
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai siang, mereka mencari tempat masing masing untuk hiburan. Tapi tidak dengan Beby dan Satya yang hari ini akan ke makam. Karena tujuan utama Beby ke Bandung adalah untuk berziarah ke makam nenek dan Kekeknya.
"Beby sudah selesai belum?" tanya Satya pada kekasihnya yang sedang berdandan di depan meja riasnya.
"Belum honey, masih pake liptin," jawab Beby.
"Kan tadi udah sayang masa pake lagi?" tanya Satya menatap Beby yang sedang mengombre lipstik miliknya.
"Tadi itu lipblam Honey, yang ini liptin," jawab Beby dengan santai.
Satya menatap bingung Beby bingung, apa bedanya lipblam dan liptin bukankah sama sama dipakai dibibir? Kenapa wanita itu punya banyak sekali nama lipstick. Ya karena yang ia tahu adalah lipstick tanpa tahu jika lipstick itu ada banyak macam.
"Udah jangan cantik cantik nanti banyak yang suka kamu lagi," ucap Satya yang membuat Beby langsung menghentikan aktivitasnya kemudian memasukkan berberapa alat make upnya ke dalam tas.
"Siapa yang bakal suka kalau kita mau ke kuburan?" tanya Beby menggeleng pelan.
"Siapa tahu disana ada cogan mau ziarah juga," jawab Satya menatap bibir Beby yang sangat menggoda imannya.
"Boleh cium gak sih Beb?" tanya Satya menahan tangan Beby.
"Boleh kok, tapi nanti benerin lagi lipstick aku," jawabnya mendekatkan dirinya.
Satya langsung tersenyum kemudian mulai mencium bibir Beby dengan lembut.
Cups
Ciuman Satya yang sangat memabukkan untuk Beby. Satya sangat menikmati waktu waktu seperti ini. Waktu dimana tenang tanpa masalah dengan ciuman seperti ini sudah membuat Satya dan Beby senang.
Tangan Beby dikalungkan ke leher Satya yang membuat posisi mereka semakin int**. Satya merengkuh tubuh Beby bahkan sedikit mengangkat bokong bulat milik kekasihnya itu.
Tangan Satya sangat nakal di bokong Beby hingga membuat Beby langsung menegang.
"Beby aku jadi pengen," ucap Satya yang dibalas gelengan oleh Beby.
"Aku belum selesai haidnya," jawab Beby ang membuat Satya sedikit kesal.
"Ini sakit loh," rengek Satya menggesekkan anakondanya ke paha Beby.
__ADS_1
Anakonda Satya sudah menegang sedari tadi dan yang menjadi penyebabnya adalah Beby. Tapi Beby masih halangan.
"Terus masa harus pake tangan lagi, aku udah rapi gini loh. Katanya kita mau ke makam. Kamu kan ingin kenalan sama Nenek dan Kakek aku," ucap Beby mengelus lembut pipi Satya.
"Tapi ini?"
"Kamu tahan emang gak bisa?" tanya Beby menatap ngeri kenbawah sana.
"Bisa sih tapi agak lama," jawab Satya yang membuat Beby mau tak mau harus menunggu sebentar.
Kadang Beby bingung kenapa mudah sekali anakonda itu bangun. Dan akan sangat bruntal jika sudah bertemu pawangnya.
"Aku tunggu dibawah ya, kamu selesaikan dulu urusan kamu," ucap Beby dengan lembut. Ia menatap Satya yang sudah berlalu ke kamar mandi.
***
Ceklek
Satya keluar dari kamar ingin ke lantai bawah api tak sengaja berpapasan dengan Dewi serta Dewa yang sedang berpelukan di tangga. Seperti tak ada tempat lain aja.
"Ehem, di kamar kan bisa."
"Kurang menantang, aku maunya disini biar lebih leluasa. Apalagi Dewi gak mau kemana mana, maunya nikmati pemandangan dari sini," jawab Dewa tanpa rasa malu.
"Eh kucing," gumamnya berlari menuju taman.
