Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Sayangnya Kau hanya punya tiga pilihan, sayang!


__ADS_3

Bagaikan perumpamaan, menangkap ikan mengunakan jaring lebih muda, tidak sesulit menggunakan kail. Diana menebar jaring, melemparkan umpan-umpan cantiknya. Sekali lempar, ikan akan tergoda dan menyerahkan dirinya pada kekalahan.


Seperti halnya jaring, alat penangkap ikan dalam kapasitas banyak dan bersekala besar. Seperti itu juga harapan Diana mendapatkan keuntungan berlimpah dari umpan-umpan yang di lemparkannya ke arah Xander.


Kebahagian sedang berada di puncak kepala wanita itu. Terlihat dari raut wajahnya, senyumnya senantiasa merekah memberikan kehangatan mata yang melihatnya.


Diana telah mempersiapkan segala sesuatu dari rencananya. Dia tidak akan menyerah dengan usahanya, tidak sama sekali. Sekeras Xander melawannya maka dia akan lebih keras mendorong rencananya.


Dari semua sudut pandang ruangan di kamar rawat inap Alvaro, Diana memasang camera tersembunyi, hanya ia yang tahu keberadaannya.


Diana berdalih ingin tidur, istirahat di kamar kecil di ruangan itu, saat Alona tiba. Padahal tujuannya berbeda, wanita itu ingin menagkap gambar dan merekam video setiap saat menyaksikan keintiman Alona dan Alvaro. Wanita itu seperti mata-mata mengintai musuhnya dari balik kamar itu. Diana tidak henti-hentinya menahan tawa saat menyaksikan kedekatan antara Alona dan Alvaro anaknya.


Jari-jemari Diana mengetik pesan di layar ponselnya. "Xander keponakanku yang baik, lihatlah! Aku punya pertunjukan menarik untukmu. Sebagai Bibimu aku wanita yang pemurah hatinya, Bibi selalu merasa ingin membagikan momen bahagia padamu. Bibi pikir menebarkan kebahagiaan itu baik untuk kesehatan jantung dan badan kita. Jadi luangkanlah waktumu keponakanku sayang...."


Diana terus tersenyum dalam setiap kata pesan yang ia tulis untuk Xander, keponakannya. Wanita itu membicarakan kemurahan hati, kata-katanya seperti malaikat. Dalam setiap katanya halus, tapi lebih berbisa dari gigitan ular. Terdapat jebakan di setiap kata-katanya, seperti jebakan tikus dalam rumah, mengurung tikus dalam perangkap, tidak bisa lepas meskipun tikus berusaha keras mengigit, menerkam, berlari bahkan berteriak meminta tolong. Sama halnya dengan keadaan Xander saat ini, pria itu telah terjebak dalam perangkap itu.


Diana tersenyum penuh kemenangan di wajahnya. "Xander keponakanku, aku ingin tahu apa yang bisa Kau lakukan saat melihat foto itu! Aku harap keponakanku itu tidak sampai membakar rumah dengan suhu panas di seluruh tubuhnya."


Puluhan foto Alona dan Alvaro ia kirimkan ke Xander. Foto-fotonya terlihat sangat intim. Fotonya di ambil dari berbagai sudut pandang yang berbeda-beda. Alona sedang mencium kening Alvaro, Alona memegang tangan Alvaro, Alona tertidur, duduk di samping ranjang memegang tangan Alvaro, Alona menyuapi Alvaro makan, Alona membantu Alvaro menganti baju. Semua foto itu memperlihatkan kebahagiaan Alona saat bersama Alvaro. Wanita itu tersenyum tanpa beban di wajahnya.


Diana wanita yang ambisius. Wanita itu tidak puas hanya dengan mengirim foto saja. Foto belum cukup untuk membuktikan keintiman hubungan antara anaknya dan Alona. Wanita itu merekam video berdurasi pendek. Video itu memperlihatkan Alona sedang asik bercanda gurau bersama Alvaro di ruang rawat inap. Alvaro sedang menggoda Alona, ia menarik tangan Alona hingga Alona jatuh dipelukaanya, posisi wajah mereka saling berhadapan. Alvaro memainkan hidungnya menyentuh hidung Alona. Alvaro terus memeluk Alona, ia mengabaikan kakinya yang terasa sakit. "Varo berhenti menggodaku, aku akan mematahkan kakimu yang satunya lagi jika Kau seperti ini terus." Alona terus tertawa lepas menatap pria itu.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu sayang." Alvaro terus menggoda Alona sampai wanita itu terlihat kesal dan marah.


"Varo, nanti Mama bangun, berhentilah!" Alona menatap Alvaro sedikit marah tapi tidak ingin berhenti berpaling dari pria itu. Ia ingin terus di dekatnya. Selamanya!


