Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Pentol Yang Hilang


__ADS_3

Happy reading


Dewa dikejutkan dengan mobil sahabatnya yang bergoyang dengan pelan. Otak cerdas Dewa langsung bekerja dengan gesit. Apalagi ia bukan anak anak lagi.


Dengan Karas Dewa mengetuk pintu mobil itu hingga membuat sepasang anak manusia itu langsung menatap ke arah kaca. Tanpa Dewa lihat Dewa bisa tahu jika Beby dan Satya sedang anu anu.


"Keluar lu berdua," teriak Dewa.


"Bentar wa nangung belum keluar," jawab Satya random. Beby yang mendengar itu menggeleng dan menutup mulut Satya.


"Jangan keras keras. Malu atuh," ucap Beby menutup mulut Satya.


Dewa yang berada di luar itu hanya menggeleng. Ia sudah tak heran melihat apa yang dilakukan kedua pasangan itu.


"Dalam waktu 10 menit kalian gak keluar, kalian gak boleh lagi main ke rumah ini," ucap Dewa tentu saja sedikit bercanda. Mana mungkin ia tak membolehkan sahabat sahabatnya datang ke rumahnya.


Dewa meninggalkan mobil itu, dan mereka menjalankan aktivitas rutin mereka di dalam mobil.


"Ayang," panggil Dewi yang baru masuk ke dalam halaman rumah itu.


Dewa yang melihat kekasihnya itu langsung menghampirinya. Dan melihat apa yang dibawa kekasihnya itu.


"Bawa apa itu? Kamu habis darimana?" tanya Dewa.


"Beli pentol yang ada di depan komplek. Tadi Louis ingin makan pentol jadi aku beliin sekalian buat kita," ucap Dewi memperlihatkan pentol yang ada di kresek putih itu.


"Beby sama Satya tadi masih di dalam?" tanya Dewi dan dianggukkan kekasihnya.


"Dasar pasangan mesum mereka tuh, jam segini udah gituan aja. Gimana kalau sampai ada anak kecil lihat mereka lagi begituan?"


"Kamu tahu mereka lagi.."


"Tahu lah, wong tadi pas aku mau ke tukang pentol mereka udah mulai gitu gitu," jawab Dewi masuk ke dalam rumah dan memberikan pentol itu pada adiknya.


"Astaga, jadi Dewi tahu. Dasar mereka memang harus diberi sedikit pelajaran," ucap Dewa bergumam.


Dewa tak mau sampai pendengaran kekasihnya ternoda karena tingkah be*at sahabat sahabatnya yang memang tak tahu tempat.


Padahal tanpa Dewa tahu Dewi sudah sangat paham akan hal hal yang seperti itu. Tapi untuk mempraktekkan Dewi tidak bisa. Karena belum halal, yah itu jawabannya.


Setelah memberikan pentol pesanan adiknya, Dewi mengajak Dewa untuk duduk di sofa yang ada disana.


"Hari ini Bang Mubi buat pentol yang isi daging, Ay. Jadi aku beliin buat kamu," ucap Dewi memberikan satu bungkus pentol itu pada Dewa.


"Makasih cantik, tahu aja aku pengen makan ini," ucap Dewa mengambil pentol itu.


Tapi seketika ia ingat jika dirinya belum makan, ia mengurungkan niatnya untuk memakan pentol dan mengajak Dewi makan sore.


"Kamu laper banget ya?" tanya Dewi ikut mengurungkan niatnya ingin makan.


"Heem sedikit sih, emang kamu gak laper?" tanya balik Dewa menatap kekasihnya.

__ADS_1


"Lapar tapi Satya dan Beby belum keluar dari mobil itu. Masa kita tinggal?"


"Aku tadi beli pentol juga gara gara nunggu kamu dan teman teman kamu itu," ucap Dewi dengan pelan.


"Sayang, kita tinggal mereka aja. Lagian mereka bukan anak kecil lagi. Kasihan bibi udah masak banyak tapi malah dianggurin," ucap Dewa.


Akhirnya Dewi mengangguk ia meletakkan pentolnya di meja kemudian mengajak teman temannya untuk makan bersama.


Bertepatan dengan itu bersamaan dengan Beby dan Satya yang sudah rapi lagi. Terlihat senyum dari Satya sedangkan Beby terlihat canggung.


"Udah selesai?" tanya Dewi menggoda Beby.


"Kamu tahu?" tanya Beby kaget. Ia tak menyangka jika Dewi bisa tahu dengan apa yang mereka lakukan tadi.


"Tahu lah, apalagi mobil Satya tadi sampai bergoyang," jawab Dewi mengambilkan makanan untuk Dewa.


Louis dan Naila juga sudah dipanggil untuk makan bersama sedangkan Papa Albert dan Mama Riska keluar karena ingin membeli martabak karena Mama Riska lagi lagi ngidam dan itu harus dituruti oleh Papa Albert.


