
Happy reading
Setelah menghilangkan bekas merah dengan cara memberikan pondation di kiss mark itu. Kini Dewi sedang mencari keberadaan Dewa. Ia ingin memberi sedikit pelajaran dengan Dewa.
Hingga ia bertemu dengan Satya yang entah keluar dari mana. Ia langsung menghampiri sahabat kekasihnya itu.
"Sat, cowok gue mana?" tanya Dewi dengan tegas. Kemudian ia mencium aroma rokok dari tubuh Satya jangan bilang Dewa juga ikut merokok.
"Ada di balkon atas," jawabnya dengan jujur. Melihat raut wajah Dewi yang sudah seperti monster ingin melahap mangsanya itu membuat ia jadi takut.
"Ngapain?"
"Ngapain ya, gak tahu gue. Dah dulu ya Dew, gue udah di chat ayang gue disuruh makan," ucap Satya menghindari tatapan singa Dewi yang seperti ingin memakannya hidup hidup.
Dengan cepat Satya langsung berlari menghindari Dewi yang sudah mode singa.
Setelah sekiranya jauh dari Dewi, akhirnya Satya bisa bernafas lega. Tapi entahlah gimana nasib bosnya nanti.
***
Sedangkan Dewi yang sudah sampai balkon itu melihat kekasihnya sedang mengisap rokok itu. Terlihat asap putih itu mengepul di udara itu.
Dewi yang melihat itu langsung berjalan menuju Dewa yang asik menghisap rokok itu.
Dengan cepat tangan Dewi mengambil rokok yang sudah habis setengah itu kemudian membuangnya begitu saja ke bawah.
Dewa yang merasakan kenikmatan itu dirampas itu langsung menatap ke samping ternyata itu adalah Dewi.
Dewa jadi berpikir yang tidak tidak jika seperti ini. Ia sudah melanggar ucapan Dewi, pasti kekasihnya itu akan marah lagi.
"Sayang."
"Ngerokok terus? Siapa yang nyuruh kamu ngerokok hah?" tanya Dewi mencewer telinga Dewa hingga membuat Dewa meringis sakit. Gak mamanya gak Dewi sama saja.
"Gak ada sayang, aku gak disuruh siapa siapa."
"Terus kenapa kamu ngerokok? Berapa kali aku bilang kalau ngerokok itu gak baik buat kesehatan kamu. Paru paru kamu gak kasihan?" tanya Dewi dengan kesal bahkan suaranya nyaris membuat Dewa jantungan.
"Enggak sayang, gak gitu."
"Gak gitu gimana? Kamu itu seneng banget ngelanggar omongan aku. Aku tuh ngelarang kamu bukan tanpa sebab tapi karena aku sayang sama kamu aku gak mau kamu sakit gara gara sebatang rokok. Aku gak mau," ucap Dewi dengan suara yang sudah naik 1 oktaf.
Dewa yang melihat kemarahan Dewi itu hanya bisa menunduk ingin rasanya ia mengatakan alasan kenapa dirinya merokok. Tapi ia tak bisa, ia tak bisa bilang itu pada Dewi.
Sedangkan Dewi, bahkan ia sudah lupa tujuan apa ia tadi menemui Dewa.
__ADS_1
"Kamu mau buat aku sedih? Kamu buat aku terus merasa bersalah karena gak bisa menjaga kamu?"
"Kamu senang hah? Kamu mau kalau sampai kita gak sampai menikah, ayolah Dewa kamu bukan anak kecil lagi."
Dewi tak habis pikir dengan apa yang dilakukan Dewa. Kenapa pria ini selalu diam jika ditanya kenapa merokok.
Dewi sudah mendapati Dewa merokok itu sudah ke enam kalinya. Padahal Dewi tak pernah tahu jika Dewa punya rokok. Atau rokok tadi itu adalah milik Satya.
"Maaf sayang, aku hanya ingin menikmatinya sedikit saja."
"Hufftt sabar, sabar. Sekarang aku tanya kenapa kamu ngerokok lagi? Bukannya kemarin kemarin udah janji gak akan merokok lagi?" tanya Dewi pada Dewa kini suaranya sudah tak sekeras tadi. Bahkan cenderung lebih lemah dan putus asa.
Dewi tak menyukai rokok, entah itu bentuknya yang gimana. Dewi selalu di didik untuk menjadi gadis yang selalu berpegang teguh pada pendiriannya. Ia tak akan goyah walau banyak yang menentangnya.
Rokok? Salah satunya, Dewa tak suka cowok perokok. Oleh sebab itu Dewi selalu melarang Dewa merokok. Bahkan jika nanti Dewa memilih rokok daripada dia, ia akan mencoba mengikhlaskannya.
