
Ketika Alan pergi, Alexander tersadar bahwa Alan sedang dalam bahaya. Alexander lantas memutuskan mengejar Kakak iparnya. Sepanjang jalan ia berharap agar Alan belum pergi.
Napas Alexander tersengal-sengal. Bersamaan dengan itu, ia membungkukkan badannya dengan kedua tangan menopang di lututnya. " Kak, Alan...." Panggil Alexander saat ia berhasil melihat punggung Alan berjalan menuju pintu luar.
Alan menoleh, menjawab sekaligus bertanya "Iya..., ada apa?"
Alexander pergi mendekati Alan. Ia menyarankan agar kakak iparnya pergi menggunakan mobilnya. "Kak pakai mobilku saja. Mobilku lebih aman, sudah dilengkapi anti peluru serta anti benturan. Sopirku akan mengantar Kakak sampai tujuan. Aku tahu sifat Diana. Dia wanita ambisius! mata-matanya sangat banyak, mungkin saja sedang berkeliaran mengintai keberadaan Kakak saat ini."
Alan menganggukan kepalanya. Ia menyetujuinya tanpa berpikir. Lagipula saran Alexander ada benarnya. Naik taxi sangat tinggi resikonya. "Sekali lagi terima kasih bantuanmu Alexander..." Jawab Alan.
"Sama-sama Kak. Aku akan menjaga konferensi pers Kak Alan dari jauh. Aku tahu kekuatan Diana sangat kuat dan luar biasa. Dia bisa saja mengacaukan jaringan atau meretas siaran mengganti dengan tayangan lain saat pers sedang berlangsung. Kakak tidak perlu khawatir! Aku sudah membayar televisi swasta yang netral. Mereka akan membantu kita menyiarkan berita secara live."
Tidak berlama-lama, setelah itu Alan pergi menuju Raharaja Industry. Sedangkan Alexander kembali ke kantornya mempersiapkan pemantauan keberhasilan konferensi pers.
Raharja Industry....
Ketika sampai, Alan segera berganti pakaian menggunakan jas yang telah tersedia di ruang istirahatnya.
"Rudy siapkan semua kebutuhan untuk konferensi pers di aula lantai satu. Pastikan semua rekan pers menyiarkan secara langsung." Perintahnya.
"Baik Tuan..." Jawab Robin.
15 menit di aula lantai satu.
Alan duduk diantara sekretarisnya dan kepala penanggung jawab produksi susu Healty.
"Selamat siang rekan media...." Kata Alan dengan tatapan serius dan tegas. Cahaya lampu kamera terus menyorot ke arahnya, mengambil gambar dan video. "Pertama-tama saya ingin mengucapkan ribuan maaf yang sebesar-besarnya kepada konsumen setia kami. Kami telah mengecewakan kepercayaan konsumen semua."
Alan diam sejenak.... Setelah menatap semua pergerakan wartawan di depannya. Ia kembali melanjutkan kata-katanya. "Rekan media semua pasti sudah tahu dengan permasalahan susu Healty yang sedang ramai diperbincangkan saat ini. Saya menyatakan bahwa semua itu tidak benar. Ada sebuah konspirasi dalam kasus kali ini. Saya selaku CEO Raharaja Industry tetap akan bertanggung jawab penuh atas semua kerugian konsumen yang sudah mempercayakan pilihannya pada produk baru kami. Kami akan memberikan ganti rugi."
Di dalam aula yang besar itu terasa sangat sesak dan panas. Semua terlihat antusias mengambil gambar dan video untuk berita terbaru mereka. Dan, tentu saja itu akan di muat di halaman paling depan.
Kepala penanggung jawab produksi mengambil alih mikrofon dan memulai kata-katanya. "Saya Yudi selaku kepala penanggung jawab produksi tidak dapat memberikan bukti di hadapan media. Satu hal yang perlu di ketahui seluruh masyarakat yang menyaksikan tayangan saat ini. Kami memiliki semua bukti kongkrit mulai dari uji klinis sampai izin pemasaran. Kami akan menyelidiki dalang di balik kasus penemuan bakteri campylobacter di dalam susu Healty."
Alan, Rudy serta Yudi beranjak berdiri tanpa memberikan sesi tanya jawab pada awak media. Semua itu di lakukan hanya untuk mengurangi dampak negatif. Mereka hanya melakukan klarifikasi bukan untuk memperkeruh keadaan.
Para wartawan langsung berdiri mengejar Alan yang sudah meninggalkan ruangan. Beruntung bagian keamanan sudah bersiap-siap. Mereka langsung memblokir para wartawan yang sudah menggila.
Para wartawan terus melemparkan macam-macam pertanyaan. Namun, tidak ada satupun di jawab.
__ADS_1
"Tuan Alan, apa maksud Anda telah terjadi sebuah konspirasi dalam kasus ini?"
"Tuan Alan, apa ada orang dalam yang terlibat?"
"Tuan Alan, apa langkah Anda untuk membuktikan bahwa pernyataan anda benar?"
"Tuan..."
Suara riuh seketika menjadi hening kala pintu lift tertutup. Alan, Rudy, dan Yudi pergi bersama menuju lantai atas.
