Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Kapan terakhir kali aku datang bulan?!


__ADS_3

Baru saja Michael memikirkan Michelle-nya. Tiba-tiba ponselnya berbunyi. Melihat nama di layar ponselnya, Michael langsung mengangkat telepon itu. "Antonio?, apa sudah ada perkembangan tentang Michelle?"


"Benar Tuan." Jawab Antonio di ujung sambungan telepon. "Timku menemukan informasi bahwa Nyonya Michelle berada di kota B."


"Terus awasi pergerakannya. Aku tidak mau kehilangannya lagi. Pastikan timmu benar-benar mengawasinya." Perintah Michael.


"Baik Tuan. Saya akan berusaha keras untuk menjaga dan menemukan Nyonya Michelle." Kata Antonio.


Michael langsung bergegas dan memerintahkan sekretaris pribadinya Reihan yang sedang sibuk menata dokumen di pojok ruangannya. "Reihan batalkan semua agendaku selama satu bulan. Aku akan pergi ke kota B. Hubungi aku jika ada hal yang benar-benar penting."


"Baik Tuan." Kata sekretaris Reihan.


Michael langsung naik ke helikopter di atas gedungnya, dan pergi ke kota B.


*****


Satu jam setelah kepergian Michael. Xander datang ke perusahan milik Michael. Ia langsung pergi ke bagian resepsionis dan bertanya. " Selamat siang Nona. Apa Tuan Michael ada?"


Clara yang sedang bertugas, tersenyum dan menyapa. " Selamat siang Tuan. Maaf Tuan Michael sedang pergi ke kota B."


"Berapa lama?" Tanya Xander.


Clara menjawab dengan sopan. " Kata sekretaris Reihan, Tuan Michael mengosongkan agendanya selama sebulan. Apa Tuan ingin membuat janji setelah Tuan Michael pulang?"


Xander mengetukan jari-jemarinya di atas meja. Ia menghela napas lalu berkata. "Tidak perlu. Katakan saja padanya bahwa Alexander mengunjunginya."


Xander pergi dengan rasa kecewa. Bagaimana ia harus menemukan Alona!?


Xander hampir saja putus asa. Dalam lamunanya ia teringat sesuatu. "Bukankah Alona akan melakukan pertunangannya di hotelku sendiri? aku punya ide!" Xander tersenyum dan segera menjalankan mobilnya meninggalkan gedung Sky Cipta Gunawan.


*****


Sore hari di Yellow Residence. Tiga hari sebelum hari pertunangannya dengan Alvaro. Alona berada di taman mawar di belakang rumah, ia sibuk memotong bunga yang sudah rusak dan layu. Alona mencari kesibukan untuk melupakan kesedihannya.


Bunga mawar sedang mekar saling berdempetan satu sama lain. Bunganya sesekali bergoyang tertiup angin. Wanginya sangat harum membuat Alona nyaman. "Seandainya aku seperti mawar, akan jadi seperti apa hidupku?" Tanya Alona dalam hati sambil mencium kelopak bunga mawar.


Alona berjalan memutari halaman belakang rumah. Kaki Alona tersandung batu. Ia jatuh ke tanah. "Au, sakit!!!" Rintih Alona.


Alona bangkit berdiri dan melanjutkan perjalanannya. Alangkah terkejutnya Alona ketika menemukan bahwa di belakang rumah ada jalan kecil untuk keluar. Alona mendekat kesana. "Aku akan pergi lewat sini." Alona sudah masuk lewat jalan sempit itu. "Tapi tunggu dulu aku tidak memiliki uang di tangan saat ini. Bagaimana bisa aku melarikan diri tanpa ada apapun di tanganku."

__ADS_1


Alona memutuskan kembali masuk ke rumah mengambil uang di dalam tasnya. Saat masuk ke ruang tamu sudah ada Alvaro duduk di sofa menunggu Alona. "Dari mana!?" Tanya Alvaro dengan wajahnya yang menghitam karena marah.


"Aku dari belakang, taman bunga mawar." Ucap Alona sambil memegang tangannya yang terkena goresan duri dari tangkai bunga mawar.


