Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Kado Dari Naila


__ADS_3

Happy reading


Dewa berjalan ke lantai bawah, dan melihat teman temannya yang sedang menikmati acara ulang tahun Dewa tanpa adanya sang tuan rumah. Tapi teman teman mereka cukup tahu diri jika ini bukan rumah mereka. Tapi yang membuat Dewi menggeleng adalah ketika Beby dan Satya yang sedang duduk di sudut sofa dekat dengan taman itu.


Posisinya Beby berada dipangkuan Satya, tapi bukan itu yang membuat Dewi menggeleng. Tapi tangan Satya yang sedang merem** dada Beby itu yang membuat ia tak percaya, temannya itu sepertinya tak kenal tempat.


Apalagi saat melihat wajah Beby yang seakan pasrah dengan apa yang dilakukan Satya.


Untung tak banyak yang tahu tentang apa yang mereka lakukan. Apalagi Nafisah yang hari ini tak bisa ikut karena membantu ibunya membersihkan taman.


Dewi meninggalkan Satya dan Beby menuju ke tempat teman temannya.


"Ahh jangan keras keras honey. Nanti ada yang dengar lagi," ucap Beby menahan sedikit suaranya agar tak kedengaran teman temannya.


"Gak bisa Baby, kamu makin s**si. Jadi gak tahan untuk gak nyentuh kamu. Nanti kita main lagi ya, aku pingin yang lebih daripada ini," ucap Satya menikmati apa yang sedang ia lakukan.


Bisa Beby rasakan jika tombak Satya sudah meninggi dibawah bokongnya.


"Ada yang lihat gak sih honey?" tanya Satya melihat sekitar.


"Emang kenapa? Lagian kita itu lagi di rumah orang loh. Kamu gak ahh punya malu banget sih hmm?" tanya Beby memelankan suaranya.


"Banget, emang kamu gak kerasa?"


Tanpa sepengetahuan teman temannya Satya mengajak Beby ke mobilnya yang terparkir disana.


Satya meletakkan Beby di mobil bagian belakang. Saat Dewa ingin mengubah kursi mobil itu Beby mencegahnya.


"Gini aja dulu, nanti kalau susah baru di turunkan. Aku mau coba gaya baru," ucap Beby melepas da***annya.


Satya mengangguk dan menatap Beby yang sangat menggoda imannya itu.


"Uhhh kamu memang sangat menggoda," ucap Satya melepas ikat pinggangnya.


"Mau yang gimana?" tanya Satya yang sudah duduk di kursi mobil itu.


Beby tak menjawab tapi ia malah duduk dipangkuan Satya dan melepaskan celana panjang Satya.


"Uhh udah tinggi ternyata. Gimana mau langsung atau main main dulu?" tanya Beby merasakan hal itu.


"Terserah kamu aja, aku ngikut," jawab Satya menyerahkan apapun pada Beby.


Akhirnya tanpa basa Beby mulai menjalankan apa yang ia inginkan sedangkan tangan Satya juga ikut berperan di dalamnya.


Des***** dan era***** dari dalam mobil itu tak terelakkan walaupun masih samar samar.

__ADS_1


Untungnya kaca mobil itu tidak tembus pandang, jadi mereka bisa leluasa melakukan apapun.


Beby maupun Satya sudah biasa menyalurkan has*** mereka di mana saja. Selagi itu tak menganggu orang lain. Tapi kalau yang yang terganggu ya itu ya salah orang itu. Kan Beby dan Satya tak memperlihatkannya.


***


Dewa yang baru selesai mandi itu tak lagi mendapati Dewi disana. Bahkan sampah yang ada di bawah kasurnya juga sudah dibuang.


"Katanya suruh aku mandi habis itu baru minum."


Jujur Dewa sedikit kesal tapi ia juga lapar karena dari siang ia belum makan lagi. Kemudian ia keluar dari kamarnya.


Saat berjalan menuju tangga, Naila memanggil Dewa. Gadis 13 tahun itu, berdiri di depan pintu kamarnya sendiri dengan senyum manisnya.


"Kak sini deh bentar aja," panggil Naila pada kakaknya.


"Kenapa dek?" tanya Dewa menghampiri adiknya.


"Yuk masuk bentar, Naila ada hadiah buat kakak," ucap Naila pada kakaknya.


Ia tak sabar memberikan hadian yang ia buat sendiri untuk kakaknya yang sedari tadi.


Dewa mengikuti Naila yang katanya ingin memberikan hadiah untuk dirinya.


"Ini kado dari Naila, semoga kakak suka ya. Dibukanya nanti pas udah di kamar ya kak. Naila malu kalau kakak buka sekarang disini."


