Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Raja Gombal


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa hati sudah malam, Dewi sudah tak lagi sedih lagi. Dan Mama Papa juga sudah pulang dari supermarket.


Hingga mereka semua sudah berada di meja makan untuk makan malam. Dewa dan Dewi juga ada begitupun dengan Louis dan Naila.


"Diminum susunya," ucap Papa meletakkan susu hamil di depan istrinya.


Sikap Papa memang dingin tapi dia akan berlaku sweet dan lembut pada anak anak dan istri yang paling dicintainya.


"Makasih Papa," ucap Mama Riska menatap suaminya yang mengangguk. Memang Mama Riska tak ada ngidam yang berat tapi dia hanya ingin dimanja saja oleh suaminya. Itupun saat sudah tidak ada anak anaknya.


"Jadi gimana? Kalian mau ngomong apa?" tanya Mama Riska pada Dewa dan Dewi.


Mereka saling pandang hingga akhirnya Dewa membuka pembicaraan untuk meminta izin pada orangtuanya.


"Jadi gini Mah Pah. Kita kan gak lama lagi mau ujian. 4 bulan lagi kan kita mau lulus SMA."


"Jadi?"


"Jadi kita mau minta izin buat ke puncak besok pagi karena habis ini kita berdua udah gak ada lagi hari libur," ucap Dewa lagi.


"Oalahh mau ke puncak to, sama siapa aja nak?" tanya Mama Riska lagi.


"Sama Satya, Tama, dan teman temannya lagi," jawab Dewa dengan jujur. Karena memang banyak yang ingin ikut ke puncak.


"Jadi banyak yang ikut?"


"Papa sama Mama gak bisa terlalu ngengkang kalian, apalagi kalian itu masih muda dan masih butuh refreshing."


"Jadi kalian izinkan kami pergi?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh mereka.


"Asal kalian bisa menjaga diri kalian dengan baik, Mama dan Papa mengizinkan."


"Tapi Ma, Louis gak mau ikut Dewi Mah. Dewi takut dia merepotkan Mama dan Papa disini," ucap Dewi tak enak dengan calon mertuanya. Apalagi Mama Riska sedang mengandung.


"Kenapa gak enak segala sih sayang? Mama sama Papa sudah anggap kamu sama adik kaku itu seperti anak kandung kita sendiri. Lagipula Mama sama Papa senang kalau ada Louis, jadi Naila ada temannya."


Naila yang mendengar itu langsung mengangguk, ia juga senang ada teman saat ia sedang suntuk dan Louis adalah orangnya. Ia juga sudah menganggap Louis adalah adiknya sendiri karena nanti Dewa dan Dewi juga akan menikah jadi mereka menjadi keluarga.


"Makasih ya Mah, Pah, dek sudah mau menerima kami disini."


"Iya kak, lagian kita kan akan menjadi keluarga," jawab Naila tersenyum manis. Gadis itu sepertinya menuruni sifat Mama Riska yang tak banyak membantah tapi jangan pernah sekali kali memancing amarah Naila karena apa.

__ADS_1


Karena Naila jika sudah marah akan sangat menakutkan bahkan melebihi Papa Albert. Bahkan Papa Albert sangat segan jika ingin membuat Naila marah. Tapi Naila adalah kesayangan Papa Albert begitupun dengan Mama Riska.


Bagi Papa Albert Mama Riska dan Naila adalah wanita yang harus ia jaga dan juga ia cintai. Bukan berarti Mama dan Papa tak menyayangi Dewa, tapi bagi laki laki dikeluarga Dewa wanita itu adalah makhluk yang wajib disayangi dan dicintai.


"Kak nanti kalau pulang dari puncak jangan lupa bawain Naila dan Louis oleh oleh," ucap Naila.


"Siap apa sih yang enggak buat adik adik kakak," jawab Dewa pada kedua adiknya.


Akhirnya dewa dan Dewi mendapat izin dari kedua orangtuanya. Dewi juga tak memaksa adik adiknya untuk ikut. Lagipula sekali kali mereka refreshing sebelum ujian.


"Di wilayah orang hati hati, peraturan yang ada harus dipatuhi. Mama gak mau kalian kenapa napa," pesan Mama dan dianggukkan oleh keduanya.


