Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Sisi Lain Dewi


__ADS_3

Happy reading


"Kamu mau pulang aja?" tanya Dewa pada Dewi.


"Ih enggak sampai pulang juga. Ini udah mendingan Ayang," ucap Dewi dengan lesu.


Perutnya memang sudah mendingan daripada tadi, jadi ia pikir ia tak perlu sampai pulang juga.


"Tapi kamu masih pucat sayang."


"Aku gak apa apa ini juga sudah mendingan," ucap Dewi ingin membuat Dewa tak khawatir lagi. Lagian ini cuma sakit perut biasa karena datang bulan.


Akhirnya Dewa hanya bisa mengangguk, kemudian Dewa menarik kepala Dewi agar bersandar di dadanya. Tangan Dewa juga terukur untuk mengelus perut Dewi berharap perut Dewi bisa enakkan.


***


Dan akhirnya Dewi bisa bertahan sampai jam pelajaran terakhir. Setelah bel berbunyi Dewa dan Dewi langsung berkemas.


"Ayo pulang agar kamu cepat istirahat," ajak Dewa membawa tas Dewi.


Kemudian menggandeng tangan Dewi agar cepat sampai di parkiran mobil.


Saat mereka sampai di tengah tangga ada seorang wanita yang mencegat mereka. Dewi bisa melihat jika wanita itu membawa kado.


"Fans kamu tuh," ucap Dewi dengan santai.


Dewa menatap wanita itu dengan datar, kemudian menggandeng Dewi turun.


"Kak Dewa," panggil wanita itu malu malu pada Dewa.


Dewi yang tahu adik kelasnya ingin berbicara dengan Dewa itu menyingkir tapi ditahan oleh Dewa.


"Disini aja," ucap Dewa dengan tegas.


"Kak Dewi, Lena mau ngomong sama Kak Dewa boleh?" tanya Lena pada Dewi.


"Boleh dong, kenapa gak boleh?" tanya Dewi dengan senyum.


"Sayang."


"Kenapa sih? Kan Lena cuma ngomong aja," ucap Dewi yang membuat senyum Lena mengembang. Baginya Dewi itu sangat polos dan lugu hingga bisa saja ia menarik perhatian Dewa dari Dewi.


Lena belum tahu bagaimana sifat Dewi sebenarnya hingga membuat Lena memandang rendah Dewi.


"Tapi aku maunya ngomong sama Kak Dewa berdua kak," ucap Lena makin tak tahu diri.


"Gimana?"


"Gue gak ada waktu buat ngurusin cewek kayak lu. Kalau mau ngomong sekarang cepat, gue mau pulang," titah Dewa dengan tegas. Bahkan nyaris membuat Dewi tertawa melihat wajah Lena yang sepertinya sangat kecewa.


Dewi tahu siapa gadis yang ada dihadapannya ini. Lena adalah spesies cewek tak tahu malu. Banyak gosip tentang adik kelasnya ini, Lena sering merebut pacar teman temannya. Bahkan ada rumor yang mengatakan jika Lena sudah tak bersegel.


"Emm iya kak. Ini kado buat kak Dewa. Selamat ulang tahun ya kak semoga panjang umur dan sehat selalu."


Lena memberikan kotak kado itu pada Dewa yang memang berulang tahun kemarin.

__ADS_1


"Lu kasih sama cowok lu aja. Gue gak terima kado dari orang asing," jawab Dewa menggandeng tangan Dewi untuk cepat masuk ke dalam mobil.


"Aku kan bukan orang asing untuk kakak, kita bahkan sudah sering chatan. Apa selama ini kakak tidak menganggap aku?" tanya Lena yang membuat langkah Dewa terhenti begitupun dengan Dewi.


"Kamu yang balas chat dia?" tanya Dewa menatap Dewi yang hanya tertawa.


"Gabut soalnya, terus dia chat kamu. Ya udah aku jawab," jawab Dewi yang membuat orang orang yang ada disana tertawa kecuali Lena yang merasa telah dibohongi.


"Hufftt gue jarang bukak hp, bahkan setiap hari HP gue di bawa Dewi. Jadi mau lu chat seratus kali pun itu bukan gue yang jawab," jawab Dewa pada Lena.


Malu sudah Lena dihadapan teman temannya, padahal ia sudah memamerkan chat chat mesra dia dengan Dewa. Tapi kenapa tang membalas itu malah Dewi? Apa selama ini dia dibohongi oleh Dewi?


"Kakak bohong kan? Kakak pernah kirim emot cium loh ke aku," ucap Lena.


"Maaf ya Lena, gue orangnya jahil jadi apa yang udah gue chat sama lu anggap aja itu cuma angin lalu. Lagian gue seneng kok ngerjain orang yang suka usik hidup aku dan Dewa," jawab Dewi yang membuat Lena kalah telak.


"Tapi...."


"Masih belum percaya?"


