Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Pria termisterius di dunia hitam


__ADS_3

Pria berbadan kekar dan berotot memakai pakaian serba hitam, mukanya ditutupi topeng seperti topeng ninja. Ia dengan cepat meletakan obat bius di hidung Alona agar wanita itu tidak mengetahui kejadian yang telah terjadi.


Alvaro yang sudah tidak sadarkan diri digotong dan di dudukan di kursi tempatnya semula. Sebotol kecil cairan di masukan ke dalam mulutnya, dosisnya 3 kali lipat dari biasanya. Cairan itu berfungsi menghilangkan ingatan 2-3 jam sebelum cairan itu di minum. Cairan itu berwarna putih seperti air mineral. Efek samping dari pemberian obat itu membuat orang tidak sadarkan diri selama 8 jam, memberikan mimpi yang indah dan seperti berada di alam lain.


Pria misterius itu berhasil membuat formula mutakhir penghilang ingatan, keampuhan yang dimiliki cairan itu tiada tandingannya. Penemuannya itu menjadikanya salah satu orang yang paling di segani dalam kalangan atas. Ia di juluki sebagai "Tuan amnesia." Ia sudah melumpuhakn ingatan orang dengan tak terhitung jumblahnya.


Alona tertidur pulas dengan obat bius yang di letakan pria itu di hidungnya.


Selimut putih tebal di atas kasur kusut dan tidak beraturan. Gaun yang dikenakan Alona sedikit terangkat keatas. Pahanya terlihat sangat menantang setiap mata yang memandangnya. Sepasang kaki jenjang Alona terlihat putih mulus, tanpa cacat.


Pria itu merapihkan kasur itu dan menyelimuti Alona. Ia terlihat seperti lelaki yang sangat diimpikan setiap wanita, penuh perhatian dan kasih sayang.


Semua pria normal pasti tergoda hanya dengan melihat Alona yang tertidur, tidak terkecuali dengan pria berpakaian serba hitam.


"Nona.... Kau memang cantik!, tapi sayang Kau sudah ada yang punya! Matamu, hidungmu, semuanya sempurna!'


Pria itu pergi setelah menyelesaikan tugas yang diperintahkan. Ia menelepon kliennya dan segera terhubung.


"Teman, semua sudah beres sesuai rencana!"


"Bagus!" Kau memang bisa di andalkan." Ucap Pria yang berada di ujung teleponnya.


Pria berbadan kekar itu pergi tanpa meninggalkan jejak. Kinerja nya sudah teruji dikalangan mafia teratas. Tidak semua bisa membayar dan mendapatkan jasanya. Ia penjahat eksklusif di kota J. Pria itu tidak pernah memiliki bos, ia adalah pria termisterius di dunia hitam. Ia menyebut kliennya teman. Baginya, uang bukan segalanya.


Pria itu menyukai tantangan dan petualang sejati. Ia menyukai sesuatu yang baru dan tidak monoton. Setiap tawaran yang datang padanya, ia akan memilih kasus yang unik dan menarik. Pria itu tidak di bayar untuk membunuh.


Mobil hitam terparkir di luar Melati resort. Pria itu masuk kedalam mobil, sebelum menyalakan mobilnya ia membuka topeng ninjanya. Aura wajahnya sangat megah dan berkelas. Warna matanya coklat terang, sorot matanya tajam dan lincah. Alisnya tebal dan berahang persegi. Satu hal yang menjadi kekurangannya, tidak bisa mengingat wajah, tempat dan hal-hal kecil yang baru ia lihat.


"Nona..., Aku sudah memberi tanda di lipatan kaki mu. Suatu saat nanti aku pasti menemukanmu kembali."


Pria itu tersenyum penuh harap dan segera berlalu pergi.


*****


Deburan ombak pantai masih sama dengan kemarin.


Ombaknya masih sama saling kejar mengejar, tidak pernah lelah.


Matahari terbit sudah menampakkan cahayanya yang menyilaukan.

__ADS_1


Alona terbangun dari tidur panjangnya. Ia segera duduk di kasur itu, matanya tertuju pada sosok yang sedang duduk di kursi. Ia Alvaro, kekasihnya.


Kekasihnya Alvaro terlihat sangat memukau matanya. Ia membayangkan menikah dan memiliki anak-anak yang lucu bersamanya. Memiliki keluarga kecil, hidup bahagia dan sederhana, sebuah harapan kecil Alona bersamanya.


