
Happy reading
Stelah selesai, Nafisah dan Tama keluar dari UKS dan berpapasan dengan Dewa dan Dewi. Terlihat keduanya terkejut dengan Danya Dewa dan Dewi tapi dengan cepat Dewi menatap penampilan Nafisah.
"Kok udah bersih lagi bajunya, padahal aku sudah beli baju baru buat kamu," ucap Dewi memperlihatkan seragam baru yang ada di tangannya.
Sedangkan Dewa menatap Tama penuh selidik. Sahabatnya ini semakin lama semakin mencurigakan.
Kenapa bisa Tama berada di UKS hanya berdua dengan gadis bercadar itu. Tidak mungkin gadis baik baik seperti Nafisah membawa Tama ke UKS.
"Kalian ada hubungan?" tanya Dewa menatap Tama dan Nafisah bergantian.
Tama terlihat menoleh kesekitar dan ternyata aman sebelum akhirnya Satya dan Beby masuk terlebih dahulu ke UKS.
"Beby kenapa?" tanya Dewi menatap Satya.
"Biasa cewek, datang bulan dia," jawab Satya menggendong tubuh Beby dan membaringkan di atas brangkar.
Akhirnya mereka semua masuk kembali ke UKS tak terkecuali Tama dan Nafisah. Mungkin ini waktu yang tepat untuk menceritakan tentang statusnya yang sekarang pada sahabat sahabatnya. Karena Tama memang lebih dekat dengan Satya dan Dewa daripada temannya yang lain.
"Sakit Honey," ringis Beby memegang perutnya yang sakit karena hari pertama haid.
"Kamu juga ngeyel kalau dibilangin, kamu sakit tapi tetap mau sekolah. Salah siapa kalau gitu?" tanya Satya mengelus memberikan minyak kayu putih diperut Beby.
"Kamu marahin aku?" tanya Beby dengan tangis yang hampir pecah.
"Astaga Beby, enggak gitu. Aku cuma gak mau kamu tambah sakit," ucap Satya menggenggam tangan Beby. Beby diam entah kenapa ia jadi sensitif seperti ini.
Akhirnya Nafisah yang sedari tadi diam langsung mengambil botol dan mengisinya dengan air hangat yang ada di dispenser.
"Ini buat ngompres perut kamu, in syaa Allah cepat membaik dan sakitnya bisa hilang," ucap Nafisah memberikan botol itu dan diangguki oleh Satya.
"Thanks."
"Gue butuh penjelasan dari lu," ucap Dewa menatap Tama.
__ADS_1
Tama dan Nafisah menatap mereka kemudian Nafisah menunduk. Ia tak mau pernikahan mereka dipublikasikan dulu. Tapi jika seperti ini mereka bisa apa.
"Sebenarnya kita sudah menikah satu Minggu yang lalu, kenali dia Nafisah," Tama menjawab pertanyaan Dewa dengan tegas. Ia tak mau membuat sahabat sahabatnya semakin salah paham dengan kehidupannya.
"What!!"
"Nikah?" tanya Beby dan Dewi kaget mendengar Tama si manusia es setelah Dewa itu sudah menikah.
"Hmm."
Sebenarnya Dewa dan Satya juga kaget mendengar hal ini tapi mereka masih bisa menormalkan raut wajah mereka.
"Kenapa kalian gak undang kita kalau udah nikah? Lu udah gak anggap kita teman?" tanya Satya yang sepertinya sangat kecewa dengan Tama.
Kedua laki laki itu bahkan menatap Tama dengan kecewa. Padahal mereka sudah bersahabat sejak SD. Bahkan mereka bisa dibilang saudara. Tapi karena Tama yang sangat tertutup membuat Satya dan Dewa sedikit susah mengetahui siapa yang dekat dengan Tama.
"Lu hutang penjelasan sama kita Tam."
Tama menatap Nafisah yang hanya diam, ia tak bisa menjawab banyak karena Nafisah juga tak terlalu kenal dengan mereka yang ada disana.
"Nafisah, terima kasih tadi sudah nolongin aku. Makasih sudah melindungi aku dari cewek cewek tadi," ucap Dewi pada Nafisah dengan tulus.
"Iya sama sama, kan memang sebagai manusia harus tolong menolong," ucap Nafisah duduk di kursi yang ada di UKS itu menunggu Beby.