Mereka semua makan di meja makan yang sangat besar itu. Bahkan ada yang makan di ruang keluarga juga karena ingin melihat televisi plus kursi di ruang makan itu udah tak cukup.


***


Setelah selesai makan bersama, mereka pun pamit untuk pulang. Hari juga sudah hampir magrib jadi mereka tak enak jika terus terusan berada di rumah Dewa.


Setelah teman teman Dewa pulang tak terkecuali Beby dan Satya juga. Dewi teringat dengan pentol yang ia letakkan di meja tadi.


"Ayang, pentol yang aku letakkan disini tadi mana?" tanya Dewi saya mereka sudah sampai di tempat dimana ia meletakkan pentol tadi.


"Aku gak tahu yank, mungkin diambil anak anak tadi," jawabnya yang membuat Dewi kesal.


Ia ingin memakan pentolnya tadi, karena sudah lebih dari 3 minggu ia tak memakan pentol yang biasanya mangkal di depan kompleks perumahan elit itu.


"Udah jangan sedih, aku beliin lagi mau?" tanya Dewa pada kekasihnya yang sepertinya sedih dengan hilangnya pentol kuah tadi.


"Mau, tapi harus jalan kaki. Sekalian jalan-jalan," jawab Dewi yang membuat Dewa menggeleng pelan.


"Ini sudah sore sayang, nanti kalau jalan sampai sama magrib lagi," ucap Dewa tak setuju untuk jalan kaki. Pasalnya jalan dari mansion ke depan gang itu cukup jauh.


"Gak apa apa, sambil menikmati sore hari ayang."


Akhirnya Dewa menuruti keinginan kekasihnya. Daripada melihat Dewi sedih lagi karena pentol yang dibelinya hilang.


Setelah mengambil uang di saku jaketnya. Mereka mulai berjalan menuju tempat biasa tukang pentol mangkal.


"Ayang mau cokelat juga," pinta Dewi menatap Dewa yang sedang menggandeng tangannya.


Sore sore begini jalan jalan sama ayang cukup membuat banyak setan ingin menggoda mereka. Tapi mereka aman kok.


"Iya sayang, selagi kamu bahagia," ucap Dewa dengan senyum manisnya kemudian mengecup singkat punggung tangan Dewi.


Akhirnya di sore itu mereka menikmati sore disekitar komplek untuk membeli pentol dan minuman cokelat.

__ADS_1


Setelah mendapatkan apa yang diinginkan mereka semua berjalan pulang dengan tangan yang sudah menenteng kresek berisi pentol dan minuman cokelat.


"Udah seneng dapat semuanya?" tanya Dewa menatap raut wajah Dewi yang sepertinya sangat bahagia.


"Banget, apalagi aku bisa minum cokelat lagi. Setelah mendapat larangan Papa selama satu bulan karena sakit gigi.


Dewa gemas dengan Dewi, kemudian mengacak acak rambut kekasihnya yang terbang terbawa angin itu.


"Jangan diacak acak nanti tambah jelek," ucap Dewi merapikan kembali rambut indahnya.


"Aku gemes sama kamu," ucap Dewa mengelus pipi Dewi.


Hingga akhirnya Dewa dan Dewi sampai di mansion Dewa. Saat masuk mereka berpapasan dengan Mamanya yang sedang mengambil buah.


"Dari mana kak, kok magrib magrib baru pulang?"


"Beli pentol Mah, tadi Dewi udah beli tapi malah hilang entah siapa yang makan," jawab Dewa yang membuat Mama Riska menggeleng.


"Maaf ya, pentol yang ada dimeja tadi. Mama makan, habisnya kayak menggoda Mama banget," ucap Mama Riska yang membuat mereka mengangguk.


Tak apa jika memang Mama Riska mau memakan pentol yang ia beli tadi.


"Mama mau lagi?"


"Enggak sayang. Mama sudah kenyang, mau ke atas dulu."


Akhirnya kini hanya tinggal mereka berdua di bawah. Mereka duduk di karpet bulu itu dan memakan pentol yang mereka beli tadi.


Bersambung


*******


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk,


Judul: Dendam Cinta


Napen: Lena laiha


Blurb: Shena Aulia Raina, seorang istri yang diceraikan oleh suaminya setelah seluruh harta kekayaan dikuasai oleh sang suami. Shena bersama putri satu-satunya diusir dari rumahnya sendiri.


Shena mencoba untuk ikhlas, namun karena Devan tidak membiayai pengobatan putrinya yang sakit, akhirnya putrinya meninggal dunia.


Shena yang sudah mengikhlaskan semuanya berubah menjadi benci dan ingin membalas dendam kepada Devan atas perlakuan Devan terhadapnya.


Shena mulai merubah penampilannya dan berusaha memikat Devan agar tertarik lagi kepadanya.


Apakah Shena akan berhasil membalas dendam?


Ataukah Shena berubah menjadi jatuh cinta lagi kepada Devan setelah berhasil mendapatkan Devan kembali?


__ADS_1


__ADS_2