
Happy reading
Pagi hari sudah menyapa kedua anak manusia yang sedang berada di dalam kamar dengan posisi kepala laki laki yang berada diatas tubuh perempuan dengan mulut yang masih menghisap sesuatu itu.
"Eughh."
Dewa terbangun, tapi tak mau berajak dari tempatnya.Ia masih menikmati apa ang ada di dalam mulutnya. Bahkan tangannya memeluk erat Dewi agar tak kabur.
"Gila udah berapa lama gue gini?" tanya Dewa dalam hati tapi hal itu tak membuat Dewa menghentikan aktivitasnya.
Terlalu sayang untuk ditinggalkan.
Akhirnya karena terganggu dengan tangan dan rambut Dewa yang mengenai wajahnya. Dewi terbangun dari tidur nyenyaknya.
"Kamu lagi apa?" tanya Dewi yang belum sepenuhnya sadar.
"Mimi susu," jawab Dewa yang langsung dianggukkan oleh Dewi tanpa sadar. Tapi sebentar, susu?
Dewi jadi ingat sesuatu, dari tadi malam?
"Ayang kamu ngapain pagi pagi?" tanya Dewi dengan kesal.
"Kan tadi aku bilang lagi mimi susu," jawab Dewa yang mengulangi jawabnya tadi ke Bali melakukan apa yang ia lakukan tadi.
"Owhhh oke, jadi jatah susu untuk minggu ini habis ya. Awas aja kalau kamu minta lagi," ucap Dewi yang membuat Dewa terkejut. Tapi mau bagaimana lagi, janji tetaplah janji.
"Hmmm."
"Kenapa sih Naf*u laki laki itu gak bisa dibendung?"
"Karena jika laki laki tidak memiliki naf*u dia bukan pria normal. Dan aku pasti akan selalu tergoda sama kamu," tambah Dewa melepaskan sebentar kemudian melanjutkan lagi.
"Kalau sama cewek lain yang lebih se*si dari aku?" tanya Dewi pada Dewa.
"Bagiku cuma kamu yang s*ksi," jawab Dewa masih betah menangapi pertanyaan Dewi.
Akhirnya setelah berberapa saat Dewa mengakhiri aktivitasnya dan menatap pucuk dada yang memerah karena ulahnya itu.
"Kalau gede sebelah kamu harus tanggung jawab," ucap Dewi menatap ngilu dadanya kemudian menutup dengan selimut ia belum menemukan b** yang kemarin di buang Dewa.
"Iya aku tanggung jawab gedein yang sebalh lagi," jawab Dewa dengan senyum mesumnya.
"Ayang ihh, gak bisa ya normal sekali aja?" tanya Dewi dengan kesal melempar bantal ke arah Dewa tapi malah membuka selimut itu melorot.
"Astaga sayang, kamu bikin aku pusing aja sih. Aku tiap hari normal sayang, emang aku kenapa sampai menurut kamu gak normal?"
"Mesumnya tingkat Dewa."
__ADS_1
"Namaku memang Dewa terus tingkat apa?"
"Au ah aku ngambek sama kamu yang gak peka," ucap Dewi berbaring dan membelakangi Dewa.
"Loh kok gitu sih, aku salah apa?"
"Kamu gak salah, aku yang salah," jawab Dewi yang merasakan dadanya ngilu itu mengusapnya sebentar.
"Ini memang salah tapi aku tak mau dia merokok lagi. Karena rokok juga gak bagus untuk kesehatannya, tapi apa dia juga sudah meminum minuman haram itu?" tanya Dewi dalam hati.
"Ay?"
"Hmm?"
Dewa ikut Dewi berbaring dan melukis abstrak di punggung mulus yang membuatnya cenat cenut itu.
"Kamu pernah minum minuman keras?" tanya Dewi yang dibalas gelengan oleh Dewa.
"Gak pernah, walau dulu pernah coba dikit banget rasanya tapi enak kok," jawab Dewa yang tak sepenuhnya bohong.
"Sekarang?"
"Udah enggak gak tahu nanti," jawab Dewa yang membuat Dewi kesal. Kekasihnya ini tak bisa diajak serius.
"Awas aja kalau kamu sampai minum minuman haram itu. Aku cabut kamu jadi calon suami aku. Aku gak mau sampai kamu sakit dibagian organ dalam gara gara hal ini."
