
Happy reading
Jam sudah menjukkan pukul 11 lebih 15 menit, Nafisah yang terbangun itu langsung melihat jam tangannya.
"Ugghh udah jam 11 lebih aja, pasti teman temannya kak Tama udah pada laper nih. Tapi kalau aku sendiri yang masak bakal kewalahan kan."
Tama yang merasa terganggu dengan gerakan dari istrinya. Dia membuka matanya, dan menatap Nafisah yang sedang bingung itu.
"Kenapa sayang? Kayak bingung gitu?"
"Mau masak makan siang tapi gak tahu sama siapa," jawab Nafisah dengan senyum kemudian mengelus wajah suaminya.
"Ajak Beby sama Dewi aja sayang, jangan lupa sama anak anak perempuan yang lain. Aku gak mau kamu terlalu capek," ucap Tama mengelus rambut panjang yang selalu ditutupi dengan hijab itu.
"Oke, tapi sekarang lepas dulu pelukannya. Gak nyaman banget," ucap Nafisah dengan pelan.
"Kenapa? Biasanya juga peluk peluk gini hmm."
"Malu lah, ini bukan rumah kita gak enak kalau mau mesra mesraan," jawab Nafisah. Karena ini bukan rumahnya dan juga rumah suaminya. Rasanya kurang sopan jika ia enak enek saja.
Nafisah akhirnya turun dari tubuh Tama, sedangkan Tama menatap tak rela Nafisah yang memakai hijab dan cadarnya itu.
"Aku berat banget ya sampai kamu gak bangun bangun?" tanya Nafisah pada Tama yang masih berbaring di kasur itu.
"Enggak sayang, kamu gak berat malah ringan. Cuma aku mager aja mau bangun tadi kamu peluk peluk sekarang kamu udah bangun dan aku bingung mau ngapain," jawab Tama membalik tubuhnya hingga membuatnya tengkurap.
"Sambil nunggu masakan selesai kamu hapalan surat Al Kahfi yang kemarin," jawab Nafisah yang membuat Tama langsung menatap Nafisah.
"Capek."
"Katanya mau jadi imam yang baik buat aku sama anak anak kita nanti," goda Nafisah agar Tama bisa lancar hafalannya.
"Tapi ayatnya panjang panjang sayang," rengek Tama yang sepertinya enggan untuk menghafalkan surat Al Kahfi.
"Coba dikit dikit kemarin kan sudah hafal 10 ayat," jawab Nafisah mengelus rambut Tama.
"Nanti kalau Kakak udah hapal surat Al Kahfi, kita bisa nyicil buat bayi," ucap Nafisah yang membuat Tama langsung sumringah.
__ADS_1
"Serius?"
"Iya Hubby, aku janji bakal turutin apa mau kamu," jawab Nafisah.
Akhirnya setelah Nafisah keluar dari kamar, Tama langsung mengambil wudhu dan mulai menghapal surat Al Kahfi yang belum ia hapal.
Buat bayi. Itulah yang saat ini sedang memacu semangat Tama untuk menghafal surat itu. Walau ia juga niat karena Allah tapi sebagian juga untuk hal itu.
Membayangkan saja sudah membuat Tama sangat bahagia. Tak dosa kan memikirkan sesuatu bersama sang istri? Tentu saja tidak karena mereka sudah halal.
***
Tok! Tok! Tok!
Dewi yang terbangun itu langsung menyingkirkan tangan Dewa yang melingkar di perutnya kemudian menutupi tubuh Dewa sampai kepala.
Ceklek
"Kenapa Naf?"
"Gue mau cuci muka dulu ya, bentar lo duluan aja ke bawah," ucap Dewi dan dianggukkan oleh Nafisah.
"Ajak Beby sekalian," ucap Nafisah.
"Dia keluar tadi."
Dewi langsung berjalan masuk ke dalam kamar lagi dan membangunkan Dewa dan menyuruh untuk masuk ke dalam kamarnya sendiri.
Tak seberapa lama anak anak cewek sudah berkumpul di dapur. Di sana mereka ada yang cuma bantu kupas bawang ada juga yang bantu bantu Nafisah mengaduk masakan itu.