"Iya Ma."


"Jangan lupa kabarin Mama dan Papa saat disana."


"Iya Pa."


Sebagai seorang Mama dan Papa dari dua anak mereka tak boleh egois. Bahkan dulu mereka juga hampir melakukan hal yang sangat tidak diinginkan.


***


Dan kini Dewa dan Dewi sedang berada di kamar Dewa. Pria itu meminta Dewi untuk membantunya memilih pakaian untuk besok dibawa ke puncak.


"Terserah kamu aja, tapi jangan banyak banyak, kita cuma dua hari kan," ucap Dewa dengan manjanya memeluk perut Dewi dari belakang.


Dewi yang sedikit susah itu berkali kali menepis tangan laki laki itu.


"Jangan lupa bawa jaket yank, disana katanya dingin," ucap Dewa yang membuat Dewi menghentikan pergerakannya.


"Dingin?"


"Iya, bukan dingin sih sebenernya tapi sejuk. Beda lagi kalau malam, pasti dingin."


"Jangan takut kamu harus lawan rasa takut kamu terhadap dingin sayang, gak selamanya kamu akan demam walau kedinginan," jawab Dewa mengelus lembut perut Dewi.


"Apa iya seperti itu?"


"Heem."


Dewi kembali mengambil jaket tebal untuk dirinya, yah karena dia tak membawa jaket ke rumah ini. Dan lagipula Dewa dan Dewi sering tuker jaket.


"Aku pinjam yang ini ya? Warnanya bagus buat aku," ucap Dewi memperlihatkan baju hangat yang ia pegang.

__ADS_1


"Ambil aja, itu juga jarang aku pakai," jawab Dewa mengecup pundak Dewi.


"Makasih ganteng."


"Sama sama cantik."


"Aku memang cantik," jawab Dewi dengan sombongnya mengibaskan rambutnya.


"Aiss salah aku muji cantik tadi," ucap Dewa mengikat rambut Dewi dengan ikat rambut yang ada di pergelangan tangan Dewi.


"Emangnya aku gak cantik?"


"Cantik sih, tapi cantik lagi kalau kamu kalem gak sombong kayak tadi," jawabnya mengecup tangan Dewi.


"Kan memang pada dasarnya aku itu cantik, Mama sama Papa aja akuin kok kalau aku cantik."


"Cantik tapi pendek," jawab Dewa mencibir Dewa.


Memang tubuh Dewi lebih pendek daripada Dewa. Tapi ia tak bisa dikatakan pendek pasalnya tinggi Dewi itu sudah 160 cm. Tapi jika dibandingkan Dewa yang tingginya hampir 180 ia kalah jauh.


"Aku gak pendek ya, tinggi aku itu udah proposional untuk ukuran gadis SMA. Emang kamu yang overdosis tinggi badan!!"


"Seenaknya kamu bilang aku ini overdosis tinggi badan, aku ini gak overdosis tinggi badan sayang," ucap Dewa tak terima dikatakan overdosis.


"Terus overdosis apa kalau bukan tinggi badan? Tinggu kamu itu gak seperti anak SMA pada umumnya tahu gak?"


"Aku overdosis cintamu Dewi Arabella, seorang pria ini sangat mencintai kamu sampai overdosis," jawabnya membungkam Dewi yang terus berceloteh.


"Haiss."


"Bahkan menurutku tinggiku ini masih kurang, biar nanti aku bisa tutupi kamu kalau lagi malu," jawab Dewa yang membuat Dewi semakin malu. Pasalnya Dewa jarang menggombalinya seperti ini.


"Dasar tiang listrik."


"Gak apa-apa tiang listrik yang penting bisa mengayomi keluarga kita nanti."


"Dewa udah jangan gombal lagi aku gak kuat," jawab Dewi berlari menuju kasur dan menarik selimut.


"Ia tak bisa membayangkan sekarang wajahnya sudah seperti apa. Ia sangat malu karena gombalan Dewa yang sudah seperti ahlinya raja gombal.".


Dewa terkekeh melihat tingkah Dewi yang seperti itu. Akhirnya ia juga ikut berbaring di samping Dewi kemudian memeluk tubuh gadisnya itu dari belakang.


"Kamu tidur?"

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2