
Happy reading
Jam istirahat sudah berbunyi, Dewi yang sedang mager keluar itu memilih untuk berdiam diri di kelas. Sedangkan Dewa ke luar untuk membicarakan suatu hal dengan teman temannya.
Dalam hati Dewi tahu jika Dewa bertemu dengan sahabat sahabatnya karena ingin balapan lagi. Dewi tahu apa yang ada dipikiran Dewa.
"Nanti aku bawain makanan buat kamu ya," ucap Dewa pada Dewi.
"Iya."
Dewa tak tahu jika Dewi hari ini PMS, karena Dewi memang tak pernah bercerita kepada siapapun kalau ia sedang datang bulan.
Dewa keluar dari kelas menuju ruangan khusus anak geng Alaska. Karena sebagian besar geng itu ada di sekolah SMA Lentera Bangsa.
"Hari ini ada yang nantangi lu balap lagi," ucap Satya tanpa basa basi.
Satya sedang tuak mood untuk bercanda karena apa. Karena Beby tak memberinya jatah tadi malam maka dari itu hari ini ia tak mood sama sekali.
"Siapa?" tanya Dewa duduk di sofa itu ruangan itu.
"Anak Warrior dan juga anak Black Lion," jawab Satya.
"Vino dan Langit? Kenapa mereka nantang gue? Bukannya mereka juga musuh?" tanya Dewa dengan penasaran.
"Gue juga gak tahu, tapi mereka taruhan mobil masing masing jika lu yang menang. Lu tahu kan seberapa kaya mereka."
"Iya gue tahu. Tapi gue harus minta izin sama Dewi dulu," ucap Dewa yang dianggukkan oleh Satya. Sedangkan Andre yang mendengar itu hanya kesal.
"Jika lu gak dibolehin balapan sama Dewi, lu gak bakal balapan?" tanya Andre.
"Ya karena izin Dewi itu penting buat aku," jawab Dewa.
"Adiknya Ozi lagi sakit, dia butuh banyak dana untuk perawatannya. Dan kita butuh uang hasil balapan itu untuk adiknya, lu tahu apa maksud gue kan?" tanya Andre yang membuat Dewa langsung menatap sekeliling.
Dia tak melihat Tama dan Ozi, yah Tama sudah memutuskan untuk keluar dari geng Alaska dan ingin hidup seperti siswa yang lain saja, tapi tenang Tama masih sering membantu mereka kok dan juga masih bersahabat dengan Dewa dkk.
"Sakit apa?"
"Kangker darah, sudah 2 hari ini dia di rawat di rumah sakit. Lu tahu kan bagaimana kondisi Ozi?"
"Dia gak mau menerima bantuan secara cuma cuma, dia juga mau berusaha untuk mendapatkan uang itu. Dengan ikutnya kamu dalam balapan itu, dia bisa mendapatkan yang Dewa."
Dewa berpikir ada benarnya juga yang diucapkannya Andre. Biaya perawatan orang yang menderita kangker darah itu sangat mahal. Ia juga tahu seberapa sederhana keluarga Ozi.
Dewa hanya diam, uang tabungannya juga tak cukup banyak untuk membantu Ozi dan cara satu satunya adalah dengan balapan itu. Dengan dia yang ikut balapan dan menang ia bisa membantu Ozi.
"Nanti aku kasih tahu keputusanku," jawab Dewa keluar dari ruangan itu meninggalkan teman temannya yang sedang menatapnya.
"Jangan paksa jika dia tak mendapat izin dari Dewi. Gue tahu apa yang terbaik buat dia. Kedua geng itu bisa saja bekerja sama untuk menghancurkan Dewa. Kita sama sama tahu bagiamana Vino dan Langit yang selalu mencari cara agar Dewa celaka," ujar Satya yang entah kenapa lebih membela Dewa.
__ADS_1
Perasaannya tak enak jika membiarkan Dewa ikut main, tapi ia tak bisa jika melihat adik Ozi yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri itu harus menderita.
Mereka semua juga sudah iuran untuk membantu Ozi, tapi pendapatan mereka tak seberapa.
Andre diam dan mengangguk, benar apa yang dikatakan Satya, bisa saja dua orang itu berniat buruk pada Dewa karena mereka sangat licik.
***
Dewa berjalan menuju kantin, ia ingin membeli makanan untuk kekasihnya. Tapi dalam pikirannya selalu saja ada balapan yang ditawarkan Satya.
Ia ingin membantu Ozi dan keluarganya tapi ia yakin Dewi pasti akan melarangnya ikut balapan. Sungguh ia bingung jika seperti ini.
"Mie ayam bakso 2 porsi, bungkus," ucap Dewa dan langsung di buatkan oleh sang penjual.
