Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Michael


__ADS_3

"Michael!" Jawab Alona kaget sambil menatap wajah tampan pria itu lekat, seperti memandang taman alam luas di pegunungan pagi hari menyaksikan matahari terbit. Ada kehangatan terpancar dari senyum dan raut wajah pria itu. Alona tertegun sejenak memandangnya. Air lirunya naik turun terlihat jelas di leher kemerahanya. Ia bukan lapar ataupun haus. Alona hanya mengagumi keindahan ciptaan tuhan di depan matanya. Setelah lama bergelut dengan pemikiran yang tidak jelas Alona menyambut tangan pria itu. "Maaf aku tidak bermaksud menganggapmu sopir taxi." Alona diam sedikit menundukkan kepalanya karena malu. "Sungguh aku tidak bermaksud seperti itu. Aku pikir Kau sopir taxi yang berhenti ketika aku melambaikan tanganku. Aku juga tidak melihat lagi kalau mobilmu bukan taxi."


Alona melepaskan tangannya dari genggaman tangan pria itu. Telinga Alona memerah tidak dapat menyembunyikan rasa bersalahnya. Alona mengangkat kepalanya ketika Michael berbicara padanya. "Tidak apa-apa...." Kata Michael dengan nada lembut. " Waktu itu ada telepon dari klien karena khawatir terjadi apa-apa saat menelepon dengan berkendara. Aku menepikan mobil untuk mengangkat telepon darinya. Setelah menutup telepon ada seseorang masuk ke mobil lalu aku melihatmu menangis, aku tidak tega membiarkanmu keluar dari mobilku. Kebetulan saat Kau menyebutkan alamat rumah mu aku juga tinggal di perumahan yang sama. Jadi aku memutuskan untuk mengantarkanmu pulang."


"Baru pindah kemarin." Lanjutnya, setelah tidak ada tanggapan dari Alona. "Apakah ini benar rumahmu?" Tanya Michael memastikan.


Alona mengganggukan kepalanya dan bertanya balik pada pria itu. "Di blok mana rumahmu?"


"Blok A" jawab Michael singkat. Blok A perumahan paling elite di Yellow Residence sedangkan rumah Alona ada di blok B. Beda satu tingkat kemegahannya. Blok A hanya terdiri dari satu rumah memiliki halaman lebih luas, bertingkat lebih tinggi dan memiliki beberapa rumah kecil di sekitarnya.


"Bagimana aku bisa mengucapkan terima kasih padamu?" Tanya Alona lagi. Alona tidak enak hati sudah merepotkan orang lain dengan masalahnya. Ia harus berterima kasih pada pria itu. Awalnya Alona ingin memberikan uang. Tapi melihat statusnya yang tinggi tentu pria itu akan menolaknya jadi Alona berinisiatif bertanya agar tahu apa yang diinginkan pria itu.


Michael berkata tanpa berpikir panjang. " Bagaimana makan malam denganku. Aku orang baru di sini jadi aku tidak mempunyai teman." Michael hanya asal bicara saja mengutarakan keinginannya. Meskipun begitu, ia jujur memang tidak mempunyai teman. Michael baru pulang dari luar negeri dan memutuskan memindahkan semua perusahaannya di luar negeri ke kota J. Kota kelahirannya.


Alona ingin menolak. Tapi, mendengar bahwa pria itu tidak memiliki teman, Alona berubah pikiran. "Cuma makan malam biasa. Aku akan terlihat sombong dan tidak sopan jika menolaknya. Pria itu sudah berbaik hati memberikan aku tumpangan dan mengantar aku pulang dengan selamat." Kata Alona dalam hati seraya tersenyum manis menatap pria itu.


"Hari apa?" Alona menjawab, menyatakan ketersediaannya untuk makan malam bersama pria itu.


"Terserah padamu." Kata Michael. "Aku bebas kapanpun."


Alona mengerti maksud pria itu. Mengatakan bahwa ia bersedia kapanpun artinya pria itu benar-benar serius dengan makan malam itu.


"Besok malam jam 8, jemput aku di rumah ini. Kau bisa menentukan tempatnya sendiri." Jawab Alona. Alona tidak ingin menghindari dan mengulur waktu. Lebih cepat lebih baik karena setelah ini mungkin tidak ada waktu ketika ia sudah resmi bertunangan dengan Alvaro. Tentu semua akan berbeda saat ia sudah bertunangan nanti. Dan, hal itu akan menjadi hutangnya pada Michael. Sedangkan Alona tipe wanita yang tidak suka berhutang apapun.