"Jadi cewek itu setidaknya bisa masak walaupun dikit. Karena gak mungkinkan suami kita nanti bakal makan makanan pembantu terus? Apalagi beli dari luar gak sehat juga."
"Suami kita juga harus bisa merasakan bagaimana enaknya masakan istrinya. Gimana kalau suatu saat nanti suami kalian jajan di luar karena istrinya gak bisa apa apa. Masak gak bisa, bisanya cuma warnai kuku aja," tambah Nafisah tanpa sadar langsung membuat hati mereka tertotok karena kenyataannya mereka tak pandai memasak.
"Iya Bu ustadzah," jawab mereka yang mengakui jika Nafisah bisa membuat mereka kembali ke jalan yang benar.
"Aku bukan ustadzah ya kak, aku masih belajar juga. Aku cuma mengatakan apa yang saat ini banyak dialami. Aku pernah ada melihat tanteku dan om lku yang pisah karena Tante gak bisa masak, alasannya ya itu karena om ingin memakan tapi Tante hanya mengandalkan pembantu. Bukan aku ingin menjelekkan mereka tapi aku gak mau kalian melakukan apa yang dilakukan tanteku," ucap Nafisah dan dianggukkan oleh mereka.
__ADS_1
"Setidaknya kalian bisa masak walau dikit, agar suami kalian nanti juga tahu gimana rasa masakan istrinya," tambah Dewi pada teman temannya.
"Tapi aku gak bisa bedain mana lengkuas, mana jahe, mana kunyit, mana kucur," ucapan Karolin terhenti saat Shasa membenarkan ucapnya.
"Kencur ege," sela Shasa menepuk kening Karolin dengan sendok.
"Iya itu yang aku maksud. Sakit tahu Sha."
"Kenapa gitu kak?" tanya Nafisah.
"Gak tahu, aku pernah ikut masak Mama. Tapi malah di suruh pergi karena salah kasih bumbu. Harusnya yang dimasukkan itu lengkuas di gerpek tapi aku salah malah masukin jahe ku geprek. Mana itu pesanan orang lagi," ucapnya dengan tawa. Jika mengingat itu membuat ia tertawa.
"Jangan pernah berhenti untuk belajar kak, karena apa yang selama ini di lakukan akan berguna untuk masa depan kita. Tapi itu tergantung apa yang kita lakukan."
Mereka mengangguk dan melanjutkan memasak mereka. Beby yang juga sudah bergabung dengan mereka itu hanya bantu sebisanya. Karena disana sudah ada 4 orang, walau ia sedikit bisa masak tapi ia tak sejago Nafisah dan Dewi.
Akhirnya setelah 1 jam lebih mereka berkutik di dapur di bantu oleh bibi vila itu. Akhirnya makanan yang mereka buat selesai.
Sebagian dari mereka menata makanan itu di meja makan sedangkan sebagiannya mencuci peralatan yang kotor karena ulah mereka.
"Beb, lu tadi kemana aja?" tanya Dewi pada Beby yang sedang menata piring itu.
"Kamar nenek, gue kangen sama dia. Rencananya besok gue sama Satya mau ke makam nenek sama kakek."
"Oalahh, nanti malam jadi kita barbequenya?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh Beby.
"Nanti kita beli daging yuk, kita ajak Nafisah, Karolin, dan Shasa juga. Sekalian jalan jalan, bosen gue sama Satya terus. Mau cari suasana baru," jawab Beby dengan senyumnya. Tapi satu yang membuat Dewi tertegun adalah leher Beby yang merah dan ia sangat tahu itu apa.
"Leher kamu merah Beb."
"Punya kamu juga emang gak nyadar?" tanya Beby menatap atas dada Dewi.
Dan benar saja mereka mendapati bekas yang hampir sama dan mereka tahu itu perbuatan siapa. Dewa dan Beby langsung berjalan menuju kamar untuk menghilangkan bekas merah itu seraya memanggil teman teman dan kekasih mereka.
Bersambung
Bakal ada amukan dari Dewi nih. Dewa siap siap ya.
__ADS_1