
Happy reading
"Beby anak kamu minta susu," pekik Satya menggendong Rahma yang selalu merengek padanya.
Sejak pertemuannya dulu dengan Satya dan Beby, Rahma selalu menempel pada Beby dan Satya.
Bahkan saat Mama dan Papa Beby ingin pamit pulang dulu, Rahma langsung bangun dan langsung menangis. Dan anehnya saat Beby yang menggendong Rahma, adiknya itu langsung terdiam dengan patuh seraya mengelus jempolnya.
Hal itu yang membuat Mama dan Papa memutuskan untuk meminta bantuan Beby jika adiknya rewel.
Dengan senang hati Beby menerimanya, tapi tidak dengan Satya yang menentang keras apa yang diucapkan Mama dan Papa untungnya Beby memberi pengertian Satya.
Bahkan orangtua Beby juga menyarankan agar Beby tinggal di rumah utama tapi tetap saja Beby menolak dengan alasan sudah nyaman tinggal sendiri.
"Astaga Honey. Dia adik aku bukan anak aku," ucapnya dengan kesal. Bagaimana bisa adiknya menjadi anaknya.
"Ma ma ma ma," celoteh Rahma dengan senyum manisnya giginya yang baru tumbuh itu membuat Rahma menjadi lucu.
"Tuh, Rahma aja mau panggil kamu Mama."
Entah kenapa sekarang Satya dengan Rahma jadi klop seperti ini. Padahal dulu Satya tak menyukai Rahma karena baginya mengganggu.
Tapi lihatlah sekarang, ini sudah 5 hari Mama menitipkan Rahma saat mereka pulang sekolah.
"Rahma sayang, adik kakak yang paling cantik. Ini kakak bukan Mama," ucap Beby mengambil alih Rahma dari gendongan Satya kemudian memberikan susu yang ia buat tadi pada adiknya.
Kenapa Beby mengatakan Rahma yang paling cantik karena adiknya yang satu sudah tiada 1 tahun yang lalu. Mama dan Papa menyembunyikan kematian adiknya itu darinya hingga membuat ia marah pada Mama dan Papa.
"Ma ma."
"Terserah kamu aja deh dek. Yang penting kamu gak nangis," ucap Beby dengan senyum manisnya.
Mata mereka saling bertemu kemudian tersenyum, tangan Rahma memegang dada Beby yang padat dan pas untuk menyusui.
"Eh ehh tangannya Rahma kok nakal. Ini punya kak Satya kamu gak boleh ambil," ucap Satya menepis pelan tangan Rahma yang memegang aset berharga milik Beby.
"Pa uuu maaa."
Rahma melepas dot yang ada di mulutnya kemudian ia merengek. Anak kecil kalau keinginannya tak terpenuhi pasti akan menangis.
__ADS_1
"Cup cup sayang, Kak Satya cuma bercanda kok. Kamu boleh mainin dada kakak ya tapi jangan nangis," jawab Beby mendudukkan dirinya di sofa dan diikuti oleh Satya.
"Beb..." Protes Satya yang membuat Beby menggeleng.
"Gak apa apa buat Rahma tenang, nanti kalau nangis kita gak bisa tenangin dia," jawabnya.
Beby memberikan kembali dot susu itu pada Rahma tapi tangan kecil adiknya itu malah membuka kancing bajunya yang memang sudah terbuka dua kancing karena ulah Satya tadi.
"Mi mi mi," reaksi lucu Rahma membuat keduanya gemas. Mata gadis kecil itu membuat dengan bibir yang di cemberutkan.
"Sepertinya Rahma mengingkan susumu sayang," ucap Satya memperhatikan gerak gerik adik dari kekasihnya itu.
"Kan gak ada ASI nya."
"Ya gak apa apa buat dia cepat tidur. Aku juga mau nyu*u Beb," jawab Satya yang membuat Beby membuka kancing bajunya kemudian membiarkan apa yang dilakukan adiknya.
Dan benar apa kata Satya, Rahma mengingkan dadanya untuk dijadikan asupan minum untuk Rahma. Padahal tidak keluar apapun dari dadanya itu.