Alona sangat menyukai mata Alvaro yang jernih dan terang. Rambutnya sedikit ikal, kulitnya kuning langsat, badanya sedikit berotot, terutama di bagian perutnya. Alvaro memiliki tubuh yang ideal dan sesuai dengan tipe pria idaman Alona.


Matanya tidak pernah bosan memandang Alvaro. Alona turun dari kasur itu, berjalan mendekati Alvaro. Ia kemudian mencium tepat di kening Alvaro.


"Pagi..., Sayang. Terima kasih sudah menjagaku malam ini."


"eeeeeeeek..."


Alvaro bangun dari tidurnya, suasana hatinya sedang baik hari ini. Ia mengerakan badanya yang terasa sedikit kaku akibat tidur di kursi semalaman. Ia memijit tengkuknya yang terasa sakit akibat pukulan pria berbaju hitam.


Alvaro menarik tangan Alona dan memeluknya di pangkuannya. Alona duduk diatas kedua paha Alvaro. Kepala Alvaro dan Alona saling beradu dan hidungnya saling bersentuhan, senyum bahagaia terpancar di wajah keduanya. Kedekatannya sangat intim. Alvaro sangat menikmati setiap hembusan napas Alona yang berhembus ke arahnya.


Mereka seperti sepasang suami-istri yang sedang berbulan madu. Mata Alona terpejam, menikmati setiap debaran irama jantungnya. Ibu jari Alvaro memegang bibir Alona dan segera ingin menciumnya.


Getaran dan deringan ponsel di saku celana Alvaro membuat keduanya tersadar. Alvaro menghentikan niat untuk mencium Alona.


"Varo..., Kau dimana? Mama khawatir, Nak!"


"Mama tunggu ya, anterin mama mau pergi arisan."


"Iya, Ma." Alvaro sedikit jengkel dengan Mamanya yang mengganggu kebersamanya dengan Alona. Mamanya tidak akan pernah meneleponnya jika tidak penting. Tipe Mama Alvarao adalah ibu yang penyayang dan memanjakan anakanya, terlebih Alvaro anak satu-satunya.


Alona masih duduk dipangkuan Alvaro dengan perasaan yang canggung. Sementara, Alvaro masih asik dengan pikiran jengkelnya.


"Alona kenapa Kau sulit sekali di jangkau!" dalam hati Alvaro mengunggkapkan kekesalannya.Kepalanya sudah terasa panas akibat menahan keinginan mendalamnya.


"Sayang Aku harus pulang sekarang, tapi aku tidak bisa mengantarmu pulang."


"Tidak apa-apa, Varo. Aku bisa naik taxi dari sini." Perasaan Alona sedikit kesal karena ia ditinggalkan sendirian.


"Hati-hati ya sayang," Alvaro mencium kening Alona dan pergi meninggalkannya.


Bagi Alona pria yang menyayangi dan dekat dengan ibu pasti tidak akan pernah mnyakiti dan mengkhianatinya. Salah satu point plus yang membuat Alona sangat mencintai Alvaro.


"Varo....?"

__ADS_1


Masih pantaskah Aku untukmu?


"Varo....?"


Maukah Kau menerima sampah sepertiku?


Alona melemparkan badanya ke kasur, berguling-guling melupakan emosinya.


"Ting...."


Suara notifikasi SMS di ponsel Alona. Ia segera membuka pesan masuk dan membacanya.


"085***242672"


"Heaven Place blok A No.1 jam 3 sore. Jangan terlambat Aku tidak suka menunggu!"


Lagi-lagi dia, sepertinya ia mengetahui segala hal tentangku.


Bagaiman caranya agar Aku bebas darinya?


Aku tidak punya kebebasan semenjak ia datang di hidupku! Jangankan kebebasan, kebahagaianku juga sudah di renggutnya.


Aku ingin mati saja!


Rasanya tidak ada gunanya Aku hidup!


"Mati!"


Tapi, itu sama saja membuatnya menang!?


Memutar-mutar ponsel sepertinya kebiasan baru Alona, ia terus memikirkan SMS yang masuk itu. Dengan cepat ia mengetik pesan dan meng-klik, kirim.


"Iya. Aku akan datang secepat mungkin. Pria srigala bengis." Alona menambahkan sebanyak 10 emoticon kepala bertanduk berwarna merah dan 1 tangan yang mengepal, seperti akan meninju pria itu.


Xander membuka pesan masuk.


"Kucing kecil liar nakal."


Senyum simpul bergairahnya muncul di wajah pokernya.

__ADS_1


"Kau memang membuatku lebih bergairah menindasmu hingga hancur Sampai ketulang."


__ADS_2