"Wah besar banget sayang. Pasti Kakak suka, makasih ya," ucap Dewa mengecup kening Naila dengan sayang.


Walau mereka jarang bersama, tapi tanpa diketahui siapa pun Dewa selalu menjaga Naila dari jauh. Bahkan apa yang dilakukan Naila setiap haripun ia tahu.


Kadang ia merasa kasihan dengan Naila, tapi Dewa selalu mengutamakan Naila daripada yang lain. Kecuali Dewi.


"Pasti kamu keluar uang banyak buat ini ya? Kalau kamu keberatan gak perlu kasih Kakak apa apa sayang. Karena apa? Karena melihat kamu tersenyum saja sudah membuat kakak bahagia. Kakak senang kamu sudah tak semurung dulu, kamu harus tetap bahagia ya sayang," ucap Dewa memeluk tubuh Naila yang masih berada disana.


"Memangnya Naila kenapa kak? Kok harus bahagia?" tanya Naila dengan penasaran jujur saja ia tak tahu kenapa kakaknya bilang begini.


"Gak apa apa, karena kakak memang sangat menyayangi kamu sebagai adik kakak yang masih suka nangis di pojokan," jawab Dewa mengelus rambut Naila.


Adik kecilnya yang sedari kecil kurang kasih sayang dari Papanya. Dewa sendiri tahu kenapa Papa tidak menyukai Naila. Tapi ia tak ingin membuka aib orang tuanya.


Naila tidak salah, karena semua ini sudah kehendakknya. Tidak perlu ada yang disalahkan disini.


"Aku sudah tidak nangis lagi dipojokan Kak," ucap Naila tak terima dikatakan seperti itu.


"Tapi itu ke kenyataan sayang."

__ADS_1


"Sekarang kamu mau kemana? Kebawah atau kemana?"


"Aku capek bantuin kak Dewi tadi buat kue, aku mau tidur aja karena aku gak ada teman di bawah," jawab Naila kembali mendudukkan tubuhnya di kasur.


"Louis?" tanya Dewi.


"Main PS sama teman-teman kakak," jawab Naila dengan jujur hingga akhirnya Dewa mengangguk paham.


"Ya sudah kamu istirahat saja. Kakak mau ke bawah, laper banget rasanya," ucap Dewa dan dianggukkan oleh Naila.


Dewa menatap Naila dan membawa di kado yang sudah dibungkus itu ke kamarnya. Ia belum sempat membukanya karena ia sudah keburu lapar dan juga ingin melihat keadaan teman temannya.


Ia berjalan menuju ruang tamu dan keluarga yang penuh dengan teman temannya. Ia mencari keberadaan kekasihnya tapi ia tak mendapati siapapun kecuali teman temannya.


"Kemana Dewi? Dan juga kemana Beby dan Satya?" tanya Dewa menatap sekitar.


Dewa menghampiri Ozi yang sedang memakan kacang itu. Dan menyanyakan dimana Dewi, Beby, dan Satya. Karena sedari tadi ia tak melihat.


"Tadi gue lihat Beby dan Satya di luar, biasalah mereka lagi berduaan. Dan kalau ibu negara tadi juga sempat ke luar entah ngapain tapi habis itu gue gak tahu karena gue langsung dipanggil Andra tadi," jawab Ozi dengan santai.


Dewa pun mengucapkan terima kasih pada Ozi kemudian ia berjalan ke arah depan. Dan betapa terkejutnya Dewa saat melihat apa yang ada di depannya.


Bersambung


Hayo loh apa yang dilihat Dewa???


***


Hai kak jangan lupa mampir ke novel teman Tya yuk judulnya Pernikahan Salsa, karya kak Zaenab Usman


Ini adalah kisah dari anak-anak Rian dan Ayla. Bagi yang belum tau kisah mereka, boleh mampir di novel Tidak ada cinta dari suamiku. Salsabila Erlangga.


Gadis cantik berumur delapan belas tahun, yang selalu dijadikan princes oleh keluarga besarnya. Harus menerima pernikahan dengan seorang laki-laki bernama Kenzo yang sudah berumur dua puluh dua tahun.


Mereka berdua menikah karena di jebak oleh seseorang. Kenzo merupakan musuh kakak kembarnya yang bernama Arsyaka Ardian Erlangga.


Lalu bisakah Kenzo dan Arsya berdamai, untuk Salsa?


Siapa yang akan Salsa pilih, kakak tersayang atau suaminya?


Apakah Salsa akan bahagia dengan pernikahannya?


Mungkinkah mereka bisa saling mencintai seperti pernikahan Rian dan Ayla.


Yuk simak kisah cinta princes Erlangga.

__ADS_1



__ADS_2