Alvaro berdiri dan berjalan ke arah Alona, melihat itu Alona merasa takut dan menundukkan kepalanya. Alvaro melihat goresan di tangan Alona, dengan suara lembut ia berkata. "Sayang kenapa kamu tidak hati-hati." Alvaro menggendong Alona ke lantai atas dan membaringkan Alona di kasur. Alvaro kemudian mengambil kotak obat di dalam lemari pakaian. Secara perlahan Alvaro mengobati tangan Alona.


Melihat tindakan lembut Alvaro membuat hati Alona melunak. Alona berpikir keras, mungkin kemarin Alvaro benar-benar marah padanya.


"Varo..." Alona menggenggam tangan Alvaro dan menatap mata pria itu. "Maafkan aku jika aku menyakiti hatimu. Aku tidak pernah berniat menghancurkan masa depanmu dan masa depanku. Jika Kau memiliki wanita yang kau cintai aku akan melepaskanmu."


"Apa maksudmu?" Tanya Alvaro. "Bukankah aku sudah pernah bilang padamu Alona!? Bahwa hanya Kau seorang yang ku inginkan"


"Aku tahu, tapi coba kamu pikirkan dengan matang apa cintamu benar untukku?"


"Aku tidak mengerti maksudmu Alona. Apa Kau berniat meninggalkan ku?"


"Bukan seperti itu." Jawab Alona lembut.


Alona kembali berpikir. "Bagaimana ia harus pergi dari pria ini. Alvaro bukan pria seperti dulu lagi. Pria itu sudah berubah seperti monster. Aku tidak bisa bersama Alvaro yang selalu menyakitiku. Dia tidak mencintaiku lagi tapi lebih ke arah terobsesi dengan kegilaannya."


"Alona, jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak. Jika aku tidak mencintaimu aku sudah meninggalkan mu dari dulu."


Alvaro tersadar, gerakannya canggung, dan sorot matanya tidak jelas. Mendengar Alona lapar Alvaro berkata. "Mau makan apa sayang. Aku akan membuatnya untukmu."


"Apa saja" Kata Alona.


Alvaro pergi ke dapur. Sementara itu Alona memegang dadanya."Hampir saja aku tertipu!". Semenjak kejadian malam itu ia tidak pernah menyukai Alvaro. Kini Alona hanya berpura-pura masih mencintai Alvaro untuk menghindari kecurigaan Alvaro padanya. "Tidak!, aku tidak bisa hidup dengan pria itu lagi. Lebih baik aku mencari cara untuk meninggalkannya sesegera mungkin."


Menunggu Alvaro membuatkannya makanan Alona mengemasi tasnya. Tas kecil sudah ia siapkan meletakkan KTP, paspor, kartu debit dan hal penting lainnya. Alona siap pergi setelah Alvaro pergi dari rumah.


Alvaro datang 15 menit setelah itu. Ia membawa nampan berisi makanan. Ada roti bakar telur dadar dan jus susu stroberi. "Sayang..., makanannya sudah siap"


Alona tersenyum menyambut Alvaro. Alvaro meletakkan nampan di depan Alona. Kemudian Alvaro mengikat rambut Alona dan memasangkan celemek ke dada Alona. Alvaro berkata dengan lembut. "Aku akan menyuapimu makan."


Alona mengganggukan kepalanya. Suap demi suap Alona melahap makanan dari Alvaro. Suap terakhir Alona merasa mual dan mengarahkan tangannya pada Alvaro, menolak makanan itu. "Kenapa sayang?" Tanya Alvaro. "Apa rotinya tidak enak?"


"Bukan!" Alona menggelengkan kepalanya. Detik berikutnya ia muntah di celana Alvaro.


Alvaro mengepalkan tangannya. Raut wajahnya berubah muram tapi tetap memaksakan senyum dan menggumam di dalam hati. "Sialan anak itu belum keluar sudah membuat ku kerepotan dibuatnya."

__ADS_1


Seperti biasa Alvaro kembali menjadi perhatian. "Sayang kapan kamu terakhir kali datang bulan" Tanya Alvaro sambil berpura-pura bersemangat dan terkejut.


Alvaro memanfaatkan momen tersebut. Tidak perlu menunggu satu hari sebelum pertunangannya dengan Alona. Ia tentu tidak membutuhkan alasan lagi untuk membawanya ke rumah sakit.


