itu artinya Ia akan menjadi pembunuh terkejam!
Bagaimana tidak!? mencekek orang merupakan pembunuhan secara perlahan, tentu saja korbannya akan merasakan kesakitan luar biasa!.
Ini bukan masalah dosa atau dendam, tapi ini soal perikemanusiaan di dalam jiwanya.
Negara berperang pun tidak akan mencekek musuh-musuhnya!. Apalagi musuhnya yang tak sepadan dengan dirinya!.
Mengingat kejadian 5 tahun yang lalu, di depan matanya!. Emosi dan amarah lelaki itu kembali memuncak, tangan yang melonggar di leher wanita itu kini telah menyusuri pipi Alona.
Ingatan itu tidak bisa menghilang di dalam kepala nya, terus berputar-putar seperti baling-baling bambu, terus terngiang-ngiang di dalam pikirannya.
"Kakaknya...."
"Ibunya...."
"Ayahnya...."
Ingatan itu seperti mencabik-cabik isi kepalanya. Otaknya seperti rebusan air panas yang sudah mendidih.
"Aaaaaaaaaakh....!"
Pria itu berteriak sangat keras, suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan. Jari-jemarinya bergerak memutar hingga tangannya terkepal, tangan itu Ia arahkan ke muka Alona.
Melihat tangan Pria itu akan meninju tepat di wajahnya. Alona secare refleks menyampingkan wajahnya kemudian Ia memejamkan matanya dan membuka kedua telapak tangannya tepat di depan wajahnya untuk menghindari pukulan secara langsung dari Pria itu. Ia menahan napas sebisa yang dia lakukan.
"Buk...." Sebuah pukulan mendarat.
"Heekh...." Alona terdiam menahan nafas.
Menyadari tidak ada pukulan yang mendarat di wajahnya. Alona secara perlahan membuka matanya. Ia melihat ke sekelilingnya. Ia mencium bau amis darah segar.
Pukulan itu mendarat tepat di samping telinga Alona. Lelaki itu memukul dinding untuk meluapkan emosinya yang sudah di ujung kepalanya. Awalnya Lelaki itu berniat mendaratkan pukulan pada wanita itu, tapi ia mengurungkan niatnya karena Ia teringat dengan wajah kakaknya pada saat itu.
__ADS_1
Darah di tangan lelaki itu sudah menetes, di buku-buku jarinya terdapat memar dan warnanya merah ke biru-biruan. Dengan darah di tangannya lelaki itu menempelkan tangannya ke pipi gadis itu, Ia membelai setiap inci wajahnya. Darah ditangannya sudah berpindah ke semua wajah gadis itu. Ia menjadikan wajah gadis itu seperti media untuk melukis.
Jari-jarinya sangat lihai menyisiri setiap wajah wanita itu. Wajahnya sudah terlihat seperti lukisan abstrak.
Pria itu kemudian memegang tengkuk Alona, dan menarik rambutnya secara paksa sehingga wajah Alona menengadah keatas. Lelaki itu mencium bibir Alona yang merah seperti buah ceri, tangannya merobek baju Wanita itu di bagian pundak sebelah kiri.
Sikap lelaki itu sangat gagah, Ia menghentikan ciuman itu, lalu ia menggendong Alona menuju sebuah kamar di ruangan itu.
"Brak....!"
Pria itu menjatuhkan Alona tepat di atas kasur. Ia secara perlahan membuka kancing kemejanya satu per satu.
"K-Ka-Kau....!" Apa yang kau inginkan? Tanya Alona ketakutan.
Pria itu melemparkan bajunya ke sudut ruangan. Ia sedikit menundukkan kepalanya dan membuka topeng yang menghalangi wajah pokernya yang tampan. Pelipis sebelah kanannya terdapat lingkaran berwarna merah stroberi yang sudah matang. Lingkaran di sudut matanya itu seperti tanda lahir.
"Strawberry hemangioma!."
Mata lelaki itu seperti mata kucing, pupil matanya dengan cepat membesar. Warna pupilnya coklat namun jika dilihat dari jauh warnanya terlihat hitam.
Kini Pria itu bertelanjang dada, Ia seperti memamerkan dadanya yang bidang. Otot perutnya seperti pemandangan di pematang sawah. Sementara otot bisep dan trisepnya terbentuk sangat sempurna, dengan otot-ototnya itu Ia terlihat seperti seorang kesatria.
Melihat tubuh pria itu yang begitu sempurna Alona terperangah selama 3 detik. Bola matanya membelalak begitu melihat pria itu bertelanjang dada.
"Woah....!"
"Sangat sempurna Aku ingin memegangnya!"
Ia mengigit jari-jarinya yang ramping dan menggelengkan kepalanya, Ia tersadar dari kekagumannya yang tidak benar!.
"Tidak..., tidak..., tidak...!, Itu hanya ilusi."
Melihat Pria itu mendekatinya Alona melemparkan semua barang yang ada di atas kasur. Bantal, guling, selimut, semua Ia lemparkan ke arah Pria itu.
"Ja-ja-jangan mendekat!" Alona mengarahakan tangannya ke arah pria itu.
"...." Pria itu terus berjalan ke arah Alona tanpa menghiraukan peringatannya.
Alona beringsut kebelakang hingga ke ujung kasur. Ia menyadari tidak ada yang bisa di lemparkan ke arah Pria itu lagi. Matanya dengan cepat melihat ke arah kiri dan kanan untuk mencari pertolongan. Di sudut meja nakas sebelah kiri Ia melihat tumpukan buku. Buku-buku itu seperti buku catatan penting. Ia segera meraihnya dan melemparkan ke arah pria itu.
"Nguiiiing!"
"Pack..., pack..., pack!"
