
Happy reading
"Jangan jangan kamu hamil."
"Sembarangan aja kalau ngomong, aku aja ba
ru datang bulan tadi pagi. Masa iya hamil," jawab Beby yang membuat semangat Satya pupus.
"Kan aku ikut KB setelah kita melakukan itu pertama kali. Kamu juga yang anterin aku saat itu ke rumah sakit."
"Terus kenapa kamu tiba tiba pingin bakso beranak?" tanya Satya kembali menjatuhkan kepalanya di dada Beby.
"Karena tadi pagi aku gak sempat sarapan, gara gara kamu aku sekarang jadi laper. Tapi aku pengen makan bakso beranak," ujarnya dengan senyum manisnya.
Apalagi cuaca yang mendung dan suasana dingin, sangat cocok jika makan yang pedas pedas.
"Ya sudah hari ini kita mbolos aja sekalian jalan jalan," ujar Satya menatap kembali Beby yang ada dipangkuannya.
Semoga saja Beby mengabulkan keinginannya untuk bolos pelajaran, karenan biasanya Beby akan menolak jika ia mengajaknya bolos sekolah.
"Ya sudah aku juga lagi ngantuk banget, kita cus beli bakso," jawabnya menyetujui keinginan Satya yang ingin bolos.
Akhirnya dengan semangat empat lima, Satya mengajak Beby untuk lewat tempat yang biasa digunakan untuk ia bolos yaitu pagar belakang sekolah yang tingginya hanya sebatas dada Satya.
"Kenapa gak lewat gerbang aja sih?" tanya Beby pada Satya.
Ia tak yakin bisa naik ke atas pagar itu, pagar yang terhubung dengan warung belakang tempat dimana Satya menaruh sepeda motor miliknya.
Jadi Satya membawa dua kendaraan ke sekolah itu. Ia juga baru ingat tadi pagi jika motornya masih terparkir di warung sana sejak seminggu yang lalu.
"Nanti ketahuan pak botak," jawab Satya membantu Beby untuk keluar.
Pak botak adalah penjaga gerbang paling garang yang pernah mereka kenal. Karena Pak Botak tak akan segan segan untuk melaporkan anak anak yang membolos ke kepala sekolah.
"Kalau aku nyangkut disini gimana?" tanya Beby yang masih stay di atas pagar.
"Gak akan nyangkut," jawabnya ikut naik dan turun dari gerbang itu. Beby meminta bantuan agar Satya mengangkatnya.
Akhirnya ke duanya sudah berada di luar sekolah, Satya mengambil kunci motornya dari dalam tas kemudian mengambil motor itu di warung. Tak lupa bilang kepada yang punya warung.
__ADS_1
"Ke warung bakso paling enak ya, Sayang."
"Iya Baby sayang, tanpa kamu suruh aku sudah memilih satu tempat buat kita makan," jawab Satya memakaikan helm ke kepala Beby.
"Habis makan kita balik kesini atau kemana?" tanya Beby pada Satya.
"Menurut kamu? Hujan-hujan gini enaknya ngapain?" tanya Satya pada Beby.
"Ngamar, apalagi sambil pelukan," bisik Beby yang membuat Satya melanjutkan niatnya nanti.
"Tunggu nanti sampai di hotel," balasnya dengan pelan.
Setelah itu mereka meninggalkan sekolah itu menuju tempat makan yang menjual bakso beranak. Sejujurnya Satya juga sama laparnya seperti Beby.
***
Berbeda dengan Beby dan Satya yang membolos di jam pelajaran. Dewi dan Dewa memang berada di dalam kelas tapi sejak tadi Dewa tak bisa fokus karena ada makluk tuhan yang ada disampingnya ini.
"Cantik banget tunangan gue," ucap Dewa yang sudah entah keberapa kali.
"Fokus Ayang, lihat ke depan. Bu Heti natap kamu itu," ujar Dewi menatap Dewa yang masih betah menatapnya kadang kala juga membuat Dewi salting sendiri jika ditatap seperti itu.
