Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Beli Kucing


__ADS_3

Happy reading


Tak terasa mereka sudah sampai di Jakarta pukul 6 lebih 25 menit. Kenapa lebih lama daripada waktu berangkat tadi? Karena Dewa dan Dewi lebih dahulu mampir ke pusat oleh oleh yang ada disana. Hingga menghabiskan waktu hampir 1 jam.


"Jangan lupa mampir ke toko hewan, aku mau beli kucing. Titik pokoknya gak peke koma," ucap Dewi yang tak mau sampai tak membeli kucing.


Ia sudah terlalu sedih akan kepergian Pico tadi sore masa dia harus kehilangan kucing yang akan dibelikan Dewa.


"Iya sayang, kamu sudah tiga kali bilang gitu loh dari tadi. Aku gak akan lupa, udah kamu jangan sedih."


"Oke, nanti kita ke apartemen atau ke rumah?"


"Kamu maunya kemana?"


"Ke rumah kamu aja deh, aku gak enak. Titip Louis sama mereka pasti Mama sama Papa keberatan karena urusin adik aku. Apalagi Mama lagi hamil sekarang," jawab Dewi dengan senyum manisnya.


Jujur ia tak enak dengan Mama Riska dan Papa Albert, jika harus terlalu lama menitipkan Louis pada mereka.


"Tapi Mama dan Papa senang kok jaga dia, bahkan Mama pernah bilang. Andai Louis itu anak mereka mungkin Naila juga ada temannya," jawab Dewa mengelus rambut Dewi dengan lembut.


"Tetap aja aku gak enak sama mereka," ucap Dewi.


Tatapannya menatap mata Dewa yang sedang fokus ke arah jalan. Dewa memang sudah memiliki SIM sedangkan Dewi belum punya maka dari itu Dewi jarang memakai mobil jika tidak urgent. Walau ia sudah sangat pandai dalam mengendarai mobil.


Tangannya terulur untuk mengelus rahang Dewa, Dewa yang mendapat elusan dari Dewi itu hanya tersenyum dan memegang tangan halus Dewi.


Kekasihnya itu tak pernah memakai lotion yang macam macam hingga membuat tangan Dewi terlihat sangat lembut dan kencang.


"Halus banget sih? Beda banget sama tangan akun yang kasar ini," ucap Dewa mengecup telapak tangan Dewi.


"Tangan kamu gak kasar Ayang, tapi kekar. Aku juga tahu tangan kamu ini bukan cuma untuk memegang pulpen dan elus pipi aku aja. Tapi juga untuk bekerja," jawab Dewi menatap tangan Dewa.


Bagi Dewi tangan Dewa itu tak kasar karena apa? Karena otot otot itu yang membuatnya besar dan kekar. Bahkan salah satu alasan kenapa Dewi mau tidur bersama Dewa adalah tangan Dewa yang selalu menjadi objek saat ia ingin tidur.


"Akan aku lakukan untuk masa depan kita," ucap Dewa dengan senyum manisnya.


Yah selama ini Dewa sudah mau ikut terjun ke dunia bisnis bersama Papanya. Sejak kapan? Jawabannya adalah sejak Dewa dan Dewi memutuskan untuk bertunangan.

__ADS_1


Perkembangan yang cukup signifikan karena dulu, saat Papanya meminta Dewa untuk melatih skillnya dibidang bisnis dengan tegas Dewa menolak tapi kemarin dengan suka rela Dewa mengatakan ingin ikut ke perusahaan Papanya.


"Mungkin besok aku gak bisa antar kamu pulang sayang, karena Papa bilang ada yang ingin bertemu aku di kantor. Sebagai gantinya nanti kamu bakal dijemput Kang Ujang," ucap Dewa dan diangguki oleh Dewi.


Kekasih Dewa itu tak banyak berkomentar karena apa yang dilakukan Dewa juga untuk kebaikannya nanti.


"Gampang," jawabnya dengan senyum manisnya.


Hingga akhirnya mereka sampai di depan sebuah toko hewan. Toko hewan yang sangat terkenal di kota itu.


Dewi yang melihat toko itu langsung keluar tapi sayang Dewa belum membuka pintu mobil itu.


"Jangan tergesa gesa sayang, tokonya gak akan kabur kok," ucap Dewa dengan lembut.


