Dendam Tak Sudah

Dendam Tak Sudah
Waktu berdua terasa begitu indah


__ADS_3

Sore hari yang cerah. Matahari masih memberikan sisa-sisa sinarnya di sore hari. Kehangatannya juga masih terasa di kala tubuh berada di bawah sinarnya secara langsung. Xander terbangun lebih dulu dari Alona, istrinya. Pria itu memandang wajah istrinya yang cantik dan menawan. Kecantikan istrinya selalu saja membuat hatinya terasa hangat di kala ia memandangnya. "Alona kamu sudah resmi menjadi milikku, dan, tidak pernah akan ku lepaskan, walaupun 1000 aral melintang." Ucapnya dalam hati.


Badan Alona sedikit bergerak, namun, posisi tidurnya tidak berubah, masih memeluk suami di sampingnya. Sangat lengket seperti prangko yang tidak akan terpisahkan oleh, jarak, ruang dan waktu.


Xander mengusap-usap kening istrinya menunjukkan betapa ia sangat mencintai wanita di depannya. "Sore sayang..." Ucap Xander sambil mengcup kening Alona. Pria itu juga menggeliatkan badannya yang terasa kaku.


"Emm..., sayang aku masih mengantuk." Ucap Alona tanpa bergerak.


"Bangunlah..., hari sudah petang. Apa kamu tidak ingin mandi?" Tanya Xander.


"Please..., tolong jangan ganggu aku. Aku sangat mengantuk Sayang."


Xander mencium pipi Alona dan berkata. "Oke, tidur saja lagi. Aku akan mandi duluan dan setelah itu aku akan membangunkan mu"


"Emm..., terima kasih." Jawab Alona dengan suara malas karena masih mengantuk berat.


Xander keluar dari kamar mandi. Rambutnya yang basah menambah nilai ketampanannya saat ini. Pria itu terlihat gaga dan sangat murni. Siapapun yang memandangnya pasti menginginkannya sebagai suami. Segera setelah itu ia mengganti bajunya menggunakan kaos oblong dan celana panjang. "Sayang aku sudah selesai mandi." Ucap Xander sambil mencium bibir Alona.


Air dari rambut Xander menetes sedikit di pipi Alona, membuat wanita itu mengerutkan alisnya. "Emm... Sayang..., tolong jangan ganggu aku, aku masih mengantuk." Ucap Alona dengan suara malas.


"Sayang sudah jam 4 sore." Xander mengingkatkan.


"Tolong bangunkan aku jam 5 saja. Mataku benar-benar mengantuk." Ucap Alona dengan mata terpejam.


Xander menggendong Alona dan berpindah ke atas sofa. "Tidur di sini saja. Temani aku menonton TV" Katanya.


Xander mengusap-usap kepala Alona yang tengah tidur di atas pangkuannya. "Alona, sayang, aku akan sangat merindukanmu besok-besok. Minggu depan aku harus pulang ke kota B. Harus bagaimana lagi? tuntutan pekerjaan seperti itu. Seandainya saja aku bisa menemukan seseorang yang bisa menggantikan tugasku di sana. Aku lebih memilih menemanimu. Menemani masa-masa kehamilanmu."


Alona terbangun dari tidurnya. "Sayang..., jangan khawatir kan aku di sini. Aku bisa menjaga diri. Aku janji tidak akan keluar rumah tanpa izinmu."


Alexander menundukkan kepalanya melihat wajah istrinya yang cantik. "Oh, ya, besok ada dokter yang akan datang khusus untuk menjagamu."


Mendengar perkataan Xander Alona mengerjapkan matanya dan bangkit duduk di samping suaminya. "Sayang? Kenapa Kamu sewa dokter? aku baik-baik saja..." Protesnya.


"Ya, sekarang kamu baik-baik saja. Aku lebih memilih mencegah dibandingkan mengobati. Kamu tidak kasihan sama Bi Ani. Dia sudah paruh baya seperti itu pasti muda lelah melayani tingkah konyol kamu yang sangat manja itu." Canda Xander.

__ADS_1


Alona semakin kuat memegang tangan suaminya. Dia tampak sangat takut kehilangan pria itu. Dia sepertinya sangat enggan berpisah. Suaranya pelan dan lembut. "Jam berapa dia datang?"


"Jam 3 sore..." Jawab Xander sambil mencium kening Alona yang sedang bersandar di bahu dan memegang tangannya.


"Orangnya baik tidak?" Kata Alona kahwatir dokternya terlalu mengekangnya nanti.


"Sangat baik." Jawab Xander.


"Sayang, kamu pulang setiap sabtu dan Minggu kan?" Renggek Alona manja.


"Tidak tentu, sayang... Aku belum menemukan manajer yang bisa menggantikan tugasku untuk sementara waktu."


"Kamu harus komitmen.... Aku sedang hamil seperti ini lebih membutuhkan mu di bandingkan dokter dan perawat"


"Ya. Aku usahain, buat kamu nomor satu"


"Benar? janji ya?!"


"Janji! untukmu aku selalu tepati."


"Too.... Sudah mandi sana, nanti aku buatin susu buat Kamu." Kata Xander.


