Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Ngidam Sup Ayam Buatan Oma Carol


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa hari sudah pagi, Dewa dan Dewi sudah siap dengan pakaian yang mereka gunakan untuk pergi ke puncak bersama teman temannya.


"Ayang masih marah soal kemarin?" tanya Dewi menarik tangan Dewa yang sedang memakai jam tangan pemberiannya dulu sat ulang tahun.


"Pikir aja sendiri, udah berapa kali kamu nonton video seperti itu?"


"Baru satu kali kok, itupun gak sampai selesai," jawab Dewi jujur. Apa untungnya juga ia bohong karena Dewa pasti juga akan marah.


"Gak percaya, pasti kamu sudah lihat sampai selesai kan?" tanya Dewa menatap tajam Dewi yang hanya menggeleng karena memang ia belum melihat semua itu.


"Kamu tahu gak, melihat video seperti itu membuat daya otak kamu lemah. Sering mengantuk dan aku gak mau sampai kamu seperti itu, cukup aku saja yang nakal jangan kamu," ucap Dewa dengan suara datarnya.


Rasa marah itu hanya sedikit, daripada rasa cinta dan kasih sayangnya untuk Dewi. Mana mungkin ia marah dengan tak jelas jika Dewi tidak mempunyai salah.


"Maaf ya Ayang. Aku janji gak akan lihat video gitu lagi kalau gak ada kamu. Janji ya jangan marah aku gak akan lihat lagi," ucap Dewi mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Dewa yang melihat tingkah menggemaskan Dewi itu langsung tersenyum dan mengelus pucuk kepalanya lembut.


"Aku pegang janji kamu, kamu gak boleh lihat video kayak gitu kalau kamu belum menikah," ucap Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.


"Udah selesai kan, ayo kita ke bawah. Aku mau taruh tas kita di mobil," ucap Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.


Mereka turun dari kamar menuju lantai bawah ternyata sudah banyak teman temannya yang ikut ke puncak hari ini. Termasuk juga Nafisah dan juga berberapa perempuan lainnya.


Ada sekitar 10 orang belum termasuk Dewi dan Dewa. Mungkin yang akan ke puncak nanti ada 12 orang. Pasti akan ramai jika seperti ini.


Akhirnya Dewa dan Dewi serta teman temannya pamit pada Mama Riska dan Papa Albert. Dan Mama serta Papa Albert hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk perjalanan mereka.


Mereka masuk mobil dan motor masing masing, termasuk Dewa dan Dewi. Ada yang berboncengan dan ada yang sendiri. Yang membawa mobil ada Dewa, Satya, Tama. Karena mereka tak akan membiarkan kekasihnya kedinginan.


Setelah semua anak itu menghilang dari pandangan Mama Riska dan Papa Albert.


"Yah tinggal kita berdua," ucap Mama Riska masuk ke dalam rumah. Tadinya ramai sekarang jadi sepi.


Louis dan Naila juga masih sekolah. Karena bukan hari libur, beda lagi dengan Dewa dan Dewi yang sudah SMA.


Papa Albert yang mendengar itu hanya menggeleng. Selama istrinya hamil yang ke tiga ini ia masih mengambil cutinya selama dua bulan. Walau jika ada yang mendesak ia akan masuk kantor lagi.

__ADS_1


"Terus maunya Mama kemana?" tanya Papa Albert mengambil satu buah jeruk yang ada di meja itu dan mengupasnya. Sepertinya ia yang mengalami separuh ngidamnya istrinya.


Sejak hamil Dewa dan Naila dulu, yang ngidam bukan cuma Mama Riska tapi juga Papa Albert. Bahkan dulu yang menjadi beban keduanya adalah Mama dan Papa mertua mereka.


Tapi sekarang Mama dan Papa mereka menetap di rumah mereka masing masing. Orangtua Mama Riska ada di Bogor sedangkan orangtua Papa Albert ada di mansion yang ada di Jakarta yang letaknya tak jauh dari rumah mereka sekarang.


"Gak tahu, aku lagi pengen keluar tapi gak tahu kemana," jawab Mama Riska memeluk tubuh suaminya. Papa Albert yang sedang memakan jeruk itu langsung menyuapkan buah jeruk itu ke mulut Mama Riska.


"Manis."


Cups.


