
Happy reading
Setalah sampai rumah besar itu, Dewa dan Dewi langsung keluar dan menuju kamar masing masing.
Tak lupa juga Dewa memberikan pesanan Mama Riska yang tadi mengingkan ayam goreng. Tapi sepertinya Mama Riska dan Papa Albert belum pulang.
"Aku mau mandi dulu ya, gerah banget," ucap Dewi dan dianggukkan oleh Dewa. Karena dia juga sudah sangat gerah.
Setelah berberapa saat mereka di kamar mandi masing-masing, Dewa mengirimkan pesan pada teman temannya bahwa ia siap balapan malam ini.
Dewa berjalan menuju kamar Dewi, cukup simpel memang. Tak banyak ornamen dalam kamar itu bahkan di kamar itu hanya terpajang foto mereka berdua saja tanpa ada yang lain.
Dan soal pintu yang berhubungan itu hanya mereka yang tahu, karena setiap mereka pergi kamar itu selalu mereka kunci.
"Sweet banget dia pake foto-foto ini," gumam Dewa yang sedang memegang handuk itu.
Tak lama Dewi keluar dari kamar mandi dengan pakaian santainya. Bahkan Dewi berkali kali lebih cantik jika seperti ini.
"Cantik banget calon istri aku kalau habis mandi," ucap Dewa menghampiri Dewi dan memberikan handuk yang tadi ada dikepalanya.
"Biasanya kamu keringin sendiri, kenapa jadi manja?"
"Mau aja dimanja sama kamu," Jawa Dewa yang sudah duduk di lantai dekat kasur. Sedangkan Dewi duduk di kasur dan mulai mengeringkan rambut Dewa dengan handuk.
Sebenarnya disana ada hairdryer, tapi entah kenapa mereka jadi lupa.
***
Jam sudah menunjukkan pukul 6 sore, setelah mereka makan tadi. Keduanya kembali ke kamar karena rencananya mereka membuka kado kado yang ada dikamar Dewa.
"Kamu balapan jam berapa?" tanya Dewi yang sudah mulai membuka kado kado dari teman teman dan keluarga itu.
"Jam malam nanti, aku masih bisa temani kamu tidur sampai nyenak," jawab Dewa yang membuat Dewi mengangguk.
Dewa dan Demi mulai mengambil kado kado yang ada disana dan membaca kartu ucapan yang ada di depannya.
"Dari Tama dan Nafisah, Ay," ucap Dewi yang membuat Dewa langsung menatap Dewi.
"Selamat ulang tahu Dewa, gue sama istri gue cuma bisa doain yang terbaik buat hubungan Lu sama Dewi. Karena gue tahu lu udah punya semuanya, jadi semoga kado kita bisa berguna sama buat lu."
Dewi memberikan kado itu pada Dewa kemudian Dewa membuka kado itu.
"Al-Qur'an sama tasbih," jawab Dewa yang membuat Dewi menatap apa isinya.
"Kamu bisa baca Al-Qur'an Ay?" tanya Dewi yang sedikit meragukan Dewa akan membaca Al-Qur'an.
"Kamu meragukan aku dalam membaca Al Qur'an hmm?"
__ADS_1
"Iya," jawab Dewi.
"Biar aku buktikan kalau aku bisa bisa membacanya," ucap Dewa yang membuat Dewi menggeleng.
"Nanti aja, kado kado ini masih banyak," ucap Dewi dengan menatap tumpukan kado itu.
Kemudian mereka kembali membuka kado kado yang ada disama.
"Dari Satya," ucap Dewa melihat tidak ada kartu ucapan di sana.
Dewa membuka kado dari Satya itu dan betapa terkejutnya ia saat mendapat satu box k*n*o* bermerek Du**x.
"Apa isinya Ayang?" tanya Dewi dengan penasaran.
Dewa yang melihat Dewi mulai kepo itu menyembunyikan sekotak ko**** itu di belakang punggungnya.
"Bukan apa apa sayang," jawab Dewa yang membuta Dewi tak percaya.
"Aku marah kalau kamu gak perlihatkan apa kado itu?"
"Kamu ini bisanya cuma ngancem doang hmm?" tanya Dewa memberikan apa yang ia sembunyikan.
"Ini permen atau apa?" tanya Dewi membuka kotak itu.
"Itu bukan permen sayang, udah jangan dilihat lagi. Otak kamu masih polos," ujar Dewi merebut kotak itu dari tangan Dewi saat Dewi ingin membuka satu bungkus kon*** itu.
Bungkus itu di sobek oleh Dewi dan betapa terkejutnya saat ia melihat benda yang ia pikir peremen tadi.
"Udah tahu kan sekarang? Tahu dong masa enggak," ledek Dewa merebut apa yang ada di tangan Dewi dengan paksa.