Dewi akhirnya mengeluarkan ponsel Dewa yang memang selalu ia bawa. Sedangkan ponselnya selalu di bawa Dewa, mereka bertukar ponsel dan ya Dewa tak suka bermain ponsel kalau bukan karena Dewi yang menghubunginya.


"Ini ponsel Dewa, kalau gak percaya kamu telepon aja nomer Dewa," ucap Dewi yang membuat Lena langsung memanggil nomor Dewa.


Ayang_Nabila Maharani


Lekaslah kembali, usirlah sepi


Yang ada di hati selama kau pergi


Saat ini


Suara dering ponsel Dewa membuat mereka salfok, bagaimana bisa seorang Dewa membuat nada dering alay seperti itu. Tapi bukan Dewa jika tidak bodo amat dengan apa yang mereka pikirkan.


Ayang, kapan kamu pulang?


Pikiranku selalu terbang melayang


Tak pernah ada kabar darimu


Walau kutahu kamu online melulu


"Nih ponselnya ada di aku. Kamu maunya gimana?"


"Aku tetap mau Kak Dewa. Aku gak mau tahu Lu harus putus sama Dewa dan Dewa harus jadi milik gue," ucap Lena dengan tak tahu diri.


Mereka yang belum pulang itu menatap Lena kasihan. Siapa sih yang tak kenal dengan Dewa. Dewa tak akan suka jika orang yang ia sayangi direndahkan. Apalagi Dewi yang notabene adalah tunangan Dewa.


"Lu."


"Udah Ayang gak usah diladeni."


"Dasar Dewi murahan."


PLAK

__ADS_1


Suara tamparan itu menggema sampai koridor SMA itu. Bahkan guru guru yang melihat itu hanya bisa diam, sungguh Lena sudah membangunkan sisi gelap Dewi.


Tamparan Dewi membuat pipi Lena memerah, bahkan sangat merah saking kencangnya tamparan Dewi.


Dewi yang sedari tadi menahan amarah dengan Lena itu akhirnya ambrol juga saat Lena mengatakan jika dia murahan.


Dewa yang melihat itu juga tak akan melerai, karena Lena juga sudah memancing emosinya. Selama ini belum ada yang mengatakan jika Dewi murahan dengan terang terangan. Selain video yang beredar berberapa saat lalu.


Dugh


Kaki Dewi tak berhenti untuk menyiksa Lena, ia menendang perut Lena dengan sepatu mahalnya.


"Aaaa."


Anak anak yang melihat itu berteriak histeris, pasalnya tendangan Dewi hingga membuat sedikit darah keluar dari bibir Lena.


"Dasar lemah, mana keberanian lu tadi saat bilang gue murahan hah?" teriak Dewi yang sangat tidak suka harga dirinya diinjak injak oleh adik kelas itu.


"Gue diam bukan karena gue lemah. Gue cuma gak mau buat lu masuk rumah sakit. Lu pikir gue gadis yang lugu? Hahaha lu belum kelas kalau lawan gue say."


Dewi menginjak dada Lena hingga membuat Lena sesak nafas.


"Dia," tunjuk Dewi pada Dewa.


"Dia milik gue, gue gak akan pernah melepas Dewa hanya untuk cewek kayak lu. Lagipula modal silikon aja bangga," ucap Dewi melepaskan kakinya yang berada di atas dada Lena.


Bisik bisik anak anak mulai terdengar saat Dewi mengatakan hal itu. Dewi tak masalah bahkan ia tak akan pernah bersalah atas apa yang sudah ia lakukan.


"Gue gak suka harga diri gue lu rendahkan. Gue gak akan pernah terima jika lu bilang gue murahan. Seharusnya lu itu ngaca sama lu sendiri."


Dewa mengelus punggung Dewi kemudian menyuruh bodyguard bayangan yang disiapkan ayahnya untuk membawa Lena ke rumah sakit.


"Udah puas?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.


"Pulang," rengek Dewi memeluk lengan Dewa yang pagi lagi membuat orang orang disana menatap pasangan ini tak percaya.


"Mau digendong?"


"HAAA."


Dewi menatap siswa dan siswi disana kemudian menggeleng. Akhirnya mereka berjalan menuju parkiran kemudian masuk ke dalam mobil meninggalkan mereka yang masih berada di area koridor ke bawah itu.


Sungguh mereka baru melihat sisi lain dari Dewi yang selama ini tak pernah ia lihat. Jika begini mungkin mereka akan berpikir dua kali untuk menyakiti Dewi bahkan Dewa. Bisa bisa nyawa mereka yang melayang.


Bersambung


Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk, judulnya Nikah Dadakan Dengan Musuh, Karya AYi.


Blurb:


Digerebek saat mojok bersama pacar itu sih biasa. Bagaimana ya, kalau kena gerebek saat tak sengaja bersama musuh?


Penasaran? Ikuti kisah selengkapnya hanya di Nikah Dadakan Dengan Musuh.


__ADS_1


__ADS_2