Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Cemburu


__ADS_3

Happy reading


Ceklek


Semua orang yang ada di sana menatap Dewa dan Dewi yang baru saja masuk. Hingga satu ucapan membuat yang lain menimpali ucapan laki laki itu.


"Ada gerangan apa tiba tiba Bapak Negara dan Ibu Negara datang ke ruangan ini?"


"Iya biasanya Bapak Negara selalu tertib saat ada Ibu Negara. Tapi kenapa kalian ikutan membolos?" tanya Andra yang memiliki otak radak gesrek tapi jangan diragukan kemampuannya dalam bidang IT. Bahkan akhir akhir ini Andra sering meretas banyak data para musuh tanpa meninggalkan jejak.


"Iya padahal ini masih jam pelajaran loh, gak mungkin kan kalian membolos pas jam pelajaran," tambah Cio yang sedang memakan kacang sambil nge-game itu.


"Bos jangan buat citra Bu Bos jelek dong. Nanti kalau gue gak di contekin pas ujian gimana?" tanya Dion yang memang sekelas dengan bos serta Bu Bos mereka itu.


Sedangkan yang lain hanya menyimak, disana hanya ada 7 orang dari berbagai kelas tapi bersatu menjadi satu gang walaupun gang yang ditakuti tapi nakal mereka itu masih wajar. Dewa tak pernah mengajarkan anak buahnya untuk minum minuman keras apalagi narkoba.


"Diam, gue mau ke kamar. Ngantuk," ucap Dewa membuat mereka terdiam.


"Ya sudah silahkan Pak Bos sama Bu Bos istirahat. Nanti kalau sudah jam pulang kamu bangunkan," jawab Andra pada bos dan calon istri bosnya itu.


"Hmm makasih," ucap Dewi pada anak buah kekasihnya. Kadang Dewi juga bingung kenapa bisa sikap kekasihnya itu sangat dingin seperti ini jika di luar. Tapi beda jika sedang bersamanya.


"Tama mana?" tanya Dewa yang tak melihat Tama di antara mereka.


"Kejar pujaan hati, Bos."


"Tama punya gebetan?" tanya Dewi ingin tahu. Jarang jarang cowok itu menjalin kisah dengan yang namanya wanita


Dewa yang mendengar itu langsung mengajak Dewi masuk ke kamar, ia cemburu karena Dewi menanyakan Tama punya gebetan. Jika belum kenapa? Apa Dewi ingin daftar.


"Gak tahu," jawab Dewa berlalu begitu saja dan menghempaskan tubuhnya ke atas kasur.


Dewi menatap Dewa bingung, apa dia memiliki salah. Apa tapi kenapa Dewa bisa ngambek. Tak biasanya Dewa langsung pergi tanpa mengajaknya tidur.


Dewi pun berjalan menuju kasur berwarna putih itu kemudian melepas sepatu kekasihnya dan juga sepatunya. Rasanya ia juga ngantuk, entah kenapa ia sering ngantuk saat hujan dan yang enak itu adalah kelon๐Ÿ˜…๐Ÿ˜.


Dewi menarik selimut dan menyelimuti tubuh mereka, Dewa yang masih sedikit cemburu dengan ucapan kekasihnya tadi hanya bisa diam dan menikmati pelukan Dewi tanpa membalas.


"Ayang."


Dewi mulai merapatkan tubuh mereka dengan sangat intim bahkan Dewa bisa merasakan dada Dewi menempel di dadanya.

__ADS_1


"Hmm."


"Ayang."


Tangan Dewi mengelus perut kotak kotak Dewa yang sedang membelakanginya.


"Hmm."


"Ayang ih, kalau di panggil itu nengok dong."


"Gue ngantuk Ra," ujar Dewa yang tak bisa membendung rasa kesalnya pada Dewi.


"Kamu marahin aku? Aku ada salah sama kamu?" tanya Dewi pelan. Nada Dewa sudah Lu gue itu sangat sangat jarang Dewa gunakan jika bersama Dewi.


"Dewa hadap sini, bilang sama aku . Aku salah apa sampai kamu diam gini?" tanya Dewi dengan kesal.


Akhirnya dengan kesal Dewa menghadap Dewi, ia menatap dengan datar. Tidak ada Dewa yang menatapnya lembut dan penuh dengan kehangatan.