"Ok!" Michael mengangukan kepalanya.


Alona sudah memegang pintu dan mendorongnya keluar. Tangan hangat menempel di pergelangan tangan Alona yang satu lagi. "Maaf Nona. Aku belum tahu namamu." Kata Michael sedikit ragu. Alona menoleh. "Alona"Jawab Alona dengan pandangan matanya tertuju pada tangan Michael yang memegang tangannya.


Melihat tatapan wanita itu. Michael buru-buru melepaskan tangannya. "Maaf aku tidak bermaksud apa-apa memegang tanganmu."


Alona diam tidak mengubris tindakan pria itu. Kemudian ia turun dan mengucapkan salam. "Terima kasih sudah mengantarku pulang." Wanita itu tersenyum melambaikan tangan lalu masuk ke rumahnya.


Michael tetap diam di dalam mobil memandang belakang Alona saat wanita itu pergi. Pandangan matanya berhenti di lipatan kaki wanita itu. Gaun Alona yang tidak begitu panjang membuat tanda itu terlihat jelas oleh matanya. Michael terkejut memicingkan matanya menatap lekat tanda itu. "Wanita itu?, tanda di lipatan kakinya!?" Michael menggelengkan kepalanya tidak percaya. Secepat itu takdir mempertemukannya pada wanita itu. Michael menyalakan mesin mobilnya dan pergi.


*****


Alvaro sudah menunggu Alona 15 menit di dalam rumah. Pria itu sedang menatap layar CCTV di tabletnya. Mukanya sudah berubah muram seperti iblis. Alvaro duduk di sofa ruang tamu. "Alona lagi-lagi Kau pergi bersama orang asing." Alvaro mengepalkan tangannya.


Pintu terbuka dari luar. Alona masuk ke dalam rumah. Ruangan tamu gelap karena semua asisten sudah tidur di kamar belakang. Baru satu langkah kaki Alona berjalan, lampu di ruangan itu menyalah terang. Alona tersentak seperti pencuri tertangkap basah masuk ke rumah orang. "Dari mana saja Kau Alona!?" Alvaro menginterogasi wanita itu.


Alona segera berlari menuju sofa tempat Alvaro duduk. Ia duduk di samping pria itu dan memegang tangannya. "Varo sayang maafkan aku karena membuatmu khawatir. Aku tidak bermaksud---" Alvaro menepis tangan Alona dari tangannya. "Kau belum menjawab pertanyaanku Alona. Dari mana!?, siapa pria yang mengantarkanmu pulang" Alvaro meninggikan suaranya. "Harusnya kau lebih dulu sampai dariku."


"Alvaro dia tetangga kita. Namanya Michael." Alona menjelaskan semuanya.


"Lalu?, karena tetangga kau bisa berbicara dengan pria itu sangat dekat, menebar senyum padanya?, naik mobil bersamanya?. Apa lagi Alona?"


"Varo jangan salah paham." kata Alona mencoba menjelaskan situasi.


"Alona aku tidak pernah mempermasalahkan Kau dekat dengan siapapun tapi perhatikan sikapmu terhadap pria lain. Kau mengundang mereka untuk mendekatimu. Apa itu pantas? ingat! kita akan segera bertunangan dan menikah."

__ADS_1


"Varo percaya padaku aku tidak akan pernah berpaling darimu. Tadi hanya kebetulan saja ia lewat saat aku menunggu taxi untuk pulang"


"Kenapa kamu tidak menungguku Alona!?hanya memberikan SMS bahwa kau sudah pulang. Sudahlah lupakan!, aku harap ucapanmu benar. Jangan pernah berbohong padaku."


"Ya sayang, aku akan selalu jujur padamu." Kata Alona menyesalinya.


"Aku akan tidur di ruang tamu malam ini. Pergilah tidur hari sudah malam." Kata Alvaro dengan emosi yang masih bergejolak.


Melihat Alvaro duduk di sofa Alona bermaksud menolongnya. Alona berpikir akan sulit bagi Alvaro jalan menggunakan tongkat.


"Aku antar kamu ke kamar." Kata Alona sambil tersenyum hangat dan memegang tangan Alvaro.


"Tidak perlu! aku bisa sendiri." Jawabnya ketus.