Buku-buku yang di lemparkan Alona kepada pria itu tidak ada yang mengenai tubuhnya. Gerakan refleks lelaki itu sangat cepat sehingga Ia menghindari semua buku yang di lemparkan Alona ke arahnya.
"Aku bilang, jangan mendekat!" Kata Alona kembali memberikan peringatan.
Pria itu terus merangkak tanpa mempedulikan Alona.
Alona kebingungan melihat pria itu, wajah pokernya tidak bisa di prediksi sama sekali. Ia kemudian mencoba turun dari kasur itu, untuk menyelamatkan diri. Sebelum Alona menginjakkan kaki kanannya ke lantai, pria itu sudah menarik Alona.
"Haakh....!" Alona tersentak kaget saat tubuhnya di tarik.
Pria itu menarik tubuh alona degan sangat kuat. Tubuh Alona terlentang di atas kasur. Gerakan Lelaki itu sangat cepat menindih tubuh Alona, kemudian Ia memeluk Alona dan mencimu bibirnya secara brutal.
Alona memukul dada pria itu dan menendang kakinya. Lelaki itu seperti singa yang kelaparan, sangat brutal. Lelaki itu seperti akan menelan bulat-bulat tubuh Alona, tidak ada yang bisa menghentikannya.
__ADS_1
Ciuman itu sangat intens, wangi peppermint di mulut pria itu membuat ciuman itu terasa nyaman. Alona terbawah arus oleh ciuman pria itu, Ia membayangkan yang menciumnya itu adalah kekasihnya Alvaro.
Pacarnya yang selalu bersikap dingin namun perhatian. Alona membayangkan pacarnya memegang tangannya dan menciumnya dengan lembut. Jantung Alona berdebar-debar seperti pertama kali merasakan jatuh cinta.
Alona merasakan ciuman lelaki itu terasa lembut, berbeda dari sebelumnya.
Mungkin karena tidak ada perlawanan dari Alona? Entahlah mungkin dia juga terbawa suasana romantis diantara keduanya?
Ciuman itu terus berlangsung, hingga lelaki itu mengalihkan ciumannya di leher Alona dan di tulang selangkanya.
Alona tersadar yang mencium dan membelainya bukanlah kekasihnya. Alona menggigit bahu lelaki itu, kemudian Ia menendang perutnya. Tendangan Alona terpeleset mengenai tubuh bagian bawahnya.
Pria itu tidak menjerit ataupun berteriak. Ia hanya tidur meringkuk di atas kasur, menahan rasa sakit akibat tendangan wanita itu. Keringat membasahi di wajah dan seluruh tubuhnya. Ia sesekali bergerak menggeliatkan tubuh bagian bawahnya.
Melihat lelaki itu tidak memberikan perlawanan. Alona berdiri dan berlari menuju pintu kamar. Matanya berbinar-binar.
"Selangkah lagi aku bisa kabur dari sini!" Kata Alona dengan senyum mengembang di wajahnya.
Ini adalah waktu yang tepat untuk melarikan diri dari mimpi buruknya!
Alona mencoba membuka pintu itu secara paksa.
"Krack..., krack..., krack!"
Pintu itu tidak bisa terbuka, Ia berjalan mondar-mandir di depan pintu dan menyilangkan tangan di bagian pinggangnya. Ia memikirkan cara untuk membuka pintu itu.
Alona mencoba membuka pintu itu untuk yang kedua kalinya. Usahanya tidak membuahkan hasil. Ia gagal lagi!.
"Alona mulai panik! Kenapa pintu ini tidak bisa dibuka?" keringat di wajahnya sudah bercucuran terutama di bagian keningnya. Ia mengelap keringat di keningnya secara perlahan mengunakan tangan kirinya.
"Aku sangat yakin pria itu tidak menguncinya...!" Kata Alona sedikit samar-samar bergumam dengan dirinya sendiri.
Ruangan itu tidak terlalu besar sehingga lelaki itu bisa mendengar gumaman Alona.
"Semua Kamar dan ruangan ini telah memiliki sensor otomatis menggunakan wajahku.Tentu saja Kau tidak akan bisa keluar, sekalipun Kau berkeringat darah!" Kata pria itu dengan senyum sinis menatap Alona.
"Selangkah saja Kau pergi dari sini! Dia akan mati!" Kata pria itu mengancam dengan tatapan sedingin es.
"Aku tidak peduli sama sekali!" Kata Alona dengan kepercayaan dirinya. "Kau sudah mengatakannya 1000 kali." Kau tidak punya bukti, jika kakakku memang berada di rumahmu!. Aku sudah muak dengan kata-katamu itu!"
"Dia akan mati!, dan Kau juga akan mati!" Kata Pria itu dengan tatapan menyermkan.
"Iya..., Kau juga akan mati!." Tidak ada orang yang abadi di dunia ini Tuan!. Alona berjalan mundur ke dinding melihat pria itu bergerak dari tempat tidur.
Pria itu bangun dari tempat tidur dan meraih dasinya di atas kasur yang sudah semeraut. Ia memainkan dasi itu dengan memutar-mutarnya mengunakan telunjuk jari kanannya.
Pria itu berjalan secara perlahan, tatapan matanya sangat beringas menatap ke arah Alona.
"Kau memang bermulut besar, Nona! di dalam kamar ini hanya kita berdua. Kau sangat berani menantang dan memancing amarahku?"
"Tidak ada yang tahu, Tuan! siapa yang akan mati terlebih dahulu? Kau atau Aku?"
Alona sangat berani menantang pria itu secara terang-terangan. Ia sudah tidak peduli lagi dengan hidupnya. Ia lebih baik mati daripada Ia ternoda!
"Plak!"
Sebuah tamparan mendarat di pipi Alona.
__ADS_1
"...."