"Kenapa kalian asik bicara sendiri hah?"
"Ibu gak menarik," jawab Dewa santai yang membuat Dewi langsung menyiku perut kotak kotak milik Dewa.
"Terus siapa yang menarik hah?"
"Calon istri saya Bu," jawab Dewa dengan senyum manisnya tanpa menatap Bu Heti yang sudah berada di belakang Dewa karena Dewa masih menatap Dewi.
"Ohh oke kalau kalian gak mau dengerin pelajaran saja lebih baik kalian keluar dari kelas dan bersihkan toliet guru sekarang."
"Loh Bu kok kalian berarti saya juga dong Bu?" tanya Dewi tak terima karena sang tunangan ia juga jadi kena getahnya.
"Karena kamu juga gak dengerin ibu ngomong. Tolonglah hargai ibu yang bilang di depan," jawabnya dengan tegas ia tak akan mentolerir siapa yang tidak niat belajar.
Bu Heti adalah sahabat Mama Riska dan juga Mama Karina jadi tidak ada alasan untuk tidak berani pada anak anak dari sahabat sahabatnya.
"Bu boleh kasih keringanan gak Bu? Dewi habis sakit, nanti kalau dia sakit lagi gimana?" tanya Dewa mencoba menegosiasi.
__ADS_1
"Oke ibu kasih keringanan, Dewi cukup membersihkan dua kamar mandi saja sedangkan Dewa sisanya. Gak ada bantahan."
"Untung sahabat Mama kalau bukan udah aku lawan tadi," gumam Dewa yang hanya dibalas hembusan nafas pelan dari Dewi.
"Cepat."
Akhirnya dengan senang hati Dewa menarik tangan putih sang kekasih untuk keluar dari kelas.
"Jangan bilang kamu gak mau menjalankan hukuman kamu," ujar Dewi menatap Dewa yang hanya tersenyum tipis.
"Pokoknya kamu harus menyelesaikan hukuman kamu," ujar Dewi dengan nada tegasnya.
"Apalagi kamu itu seorang laki laki Ayang, kamu yang nanti akan memimpin aku dan anak anak kita. Kalau di sekolah aja kamu gak jalanin gimana nanti kamu mau jadi pemimpin dalam rumah tangga?" tanya Dewi menarik tangan Dewa menuju kamar mandi guru yang berada di lantai 1.
"Ya sudah, tapi kamu gak usah bersihin toilet. Biar aku aja," ujar Dewa yang hanya pasrah.
"Gak mau, aku juga dihukum kok."
Akhirnya mereka menjalankan hukuman mereka hingga selesai.
Setelah selesai membersihkan toilet yang hanya disiram saja oleh Dewa, mereka menuju ke suatu ruangan yang tak lain adalah bekas gudang yang sekarang menjadi tempat yang sangat bagus untuk di gunakan.
Tempat dimana Dewa dan teman temannya berkumpul. Yah Dewa yang mendekorasi gudang itu, gudang yang di sudah tak terpakai bertahun tahun itu kini disulap menjadi ruangan yang cukup bagus untuk ditempati. Selain rooftop di ruang ini juga tempat favorit anak anak Alaska.
"Ayang mau bolos lagi?" tanya Dewi menatap Dewa yang mengangguk. Ia lelah karena disuruh membersihkan toilet tadi.
"Sampai kapan? Aku gak mau nilai kita jelek gara gara keseringan bolos."
"Gak sering kok, aku juga cuma beberapa kali aja.".
"Ayo sayang, mumpung mau jam istirahat. Lagipula aku juga mau tidur," ajak Dewa dengan tapi caranya memaksa.
"Kali ini aja ya, nanti masih ada jamnya Pak Hadi kan," jawab Dewi dan dianggukkan oleh Dewa tapi diakhirnya ia menggeleng.
"Aku gak bisa janji karena sudah pasti aku akan mengulangi lagi," jawabnya menekan angka yang Dewi yakini adalah sandi pintu ruangan itu.
Ceklek
Bersambung
__ADS_1