"Bukan tokonya yang kabur ayang, tapi kucing yang ada di dalam. Pasti udah habis terjual," jawab Dewi sedikit kesal dengan Dewa.


"Kamu tenang aja, aku udah hubungi pemilik toko ini kok. Dan yah kucing apapun yang kamu inginkan disini masih banyak," jawan Dewa membuka sabuk pengamannya. Kemudian turun dari mobil dan membuka pintu mobil Dewi.


Dewi yang sudah tak sabar itu langsung menarik tangan Dewa menuju toko hewan itu.


Dewa hanya tersenyum kemudian masuk ke dalam toko hewan itu.


"Selamat datang di toko hewan Tuan, Nona. Dengan Tuan Dewa?"


"Iya kak," bukan Dewa yang menjawab tapi Dewi. Karena Dewa yakin jika Dewa pasti tidak akan mau menjawab paling juga mengangguk.


"Mari Nona, banyak kucing yang kamu tawarkan pada Nona," ajak wanita dengan pakaian yang bisa dibilang sek*i itu.


Sebenarnya Dewi tak suka dengan pakaian mbak mbak itu, Dewi juga melihat jika mbak mbak itu dengan sengaja menatap Dewa dengan terpesona.


"Tolong jaga pandangan Anda pada suami saya," ucap Dewi menggandeng tangan Dewa dengan posesif.


Ia begitu menunjukkan jika Dewa adalah miliknya walau belum menjadi suaminya tapi ia berhak melindungi Dewa dari ulat ulat yang ingin merebut dia darinya.


"Suami?"


Dewa menatap Dewi dengan pandangan yang sulit untuk di artikan. Hingga pada akhirnya Dewa tahu jika Dewi sedang cemburu.

__ADS_1


"Maaf istri saya lagi hamil anak pertama, jadi tolong jangan tatap saya seperti itu," ucap Dewa mengelus perut Dewi yang rata.


Tak ada bayi di dalam sana, tapi demi memperlancar acting sang kekasih ia pun harus ikut bersandiwara. Dewi yang mendengar jawaban Dewa itu langsung menatap horor Dewa.


"Sudah jangan natap aku gitu, nanti anak kita ikutin gaya kamu. Mending cepat selesaikan ngidam kamu buat beli kucing," ucap Dewa berbuat mesra dengan Dewi. Ia tak mau membuat Dewi semakin lama lagi disana, karena ia sudah tak tahan dengan tatapan mbak mbak itu.


Akhirnya Dewi memilih dua kucing yang sekiranya bagus untuk ia bawa pulang.


"Aku ambil ini sama ini, serta kandang yang ada disana," ucap Dewi menunjuk kandang yang ia pilih.


Para petugas disana langsung mengambil kandang itu dan mulai mentotal semua yang dibeli Dewi.


"Tolong bawa ke alamat ini," ucap Dewa memberikan alamat rumahnya.


"Bukannya ini rumah Tuan Albert?" tanya mbak mbak itu.


"Iya saya anaknya. Dan ini adalah menantu kesayangan keluarga saya," jawab Dewa dengan datar. Ia membawa kucing Persia berwarna putih itu.


"Baik Tuan."


Akhirnya setelah membayar hewan itu, Dewa menyerahkan hewan itu ke petugas. Untuk di bawa ke rumahnya. Karena tak mungkin untuk meletakkan kucing serta kandangnya di dalam mobil.


"Terima kasih sudah berkunjung ke toko kami, tolong jaga hewannya dengan setulus hati ya," ucap seorang wanita dengan sopan bahkan pakaiannya berbeda dengan wanita yang menyambut mereka.


"Iya terima kasih kak," jawab Dewi tak kalah ramah.


Tapi sepertinya Dewi tak bisa lama lama karena dengan posesif Dewa langsung meraih pinggang Dewi dan membawanya ke dalam mobil.


"Gak baik loh kayak gitu."


"Aku gak suka sama mereka yang sok baik setelah tahu siapa kita," jawab Dewa mengecup bibir Dewi sekilas kemudian memasang sabuk pengaman mereka.


Dewa menjalankan mobilnya menuju jalan raya. Sedangkan Dewi menatap tak percaya dengan apa yang dilakukan Dewa.


"Yank, kita suami Istri?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2