
Happy reading
"Aku keras ya Ay?" tanya Dewi yang kini sudah berada di mobil dengan sesal karena sudah membuat Lena masuk rumah sakit.
Kenapa ia bisa lepas kontrol seperti tadi, padahal ia sudah mewanti wanti agar tidak lepas kontrol lagi. Tapi jika dipikir pikir lagi ia tak salah, yang salah itu Lena kenapa harus memancing emosinya.
Dewi ingat terakhir ia membuat masalah itu adalah SMP, ketika ada anak yang menjambak rambutnya padahal ia tak melakukan apa apa. Dewi yang diajari karate oleh Papanya itu malah menggunakannya untuk membalas dendam pada anak itu.
"Enggak sayang, kalau aja tadi kamu gak maju mungkin Lena udah ada di alam lain," jawab Dewa mengelus rambut Dewi dengan lembut.
Dewi menatap Dewa yang sedang sedang mengelus kepalanya itu. Tapi tangan kanannya masih di kemudi.
"Kaku pasti gak suka sama cewek kasar kayak aku. Aku bahkan menginjak perutnya, gimana kalau Lena gak bisa punya anak?" tanya Dewi yang memikirkan apa yang akan terjadi dengan Lena.
"Enggak akan semudah itu untuk membuat Lena mandul sayang. Banyak kasus seperti ini tapi gak sampai membuat wanita itu mandul dan tak punya anak," ucap Dewa dengan lembut.
"Aku salut sama kamu sayang, karena kamu bisa balas apa yang udah Lena perbuat," ucap Dewa yang bangga memiliki kekasih seperti Dewi karena gadisnya itu bisa melindungi dirinya sendiri.
Bukan tanpa sebab ia bangga dengan Dewi, tapi karena banyak musuh musuhnya yang ingin menghancurkan Dewa. Bahkan tanpa Dewi tahu, Dewi dulu pernah hampir dibunuh oleh anak warrior. Tapi untungnya anak buah Dewi lebih sigap daripada anak warrior.
"Ceweknya buat salah kok malah bangga. Anda waras?" tanya Dewi yang tak habis pikir dengan apa yang dipikirkan Dewa.
"Waras banget, emang kamu mau kalau pacar kamu gila?"
"Gak papa kalau gila karena cinta sama aku," jawab Dewi dengan senyum manisnya.
"Kamu bisa aja, tapi bener aku bangga karena kamu bisa melindungi diri kamu sendiri," ucap Dewa mengecup kening Dewi.
Dewi yang mendengar itu hanya tersenyum kemudian memeluk lengan Dewa dengan pelan. Kepalanya ia sandarkan ke pundak Dewa yang sangat nyaman untuk dibuat sandaran.
"Perutnya masih sakit?" tanya Dewa menelusupkan tangannya ke perut Dewi.
"Geli tahu Ay," ucap Dewi mencegah tangan Dewa.
"Kata kamu nyaman," ujar Dewa dengan tatapan menggoda.
"Terserah kamu aja deh," jawab Dewi membiarkan tangan Dewa yang mengelus perutnya.
Mobil Dewa melaju dengan kecepatan sedang menuju suatu restoran yang menjadi tempat Dewa dan Dewi dulu bertemu.
__ADS_1
"Aku gak lagi pengen makan, Ayang. Aku mau pulang aja," ucap Dewi yang menolak untuk keluar.
"Kita gak makan disini sayang, tapi Mama yang minta buat beliin ayam disini. Sekalian nostalgia pas pertama kita bertemu dulu," jawab Dewa yang dianggukkan oleh Dewi.
Mereka keluar dari mobil menuju restoran itu, mereka melihat banyak yang antri disana. Dewa yang tak mau Dewi lebih lelah itu langsung menyuruh Dewi untuk duduk di salah satu kursi yang ada disana.
"Beliin kopi ya."
"Iya sayang, kamu duduk sini aja. Aku gak mau kamu ikut antri," ucap Dewa dan dianggukkan oleh Dewa.
Setelah berberapa saat menunggu Dewa dan Dewi keluar dengan berberapa makanan di tangan mereka. Tak lupa juga minuman yang selalu menjadi andalan mereka yaitu kopi.
Dewa kembali menjalankan mobilnya menuju rumah utama, tapi dalam mobil itu Dewa memikirkan cara meminta izin pada Dewi.
"Yank," panggil Dewa yang membuat Dewi berdehem.
"Nanti malam aku balapan boleh?" tanya Dewa yang membuat jantung Dewi berdetak kencang.