Alona berdiri berjalan ke lantai dua meninggalkan Alvaro sendiri di ruang tamu. Saat tiba di kamar Alona melemparkan tubuhnya di atas kasur empuknya. "Kenapa Alvaro selalu seperti ini. Hatiku sakit. Tapi sakit ini tidak bisa di jelaskan. Hatiku sakit untuk siapa?"


Alona perlahan memejamkan matanya dan tidur nyenyak tanpa berganti pakaian.


*****


Xander pulang ke rumah kacanya. Duduk di pinggir kasur menikmati aroma tubuh Alona yang masih tersisa. Nafasnya seakan dipenuhi wangi tubuh wanita itu. Xander merebahkan tubuhnya di kasur itu. "Alonaku sampai kapanpun kau tetap akan menjadi milikku. Aku tidak akan pernah menepati janjiku jika itu harus jauh darimu. Aku akan selalu menjadi pria ingkar janji demimu."


Xander mengeluarkan ponselnya dan melihat foto Alona di wallpaper ponselnya. Foto itu menampilkan Alona sedang tersenyum. Alona seperti bunga mawar kesukaan wanita itu. Indah di pandang namun sulit di genggam. Xander hanya bisa melihat keindahannya saja. Ia harus berjuang menyingkirkan satu-persatu duri yang ada di tangkai bunga mawar itu untuk menggenggamnya dan menjadikanya satu-satunya. "Alona hanya boleh menjadi milikku!!!" Kata Xander dengan semangat membara.


*****


Di lantai 3 Blok A Yellow Residence. Michael duduk di kursi dan menyalakan laptop di depannya. Tangannya sangat terampil mengetik serangkaian kata di keyboard laptop-nya. "Alona!, aku harus menemukan identitas lengkapnya. Wanita itu membuatku tetarik padanya"


Mudah bagi Michael menemukan identitas lengkap pemilik rumah karena rumah ini di bangun oleh perusahaannya sendiri. "Alvaro Maldini Nugroho!!!, siapa dia?" Michael bertanya dalam hatinya. Melihat nama itu membuatnya lebih penasaran.


Michael melanjutkan pencariannya. "Rupanya pemilik rumah itu adalah putra Jaya Nugroho. Tidak heran jika ia mendapatkan calon menantu yang sangat cantik."


Michael menyenderkan tubuhnya di kursi itu. Menghela nafas panjang dan berpikir membuat rencana. "Apakah mengacau pertunangan seseorang melanggar hukum!?" Kata Michael penuh semangat jiwa pengacaunya.


Michael sangat bersemangat menemukan tantangan baru. Sepanjang malam ia memikirkan wanita itu. Makan malam bersamanya. Michael sudah menemukan tempat yang cocok. Restoran Three M di kota J. Restoran yang menyediakan makanan lokal dan internasional. Cocok untuk keluarga dan berkencan dengan kekasih.


*****


Hari sudah pagi. Alona bangun dari tidurnya. Alona berguling- guling malas di atas kasur. Dari luar terdengar ketukan pintu kamarnya.


"Nona Alona" Tuan menunggumu sarapan.


"Ya Bibi. Aku akan turun sebentar lagi. Katakan padanya untuk tidak menungguku. Aku ingin mandi sebentar." Jawab Alona dengan suara lantang di dalam kamar.


"Baik Non akan di sampaikan pada Tuan."


Bibi Asih turun ke bawah menyampaikan pesannya. "Tuan kata Nona Alona tidak perlu menunggunya. Nona bilang ia ingin mandi sebentar."


Alvaro menganggukan kepalanya. "Bibi tolong ambilkan ponselku di atas meja di kamar tamu."

__ADS_1


Bibi Asih segera pergi dan mengambil ponsel itu. Beberapa menit kemudian Bibi Asih kembali membawa ponsel Alvaro. "Tuan ponselnya."


Alvaro mengambil ponselnya dan menelpon Alona. Alvaro melambaikan tangannya menyuruh Bibi Asih pergi meninggalkannya. "Alona cepat turun!" Perintahnya saat telepon tersambung. "Apa Kau berusaha menghindariku pagi ini!?" Dari ujung telepon Alona menjawab. "Tidak Varo sayang. Aku ingin mandi sebentar saja. Tolong mengertilah...." Alvaro tidak ingin menunggu terlalu lama. "Kataku turun ya turun Alona!. Apa kamu akan melawanku seperti ini jika sudah menikah nanti." Alona tidak punya pilihan selain turun. Alona segera mencuci wajah dan berkumur-kumur kemudian turun ke bawah.