"Bibir kamu juga manis," jawab Papa Albert mengecup bibir Mama Riska yang lembut itu. Bahkan Papa Albert sedikit melu*at bibir manis itu.


"Ih papa, mes*m banget masih pagi juga udah cium cium aja," ucapnya mengambil buah jeruk yang ada di tangan suaminya kemudian memakannya.


"Vitamin Mama."


Kadang mereka juga bingung harus apa mereka di rumah ini jika hanya berdua.


"Ke rumah Mama Carol aja gimana? Kangen sama Mama juga pingin makan sup buatan Mama juga," ucap Mama Riska tiba tiba.


Membayangkan kuah sup yang masing mengepul itu membuat air liur Papa Albert jatuh.


"Ayo Ma. Kita ke rumah Mama, mumpung anak anak lagi di luar semua. Habis dari rumah Mama Carol kita jemput anak anak," ajak Papa Albert yang begitu semangat untuk menjemput sup ayam buatan ibunya.


Akhirnya mereka berdua masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas dan juga mengambil kunci mobil yang memang ada di dalam kamar mereka.


Setelah itu mereka berdua berjalan menuju garasi mobil dan mengambil mobil kesayangan Papa Albert yang merupakan hadiah anniversary dari istrinya berberapa tahun lalu.


"Papa makin gagah kalau kamu pakai baju santai gini, apalagi ketat dan sangat memperlihatkan otot otot tubuh kamu."


"Tapi aku gak suka kalau kamu pamer ke orang orang tentang tubuh kamu ini."


"Tenang aja aku bawa kemeja kok yang nanti buat nutupi tubuh aku," jawab Papa Albert menujuk kemeja polos berwarna hitam itu.


"Terus ini ceritanya kamu lagi goda aku?" tanya Mama Riska menatap luar.


"Iya sengaja, biar kamu lebih tergoda dengan tubuh suamimu ini. Daripada tubuh laki laki lain," ujar Papa Albert menarik tangan istrinya untuk menyentuh dada dan perutnya.

__ADS_1


"Keras Papa, padahal Papa jarang olah raga," ucap Mama Riska mencubit perut kotak kotak suaminya.


"Emang setiap malam itu kita ngapain sayang?" tanya Papa Albert menggoda sang istri.


"Ih dasar otak sel******** kamu tuh."


"Wajar Ma, karena suamimu itu lelaki normal."


"Ya aku tahu kamu normal, tapi kenapa bisa sekeras ini sih?" tanya Mama Riska.


Papa Albert tersenyum senang karena secara tidak langsung Mama Riska mengakui bahwa tubuh Papa Albert sangat bagus.


"Mama ingat saat Mama suruh Papa buat nemenin kamu perawatan? Itu papa ngegym dulu di lantai atas. Daripada nunggu kamu bosen," jawab Papa Albert jujur.


"Lah pantes pas Mama selesai treatment, Papa gak ada."


Tak terasa mereka sudah sampai di depan rumah besar itu. Mama dan Papa keluar dari mobil dan membawa oleh oleh untuk mama mertuanya.


Oma Carol yang sedang bermain dengan cucunya itu kaget karena tak bisanya anak dan mantunya kesini jika tidak dipaksa.


"Oma Carol," ucap Mama Riska mencium punggung tangan mertuanya yang sudah ia anggap sebagai ibunya sendiri.


"Kenapa baru kesini? Kalian gak kangen sama Oma dan Opa?"


Ya sekarang memakai Oma dan Opa karena sudah memiliki banyak cucu.


"Maaf Ma, Mas Albert tu gak ada waktu terus."


"Kenapa jadi Mas sih sayang? Ini nih ma, Riska lagi hamil anak ketiga kami. Orangnya jadi Mageran dan juga sedikit manja."


Oma Carol yang mendengar itu langsung menatap menantunya dengan bahagia Oma Carol memeluk tubuh Mama Riska.


"Astaga jadi kamu hamil lagi sayang?"


"Hehehe iya ma, dan maaf tiba tiba anak Riska pingin sup ayam buatan Oma."


Oma mengangguk dan mengerti jika itu adalah ngidamnya Riska tanpa tahu jika Papa Albert juga menginginkannya.


Akhirnya Oma Riska membuatkan sup untuk anak dan menantunya. Sebagai ganti Mama Riska yang menjaga keponakannya yang baru berusia 3 tahun itu.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2