Tapi lihatlah adiknya sangat lahap menyusu pada dirinya. Tangan Beby mengelus rambut halus Rahma yang mulai menutup matanya. Apakah adiknya akan kenyang jika seperti ini saja.
Setelah Rahma tidur, Beby menggendong tubuh ringan adiknya menuju kamar yang ada di apartemen mereka. Satya yang notabene pemilik apartemen itu mengikuti sang kekasih.
Dengan pelan Beby meletakkan adiknya di kasur empuk itu dan memberikan guling disisi kanan dan kirinya.
Cups
"Aku gak di sun?" tanya Satya pada Beby.
"Mau di sun juga?" tanya Beby dengan senyum menggodanya. Satya langsung mengangguk, siapa sih laki laki yang tidak mau di cium oleh kekasihnya.
Cups
Satu kecupan di pipi Satya membuat, laki laki itu langsung menindih kekasihnya.
"Jangan gini aku gak nyaman," ucap Beby yang saat ini posisinya berbaring.
Beby memposisikan dirinya bersandar di headboard ranjang itu kemudian Satya memposisikan dirinya agar lebih mudah menjadi bayi Beby untuk saat ini.
"Dasar bayi gede, kapan sih kamu tobat? Kita belum nikah loh," ucap Beby mengelus rambut kekasihnya.
__ADS_1
"Aku gak akan tobat kalau sama kamu," jawab Satya kembali memasukkan dada itu.
"Ashhh pelan pelan dong."
"Hmm."
"Udah 4 hari Dewa belum bangun, aku kasihan sama Dewi dan orangtua Dewa yang sedih melihat keadaan Dewa," ujar Beby mengelus pipi Kekasihnya. Sedangkan Satya menatap mata Beby yang sangat indah.
"Emmhh."
Plup
"Aku juga kasihan dengan Dewi tapi mau bagaimana lagi. Dewa sepertinya masih enggan membuka matanya, aku juga tak tahu bagaimana membuat Dewa bangun dari komanya," jawab Satya mengelus da*a si*tal dan padat itu kemudian merematnya.
"Nanti malam kita ke rumah sakit ya. Aku mau lihat Dewa dan Dewi, kita udah 2 hari gak ke rumah sakit lagi," ucap Beby dengan senyum manis.
"Iya."
Kemudian Satya kembali menyusu dengan lahapnya. Kapan sih Satya tidak menyusu jika seperti ini, apalagi melihat Beby tadi memperlihatkan dadanya yang indah.
Beby menatap dadanya yang sedang di em*t oleh Satya. Ia menatapnya dengan heran, bisa bisanya dadanya sebesar itu. Ini semua gara gara Satya yang selalu menggempurnya. Apalagi tangan kekasihnya itu tak pernah diam saat tidur, yah selama ini mereka hampir tiap hari tidur bersama. Dan pegang pegang itu sudah menjadi hal biasa untuk mereka.
Satya mengelus dada Beby dengan lembut, ia cukup bangga dengan hasil yang ia buat di dada Beby.
Dulu saat pertama menyentuh dada Beby, milik kekasihnya tak sebesar ini tapi sekarang lihatlah betapa menggodanya dada kekasihnya.
Sangat membuat Satya senang dan puas dengan dada itu.
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk ↓↓↓
Belenggu Pernikahan Semu
Author: teh ijo
~Pernikahan tanpa cinta, tak selamanya berakhir dengan bahagia~
Zahra terpaksa harus menikah dengan Alzam, pria asing pilihan ibunya. Pernikahan tanpa cinta membuat Zahra harus menerima perihnya kenyataan. Terlebih saat dia mengetahui jika Alzam telah memiliki seorang tunangan.
__ADS_1
Selama pernikahan Alzam tak pernah sedikitpun menganggap Zahra sebagai seorang istri meskipun mereka berada dalam satu ranjang yang sama. Bahkan Zahra harus berlapang dada ketika Alzam memutuskan untuk menikahi Aira. Mampukah Zahra mempertahankan rumah tangganya?