Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Oleh Oleh


__ADS_3

Happy reading


"Kenapa kok cemberut?" tanya Dewa mengambil satu minuman yang di bawa kekasihnya.


"Tadi aku kan ambil makanan ringan, terus ada orang yang nabrak aku alhasil makanan yang tadi aku ambil jatuh semua. Emang dasar gak punya mata tu orang," jawab Dewi dengan kasar.


"Eh siapa yang ajari kamu bicara kasar kayak tadi? Emang mulut kamu minta dikasih hukuman hmm!!"


Dewa menepikan mobilnya kemudian melepas sabuk pengamannya dengan cepat.


Cups


"Emm."


Dewa tak suka bibir lembut kekasihnya itu digunakan untuk berbicara kasar. Dewa snagat tidak mengizinkan.


Plup


"Jangan mengatakan hal hal kotor dan kasar lagi, mungkin orang itu gak sengaja. Jangan sekali kali kamu mengatakan hal hal seperti itu lagi," ucap Dewa mengusap bibir Dewi yang sudah basah.


"Hehehe tapi aku kesel sama cowok yang ada disana tadi. Ganteng sih tapi gak tahu aja kenapa aku gak suka sama laki laki yang ada di supermarket tadi."


Dewa yang mendengar kekasihnya memuji laki laki lain ganteng itu jadi kesal juga. Pasalnya dia tak suka wanitanya menyebut laki laki lain jika bukan dirinya. Kalau Papa Daren? Mungkin itu bisa dibicarakan.


"Siapa yang kamu bilang ganteng?" tanya Dewa dengan tegas.


"Eh."


"Enggak kok kamu yang paling ganteng, cowok yang ada di supermarket tadi gak ada apa apanya daripada kamu," jawab Dewi dengan senyum. Untung ia bisa langsung sadar hingga tak membuat Dewa tambah marah.


Mereka adalah tipe tipe pasangan yang saling bucin dan saling cemburuan. Untung mereka bisa langsung mengendalikan diri mereka sendiri.


Dewa yang ingin marah itu langsung bisa menormalkan raut wajahnya.


Dewa kembali menjalankan mobilnya menuju rumahnya. Ia tak mau lama lama disini. Nanti kalau ada begal bagaimana, walaupun Dewa bisa memakai tangan kosong untuk menghajar begal itu tapi Dewi. Dewa tak yakin.


"Kucingku udah sampai rumah apa belum ya?" tanya Dewi pada Dewa yang dengan santainya memakan Snack yang haru saja ia buka kemudian menyuapkannya pada Dewa.


"Mungkin udah yank, tadi aku lihat ada mobil yang angkat kandang dan hewannya saat kamu masuk tadi," jawab Dewi dengan santainya malah menjilat jari Dewi yang terkena bumbu.


"Dasar kamu," kekeh Dewi melihat kelakuan Dewa.

__ADS_1


"Enak loh, apalagi dari tangan kamu," jawab Dewa dengan santainya.


Hingga tak terasa mereka sudah sampai di rumah utama Dewa. Dewi yang melihat ada kucing dan kandang itu langsung keluar.


"Kucing," teriakan Dewi itu membuat mereka langsung sadar siapa yang membeli dua kucing ini.


Tak masalah memang tapi mereka hanya kaget saat tadi ada paket yang ternyata adalah dua ekor kucing dan juga kandang yang lumayan besar itu.


"Kak," panggil Mama Riska pada Dewa yang hanya mengangguk.


"Mantu Mama yang minta, kemarin dia nemu kucing tapi malah hilang. Sebagai gantinya aku beliin ini, biar dia gak sedih terus," jawab Dewa seakan tahu dengan apa yang ada di pikiran Mamanya.


"Oalah, habis kehilangan kucing to."


"Hmm tadi dia nangis aja hampir 1 jam. Untung masih bisa di bujuk pakai kucing itu. Walau rencana awalnya ingin beli satu biar bisa jadi teman buat kucing yang dia temuin tapi kucingnya malah hilang jadi ya harus dua. Mama tahu sendiri kalau Dewi suka banget sama kucing," jawab Dewa dengan senyum.


"Mama juga seneng, makasih sudah mau bertanggung jawab." Dewa mengangguk dengan senyum manisnya.


"Mang Ujang tolong dibawa masuk ya kandangnya, taruh aja di halaman belakang," ucap Mama Riska pada sopir rumahnya yang kebetulan ada disama.


"Dewi sayang, ayo masuk nam bawa kucing kucingnya juga. Di luar dingin," ajak Mama Riska mengambil satu kucing berbulu lebat itu.


"Kenapa sayang?"