Alona tanpa ekspresi mencoba mengingat. Kapan terakhir kali ia datang bulan. "Aku tidak tahu" Kata Alona.


"Kenapa aku begitu bodoh!?. mengingat terakhir kali datang bulan saja tidak bisa!?" Gumam Alona dalam hati.


Akhir-akhir ini Alona tidak pernah memperhatikan kondisi kesehatannya sendiri. Kapan terakhir makanpun ia muda lupa. Apalagi memikirkan kapan ia terakhir kali datang bulan. "Tunggu apa maksud ini." Kata Alona dalam hati. "Tidak mungkin aku hamil anak Alvaro, Kan!? Aku juga pernah melakukan sebelumnya dengan Xander. Mendapati kenyataan itu membuat kepalanya pusing.


Melihat Alona melamun, Alvaro menepuk pipi Alona. "Sayang kita harus pergi ke rumah sakit. Aku juga mendengar kata Bi Asih akhir-akhir ini kamu sering mual dan muntah.Kata Alvaro. Alvaro diam sejenak lalu berkata. "Jangan-jangan kamu ha--- " Alvaro menghentikan kata-katanya.


Alona tidak menanggapi ucapan terakhir Alvaro. Saat Alvaro selesai dengan kata-kata nya Alona mengangukan kepalanya. Ia juga ingin tahu apa dia benar-benar hamil atau tidak. Tentu dengan melakukan tes aku juga bisa tahu anak siapa sebenarnya yang sedang aku kandung jika aku benar-benar hamil.


Alvaro langsung berkemas menganti baju dan celana yang terkena muntahan Alona.


*****


Sampai di rumah sakit. Kali ini Alvaro tidak datang ke rumah sakit Gunawan Hospital. Tapi ia datang ke rumah sakit kecil yang sudah ia bayar untuk mendukung kebohongannya.


Mendapati bahwa Alvaro berhenti di rumah sakit kecil Alona langsung bertanya pada Alvaro. "Varo apa benar kita akan ke rumah sakit ini?"


"Benar sayang. Rumah sakit sama saja. Lagian rumah sakit ini paling dekat dengan rumah kita." Kata Alvaro meyakinkan.


Alona diam tanpa menaruh rasa curiga dan turun dari mobil.


Selesai melakukan pengecekan. Alona mendengarkan hasil tesnya dari dokter. " Selamat Nona Anda akan segera menjadi seorang ibu. Usia kehamilan Anda memasuki dua minggu." Ucap dokter tersebut.


Alona tercengang, mulutnya setengah menganga karena tidak percaya. Sementara Alvaro tersenyum dan tertawa kegirangan. Alvaro memeluk Alona. "Sayang kita akan segera menjadi orang tua." Kata Alvaro.


"Terima kasih dokter. Kami akan menjaga anak ini" Ucap Alvaro dengan senyuman mengembang di wajahnya.


Dalam perjalanan pulang Alona menyenderkan kepalanya di sandaran kursi. Wajahnya menghadap ke luar jendela memandang pemandangan luar. " Tidak!, kenapa aku harus hamil anak Alvaro? apa ini hukuman untukku karena sudah berkhianat darinya?"


"Apa yang harus aku lakukan? apa artinya aku harus melanjutkan pertunangan dan menikah dengannya? Tidak! Aku harus memastikannya sendiri. Rumah sakit itu mencurigakan belum lagi dokternya berbicara seperti ada yang di sembunyikan dariku. Aku harus memeriksa ulang sebelum terjadi sebuah pernikahan."


Alvaro yang sedang mengemudikan mobil sesekali menatap ke arah Alona. Tangannya mengusap kepala wanita itu. "Sayang ada apa? Kenapa mukamu terlihat tidak senang?" Kata Alvaro.


Alona menggelengkan kepalanya tidak berniat merespon. Tanpa terkendali air matanya ingin menetes, tapi segera ia menyekanya menggunakan tangan berpura-pura mengantuk dan memejamkan matanya. Sepanjang jalan pulang Alona berpura-pura tertidur.

__ADS_1


__ADS_2