Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Hari Ulang Tahun


__ADS_3

Happy reading


Sedangkan Dewa dan Dewi yang hari ini dinyatakan libur itu nampak masih santai di kamar masing masing. Tadi malam Dewi mengusir Dewa dari kamarnya. Walau kamar mereka terhubung tapi Dewi tak mau sampai tiba tiba ada orang yang masuk ke kamar mereka dan melihat mereka tidur bersama.


Dewa yang sudah terbangun itu langsung berjalan ke kamar mandi sedangkan ia menoleh ke kamar Dewi yang tak ia tutup pintunya. Gadisnya itu masih tidur dengan nyenyak.


Setelah selesai mandi ia bersiap dengan pakaian santainya dan berjalan ke arah Dewi yang masih bergelung dengan selimut itu. Tampak wajah Dewi yang sangat damai tidur disana.


Cups


Satu kecupan Dewa layangkan ke pipi Dewa tapi sepertinya Dewi tidak merasa.


Cups


Cups


Dua kecupan di pipi dan hidung itu mulai membuat Dewi terusik. Terbukti dari dari Dewi yang mulai mengubah posisi tidurnya jadi menghadap ke kanan.


"Dasar kebo, udah jam 6 juga."


"Sayang bangun udah pagi," ucap Dewa mengecup seluruh wajah Dewi hingga membuat gadisnya itu terbangun.


"Ihh sana ih, aku masih ngantuk lagian hari ini kan libur," ucap Dewi menarik selimut hingga kepala.


"Ya sudah kalau begitu, aku turun dulu ya."


"Hmm."


Sebenarnya Dewi sudah bangun sejak kecupan pertama tadi. Tapi ia pura pura tidur untuk merencanakan sesuatu untuk Dewa.


Yah hari ini adalah hari ulang tahun Dewa. Hari bersejarah yang membuat Dewi nekat ingin menyueki Dewa khusus malam ini.


Dewi juga sudah bekerja sama pada Mama dan Papa Dewa untuk membuat kejutan nanti malam. Bahkan adik adiknya juga turut serta dalam hal ini.


Satriya? Dewi juga memberitahu laki laki itu tapi sepertinya Satriya hanya merespon seadanya. Ya sudah yang penting tidak membocorkannya pada Dewa.


"Baru bangun, Dew," sapa Papa yang ternyata hari ini tidak berangkat ke kantor.


"Iya Pah."


Tumben sekali Papa tak menanyakan dimana Dewi.


"Oke hari ini kamu gantikan Papa meeting ya, mumpung kamu libur jadi Papa bisa sedikit santai sama Mama kamu."


Sontak saja ucapan Papa Albert membuat Dewa ingin mengumpat. Ini hari libur loh, setelah hujan, kenapa malah disuruh meeting sih.

__ADS_1


"Dimana?"


"Di kantor lah, hari ini ada 2 meeting dipagi dan sore. Kamu gak akan mengingkari janji kamu kan."


"Huhhh iya, Dewa bakal ke kantor."


Dengan kesal Dewa berjalan ke arah ruang makan disana ada Satriya yang sedang meminum kopi dan bermain ponsel.


"Bang mau ikut gak?" tanya Dewa yang membuat Satriya langsung menatap adik sepupunya itu.


"Kemana?"


"Kantor," jawabnya.


"Gak deh males, dingin dingin gini kok ke kantor. Enak juga tidur," ucap Satriya dengan senyum menggoda adik sepupunya ini.


Satriya tahu pasti ini bagian dari rencana Dewi. Tapi ia tak mau memberitahu pada Dewa, dalam kata lain Satriya juga ingin memberikan sedikit kejutan untuk adik sepupunya ini.


"Hmm, awas aja lu godain calon istri gue. Habis lu," ancam Dewa pada Satriya yang hanya tertawa pelan.


"Gak gue goda pasti si Dewi udah tergoda," jawab Satriya dengan santainya yang membuat Dewa menatap tajam Satriya.


"Gak akan gue biarin lu deket deket sama Dewi."


"Gue prosesif gini juga ada sebabnya bang," ucap Dewa mengambil makanan yang ada disana.


***


Setelah selesai makan, Dewa berlalu menuju kamarnya dan berganti pakaian. Stelan formal itu membuat dirinya tampak tampan dua kali lipat tapi sepertinya ketampanannya ini tak terlihat oleh Dewi yang masih tidur.