"Gak apa apa kan aku bawa kucing kucing ini masuk ke rumah? Aku takut ngotori rumah Mama sama Papa," tanya Dewi dengan pelan.


Disana hanya ada Dewa Dewi dan Mama Riska saja sedangkan Papa Albert tadi sudah masuk ke dalam rumah.


"Kenapa gak boleh, wong Mama juga suka sama kucing. Cuma Papa aja yang gak mau Mama rawat kucing. Takut tersaingi katanya," jawab Mama Riska yang dibalas tawa ringan oleh mereka.


Papa Albert memang tak mau disaingi oleh laki laki siapapun itu termasuk Dewa. Pernah Papa Albert mengunci Mama Riska di kamar bersamanya hanya karena tak mau Mama Riska memanjakan Dewa. Saat itu juga sedang hamil Naila, untung Dewa anaknya cerdas dan ia tak tidak terlalu butuh bantuan ibunya.


"Sudah ayo masuk, Mama gak mau kamu demam lagi. Nanti kalau kamu demam yang enak itu Dewa bisa peluk peluk kamu sepuasnya," ucap Mama Riska pada Dewi yang tak lama menjadi mantunya.


Entah pelet apa yang digunakan Dewi hingga membuat Mama Riska sangat menyayangi Dewi seperti ini.


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah dan meletakkan kucing itu di kandangnya. Tak lupa ia juga memberikan makanan untuk kucing barunya itu. Dewi tak mau sampai kucingnya kelaparan.


"Bibi tolong bawa belanjaan aku di mobil Dewa ya, ada di mobil depan juga," ucap Dewi meminta tolong pada salah satu pembantu yang ia lihat disana.


"Baik Non," jawabnya dengan segera mengambil apa yang Dewi perintahkan.

__ADS_1


"Gak mandi dulu Dewi, Dewa?"


"Mager mah, airnya dingin," jawab Dewa langsung membaringkan tubuhnya di atas sofa lalu memejamkan matanya sedangkan Dewi malah menjadikan paha Mama Riska menjadi bantalnya.


Jujur ia sudah menganggap Mama Riska sebagai Mama kandungnya sendiri. Begitupun dengan Dewi dan Naila yang sudah menganggap Mamanya sebagai Mama kandungnya.


Tak lama bibi datang membawa banyak belanjaan, Dewi yang melihat itu langsung memberikan berberapa bungkus untuk Bibi agar dibagikan dengan pembantu yang lain.


"Terima kasih Nona," ucap bibi itu dan dianggukkan oleh Dewi.


"Disana jarang ada aksesoris Ma, jadi Dewi dan Dewa tadi pilih buat beli makanan aja. Tapi Dewi juga beli sesuatu buat Mama sama Papa," ucap Dewi mencari sesuatu yang tadi ia beli.


"Nih buat Mama sama Papa, baju rajut. Sepasang kayak couple gitu. Dewi suka lihatnya apalagi kalau dipakai Mama dan Papa."


Untung punya Papa Albert yang ada cardigan berwarna cokelat susu itu, sangat pas jika dipakai Papa Albert.


"Terima kasih sayang, kamu tahu aja kalau Mama ngidam baju rajut gini. Udah dari kemarin tapi Papa kamu sibuk terus," ucap Mama Riska melihat baju baju itu.


"Harusnya Mama bilang ke Papa. Kalau adik Dewa ikeran gimana?" tanya Dewa.


"Mama gak mau buat dia pusing cuma gara gara baju rajut doang," jawab Mama Riska.


"Emm adik adikku ada di rumah semua kan mah?"


"Ada di kamar, tadi mereka habis main di luar terus tiba tiba mendung. La udah terang lagi mereka malah ketiduran jadi ya gitu," jawab Mama Riska.


Dewi mengangguk dan memilih baju untuk adik adiknya, jika makanan mereka masih bisa mengambil sendiri kalau baju kan gak bisa. Nanti kalau punya dia dipakai Louis kan jatuhnya lucu.


"Makanan basahnya di taruh kulkas dulu aja sayang, kalau yang kering ditaruh toples aja. Sini biar Mama bantuin," ucap Mama mengambil bungkusan yang berisi aneka macam kue.


"Bibi tolong bawain toples kosong dan wadah ya," teriak Mama Riska memanggil Bibi.


"Mama jangan teriak teriak nanti adiknya kaget," ucap Dewi mengelus perut Mama Riska.


"Kalau gak teriak gak denger."


Setelah bibi datang Mama dan Dewi menata kue kering itu di toples dibantu oleh Bibi. Sedangkan Dewa masih saja memejamkan matanya di sofa itu.


"Aku pulang."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2