Alona menarik kursi di samping Alvaro. Ia tidak menyangka sifat pria itu akan berubah seperti semula. Alona duduk dan meminta maaf. "Maaf Varo membuatmu menunggu...."


Alvaro melihat wajah kekasihnya. Pria itu masih marah dengan kejadian semalam. "Makanlah...." Katanya dengan nada lembut. "Dari semalam kamu belum makan Alona. Aku tidak ingin kamu sakit."


Alona terkejut melihat perubahan sikapnya. Sebentar marah sebentar baik. Alona duduk diam dan memakan semua hidangan di piringnya.


Sarapan pagi sudah usai meskipun suasananya kurang harmonis. Alvaro memegang tangan Alona di atas meja makan. "Alona maafkan aku jika selalu emosi padamu. Semua itu karena aku sayang dan peduli padamu Alona. Hari ini aku akan pergi ke luar negeri untuk mengobati kakiku. Mama bilang sebelum pertunangan kita kakiku sudah bisa berjalan meskipun harus menggunakan alat bantu."


Alona diam sebentar. "Berapa lama kamu tinggal di sana?" Tanya Alona sendu menatap pria itu.


"2 Minggu" jawab Alvaro.


"Cukup lama!" Kata Alona. "Cepat pulang setelah selesai. Aku tidak punya teman di sini."


Alvaro menganggukan kepalanya. "Jaga hatimu untukku Alona. Aku akan segera pulang."


Setelah selesai berbincang-bincang Alvaro meninggalkan Alona di rumah baru mereka.


Dari belakang rumah terdengar suara kucing mengeong. Alona penasaran, dia tidak memelihara kucing di rumah ini karena Alvaro tidak menyukainya. "Kucing siapa itu?" Katanya dalam hati. Kucing itu terus mengeong semakin kencang. "Sepertinya ada dua kucing yang sedang berkelahi." Alona segera menghampiri sumber suara itu. Saat tiba ia melihat kucing kuning kesayangannya sedang bertengkar dengan kucing jantan.


Alona memisahkan perkelahian kucing itu. "Siapa yang membawa kucingku ke rumah ini?"


Bibi Asih kebetulan sedang menyiram bunga di taman belakang dan mendengar Alona berbicara. "Tuan Non yang membawanya kemari. Katanya untuk teman Nona selama Tuan pergi. Tadi pagi sopir mengantarkan kucing itu kemari."


"Lalu kucing hitam ini milik siapa" Kata Alona.


"Tidak tahu Non mungkin punya tetangga di sebelah rumah." Kata Bibi Asih menjelaskan.


"Baiklah Bi. Aku akan memandikan keduanya."


*****


Hari sudah menjelang malam. Alona tidak lupa dengan janjinya untuk melunasi hutangnya. Alona bersiap-siap dengan gaunnya berwarna silver pas dengan lekukan tubuhnya. Gaunnya panjang menjuntai menutupi kaki jenjangnya. Gaun itu hanya memperlihatkan tulang selangka dan tulang punggungnya yang indah.


Tiba saatnya Michael menjemput wanita itu. Mobilnya sudah terparkir di depan rumah Alona menunggu pemilik rumah keluar.


"Bibi Asih aku ingin pergi sebentar menemui temanku. Tolong jangan katakan pada Alvaro jika aku pergi. Aku tidak ingin dia marah lagi."


Bibi Asih menjawab dan berkata. "Baik Non. Hati-hati di jalan."


Alona keluar dari rumah. Saat Alona masuk ke dalam mobil Bibi Asih mengambil gambar Alona dari balik tirai di dalam rumah. Alvaro sudah menitipkan pesan agar Bibi Asih melaporkan semua kegiatan Alona di rumah.


Dandanan Alona membuat Michael terpanah saat wanita itu masuk ke mobilnya. Mata Michael menatap wajah wanita itu. Pandangannya segera ia alihkan untuk menghindari kecanggungan.


"Kemana kita pergi." Tanya Alona tanpa basa-basi.

__ADS_1


"Lihat saja nanti" Kata Michael membuat Alona penasaran. Pria itu langsung tancap gas menuju restoran Three M.


Keheningan terjadi sepanjang jalan. Bagi Alona tidak perlu mengatakan apapun karena ia hanya melunasi hutangnya makan malam bersama pria itu dan tidak lebih dari makan malam biasa.


__ADS_2