Dewa dan Satya yang melihat itu hanya menggeleng. Dewa sangat tahu jika Dewi sangat menyukai hewan berbulu itu. Bahkan di rumah itu ada dua kucing anggora yang sangat imut bahkan Dewi sendiri yang menamai kucing itu dengan nama Raja dan Ratu. Karena mereka sepasang. Sayangnya Ratu belum mau hamil dan melahirkan, entah karena apa. Padahal kan Ratu gak KB, bahkan setahu Dewi Raja sangat sering menggauli Ratu di kandangnya.
"Kalian tadi baru bangun tidur ya?" tanya Satya dan dianggukkan oleh Dewa.
"Dewi gak tahan sama dingin, oleh sebab itu tadi pagi gak ikut sarapan. Untung anak anak gak tahu kalau semalam kita pisah kamar," jawab Dewa ikut turun.
Dibawah sudah ada Beby dan Dewi yang sedang menggendong kucing itu dengan lembut. Bahkan Dewi sampai menciumi kucing itu dengan gemas.
"Sayang awas kalau kamu dicakar," peringat Dewa yang tak mau kulit Dewi iritasi lagi gara gara kucing.
"Gak akan kok, dia baik sama aku," jawab Dewi.
"Oh ya kalian jadi kemakam?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh keduanya.
__ADS_1
"Ya sudah kalian hati hati ya, nanti kita juga bakal keluar buat beli oleh oleh."
"Beli oleh olehnya sekalian sama pulang nanti aja gimana?" tanya Beby yang dianggukkan oleh mereka.
"Gak apa apa, lagian aku juga malas buat keluar. Apalagi dingin kayak gini, sayang sih sebenarnya tapi mau gimana lagi. Untung ayang mau menemani aku," ucap Dewi menatap Dewa yang sedang memakan anggur itu.
"Hmmm."
Akhirnya Beby dan Satya pamit pada mereka dan juga bibi serta paman jika mereka ingin ke makam Nenek dan Kakeknya.
Perjalanan menuju makam tak begitu jauh, hanya butuh 20 menit sudah sampai jika pakai mobil.
"Nanti kita mampir di toko bunga dulu ya, aku mau beli bunga tabur dan bunga buat ditanam disana," pinta Beby dan dianggukkan oleh Satya.
"Oke," jawabnya seraya mengecup tangan Beby.
Mobil itu berhenti di sebuah toko bunga yang jaraknya cukup dekat dengan makam.
"Mau aku yang turun apa kamu aja?" tanya Satya melihat banyak bunga yang tertata disana.
"Biar aku aja, gak lama kok. Kamu tunggu disini," jawab Beby membuka sabuk pengamannya dan mulai turun.
Sedangkan Satya menatap kepergian Beby. Ia menunggu kekasihnya itu di mobil dengan mendengarkan musik.
Tak lama Beby membawa bunga tabur dan juga bunga yang bisa ditanam nanti. Beby meletakkannya di bagasi belakang mobil.
"Udah yuk lanjut ke makam."
Satya mengangguk dan menjalankan mobil menuju makam. Tak banyak yang mereka bicarakan, bukan karena marah atau apa tapi karena takut. Ia salah kata saat sampai di makam nanti.
Sampainya di makam Satya dan Beby mulai keluar dari mobil dan mengambil bunga yang ada di bagasi. Satya membawa pot bunga itu sedangkan Beby membawa bunga tabur yang tadi ia beli.
Perjalanan menuju tempat Nenek dan Kakeknya di makamkan sedikit jauh hingga membuat mereka harus berberapa kali mengeluh kesal. Dan sampailah mereka di makam nenek dan kakek Beby yang sudah lama meninggal itu.
Mata Beby yang melihat makam kedua orang yang paling ia sayang itu mulai menggenang. Jika Satya tidak mengelus pundak ya mungkin ia akan menangis.
"Assalamu'alaikum Nenek, Kakek."
"Beby bawa calon mantu nih buat kalian," ucap Beby duduk di antara makam itu.
__ADS_1
Beby tak mencabut rumput yang ada disana ia hanya menaburkan bunga itu. Sedangkan Satya sedang meletakkan pot bunga itu di samping makam.
Bersambung