
Happy reading
Setelah selesai berpakaian dan memasukkan pakaiannya kedalam tas miliknya. Gadis itu berjalan menuju kamar adiknya yang memang sudah siap berpakaian.
"Kak kapan kita ke rumah Kak Dewa?" tanya Louis pada kakaknya.
"Habis ini, kamu udah makan belum?" tanya Dewi pada adiknya.
"Sudah bahkan aku ngantuk karena terlalu kenyang," jawab Louis dengan semangat. Jika ia pindah ke rumah Dewa otomatis ia akan mempunyai teman baru yaitu adik Dewa yang tak lain adalah Naila.
"Yuk turun, mungkin kak Dewa juga sudah selesai makan."
Mereka berdua turun menuju lantai bawah, tempat dimana Dewa sedang sibuk mengupas udang yang tadi dimasak Dewi.
"Kalian udah turun, nih aku sudah kupasin udang buat kalian," ucap Dewa pada kakak beradik itu.
"Kamu pengertian banget sih hmm?"
"Dek mau makan lagi gak?" tanya Dewi pada Louis.
"Masih kenyang sih, tapi mau makan udangnya aja," jawab Louis pada kakaknya.
Dewi duduk di samping Dewa yang masih mengupas udang itu hingga bumbu itu menempel di tangan Dewa.
"Nih udah selesai," ucap Dewa selesai mengupas udang saus padang itu.
"Suapin ya," pinta Dewi yang mulai keluar sisi manjanya. Dewa mengangguk, dan dengan cekatan Dewi mengambil nasi yang ada di rice cooker.
Louis menatap kakaknya malas, dalam pikirnya Dewi sudah besar tapi kenapa masih manja pada Dewa? Minta disuapi segala, padahal Dewi kan bisa makan sendiri.
"Dasar manja," ucap Louis menatap kakaknya yang hanya acuh.
"Jangan ganggu Lou, nanti taringnya keluar," ucap Dewa yang membuat Dewi cemberut. Memangnya dia singa?
"Ish kalian ini bikin mood aku hilang aja sih!"
Dewa yang mendengar itu hanya tersenyum manis kemudian mulai menyuapkan nasi serta udang itu ke mulut Dewi.
"Gak moodnya di pending dulu ya sayang, sekarang kita makan dulu."
"Hmm."
__ADS_1
Dewi mengangguk dan mengambil ponselnya yang ada di tas kecilnya. Ia membuka aplikasi instagram, dan mulai menggeser layar ponsel itu.
"Hpnya nanti dulu sayang, sekarang makan. Biar cepat selesai dan kita juga cepat sampainya di rumah Mama dan Papa. Mereka sudah menelepon aku nih berkali kali, takut kali calon mantunya aku bawa kabur," ucap Dewa dan dituruti oleh Dewi.
Akhirnya makan sore mereka selesai, Dewa cukup puas dengan masakan Dewi yang sangat pas di lidahnya.
***
"Mau mampir mana dulu?" tanya Dewa pada kekasih dan adiknya.
"Mini market sama toko kue, gak enak dong kalau kesana cuma tangan kosong," ucap Dewi.
"Nah kalau yang ke mini market kita beli snack aja buat nanti malam."
Dewi memang memiliki kebiasaan buruk dimana sebelum tidur ia selalu makan cemilan yang memang selalu ada di kamarnya.
"Oke, kalau Louis mau mampir kemana?"
"Gak mampir Lou mau langsung tidur," ucap Louis pada kakak dan calon kakak iparnya.
Akhirnya perjalanan mereka cukup berjalan mulus tak ada macet macetan. Hingga cepat mereka sampai di sebuah rumah orang tua Dewa. Dewa yang sudah sekitar 3 minggu tak pulang ke rumah itu juga sebenarnya rindu dengan rumah besar ini.
"Ayo masuk," ajak Dewa pada kedua orang yang ada disana.
Tok! Tok! Tok!
Ceklek
"Assalamu'alaikum," salam mereka masuk setelah mengetok pintu.
Mama Riska dan Papa Albert yang melihat kedatangan anak anaknya itu langsung berjalan menghampiri anak menantunya. Walau masih calon.
"Anak Mama gimana kabarnya, padahal baru kemarin lusa kita ketemu tapi Mama sudah kangen aja sama kamu," ucap Mama Riska memeluk tubuh Dewi.