"Biarkan saja Mama bangun, Mama juga pernah muda." Alvaro mengabaikan peringatan Alona padanya.


Hati Xander seperti telah menjadi abu bakar melihat video terus berputar dihadapannya. Pikirannya melayang seperti layang-layang tanpa penarik talinya, bingung, bimbang harus kemana!?


Xander tersenyum menyeringgai, melihat video itu. Pria itu merasakan sesuatu yang berbeda, tidak ingin peduli akan video itu, tapi, hatinya terasa seperti ditusuk duri-duri tajam saat melihat Alona tersenyum dan tertawa tanpa henti. Alona tidak pernah selalu tersenyum dan tertawa lepas tanpa beban saat bersama Xander. Pria itu iri melihatnya. Ingin sekali rasanya ia melempar ponselnya membentur ke tembok dan memecahkannya sampai hancur berkeping-keping.


*****


Hari sudah malam, udarapun terasa dingin dan sejuk. Ruangan kerja di rumah itu sama sejuknya, hanya saja terasa panas seperti tempat sauna. Tubuh pria itu di penuhi keringat, keringatnya bercucuran seperti selesai mandi uap.


Xander dalam keadaan hati panas membara, mengetik serangkaian pesan pada Alona. "Datang ke rumahku malam ini jam setengah sembilan!, tidak ada negosiasi. Ruang kerja, cepat!"


Xander memejamkan matanya. Semua isi memorinya penuh dengan gambar dan video wanita itu, terus berputar-putar mengelilingi otaknya.


Alona!, ternyata kau menginginkan cepat keluar dari rumah sakit karena ingin menemui pria itu. Xander terus bergumam dalam hatinya. "Tapi, dia kekasihnya. Kenapa aku marah!? Apa aku cemburu!?

__ADS_1


"Tidak, tidak..., tidak mungkin aku cemburu padanya," Xander mengelengkan kepalanya.


Menghela nafas dalam-dalam, saat membaca pesan dari Xander. Wanita itu mengabaikan pesan itu dan kembali melihat Alvaro yang perlahan sudah memejamkan matanya efek pemberian obat dari dokter.


Alona tidak ingin beranjak pergi meninggalkan Alvaro, ia masih ingin menemani kekasihnya lebih lama lagi.Tapi, pihak rumah sakit membatasi jam besuk hanya sampai jam delapan malam.


"Varo sayang, aku pulang ya..., jangan marah lagi. Aku akan menemanimu setiap hari." Alona mencium kening Alvaro dan sedikit mencubit pipi pria itu. Alvaro menganggukan kepalanya dan memejamkan matanya yang sudah terasa semakin berat menahan kantuk.


Alona mengendari mobil kakaknya ke rumah Xander. Wanita itu tidak tahu apa yang diinginkan Xander, tapi ia tetap pergi menemuinya. Alona tidak takut seperti kemarin, ia sudah menghilangkan rasa takut dan membuka hatinya melihat kebaikan Xander saat menyelamatkan kekasihnya Alvaro. Alona merasa ia harus berterima kasih pada Xander. Kebaikan harus selalu di balas meskipun bukan dengan uang atau harta benda berharga. Ketulusan hati yang diutamakan saat mengucapkan terima kasih pada seseorang. Wanita itu tahu tata krama dan budi bahasa, tentu ia akan berterima kasih pada Xander.


Alona sudah sampai di rumah Xander. Ruang tamu itu masih sama seperti pertama kali ia kesana, terlihat gelap tanpa pencahayaan terang. Alona berjalan menaiki anak tangga menuju ruang kerja, tempat Xander menunggunya.


Saat Alona datang, mata Xander masih terpejam dengan tangan menopang kepala di pegangan kursinya.


"Xander aku datang," Alona memanggil Xander, suaranya terdengar sangat ramah dan bersahabat. Tidak seperti sebelumnya, ia selalu berbicara dengan nada tinggi saat bertemu pria itu.


Xander menatap wajah wanita itu penuh kemarahan. "Apa yang bisa ku dapatkan darimu karena telah menyelamatkan kekasihmu, Alona!?


Alona terdiam, terkejut mendengar ucapan Xander. "Maksudmu!?, aku tidak mengerti." Wanita itu sedikit binggung dari maksud ucapan Xander.


Alona, apa yang Kau pikirkan sayang?Tidak ada yang gratis di dunia ini!, semua ada harganya.


Katakan apa yang Kau inginkan Xander!?


Alona pilih salah satu di antara ketiga pilihan ini. Aku benar-benar baik kali ini, semoga Kau membalas kebaikanku dan menghargainya.


Cepat Katakan!, atau aku akan pergi. Aku muak dengan omong kosongmu.Alona berbicara dengan nada lantang dan penuh gejolak emosi.