"Aku gak janji, tapi aku bakal pastikan jika aku tak akan meminumnya lagi," jawab Dewa dengan senyum manisnya.
Mereka masih betah di kasur itu dengan posisi Dewa memeluk tubuh Dewi dari Belakang. Rasa hangat itu Dewi dapatkan saat cuacanya kembali gerimis dan dingin.
"Dingin deh," gumam Dewi mencari pakaiannya dan setalah mendapatkannya ia memakainya. Semua itu tak luput dari pandangan Dewa.
"Seksi banget dah calon istri gue," gumamnya.
Setelah berpakaian lengkap Dewi kembali ke kasur dan memutuskan untuk tidur lagi. Ia belum berani menyentuh air jika dinginnya seperti ini walau di kamar mandi ada air hangatnya. Dan Dewa juga sepertinya malas bangun jika seperti itu.
"Peluk Ayang, dingin nih," manja Dewi masuk ke dalam pelukan Dewa yang sangat hangat itu apalagi selimut yang sudah membungkusnya.
"Duh manjanya sayangnya aku," ucap Dewa mencubit hidung Dewi kemudian memeluknya.
***
Sedangkan disisi lain teman teman Dewa dan Dewi yang tak mendapati Dewa, Dewi, Satya dan Beby itu bingung.
Kemudian salah satu mereka memanggil mereka berempat.
Tok! Tok! Tok!
__ADS_1
"Dewa, Satya bangun. Waktunya sarapan, kalian udah bangun apa belum?"
Satya yang bangun karena teriakan itu langsung mengelus rambut kekasihnya agar tidak bangun. Biasanya jika hari libur mereka akan dikamar sampai jam 8 pagi setelah itu baru bangun. Apalagi kemarin Beby capek karena ulahnya.
"Kalian sarapan duluan aja, gue sama Dewa masih mager keluar, dingin."
"Owalah gitu, ya sudah kita sarapan dulu bagian kalian nanti di meja," jawab Cio.
"Ya."
Cio turun dari kamar itu menuju meja makan.
***
Shasa mengeruk pintu kamar Dewi dan Beby berulang kali hingga ia mendapat sahutam dari dalam.
"Gue masih tidur Sha, dinginnya gak normal di tubuh gue. Beby juga kayaknya masih tidur, gue gak mau ganggu," jawab Dewi dengan lantang dari dalam.
"Oalahh tapi kok dikunci?"
"Kebiasaan Beby tuh, di kunci pintunya. Udah gak apa apa. Kalian sarapan dulu sja, nanti kita gampang," ucap Dewi dari dalam. Ia tak mau sampai teman temannya tahu jika yang ada di kamar itu adalah Dewa bukan Beby.
"Oalah ya sudah kalau gitu, gue sama yang lain sarapan dulu. Nunggu kalian juga lama," ucap Shasa berlalu menuju ruang makan.
Memang jam masih menunjukkan pukul 6.30. Dan cuaca memang sangat dingin, mereka juga tahu jika Dewi punya kebiasaan yang tak boleh sampai kedinginan karena bisa menyebabkan demam.
Di dalam kamar itu Dewi menelan ludahnya kasar karena habis berteriak.
"Ayang suaraku serak," ucap Dewi dengan suara seraknya. Pagi ini mereka belum minum jadi bisa jadi tenggorokan Dewi kering.
Dewa mengambilkan air minum dan memberikan pada Dewi.
Setelah membasahi kerongkongannya Dewa meletakkan kembali gelas itu di nakas.
"Nanti sembuh kok. Sini peluk lagi katanya dingin," ucap Dewa langsung di balas pelukan yang cukup erat oleh Dewi.
Cups.
Ciuman lembut itu dilabuhkan dibibir Dewi sebelum kembali terlelap dengan tidurnya.
"Dasar modus,'" ucao Dewi mengeratkan pelukan itu.
"Peting sayang kamu," jawab Dewa membalas pelukan itu.
Akhirnya Dewa dan Dewi kembali terlelap karena udara juga sangat mendukung untuk terus menghangatkan tubuh mereka dengan berpelukan dan tidur. Yang pas emang sama pasangan. Disarankan untuk yang jomblo langsung tepi tepi.
Bersambung
__ADS_1
Pelukan enak ya paling, apalagi ujan ujan gini. Cuma pelukan ya ges bukan yang lain.