"Kamu mau balapan lagi? Sama siapa?" tanya Dewi dengan nada memburu.
"Geng warrior dan geng Black Lion," jawab Dewa dengan jujur.
"Tapi sayang, dengarkan dulu alasan aku ingin balapan sayang," ujar Dewa.
"Apa?"
"Adik Ozi sakit, dia dirawat di rumah sakit 2 hari lalu. Dia butuh banyak uang untuk kesembuhan adiknya," ucap Dewa yang membuat Dewi prihatin.
"Kan kita bisa kasih uang buat mereka. Gak perlu kamu ikut balapan," ucap Dewi yang masih tak mau Dewa ikut balapan.
"Sayang, masalahnya yang mereka butuhkan bukan hanya 1 juta, 2 juta. Tapi puluhan bahkan ratusan juta."
"Adik Ozi menderita leukemia, jadi gak sedikit biaya yang mereka butuhkan. Bahkan yang aku dengar penyakit leukimia sangat sulit untuk di sembuhkan."
Dewi yang mendengar hal itu merasa kasihan dengan nasib keluarga Ozi.
"Aku masih ada tabungan kok untuk bantu mereka," jawab Dewi yang masih memiliki tabungan.
"Dari aku dan Papa kan? Aku gak mau kelaparan hanya karena menolong orang sayang. Kami tahu kan, uang kamu itu setengah dari tabungan aku."
__ADS_1
"Ya sayang izinkan kekasihmu ini untuk balapan, uangnya cukup banyak untuk membantu Ozi sayang. Dengan begitu juga Ozi bisa menerima bantuan dari kita," ucap Dewa dengan senyum manisnya bahkan Dewi hampir saja tersepona dengan senyum itu.
"Aku gak mau kamu kenapa napa, Ayang. Nanti kamu gimana gimana gimana?" jawab Dewi dengan bingung akan apa yang ia ucapkan.
"Gimana gimana gimana sayang?" tanya Dewa yang tahu jika kekasihnya itu khawatir dengan keadaannya itu malah menggodanya.
"Ayang tetap gak boleh ikut balapan, aku gak mau kamu kenapa napa. Aku khawatir tahu sama kamu," ucap Dewi yang membuat Dewa menghela nafasnya. Bagaimana membujuk Dewi agar mengizinkannya.
"Kamu gak kasihan sama adik Ozi? Keluarganya termasuk keluarga yang sederhana, kamu gak pernah merasakan jadi mereka. Dan hanya aku yang bisa membantu mereka dengan balapan itu. Ozi juga ikut dalam balapannya," jawab Dewa yang membuat Dewi tak bisa berkata kata.
"Boleh ya sayang," bujuk Dewa lagi dengan senyumnya. Tangannya juga kini mulai menggenggam.
"Apa yang bisa kamu janjikan jika aku mengizinkan kamu balapan?" tanya Dewi yang tak mau rugi jika mengizinkan Dewa balapan lagi.
"Aku gak akan bolos pelajaran lagi," jawab Dewa yang membuat Dewi tersenyum.
"Yang lain?"
"Aku gak akan balapan liar lagi saat aku kelas tiga ini, aku akan fokus belajar hingga saat UN mendapatkan nilai yang memuaskan," ucap Dewa dengan sungguh-sungguh.
"Oke, tapi aku pegang omongan kamu. Kalau kamu langgar aku yang akan pergi dari hidup kamu," ucap Dewi yang membuat Dewa langsung menggeleng.
Dewa tak mau sampai Dewi pergi dari hidupnya. Membayangkan hal itu saja sudah membuat Dewa ketar ketir.
"Oke. Jadi kamu mengizinkan?" tanya Dewa dengan senyum dan dianggukkan oleh Dewi.
Akhirnya Dewa mendapat izin dari Dewi, ia bisa berusaha mendapatkan hadiah itu untuk Ozi dan keluarganya.
Bersambung
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkk↓↓↓
Marriage With(Out) Love
Author: MinNami
Elnara wanita cantik yang begitu pandai hingga dikagumi oleh banyak orang terutama kaum Adam. Sayangnya, kecantikan dan kepintaran Elnara tidak bisa menaklukan hati Zayan. Segala cara Elnara lakukan demi bisa menikah dengan Zayan, termasuk menggunakan kekuasaan keluarganya agar Zayan mau menikah dengannya.
Mampukan Elnara menaklukan hati Zayan? Atau justru Elnara memilih menyerah dan membebaskan Zayan dari belenggu pernikahan tanpa cinta?
__ADS_1