
Happy reading
Dewi yang sudah sampai kamar itu langsung duduk di meja riasnya. Ia menatap pantulan wajahnya di cermin. Sungguh-sungguh memprihatinkan, matanya menghitam karena banyak menangis dan juga bergadang. Bibirnya pucat, tak sehat lagi seperti dulu.
Padahal ini masih 4 hari ia tak memakai skincare, Dewi tersenyum menatap dirinya sendiri.
"Akhirnya Dewa bangun juga. Ya Allah terima kasih atas dzatmu," gumamnya.
Dewi mulai memakai rangkaian skincare miliknya yang harganya tak main main. Dewi bahkan rela tak jajan seminggu hanya untuk membeli skincare malam saja. Sedangkan pagi hari ia selalu menggunakan cream saja.
"Ohh mataku yang cantik harus menghitam seperti ini," ucap Dewi mengusap matanya sendiri.
Dewi harus menghilangkan mata pandannya. Ia sadar mata pandannya ini muncul karena ia kurang tidur dan sering menangis akan kesembuhan dan bangunnya Dewa.
"Oke Dewi, besok pagi kamu sudah harus fresh karena mau ketemu Ayang. Astaga aku gak sabar dengar suara ngebasnya yang hampir mirip dengan idol favoritku," ucapnya mengelus pipinya yang sudah lembab karena skincare.
Akhirnya setelah selesai dengan ritualnya, Dewi berjalan menuju ranjang. Dengan masker yang ada di wajahnya.
Saat melewati foto Dewa dan Dewi, perempuan itu berhenti dan menatap foto itu dengan senyum.
"Akhirnya kamu bangun, gak sabar mau ketemu kamu. Semoga kamu gak apa apa," ucap Dewi dengan senyum manisnya. Kemudian mengecupnya singkat.
Akhirnya Dewi berbaring di kasur itu dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Ia tak sabar menunggu hari esok.
"Ayolah kamu bisa tidur, jangan gara gara Dewa bangun kamu gak tidur lagi," ucap Dewi memejamkan mata hingga akhirnya ia tertidur dengan nyenyak.
***
Sedangkan di rumah sakit keluarga bahagia dengan sadarnya Dewa. Mereka sedikit terkejut saat tadi Dewa menanyakan dimana Cleo. Cleo sudah pergi satu tahun yang lalu hingga membuat Dewa diam saja.
Tapi sekarang Dewa sudah tertidur dengan pulas di ranjang itu. Kepalanya yang masih diperban membuat Dewa tak boleh banyak menggerakkan kepalanya.
"Mama juga harus tidur hmmm, Papa gak mau kamu sama anak kita kenapa napa," ucap Papa Albert mengelus perut istrinya.
"Aku mau nunggu Dewa aja, Pah. Mama gak mau Dewa pergi lagi, karena yang dua ingat Cleo," jawab Mama Riska mengelus perutnya juga seraya memandang anak bungsunya yang tak sadarkan diri.
"Anak kamu itu belum bisa jalan jalan, Mama. Dia masih sakit dan Papa gak mau kamu ikut sakit juga," ujar Papa yang membuat Mama Riska mengangguk.
Mereka berjalan menuju sebuah ruangan yang digunakan Mama Riska dan Papa Albert tidur. Sedangkan Naila yang ikut menjaga kakaknya itu sudah pulang tadi karena Mama dan Papa tak mau anak perempuannya itu sakit juga karena tidur di rumah sakit.
__ADS_1
Ceklek
Pintu itu di tutup dari dalam, Papa dan Mama mulai berjalan menuju ranjang yang cukup untuk tiga orang itu.
"Mama baik dulu aja, Papa mau ke kamar mandi," ucap Papa dan dianggukkan oleh Mama Riska.
"Heem."
Setelah Papa berlalu menuju kamar mandi, Mama Riska masuk ke dalam selimut itu karena hawa ruangan itu juga sejuk karena AC juga dinyalakan.
"Papa masih lama apa enggak?" teriak Mama Riska yang tak sabar ingin di peluk suaminya.
Papa Albert yang sudah selesai dengan hajatnya itu langsung keluar dari kamar mandi dan ikut naik ke atas kasur bersama istrinya.
"Kenapa sih Mah? Mau dipeluk hmm?" tanya Papa Albert menarik selimut yang dipakai sang istri.