"Dewi juga kangen sama Mama, oh ya ini Dewi bawa kue buat Mama semoga suka ya," jawab Dewi memberikan kue yang tadi ia bawa.
"Wah tahu aja kalau Mama lagi pengen makan kue jeruk ini. Terima kasih ya," ucap Mama Riska memeluk tubuh Dewi lagi.
Setelah itu Mama Riska melirik Louis yang sedang melihat sekeliling rumah itu.
"Hay boy, mau ikut Mama gak ke kamar kamu?" tanya Mama Riska pada Louis.
__ADS_1
"Mau Ma," jawab Louis karena mereka memberi tahu agar memanggil mereka sama seperti memanggil orang tuanya sendiri. Jadi Louis cepat akrab dengan orangtua Dewa.
"Dewa ajak Dewi ke kamarnya, jangan ke kamar kamu. Mama gak mau calon mantu Mama kenapa napa," ucap Mama Riska pada kedua anaknya. Sedangkan papa Dewa hanya menggeleng melihat kelakuan istrinya.
"Semoga kamu dan adik kamu betah di rumah ini ya, Nak. Papa juga berharap kamu bisa temani Mama kalau Papa lagi gak di rumah. Dia sering sekali melamun karena Naila juga jarang ada waktu dengan orangtuanya," ucap Papa Albert pada calon mantunya.
"Iya Pa, lagipula di rumah juga sepi gak ada Mama Papa," jawab Dewi tersenyum ramah pada Papa Albert.
"Hmm kalau begitu Papa ke kamar dulu, mau istirahat. Tadi baru pulang kerja langsung di suruh Mama untuk menunggu kamu dan Louis," ucap Papa Albert berlalu menuju kamarnya.
Kini hanya tinggal Dewa dan Dewi yang ada di ruang tamu itu. Dewa dan Dewi hanya bisa terdiam saat ditinggal seperti ini.
"Sayang kamu tidur di kamar aku aja ya," bujuk Dewa pada Dewi.
"Gak bisa ayang, kita itu terlalu dosa untuk terus tidur bareng. Sejak kenal Nafisah aku jadi ngerti arti sebuah kehormatan seorang wanita."
"Apa hubungannya?"
"Nanti kalau kamu kebablasan gimana? Kamu kan tahu aku cuma mau se*s setelah menikah, kalau nanti kita berhubungan saat belum nikah aku gak mau sampai ada anak dalam perutku dulu."
Cetak
"Kamu terlaku jauh mikirnya, aku cuma ajak kamu tidur bareng sayang bukan berhubungan badan. Memang aku laki laki normal tapi aku juga masih punya kesabaran hingga menunggu kita menikah, aku tak mau merusak wanita yang paling aku cintai. Karena itu sama saja aku menyakiti Mama dan Adik aku," jawab Dewa menyentil kening Dewi yang makin lama makin glowing.
"Yuk ke kamar aja kalau begitu," ajak Dewa menggandeng tangan Dewi menuju kamar yang memang sudah disiapkan sebelumnya.
"Kapan mau nikahin aku?" tanya Dewi pada Dewa. Mendengar hal ini cukup membuat Dewa terkejut pasalnya dulu ia mengajak Dewi menikah cepat Dewi dengan tegas menolaknya.
"Bukan aku mau ngajak kamu nikah ya, aku cuma tanya."
Entah kenapa sekarang Dewi jadi salting sendiri saat mengatakan hal ini. Ia berpikir seperti mengajak Dewa menikah saja.
"Kalaupun kamu mau ngajak aku nikah, hayuk aja kok sayang. Aku gak nolak," ucap Dewa menatap Dewi penuh puja.
"Ih kamu mah, aku kan cuma tanya kapan kamu nikahin aku? Biar aku gak nunggu terlalu lama. Nanti kalau kamu nikahi aku 10 tahun lagi. Aku bakal cari yang baru," jawab Dewi dengan senyum santainya mendahului Dewa.
"Dasar gadis itu," gumam Dewa mengikuti Dewi menuju kamar yang memang bersebelahan dengan kamar Dewa.
Bersambung
Hai hai, kembali dengan Tya disini. Hahahaha nih Tya punya rekomendasi novel yang cocok untuk kalian coba. Karya kak Weni Hida, dengan judul Terjerat Pesona Suami Tanteku
__ADS_1