Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Vino Menyesal


__ADS_3

Happy reading


Dewi yang saat ini sedang berada di kamarnya itu hanya merenung. Kenapa ia jadi lemas seperti ini, setelah Dewa dinyatakan amnesia.


"Kenapa kamu melupakan aku sih, aku gak mau gini terus. Ingin rasanya aku memakimu saat kamu mengatakan wanita lain."


Dewi yang sudah lelah dengan apa yang ia pikirkan selama ini memutuskan untuk mengajak adiknya keluar hanya untuk jalan jalan saja.


***


Sedangkan disisi lain, Vino yang sedang asik menciumi perut Shasa yang mulai terlihat sedikit menonjol itu tampak nyaman dengan usapan tangan Shasa.


Perut Shasa terekspos bebas karena Vino sudah melepaskan baju yang dipakai Shasa sedari tadi.


"Gimana keadaan Dewa, yank?" tanya Vino pada Shasa.


Bukan tanpa sebab Vino menanyakan hal ini, Shasa adalah salah satu teman Dewa. Pasti tahu bagaimana keadaan Dewa saat ini.


"Dewa amnesia, Dewa gak ingat siapa Dewi dan juga aku yang sebenarnya juga temannya," jawab Shasa melepaskan bra yang ia pakai.


Shasa memang tak suka jika malah hari memakai bra yang membuat d*da sintalnya susah bernafas.


"Kamu berteman dengan dia karena kamu juga berteman dengan pacar sahabat Dewa."


"Yang penting aku gak munafik."


Vino mengangguk, kemudian menatap wajah Shasa otomatis melihat da*a yang di tutupi Shasa.


"Besok kita jenguk dia ya. Aku juga mau jujur pada mereka soal hubungan kita. Aku gak mau semakin salah paham pada mereka," ujar Shasa dan dianggukkan oleh Vino.


Plak


Suara tangan Shasa yang menggeplak tangan Vino yang sudah berada di dadanya.


"Nakal banget, kamu masih dihukum ya dua minggu gak boleh nyentuh aku," ujar Shasa dengan nada tegasnya.

__ADS_1


Pasalnya 5 hari yang lalu, Shasa memergoki Vino sedang jalan dengan seorang perempuan yang tak lain adalah mantannya 6 tahun yang lalu. Wanita mana yang tak sakit jika pacarnya jalan dengan cewek yang notabene adalah mantan.


"Sayang kan aku udah jelasin kalau kemarin itu gak sengaja," ucap Vino dengan melas. Pasalnya Shasa tak ingin disentuh dibagian sensitif.


"Tetap aja kamu bohong sama aku. Aku gak suka yang namanya di bohongi tapi kamu malah asik jalan sama cewek lain disaat aku lagi ngidam."


Deg


Rasa bersalah itu meruak dalam hati Vino, bulan sengaja ia bertemu dengan mantannya yang sudah 6 tahun ini tak lagi ia temui. Ia hanya menemani jalan saja, ia pikir hal ini tak akan ketahuan Shasa. Tapi apa, Shasa melihat dirinya dan mantan disebuah restoran dan ia juga baru tahu jika Shasa saat itu sedang ngidam.


"Maaf sayang. Terus ngidam kamu gimana?" tanya Vino dengan bersalah.


"Terpenuhi, untung aja ada Alex yang siap buat aku mintain tolong. Andai aja anak ini tahu kalau papanya suka bohong mungkin dia gak akan mengakui kamu sebagai ayahnya," ujar Shasa bagai belati yang menusuk jantung Vino. Untung tak terlihat jika terlihat saja mungkin sudah bersimbah darah paha Shasa.


Tapi Vino juga tak suka nama laki laki lain disebut oleh kekasihnya ini.


"Jangan menyebut nama laki laki lain, aku tak suka!"


"Lah memang kenyataannya begitu. Bukan kamu yang memenuhi ngidamku saat itu. Padahal aku sudah menelepon kamu berkali lagi eh ternyata lagi asik sama mantan!!"


Sebenarnya posisi mereka masih sama Vino masih berada di paha Shasa tapi tangannya tak bisa memegang dada itu.


"Sudahlah Sha. Jangan bahas ini terus, aku udah minta maaf dan jelasin semuanya pada kamu kan. Aku gak akan mengulanginya untuk kedua kalinya," ucap Vino yang tak bisa seperti ini terus.