Bagi segelintir orang rokok adalah hal biasa yang sudah biasa dinikmati dengan segelas kopi panas. Bahkan mereka tak akan segan membakar uang berapapun demi rokok. Dan Dewi tak menyukai itu.
"Maaf karena aku sudah mengingkari janjiku sendiri, aku sedang stress sayang. Aku butuh pelampiasan dengan rokok. Lagipula aku gak sering kok ngerokoknya. Aku cuma ingin menghilangkan stress ini."
Dewa menatap Dewi yang mendekat ke arahnya. Tatapan merdeka saling beradu.
"Stress kenapa sih? Aku capek bilangin kamu terus. Aku cuma gak mau kamu sakit dan kecanduan rokok," ucap Dewi mengusap bibir Dewa yang sedikit cokelat.
"Jawab kenapa stres?"
Dewa menatap Dewi yang sedang mengusap bibirnya itu. Apakah ia bisa berkata jujur sekarang. Dewa rasanya ingin mengatakan semuanya, jika ia juga laki laki normal.
"Kenapa? Jangan sekali kali kamu bohongi aku ya Dew."
"Lagian apa sih yang kamu stressin? Ujian juga masih lama, masih muda udah stress apa yang kamu pikirin?"
"Kamu," jawab Dewa menatap lembut Dewi.
"Hah? Aku? Kenapa kamu mikirin aku sampai stress sih? Memangnya aku mau kemana? Jangan bilang kamu mau pergi?" tanya Dewi dengan syok. Ia tak percaya jika yang membuat Dewa stress adalah dirinya.
"Enggak sayang, aku cuma bingung aja."
Dewi sepertinya tahu jika Dewa bingung ingin menjelaskan padanya. Tapi ia juga penasaran dengan apa yang dipikirkan oleh Dewa.
"Aku mau itu? Tapi aku tahu kamu tak akan mengizinkannya," ucap Dewa dengan pelan.
Dewi yang sedikit bingung itu langsung menatap lebih dekat Dewa.
"Coba jawab dengan benar. Gimana sih aku gak paham," ucap Dewi.
__ADS_1
Dewa yang ikut kesal itu mendekat ke arah Dewi kemudian menarik tubuh kekasihnya untuk mendekat kearahnya.
Dan
Cups
Bibir tebal Dewa menempel pada bibir pink milik Dewi. Lembut bahkan sangat lembut, Dewa menghisap pelan bibir itu.
Kemudian tangan kanannya berlayar menuju dada Dewi yang selalu ingin ia sentuh. Dewa laki laki normal yang akan tergida dengan semua ini. Bahkan tanpa Dewi tahu, Dewa pernah menuntaskan semuanya di kamar mandi. Apakah Dewa akan bersolo karir? Tentu saja tidak, pria itu hanya berendam di air dingin saja untuk membuang semua has*** yang ada dalam dirinya.
"Eughh."
Kemudian Dewa melepaskan ciuman dan rem**an itu. Kemudian menatap mata Dewi yang juga sedang menatapnya.
"Aku selalu ingin menyentuhmu sayang, setidaknya jika tidak yang itu aku bisa memainkan yang ini. Tapi aku tahu kamu pasti melarangnya. Aku tahu, tapi hal itu yang membuat aku akhirnya mencari pelampiasan."
Untung bukan cari cewek lain buat cari pelampiasan ya Dewa.
Degh
Mendengar ucapan Dewa membuat Dewi bungkam. Oh jadi ini yang membuat Dewa merokok. Hanya karena naf** sesaat saja.
"Tapi gak gini caranya kamu gak harus ngerokok. Kamu harusnya bicara sama aku dari hati ke hati. Kalau begini terus kan aku juga gak tahu apa yang terjadi sama kamu."
"Aku takut kamu jauhi aku," ucap Dewa memeluk tubuh Dewi.
"Hais bisa janji buat aku, dan hal ini untuk selamanya."
"Apa?"
"Kamu boleh minum susu tapi kamu gak boleh ngerokok lagi sampai kapanpun."
"Kamu serius?"
"2x dalam 1 minggu aku rasa itu sudah pas. Tapi jika kita sudah menikah lmnanti kamu bisa sepuasnya melakukan apa yang kamu mau."
Dewa yang mendengar itu seperti mendapat angin segar. Ia tak akan menyia nyiakan hal ini. 2 kali seminggu pun tak apa untuknya. Yang penting ia bisa merasakan buah itu dengan nyata. Bukan hanya omongan dari Satya yang selalu mempengaruhi Dewa.
"Deal."
Bersambung
Follow Ig author yuk
@_tyatul.author
__ADS_1