Dewi malu melihat apa yang ia pegang tadi, sebuah kond**. Baru pertama kali ia memegang dan melihat bentuk kond**.
Dewa memasukan lagi benda itu ke dalam laci. Kalau sampai terlihat Mama dan papanya bisa perang dunia ke tiga ini.
Kemudian Dewa dan Dewi kembali membuka kado kado yang lain. Banyak yang isinya tak bisa dipikirkan Dewa sebelumnya. Karena apa karena isi kado itu ada yang japit rambut, ikat rambut warna merah muda, ikat pinggang warna merah muda, bahkan ada se*va* berwarna merah muda.
Sungguh Dewa tak habis pikir dengan apa yang teman temannya bawa untuk ya. Memangnya dia cewek dikasih benda itu yang bernuansa cewek. Memang sih rambutnya sedikit panjang tapi tidak harus di beri japitan dan ikat rambut.
"Yank celananya lucu," ucap Dewi memperlihatkan celana itu yang berwarna pink.
"Itu terlalu kecil buat aku yank, lagian gak akan muat," ucap Dewa dengan jujur. Bahkan sangat frontal.
"Gak muat kenapa, Ay?" tanya Dewi yang tak paham akan kata muat. Celana sebesar ini masa tidak muat di tubuh Dewa.
"Dah gak usah dipikirin, kita buka kado dari Mama dan Papa," ucap Dewa mengambil kado dari orang tuanya.
Setelah dibuka, ia melihat satu kunci mobil yang ia tahu itu adalah kunci mobil yang masih terbaru. Baru kali ini ia mendapat hadiah dari orangtuanya berupa kunci mobil.
__ADS_1
"Kunci mobil Lamborghini yank, Papa sama Mama niat banget beliin aku mobil yang satu ini," ucap Dewa memperlihatkan kunci mobil itu.
"Mungkin mereka mau membuat kamu bahagia dihari ulang tahun kamu ini," ucap Dewi dengan senyum manis.
Dewi tahu jika Dewa sangat menginginkan mobil Lamborghini sejak lama. Hanya saja biaya yang cukup besar membuat ia mengurungkan niatnya itu.
"Ini terlalu mahal sayang, mereka tak seharusnya memberikan hal ini. Mobil ini sangat mahal sayang," jawab Dewa.
"Sudah terima aja, nanti kalau ada waktu kamu tanya sama Mama dan Papa. Sekarang aku mau kamu buka kado dari Naila."
"Bungkusnya besar gitu, sepertinya sangat berharga," ucap Dewi memberikan kado dari Naila yang paling besar diantara mereka.
Dewa mengangguk dan mulai membuka bungkus kado dari adik kandungnya itu. Dan isinya adalah dua lukisan yang membuat Dewa tersenyum.
Naila memang tak bisa diragukan dalam melukis, dua lukisan yang merupakan hasil karya tangan Naila.
Satu lukisan adalah lukisan keluarga dengan sedikit perbedaan yaitu ibunya yang sedang mengandung. Mereka seperti keluarga yang bahagia dalam lukisan itu.
Kemudian yang lukisan yang kedua adalah dirinya dan Dewi yang saat itu sedang bertukar cincin tunangan.
"Cantik banget lukisannya," ucap Dewi melihat lukisan itu.
"Iya, bakat dia dalam melukis sudah ada sejak Naila berusia 5 tahun. Aku saja bingung ia mendapat keahlian melukis darimana," jawabnya dengan senyum. Ia akan membelikan alat lukis yang lengkap untuk adiknya yang paling ia sayang itu.
"Memang dia sangat berbakat, aku berharap dia menjadi pelukis yang hebat nantinya," jawab Dewi menyentuh lukisan itu.
Mereka memasang dua lukisan itu di dinding kamar Dewa. Hingga membuatnya terlihat sangat indah jika dipandang.
"Sekali lagi selamat ulang tahun Ayang," ucap Dewi mengecup pipi Dewa.
Dewapun mengangguk dan mulai memeluk tubuh Dewi dengan erat kemudian melabuhkan ciuman di kening Dewi dengan lama.
"Thanks my love," jawabnya dengan senang.
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukk judulnya↓↓↓
Secret Wedding ( Jimmy & Alisa )
Author: sendi andriyani
Perjodohan antara dua keluarga yang membuat Jimmy harus menikahi gadis bernama Alisa, teman sekelasnya.
Jimmy pria dingin, cuek, acuh dan datar harus di hadapkan dengan Alisa yang berkepribadian terbalik dengan Jimmy.
Meski awalnya Jimmy sangat menentang perjodohan itu karena dia masih sekolah, tepatnya kelas 3 SMA, namun pada akhirnya dia mulai bisa menerima Alisa sebagai istrinya.
__ADS_1