"Baik Den. Ditunggu dulu nggih," jawab penjual mie ayam itu dan dianggukkan oleh Dewa.
Pria itu duduk di salah satu kursi itu dan mengirimkan pesan pada Dewi.
Anda
Ada pesanan lain gak?
Dewi
Teh panas ya, Ay. Perut aku gak enak.
Anda
Dewi
Hmm
Dewa yang baru sadar jika Dewi PMS itu langsung menyuruh tukang bakso itu untuk mengantarkan pesanan mereka ke kelas 12-MIPA 2 yaitu kelasnya.
Tak lupa Dewa memberikan uang lebih untuk penjual mie ayam itu. Sedangkan Dewa sendiri berjalan cepat menuju koperasi yang menyediakan segala keperluan siswa. Termasuk barang untuk wanita.
Anak OSIS yang berjaga disama itu terkejut melihat Dewa datang ke koperasi.
"Tumben kesini kak? Mau cari apa?" tanya siswa itu pada Dewa.
Dia adalah Bella, adik kelas Dewa yang saat ini baru kelas 11. Gadis cantik itu sempat menaruh hati pada Dewa tapi ia kembali sadar oleh keadaannya. Dewa sudah milik Dewa, sedangkan dia hanya sampah bagi mereka.
"Obat haid," jawab Dewa tanpa malu.
Memang bukan Dewa yang malu tapi Bella yang malu. Ia menatap Dewa dengan pelan. Kemudian ia mengambil obat haid untuk perempuan.
"Ini kak, Kak Dewi juga sering beli obat ini saat dia datang bulan," ucap Bella memberikan botol bertuliskan kir****. Obat yang cocok untuk orang yang sedang datang bulan.
Dewa mengambilnya dan meletakkan uang satu lembar berwarna biru itu di kasir. Lalu membawa obat ke ke dalam kelas. Bertepatan dengan Bang mie ayam tadi.
__ADS_1
"Saya pamit Den."
"Hmm, terima kasih," ucap Dewa berlalu menuju kelas.
Bang Mie ayam yang mendengar ucapan terima kasih dari Dewa itu sempat bengong. Apa benar yang tadi itu Dewa?
Sedangkan Dewa berjalan menuju bangkunya dan meletakkannya nampan itu di atas bangku.
"Makan dulu sayang," ucap Dewa membuat Dewi terbangun.
Dewa mengangkat kepalanya dan menatap Dewa. Wajah Dewi sedikit pucat hinggaembuat Dewa khawatir.
"Perutnya sakit ya?" tanya Dewa dan dianggukkan oleh Dewi.
"Ya sudah kamu makan dulu, biar aku suapi. Habis itu kamu minum obat ini," ucap Dewa dan dianggukkan lagi oleh Dewi.
Dengan telaten Dewa menyuapkan mie ayam yang masih hangat itu pada Dewi. Walau terpaksa Dewi tetap memakannya. Sesekali ia meminum teh hangat.
"Makasih Ayang."
"Sama sama," jawab Dewa dengan senyum. Anak anak yang melihat ke arah keduanya itu diam diam tersenyum gemas. Bahkan ada yang iri dengan mereka.
Setelah menghabiskan satu porsi mie ayam bakso itu, Dewi mulai meminum obat kir****.
Dewi menatap Dewa yang sudah meminum obat itu, langsung membuang bungkus makanan yang tadi ia makan. Sedangkan Dewa masih menikmati mie ayam yang ia pesan.
"Mau lagi apa enggak?" tanya Dewa menawarkan bakso yang ada di bungkusnya.
"Aku udah kenyang Ay. Habiskan aja," jawabnya dengan tangan yang kembali ia lipat dibangku.
Dewa yang juga sudah lapar itu akhirnya menghabiskan mie ayam yang tadi ia pesan. Sesekali menatap Dewi yang memegang perutnya. Apakah wanita PMS akan sesakit itu?
Bersambung
Cewek aja PMS setiap bulan. Ngerasain sakitnya juga setiap bulan. Kenapa cowok sunatnya cuma satu kali?
******
Hai hai jangan lupa mampir ke novel teman Tya yukkkk↓↓
Judul : Un Familiar Brother
Napen : Kaka Shan
Kerumitan hidup membawa tiga saudara bermarga Natadisastra berurusan dengan seorang gadis dari kalangan biasa bernama Aleanska Nara. Rasa benci, obsesi, serta mencintai, membuat mereka harus berkorban, saling membohongi, bahkan saling menyakiti.
"Kembaran gue suka Kakak tiri gue, Kakak tiri gue suka adek gue. Cih, takdir Tuhan macam apa ini?"
__ADS_1