Alona santai, aku tidak akan menerkammu. Xander menggeliatkan badannya yang terasa kaku duduk lama di kursi putar.


Satu, tanda tangani surat pemindahan sahammu kepadaku, 45% sahamu akan menjadi milikku." Xander melemparkan setumpuk kertas tebal bertulisan surat pemindahan saham perusahaan PT Raharja Industry.


"Apa Kau mencoba merampoku Xander!? " Ternyata Kau pria licik!. Hatimu hitam seperti arang. Aku telah salah menilaimu!. Alona merasa kecewa dan tidak percaya dengan semua yang sudah ia dengar dari pria itu


Sssssssscht..., dengarkan kata-kataku dulu sayang. Aku belum selesai. Xander mengingatkan Alona untuk mendengarkan semua keinginannya.


Kedua, Kau bisa mengganti dengan tubuhmu. Kau terlihat mengoda dan menggiurkan hari ini. Sepertinya tidak akan merugikanku. Lagi pula, aku sudah lama tidak berolahraga.


"Kau keterlaluan, jangan berharap Xander!. Aku tidak akan pernah menyetujui ide gilamu."


"Alona apa Kau akan selalu menginterupsiku!?" Xander mengangkat kakinya ke atas mejanya.

__ADS_1


Ketiga, Kau pilih Kakakmu atau kekasihmu yang akan ku lenyapkan jika Kau tidak bersedia memilih diantara kedua pilihan itu.


Alona seperti memakan buah simalakama. Memilih nomor satu, sama artinya ia menyerahkan perusahaann ayahnya pada pria itu secara cuma-cuma. Memilih nomor dua sama saja dengan menjual dirinya sendiri. Pilihan nomor tiga sama artinya dengan membunuh jiwa dan raganya. Alona jelas mengetahui bahwa pria itu menginginkan saham perusahaannya, tapi, untuk apa dia menginginkannya. Pria itu pengusaha kaya dan terkenal di bidang perhotelan bukan bidang kesehatan seperti usaha milik ayahnya dulu.


Alona memikirkan cara agar dia lepas dari rencana utama pria itu. "Empat, lenyapkan saja aku Xander!. Alona menambah pilihannya."


Xander bangkit dari kursinya, ia berjalan ke arah Alona. Pria itu mendorong badan Alona hingga menempel ke tembok. "Sayangnya Kau hanya punya tiga pilihan sayang!"


Tidak.... Alona berbicara dalam hatinya. Aku harus mencoba mencari cara menjinakkan serigala kelaparan di depanku.


"Bagaimana Sayang!? Kau mau tanda tangan atau tidak!?" Xander kembali bertanya mengenai keputusan wanita itu.


"Tidak!" Alona menjawab tanpa takut dengan ancaman Xander."


"Ok, Kau memilih nomor dua benar kan sayang!?"


Pria itu memegang tengkuk Alona. Ia mencengkeramnya hingga wajah Alona mendongak ke atas. Xander memegang kedua tangan Alona. Tangan itu ia tekan ke tembok di atas kepala wanita itu.


"Xander lepaskan aku, 30%, aku akan tanda tangan." Alona tidak punya pilihan dan mencoba menurunkan persentasi saham yang akan ia berikan.


Tidak!, aku menyukai angka 45% sayang. Bagaimana!? setuju tidak?. Aku tidak suka menunggu lama.


Xander saham kakakku saja hanya 40%. Apa artinya Kau meminta 45% sahamku. Alona bertanya penuh selidik dan mencari fakta dibaliknya.


"Salah ayahmu kenapa memberi saham lebih besar kepada anak perempuan." Xander berbicara acuh tak acuh tanpa perasaan bersalah.


"Kau pasti memiliki tujuan lain, aku tahu itu." Alona tersenyum penuh kebencian yang menyelimuti nya.


"Apakah Kau takut aku akan mengeser kekuasaan Kakak mu Alona!?" Xander bertanya pada wanita itu.


Lalu apa lagi tujuan dan maksud mu Xander, selain ingin mengambil alih perusahaan itu. Semua tujuannya Kau yang tahu sendiri. " Aku tidak setuju, tidak akan."


"Baiklah Kau memilih nya, jangan salahkan aku Alona"


Xander mendekatkan wajahnya pada Alona. Perlahan ia mencium, menggigit bibir Alona.


Tangan Xander sudah meraba leher wanita itu, menekannya seperti akan mencekeknya.


Xander menghapus semua jejak tangan Alvaro yang sudah menyentuh Alona saat di rumah sakit itu.


Xander lepaskan aku....

__ADS_1


Aku akan tanda tangan surat pemindahan sahamnya. Tolong lepaskan aku....


Terlambat!


__ADS_2