"Kamu tahukan hati wanita itu gak gampang sembuhnya. Aku mungkin bisa menerima penjelasanmu kemarin tapi aku tak bisa memaafkan pembohong seperti dirimu itu. Jika saja anak ini tidak ada mungkin aku sudah pergi dari hidupmu Vino. Aku bisa mencari kerja lagi tanpa harus ada dirimu," jawab Shasa yang membuat Vino takut jika Shasa pergi dari hidupnya lagi.


Ia tak mau kehilangan Shasa untuk kedua kalinya, hah kedua kalinya? Yah dulu Shasa sempat pergi dari hidup Vino tapi itu tak bertahan lama. Baru satu bulan saja Vino sudah seperti orang stress, kehidupannya tak terurus lagi seperti dulu.


"Anak ini ada juga karena kesalahan kamu yang tak pernah memakai pengaman saat berhubungan dulu."


"Kamu menyesal?" tanya Vino dengan nada lirih.


"Menyesal? Hah kenapa aku harus menyesal? Anak ini adalah keluargaku yang masih ada. Aku sudah tak punya siapa siapa lagi selain anak ini. Sedangkan kamu? Kamu masih memiliki orangtua yang lengkap dan juga masih memiliki nenek dan kakek sedangkan aku?"


"Tanpa aku jelaskan pun kamu pasti sudah tahu."

__ADS_1


"Jangan bilang gitu, kamu masih punya aku. Aku juga keluarga kamu sayang. Aku adalah ayah anak yang kamu kandung. Kamu jangan merasa hanya berdua dengan anak kita," ujar Vino memeluk tubuh Shasa.


"Kadang aku lelah memberi tahu kamu mana yang baik dan mana yang tidak. Bahkan aku selalu menjadi yang terbaik, tapi kenapa kamu seakan menganggap aku hanya pemuas naf*umu saja? Apa aku setidak berguna itu untuk menjadi pacarmu?" tanya Shasa yang makin membuat Vino sakit.


"Enggak, kamu bukan pemuas naf*uku sayang. Kamu pacarku, calon istriku, dan juga ibu dari anakku. Aku gak mau kamu pergi jangan lelah dengan aku," ujar Vino yang mulai menegakkan tubuhnya kemudian memeluk tubuh Shasa dengan erat.


"Jangan pergi aku gak mau."


Shasa yang merasa pundaknya basah itu langsung paham jika Vino saat ini menangis. Sebabnya ia tak serius mengatakan hal ini. Ia hanya ingin Vino sadar atas apa yang sudah ia lakukan hingga membuat hati Shasa sakit.


"Aku gak mau ayah anakku cengeng, kamu bahkan seperti anak umur 5 tahun," ujar Shasa melepaskan pelukannya tapi Vino malah menahannya agar tetap seperti ini.


Tubuh atas mereka menempel karena keduanya memang sudah tak memakai baju.


"Maafin aku ya, aku janji gak akan mengulanginya lagi. Kamu jangan bilang seperti itu lagi. Aku gak mau," ucap Vino dan dianggukkan oleh Shasa.


Akhirnya di malam ini Shasa dan Vino resmi berbaikan bahkan Shasa sudah tak melarang Vino untuk menyentuhnya lagi.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk....


Nama pena: AdindaRa


Judul: Kurebut suami kakakku


Ecca sangat terkejut saat mendengar kabar pernikahan kakak kandungnya, Nuna dengan seorang lelaki yang sudah lama ia cintai, Belva Quiero.


Terlebih saat kakaknya mengandung dan memaksanya untuk ikut tinggal bersamanya di rumah milik suaminya dengan alasan Nuna ngidam masakan buatan Ecca.


Penolakan Ecca untuk tinggal bersama kakaknya sama sekali tidak diindahkan oleh orang tuanya sendiri dan bahkan mereka sangat setuju jika Ecca tinggal bersama Nuna dan membantunya di masa kehamilannya.


"Semua sudah gila! Aku tidak mungkin melebur rasa cintaku pada Mas Belva jika seperti ini keadaannya. Jangan salahkan aku jika nantinya aku bertindak di luar batasku!" batin Ecca menahan rasa geram.


__ADS_1


__ADS_2