
Happy reading
"Kamu kesini sudah bilang Mama dan Papa kamu belum?"
"Emm sudah," jawab Dewa menatap lembut wajah Dewi yang sedang memakan martabak yang tadi ia bawa itu.
"Tadi aku lihat Adam juga di area dekat balap," ucap Dewa yang entah kenapa malam membuat Dwi khawatir.
"Terus dia apa apain kamu?" tanya Dewi yang tak mau kekasihnya kenapa napa.
"Aku gak apa apa, tapi sepertinya dia benci banget sama aku."
Dewi yang mendengar itu tersenyum lega karena Dewa tidak kenapa napa. Kemudian ia memeluk tubuh kekasihnya.
"Mama papa bakal pergi berberapa hari, kamu nginep sini aja ya," pinta Dewi pada Dewa. Jujur ia tak sanggup jika sendiri menghadapai adiknya itu.
"Hmm emang gak apa apa?" tanya Dewa dan dijawab gelengan oleh Dewi.
"Aku belum ngomong sama Mama papa. Tapi aku yakin boleh kok, lagipula rumah ini agak jauh dari rumah warga lain. Gak akan di grebek kok," jawab Dewi mencium aroma wangi dari Dewa.
Dewa langsung mengambil ponselnya yang ada disaku jaketnya dan menghubungi orang tua Dewi lewat video call. Karena ia tak ingin berbohong pada kedua orang tua mereka bahkan Dewa juga menggabung video call itu dengan Mama dan Papanya juga.
Tak lama panggilan terangkat, terlihat senyum malu dari 2 pasangan yang terlihat dari Video call itu.
Mama Riska: Itu anak Mama kenapa?
Dewa: Biasa Mah lagi mode manja.
Papa Daren: Nak Dewa ada di rumah ya?
Dewa: Iya Pa, tadi habis keluar terus sekalian mampir ke sini.
Dewi yang mendengar suara suara itu langsung membalikkan pandangannya menoleh ke arah Dewa dan benar saja ia melihat wajah wajah yang tak asing di matanya.
"Kenapa gak bilang mau video call mereka," gumam Dewi ingin turun dari pangkuan Dewa tapi ditahan oleh Dewa.
"Gak usah turun, aku masih mau kamu gini."
Mama Karina: Awas ya kalian jangan kebablasan.
__ADS_1
Dewi: Mama kami juga tahu batasannya, paling paling juga cuma peluk cium.
Papa Daren: Anak Papa sudah besar ternyata. Di rumah jaga adik kamu ya, jangan biarin dia bergadang.
Dewi: Iya dia sudah tidur tadi.
Dewa: Papa kemana Mah? Kok gak keliatan?
Mama Riska: Lagi tidur, capek dia baru pulang kantor.
Dewa: Oh iya Ma Pa, Dewa mau izin nginep di rumah Dewi ya. Katanya dia gak mau sendiri, Mama Karin sama Papa Daren kan lagi pergi untuk berberapa hari.
Mama Karina menatap Papa Daren yang hanya tersenyum dan mengangguk. Mereka yakin Dewa bisa menjaga anak anaknya.
Mama Riska: Gimana kalau kalian tinggal dulu di rumah Mama sama Papa yang ada disini. Mama kesepian cuma sama Papa dan Naila, Naila juga sepertinya butuh teman.
Mama Riska: Itu juga kalau Mbak Karina dan Mas Daren mengizinkan.
Papa Daren: Itu lebih baik, kalian menginap saja di rumah keluarga nak dewa.
Dewa dan Dewi saling pandang.
"Ngikut kamu aja, disini bisa di rumah kamu juga bisa."
"Kalau di apartemen?" tanya Dewa menatap menggoda kekasihnya yang langsung dihadiahi cubitan oleh Dewi untung orang tua mereka tidak tahu.
Dewi: Ya sudah Dewi sama Louis bakal nginep di rumah Mama Riska dan Papa Albert besok malam. Ini udah malam buat kesana, gak apa-apa kan Ma?
Mama Riska: Gak apa apa dong sayang, yang penting kamu mau nginep disini.