Karena tak mau membangunkan Dewi yang sedang terlelap. Padahal biasanya Dewi tak pernah sesiang ini jika tidur. Apa karena efek banjir dan dingin ini. Dewa sendiri juga tak tahu.


"Sayang aku berangkat ya. Cari uang buat masa depan kita nanti. Mungkin pulangnya sore," ucap Dewa pada Dewi yang tak ada pergerakan sama sekali.


Cups


"Jangan lama-lama tidurnya," ucap Dewa mengecup bibir Dewi dengan lembut.


Setelah itu ia langsung berjalan keluar dan berangkat ke kantor. Walau sebenarnya ia sangat malas ke kantor pagi pagi seperti ini.


Setelah memastikan jika Dewa pergi, Dewi mulai turun dari kasur dan turun ke dapur.


Tapi saat melewati kamar Naila, dia bingung saat pintu kamar itu terbuka sedikit. Ia melihat Naila sedang melukis di sebuah kanvas itu. dia tak terlalu jelas ia melihat apa, tapi dengan rasa penasaran yang tinggi ia mulai mengetuk pintu kamar itu.


Naila yang melihat calon kakak iparnya masuk itu langsung menutup lukisan itu dengan kain.

__ADS_1


"Kenapa ditutupi, Dek. Kakak mau lihat loh, lukisan kamu," ujar Dewi pada Naila yang menunduk malu.


"Lukisan Naila jelek Kak, malu lah kalau dilihat kakak."


"Kan kakak belum lihat, Dek. Kenapa bilang jelek hmm?" tanya Dewi dengan lembut.


Naila hanya menggeleng kemudian duduk di kasur empuk miliknya itu.


"Naila boleh cerita gak sama kakak?" tanya Naila pada Dewi. Dewi yang ditanya itu mengangguk dan ikut duduk di kasur itu.


"Boleh dek, kamu kan juga adik kakak. Kamu mau tanya apa? Selagi kakak bisa jawab Kakak akan jawab," jawab Dewi dengan senyum.


"Kemarin Mama sama Papa datang ke kamar Naila. Terus minta maaf, memangnya mereka salah apa sama Naila?"


"Memang Mama sama Papa gak bilang, kenapa mereka minta maaf?"


Naila menggeleng, kemarin malam saat ia sedang belajar, Papa dan Mamahnya datang ke kamarnya dan mengucapkan kata maaf. Saat Naila tanya kenapa mereka hanya jawab gak apa apa.


"Mereka bilang gak apa apa gitu doang, Naila juga bingung. Padahal Mama sama Papa gak punya salah apa apa sama Naila," ucap Naila bimbang.


"Mungkin Mama sama Papa minta maaf, jika mereka memiliki salah. Lagipula tidak ada larangan untuk orangtua dan anak untuk saling bermaaf maafan kan? Udah gak usah dipikirin, nanti kamu malah pusing lagi."


Naila tersenyum, tak lama ia akan memiliki kakak perempuan yaitu Dewi. Kekasih kakaknya yang sangat baik ini. Naila seperti mempunyai sahabat sekaligus kakak dalam waktu yang bersamaan jika bersama Dewi.


"Kamu udah sarapan apa belum?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh Naila.


"Tadi bareng sama Mama dan Papa."


"Louis juga sudah?" tanya Dewi pada Naila.


"Louis tadi cuma makan roti aja kak, katanya masih kenyang," jawab Naila dengan jujur.


Dewi mengangguk memang adiknya itu jarang makan nasi jika tidak lapar. Entah nurun siapa anak itu, Dewi juga kurang paham.


"Eh dek, mau ikut kakak bikin kue gak?" tanya Dewi pada Naila.


"Emm mau sih kak, tadi Naila selesaikan lukisan ini dulu ya," jawab Naila menunjuk lukisan yang ia tutup.


"Iya, kakak tunggu di dapur ya. Kakak sekalian mau sarapan," ucap Dewi mengelus rambut Naila dengan lembut.


Setelah itu mengucapkan itu Dewi keluar dari kamar Naila, gadis itu tak mau mengganggu privasi adiknya.


Melihat pintu sudah ditutup itu, Naila kembali menyelesaikan lukisan yang hanya kurang 20% itu.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2