"Kenapa kamu diam begini tiba tiba? Aku ada salah hmm?" tanya Dewi mengelus rahang Dewa. Pria itu tak menolak walau hatinya sedikit cemburu dengan ucapan kekasihnya tadi.


"Aku cemburu," ucapnya lirih bahkan wajah Dewa sudah memerah karena jawabannya barusan.


"Cemburu? Sama siapa hmm?" tanya Dewi masih dengan lembutnya.


"Tama? Memang aku ngapain sama Tama. Kan dia gak ada, aku cuma tanya apa dia punya gebetan. Karena aku gak pernah lihat dia jalan sama cewek bukan maksud lain."


"Lagipula aku dan Tama itu teman, dan dia juga sahabat kamu berarti dia juga sahabat aku. Walau tak sedekat kalian, lagian apa yang perlu jambu cemburu kan hmm? Aku sudah mempunyai calon suami yang segalanya, tampan, kaya, populer dan juga sayang sama aku," jawab Dewi dengan lembut.


"Nanti kalau aku pengen apa apa langsung bilang sama kamu dan cus dapat. Hal itu belum tentu aku dapatkan dari orang lain."


"Misalnya gini, Ayang aku pengen separuh saham mall itu. Langsung dapat karena kamu kaya, apalagi cuma pesawat dan lainnya pasti aku juga mudah," jawab Dewi persis sebagai cewek matre tapi Dewa tak peduli.


Dia tahu Dewi, gadis itu tak suka barang mewah. Ia juga sangat paham akan sifat sang kekasih itu jika bukan ia yang paksa pasti Dewi tak mau belanja.


"Masih cemburu?" tanya Dewi mengelus bibir tebal itu dan mengangguk pelan.


"Sedikit."


Cup


"Masih cemburu?" tanya Dewi lagi.

__ADS_1


"Dikit," jawab Dewa meraih pinggang Dewi dan memeluknya.


Cups


Kecupan dibibir itu sudah dua kali Dewi berikan untuk Dewa. Ia tak mau cemburu tunangannya berlarut larut seperti ini.


"Udah jangan cemburu gak jelas gini, aku gak akan mendua kok. Beda lagi kalau kamu ya g selingkuh dan gak bilang sama aku," ujar Dewi mengelus rahang kekasihnya.


"Maaf aku yang kekanakan ini sayang," balas Dewa yang tahu akan sikapnya.


"Iya Ayang tenang aja, aku orangnya santai jadi gak bakal mudah kebawa perasaan."


Dewa tersenyum kemudian mengecup bibir tipis Dewi tangan satunya ia gunakan untuk melepas kancing seragam Dewi dua dari atas kemudian ia menjatuhkan kepalanya di belahan dada gadis itu.


"Lain kali jangan berprasangka yang tidak tidak. Aku gak akan pernah menduakan kamu, jika bukan kamu yang memang memintaku untuk pergi," ucap Dewi mengelus rambut Dewa bahkan tangan lentiknya menyasak pelan rambut Dewa. Setelah dielus jadi disasak.


"Iya tapi gak janji."


"Nanti kamu ke apartemen lagi kan?" tanya Dewa pada Dewi yang sedang memainkan rambutnya.


"Aku harus pulang ke rumah Ayang, gak bisa terus terus nginep di apartemen kamu."


"Emm tapi katanya mau buat.."


"Sstt jangan bilang nanti reader tahu," Dewi menutup mulut Dewa dengan tangannya.


"Kan buatnya bisa hari minggu, aku takut Mama sama Papa mikir yang enggak enggak apalagi aku harus jaga Louis karena Mama papa bakal pergi nanti malam."


"Emm oke."


"Katanya ngantuk kok gak tidur tidur?" tanya Dewi pada Dewa.


"Lagi pengen hirup udara segar dari tubuh kamu apalagi ini," jawabnya menyentuh dada Dewi.


"Tangannya kayak minta dipotong kayaknya," ujar Dewi melepaskan tangan Dewa yang ada di dadanya.


Udah bagus di kasih dada buat tempat bersandar, kini malah minta jantung.


Dewa memeluk erat tubuh Dewi hingga tubuh mereka sangat dempet, bahkan Dewi bisa merasakan detak jantung masing-masing.


Mereka menikmati detak jantung masing masing hingga akhirnya Dewa dan Dewi terlelap dalam pelukan yang sangat menghangatkan itu apalagi selimut yang menutup tubuh mereka.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2