"Emm.... gendong boleh tidak?" Goda Alona sambil memainkan matanya dan melingkarkan tangannya di leher suaminya.


"Boleh asal kamu tidak pakai baju." Ucap Xander bercanda sambil tersenyum dan mencubit hidung Alona.


Alona mendengus kesal mendapat respon dari Xander. Padahal dia sedang ingin di manja. Pria selalu seperti itu, sudah lupa waktu jika sedang menonton tayangan sepakbola kesayanganya. "Cabul...." Jawab Alona sambil melemparkan bantal kecil yang ada di sofa ke arah Xander.


Pria itu tidak mengelak dari lemparan Alona-nya. Dia semakin menjadi jahat dan perhitungan. "Tidak ada yang gratis di dunia ini Sayang." Kata Xander, di ikuti tawa renyahnya.


"Ya. Aku tahu kamu seorang pengusaha. Tapi, apa kamu juga akan perhitungan dengan istrimu sendiri?" Jawab Alona sambil turun dari kasur.


"Aku tidak perhitungan, jika kita di atas ranjang." Jawab Xander nakal.


"Teruskan saja menonton bola kesayanganmu." Ucap Alona kesal. "Aku tahu, aku cuma akan jadi pengganggu kalau kamu sedang asik menonton bola." Kata Alona sambil berjalan menjauh ke arah kamar mandi.

__ADS_1


"Apa sayang? aku tidak mendengar jelas ucapanmu? apa nanti malam kamu mengajak aku main bola?" Tanya Xander lebih nakal.


Alona membanting pintu kamar mandi. "Katakan pada bolamu untuk tahu malu, Sayang!" Teriak Alona di dalam kamar mandi.


Xander tersenyum sendiri seperti orang yang sedang kasmaran. Kepalanya ia gelengkan ke kanan dan ke kiri. " Alona, Alona, kamu sangat manis jika marah seperti itu. Aku menjadi seperti ABG lagi. Dunia ku menjadi kembali muda bersamanya. Aku berharap akan selalu seperti ini. Waktu berdua bersama mu terasa begitu indah."


Akibat marah, Alona melupakan handuknya di luar kamar mandi. "Kenapa aku selalu terpancing emosi saat bersama pria itu." Rutuk Alona dalam hati.


Wanita di berikan kelebihan memiliki suara yang bisa meluluhkan hati semua pria.


Alona memanfaatkan suara lembutnya. Bagaimana lagi, itu salah satu paling ampuh untuk menaklukkan hati suaminya. "Jika tidak terpaksa, aku tidak akan pernah melakukan trik murahan seperti ini." Gumam Alona kesal.


"Sayang..., aku lupa membawa handuk." Teriak Alona dari dalam kamar mandi dengan suara lembut dan menggoda. "Tolong ambilkan handuk ku sayang..." Pinta Alona memohon.


"...." Xander sudah pergi ke lantai bawah membuat segelas susu untuk Alona.


"Sayang..., Sayang..., Kamu di mana?"


"Beib..., Beib..., Honey...? kemana perginya?" Tanya Alona. "Alexander!" Teriak Alona sudah tidak sabar. "Kemana pria mesum itu? baru sebentar di tinggal sudah tidak ada suaranya."


Alona kembali kesal dan melanjutkan mandi berendam di dalam bathtub. "Alona tenangkan hatimu Sayang... Jika kamu seperti ini terus, kamu akan mempengaruhi bayi di dalam perutmu. Kamu tidak ingin anakmu mirip denganya bukan? tidak, tidak, dia tidak boleh mirip dengannya. Dia harus terlihat cantik sepertiku. Terlihat seperti seorang dewi, tidak boleh mengikuti sifat pria itu. Aku tidak rela!" Alona menepuk-nepuk pipinya untuk menyadarkannya dari pikiran yang sudah melantur kemana-mana.


*****


Sisi lain, kota F dalam telepon memberi informasi rahasia.


"Sore bos, saya Ferdy ingin melaporkan bahwa Nona Alona tinggal di villa bukit Merindu." Kata Ferdy yang sedang menopangkan tangan di dinding kamar tidurnya.


"Oke... terima kasih informasinya. Terus awasi dia, dan, jangan pernah menyakitinya." Kata Alvaro sambil duduk bersandar di kursi hangat di kantor barunya.


"Baik bos. Kami akan selalu mengawasinya dan menjaga keamanannya."


"Pastikan orangmu bisa masuk ke dalam rumah itu tanpa ada rasa curiga dari pemilik rumah."


"Oke bos, saya akan mencobanya. Dan, sudah mengatur strateginya." Jawab Ferdy sangat yakin.

__ADS_1


Sambungan telepon langsung di putus setelah melakukan panggilan. Alvaro membuka layar ponselnya dan melihat foto Alona. "Sayang, kelinci kecil ku, aku anggap kau sedang bermain di taman. Dan, sebentar lagi aku akan menjemputmu pulang. Aku sendiri yang akan membawamu keluar dari sana." Kata Alvaro sambil tersenyum menyeringgai.


__ADS_2