"Peluk Papa. Dingin nih nanti anak kamu juga kedinginan," jawab Mama Riska yang kumt sifat manja tapi gengsinya.
"Oh anak Papa lagi aku dipeluk sama Papa?" tanya Papa Albert yang sudah tahu tingkah tingkah sang istri jika sudah seperti ini.
Tangan kekar itu mulai menarik pinggang sang istri agar memeluk dadanya. Sedangkan Mama Riska meletakkan kepalanya di atas dada sang suami kemudian memeluknya.
"Apa Mama?" tanya Papa Albert mengelus punggung sang istri.
Selimut berwarna biru itu sudah menyelimuti tubuh mereka hingga hanya terlihat kepala keduanya.
Sedangkan laki Papa Albert juga mengunci kaki Mama Riska agar lebih hangat lagi.
"Aku masih ingat sama Dewa, Pah. Bagaimana jika Dewa benar benar amnesia?" tanya Mama Riska yang takut dengan segala resiko yang ada.
"Sebenarnya Papa juga berpikiran demikian, Ma. Apalagi tadi Dewa menanyakan hal yang sangat mustahil untuk diingat Dewa. Cleo adalah masa lalu Dewa," jawab Papa Albert menatap langit langit ruangan itu yang hanya mendapat cahaya dari lampu tidur disisi kanan dan kiri saja.
"Tuh, Papa aja berpikiran yang sama kayak Mama. Kalau hal itu sampai terjadi bagiamana dengan Dewi Pah?"
"Mama jangan bicara yang enggak enggak, anak kita gak akan amnesia. Sudah jangan memikirkan hal yang tidak tidak lagi," jawab Papa Albert.
"Dewi gak akan kenapa napa, Dewa juga baik baik aja. Kamu jangan doa yang buruk," ucap Papa Albert dan dianggukkan oleh Mama Riska.
Mama Riska mencoba untuk ngusir pikiran buruk dari pikirannya. Tapi seketika ia bleng saat buyung suaminya itu sepertinya tera**sang dengan apa yang ia lakukan.
__ADS_1
"Papa mesummm," ucap Mama Riska menyembunyikan wajah di dada suaminya.
"Wajar kalau Papa mesum, kan sama istri sendiri," jawab Papa Albert yang seakan tidak ada apa apa.
"Dasar anaknya Mama Carol, dari dulu gak berubah. Jangan bilang kalau Mama gak ada kamu lakuin sendiri di kantor?" tanya Mama penuh selidik.
"Kamu suudzon aja sama suami, Papa gak pernah gitu sayang. Cuma Mama yang bisa buyung papa ini bangun dari hibernasinya," jawab Papa Albert menggoda istrinya.
"Masa iya, wong papa disentuh gini aja bangun," ujar Mama mengelus dada bidang suaminya seraya menarik narik bulu bulu disana.
"Ashh Mama."
"Jangan nakal nanti Papa terkam gimana?"
Mama Riska menggeleng, jika suaminya meminta haknya saat ini ia masih lelah karena menjaga Dewa. Tapi jika tidak diberi Papa akan semakin menjadi.
"Yang atas aja, kalau yang bawah belum boleh."
Mama Riska tahu saja apa yang Papa Albert mau. Dengan semangat Papa memposisikan dirinya sebagai seorang bayi. Dan kalian tahu setelahnya bagaimana.
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk ↓↓↓
Judul Karya; Pewaris Untuk Musuh
Author: As Cempreng
Namanya Kamila Prameswati gadis berusia 19 tahun yang dilelang di dunia bawah.
Berbekal sebuah informasi anonim dia berpikir jika pria yang telah membeli dirinya adalah pembunuh kedua orangtuanya.
Dalam misi pembalasan dendam, justru kehamilan mengacaukan rencananya. Dia mulai terjebak dengan kelembutan sang musuh yang membuatnya jatuh hati.
Tidak sampai di situ, Kamila terjebak tidak bisa melepaskan diri dari jeratan cinta Mafia, demi menemukan sang pembunuh sebenarnya dan berakhir pada sebuah perjanjian yang memisahkan Kamila dengan cintanya.
Kamila tidak tahu bahwa musuh dari musuhnya ada adalah petarung hebat di dunia Mafia dengan nama Edrik yang adalah kakak tirinya.
Di tengah perjalanannya Ia terjebak dalam dua cinta Mafia.
__ADS_1
Jadi kehidupan mana yang akan dipilih Kamila?