"Oh ya Naf, kenalin aku Beby," ucap Beby mengulurkan tangannya yang langsung di balas oleh Nafisah.
"Aku Dewi, salam kenal ya."
"Salam kenal Beby, Dewi. Aku Nafisah, baru aja mau pindah ke sekolah ini, tadi itu aku mau ke ruangan kepala sekolah tapi malah lihat kamu di bully sama anak anak di dalam kelas," jawab Nafisah yang sudah bisa bicara banyak pada mereka.
"Jadi kamu belum ke ruangan kepala sekolah dong?" tanya Dewi pada Nafisah. Ia merasa bersalah karena melindunginya, Nafisah tidak jadi ke ruang kepala sekolah.
"Belum tapi nanti aku bakal ke ruang kepala sekolah kok. Kamu tenang aja, gak usah ngerasa bersalah gitu karena memang kamu gak salah."
"Habis ini aku anterin kamu ke ruang kepala sekolah, nanti aku akan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada kepala sekolah jika dia menyulitkanmu."
__ADS_1
"Terima kasih ya, oh ya perut kamu udah sembuh apa belum nih?" tanya Nafisah pada Beby yang menangguk pelan.
Ia tak punya banyak tenaga untuk berbicara banyak. Bahkan sedari tadi Beby memutuskan untuk diam karena rasa malasnya. Karena ia juga sudah kenalan dengan gadis baru ini.
"Oh ya Beb, nanti aku kesini lagi ya. Mau anter Nafisah ke ruang kepala sekolah," ucap Dewi pada Beby yang mengangguk.
"Gue juga mau bobok," ucap Beby dengan santainya memejamkan matanya.
"Ya sudah, gue tutup pintunya nanti gue kesini lagi," ucap Dewi menggandeng tangan Nafisah keluar dari UKS.
Dewi dan Nafisah berjalan meninggalkan Beby yang sudah OTW tidur karena perutnya yang sakit itu.
"Gak apa apa kamu bolos kelas karena mau anterin aku?" tanya Nafisah pada Dewi. Gadis cantik yang tadi ia tolong itu kini mulai dekat dengannya.
"Gak apa apa kali, gue juga males ke kelas karena tadi."
"Maaf sebelumnya, apa memang benar kamu ciuman dengan Dewa pacar kamu? Kalian belum menikah kan?"
"Hmm, gue juga udah pernah tidur bareng. Karena saat gue sakit dia yang jaga gue, tapi hanya sekedar tidur kok bukan yang lain," jawab Dewi dengan jujur.
"Gue sama Dewa udah dijodohin sejak berberapa bulan yang lalu. Bahkan Lia langsung tunangan, walau gue juga tahu apa yang sudah gue dan Dewa lakukan itu salah."
"Dewi, bukannya aku menggurui kamu ya. Tapi apa yang kamu lakukan itu dosa. Kamu sudah berzina, dan hal itu sangat di benci oleh Allah," ucap Nafisah menunduk tak enak.
Dewi menghentikan langkahnya, kemudian menatap Nafisah. Bukannya marah Dewi malah bingung dengan ucapan Nafisah.
"Zina gimana? Gue sama dia itu cuma ciuman dan pelukan aja gak lebih. Kita gak pernah se*s bebas walau kita itu tunangan," ucap Dewi menatap Nafisah.
"Zina itu bukan hanya berhubungan badan, tapi zina itu juga ada zina mata, zina tangan, zina bibir dan lainnya. Kamu berciuman dan berpelukan itu juga zina jika kamu belum menikah. Bukannya aku menggurui atau apa, tapi aku cuma gak mau dari ciuman itu menjadi hubungan badan saat kalian belum menikah."
"Wanita itu seperti gelas kaca Dewi, dia sangat mudah pecah sekalinya pecah ia tak akan bisa kembali seperti semula. Apalagi jika kamu hamil, anak yang dalam kandungan kamu itu tidak akan mendapat nasab dari ayah kandungnya. Apalagi jika perempuan, ayah kandungnya tidak akan bisa menjadi wali nikahnya. Memang kamu mau?"
Seketika Dewi seperti ditampar oleh ucapan Nafisah. Ia ingin bertanya lebih tapi ia memutuskan untuk nanti lagi bertanya. Karena Nafisah harus ke ruang kepala sekolah.
Bersambung
__ADS_1