Akhirnya setelah izin dan kesepakatan didapatkan keduanya kembali dengan kegiatan masing masing. Dewa yang asik mendengarkan detak jantung kekasihnya sedangkan Dewa yang fokus dengan game miliknya.
"Ayang kenapa dulu kamu mau aja dijodohkan sama aku? Kamu tahu kan kita dulu gak saling kenal walau satu sekolah," tanya Dewi pada Dewa.
Kadang ia masih bingung dengan pola pikir kekasihnya yang dengan mudah menerima perjodohan mereka sedangkan dia harus mempertimbangkan selama sebulan.
"Emm gak ada alasan sih."
"Kamu cinta gak sama aku?" tanya Dewi lagi.
__ADS_1
"Cinta banget," jawabnya dengan senyum. Kata cinta itu sangat menggelitik hatinya walau ia tak menatap wajah kekasihnya tapi bisa dipastikan jika wajah Dewi memerah saat ini.
"Kamu tahu gak dulu aku udah mau nolak kamu saat perjodohan itu," ucap Dewi mengelus dada bidang kekasihnya. Mendengar ucapan Dewi membuat dia langsung menghentikan mainnya dan menatap Dewi.
"Kenapa? Apa saat itu kamu punya orang yang spesial?" tanya Dewa dengan suara datarnya.
"Enggak ada yang spesial dalam hidup aku, selain papa dan Mama. Sebelum kamu hadir dalam hidup aku, sekarang kamu juga pria yang sangat spesial. Tapi saat itu aku berpikir duniaku yang tenang ini akan berubah karena aku baru tahu kamu adalah idola sekolah kita."
"Aku berpikir para fansmu akan menyerangku saat mereka tahu aku ada hubungan dengan kamu. Apalagi dengan terang terangan mereka menunjukkan sukanya padamu."
Dewa membuka kaosnya karena merasa gerah hingga terpampang lah dada bidang dengan perut yang sudah terbentuk empat kotak tak lama akan enam kotak itu. (Tya khilaf astaghfirullah)
Dewi yang sedang bercerita itu tiba tiba terhenti saat melihat perut kekasihnya yang mirip roti sobek itu.
"Boleh pegang gak sih Ay?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh Dewa hingga membuat Dewi senang bukan main.
"Terus gimana ceritanya kamu bisa nerima aku?" tanya Dewa menatap lembut wajah imut kekasihnya.
"Karen perjuangan kamu buat dapatkan aku dan juga sikap kamu yang sangat membuat aku melayang dulu," jawab Dewi.
"Tidak ada salahnya untuk menerima seorang ketua gangster Alaska seperti kamu. Apalagi setelah aku mendapatkan jiwa kepemimpinan dan juga kesabaran kamu menghadapi sikapku. Persis seperti Papa," jawabnya gemas mencubit pelan perut kotak kotak milik Dewa.
"*** sakit sayang, kamu nih belum nikah udah KDRT aja," ucapnya padahal cubitan Dewi tidak sakit tapi malah geli.
"Aku tidur di kamar kamu ya sayang, kangen sama bau wangi kamar kamu," ucap Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.
"Ayang geli ih," ucap Dewi langsung bangun saat ada sesuatu di selangkangannya ternyata itu adalah ulah Dewa. Tangan pria itu sepertinya tak bisa dikondisikan.
"Sayang, aku gak ngapa ngapain loh," ucap Dewa seakan tak bersalah tapi entah kenapa sifat mesumnya ini kembali lagi.
"Tangan kamu kemana mana ayang," jawab Dewi menatap Dewa kesal.
"Iya maaf ya sayang, aku reflek tadi. Kamu juga kenapa goyang goyang kayak tadi?" tanya Dewa dengan senyum mesumnya untung adik kecilnya tidak bangun.
"Aku kan gak sadar," jawab Dewi tak mau disalahkan oleh Dewa.
"Udah ayo ke kamar aku ngantuk pengen di puk puk," jawab Dewa menarik tangan Dewi ke kamar gadis itu meninggalkan jaket dan baju milik Dewa di sana.
"Manja."
__ADS_1
Bersambung