"Rudy, siapkan rapat laporan keuangan hari ini. Aku akan melakukan evaluasi terhadap pengeluaran yang tidak masuk akal. Semua kasus ini pasti ada hubungannya. Aku yakin itu." Ucapnya.
Alan pergi ke dalam ruangannya. Ia kemudian duduk bersandar di kursi. Ia meraih ponsel yang di berikan Alexander padanya. Dalam sambungan telepon ia berbicara. "Perintahkan semua pada pihak rumah sakit untuk mengamankan kemasan susu Healty yang sudah di konsumsi oleh pasien rumah sakit. Pastikan tidak ada yang terlewatkan."
*****
Royal building...
Diana terduduk lemas di kursi kayunya saat selesai menyaksikan konferensi pers Alan. "Kalian benar-benar bodoh! aku tidak habis pikir, bisa-bisanya kalian menggagalkan semua rencanaku. Aku tidak percaya kalian seorang hacker handal, melawan hacker abal-abal saja kalian tidak becus." maki Diana kasar.
Toni yang menyaksikan bos-nya marah langsung menghampiri Diana. "Maaf Bos, kali ini ada pihak yang mencoba bermain-main dengan kita." Ucapnya.
"Baik bo---" Belum sempat Toni menjawab suara pintu di tendang dari luar sangat keras.
"Jangan bergerak!" Ucap polisi yang bertugas dalam misi penangkapan Diana.
"Mau apa kalian?!" Tanya Diana.
"Nyonya sebaiknya jangan melawan. Kami memiliki surat untuk melakukan penangkapan Nyonya Diana. Kami sarankan agar Nyonya bekerja sama dengan kami." Ucap petugas kepolisian bagian kriminal itu.
Diana tertawa kecil. Dia mentertawakan polisi itu. "Apa Kau tidak tahu siapa aku?" Tanya Diana menyombongkan kekuasaannya. "Jangan pernah menyentuhku. Aku akan membuat semua keluarga mu menderita!" ancam Diana.
"Nyonya Diana, saya hanya menjalankan tugasku. Selebihnya Nyonya bisa menjelaskan di kantor polisi di ruang interograsi." Bals Agra tak gentar menghadapi ancaman Diana.
"Tangkap Dia!" Ujar Agra pada petugas lain.
Diana memberontak dan menjerit histeris menolak di bekuk polisi. Namun polisi bertindak profesional. Mereka tetap membekuk Diana selaku pelaku kejahatan seperti yang lainnya.
Diana duduk meringkuk di mobil polisi. Pandangan matanya tajam dan membunuh. "Aku akan memastikan kalian akan menyesal karena telah melakukan semua ini padaku."
__ADS_1
"Nyonya, tolong diam! kami akan menutup mulutmu jika tidak bisa diam" bentak Agra tanpa peduli status dan kedudukan Diana. Baginya kejahatan tidak memandang kaya atau miskin. Pelaku kejahatan tetap harus mematuhi hukum yang ada.
*****
Penghujung pekan telah tiba. Alexander ragu untuk pulang menemui Alona. Tapi, kali ini ia benar-benar harus menepati janjinya. Terlebih istrinya sudah mengirimkan serentetan pesan mengancam.
"Sayang kamu jadi pulang, kan?!" Tanya Alona dengan nada pesan sedikit mengancam.
"Iya, Sayang..."
"Sayang kamu pulang jam berapa?" Tanya Alona lagi.
"Besok pagi..."
"Ah, lama sekali." protes Alona. "Apa tidak bisa nanti malam saja? besok kan sudah sabtu." Katanya.
"Sayang..., aku masih ada pekerjaan yang belum selesai malam ini..." jelas Alexander.
"Membosankan!" jawab Alona mulai marah.
"Apa kamu mau tahu apa yang tidak membosankan?" tanya Alexander.
"Apa?"
"Mencintaimu selamanya...." jawab Alexander menggoda istrinya.
"...."
Alexander selalu saja bisa meluluhkan hatinya. Dia semakin tidak sabar ingin memberi tahu kebenaran ayah dari bayinya.
"Kenapa tidak dijawab?" tanya Alexander penasaran.
"Cepat pulang. Aku bisa mati karena bosan menunggu mu." balas Alona tanpa menjawab pertanyaan Alexander.
"Oh! ternyata istriku sangat merindukan ku, ya? Tapi-, tunggu dulu... kamu merindukan ku apa yang lainnya." tanya Alexander mulai nakal.
"Kamu akan pulang atau tidak?!" balas Alona kesal. " Kalau tidak, aku akan telepon Kak Alan biar dia jemput aku pulang ke rumah saja. Aku tidak betah tinggal di sini, aku seperti tahanan saja."
"Sayang, aku akan pulang oke. Jangan sedikit-sedikit marah seperti anak-anak saja." goda Alexander lagi. " Asal kamu tahu Alona. Aku itu lebih merindukanmu. Tapi, kita harus tetap bersabar untuk sementara waktu."
__ADS_1
Alona tidak membalas pesan terakhir suaminya. Ia sudah sibuk bersiap-siap mandi. "Aku harus terlihat kinclong." Kata Alona sambil memegang luluran wangi green tea kesukaannya selain bunga mawar.