
Happy reading
Sampainya di rumah keluarga Dewi, Dewa tak sempat masuk karena masih ada sedikit urusan dengan anak Alaska.
"Yakin gak mau mampir?" tanya Dewi menatap Dewa yang masih berada di dalam mobil.
"Gak bisa sayang, aku ada urusan dulu," jawab Dewa dengan tangan yang mengelus rambut Dewi dengan pelan.
"Ya sudah kalau begitu, dijalan hati hati."
"Hmm, kamu juga harus hati hati ngadepin sikap Louis," ujar Dewa dengan senyum.
"Dia udah jinak kok," jawab Dewi menatap kekasihnya sebelum benar benar pergi.
Dewi tersenyum pada Dewa kemudian turun dari mobil itu. Dewi berjalan menuju rumah sedangkan Dewa langsung pergi dari area rumah itu.
"Kakak," teriak Louis dari atas tangga kemudian berlari saat melihat kakaknya datang.
"Kakak ipar mana?" tanya Louis pada Dewi.
Tak heran kenapa Louis menanyakan dimana Dewa, karena sejak pertama bertemu Dewa bisa langsung akrab dengan Louis.
"Dia pulang kenapa? Kakak kamu itu siapa sih sebenarnya? Aku atau Kak Dewa?" tanya Dewi mengajak adiknya itu menuju ke sofa ruang tamu itu.
Perbedaan umur mereka adalah 9 tahun sangat jauh bukan. Dimana dulu Dewi sangat mengidamkan untuk memiliki adik tapi saat keluar modelan seperti Louis ini ia harusnya berpikir dua kali.
"Kak Dewi kakak aku, tapi kak Dewa adalah superhero nya Louis," jawab Louis menatap kakaknya santai.
Untung stok sabar Dewi sangat banyak untuk menghadapai sikap tengil adiknya untuk berberapa hari ke depan.
"Oh ya Mama sama Papa bakal pergi berberapa hari. Dan selama mereka gak ada di rumah kamu harus patuh apa kata kakak," ucap Dewi menatap adik satu satunya yang sangat sulit diatur.
"Iya aku tahu, lagipula aku bukan anak kecil lagi yang bakal kabur dari rumah. Aku masih mau jalan jalan sama Vania," jawab Louis dengan santai bahkan saat ia masih 9 tahun saja sudah memiliki gebetan. Sungguh bocah bocah.
"Apa katamulah, kakak ke kamar dulu. Kalau kamu butuh apa apa panggil kakak atau pembantu hmm," ucapnya mengecup kening adiknya. Walau bagaimanapun Dewi tetap menyayangi adiknya.
"Kakak sayang kamu Dek. Walau kamu tengil banget jadi adik," ucap Dewi yang dibalas senyuman tampan oleh Louis.
__ADS_1
"Louis juga sayang kakak tapi lebih sayang kak Dewa," jawab Louis dengan santai.
Setelah mengatakan itu Louis langsung berlari menuju kamarnya, ia tak mau kakaknya mengamuk dengan dirinya.
"Dasar anak itu," gumamnya berjalan menuju kamarnya.
Dewi bisa dibilang beruntung dalam hal apapun, mulai dari keluarga yang menyayanginya, kekasih yang mencintainya, harta yang cukup untuk mereka hidup. Satu yang ia tak punya yaitu seorang kakak, ia ingin merasakan kasih sayang kakak yang sebenarnya walau Dewa bisa menjadi kekasih sekaligus kakak untuknya.
***
Tok tok tok
Pintu rumah Dewi itu diketuk dari luar padahal ada bel kenapa memilih ketuk pintu?
Dewa dan Louis yang sedang menonton tv itu langsung saling tatap. Siapa yang datang malam malam begini. Jam sudah menunjukkan pukul setengah 9 tapi kakak beradik itu belum juga tidur walau mata Louis tinggal berapa watt saja.
"Biar Kakak yang buka pintu kamu disini aja ya," ucap Dewi mengangkat kepala adiknya yang sedang tidur di pangkuannya itu.
"Oke."
Dewa berjalan menuju pintu utama, dan membuka pintu rumah itu. Dan betapa terkejutnya saat melihat yang datang ke rumahnya malam malam ini adalah Dewa, pria itu masih menggunakan jaket hitam kebanggaan geng Alaska. Sepertinya Dewa baru saja balapan, karena Dewi melihat motor sport kesayangan Dewa.
"Heem, dan aku menang. Nih buat kamu," jawab Dewa memberikan sebuket bunga dan juga dua box martabak manis kesukaan Dewi.
"Baru aja kemarin aku bilang jangan balapan, tapi kamu udah ingkar."
Dewa tersenyum dan masuk ke dalam rumah itu kemudian memeluk tubuh Dewi yang sangat menenangkan untuknya.
"Ada Louis jangan main peluk peluk," ujar Dewi dengan pelan. Ia tak mau adiknya itu melihat hal yang tidak tidak.
"Louis sudah tidur sayang," jawab Dewa menunjuk Louis yang sudah terlelap di karpet bulu itu.
"Oh iya, pantes gak ada suara sejak kamu masuk. Tolong angkat Louis ke kamarnya ya, aku mau simpan martabak ini. Makasih ya," ucap Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.
Dewa mulai mengangkat tubuh Louis menuju kamarnya sedangkan Dewi menuju dapur untuk menyimpan martabak itu. Dan sedikit ia bawa ke ruang keluarga untuk dimakan.
Setelah selesai menyimpan martabak manis itu, Dewi kembali ke ruang keluarga ternyata Dewa juga sudah berada disama. Dewi meletakkan martabak itu di meja dan duduk di samping Dewa.
__ADS_1
"Sekarang balapannya sama siapa?" tanya Dewi melepas jaket hitam yang menutupi kaos hitam milik Dewa.
"Masih sama, dia gak mau aku menang tapi apa boleh dikata. Kekasih kamu ini sangat pintar jika untuk tikus seperti Langit."
"Jangan menyepelekan sesuatu yang kamu anggap mudah, kadang kamu gak tahu orang itu akan mengunakan hal ini untuk menang," jawab Dewi mengelus rambut acak acakan itu dan dianggukkan oleh Dewa.
"Makasih buat nasehatnya, aku gak akan lagi menyepelekan sesuatu yang akan membuat aku menyesal," jawab Dewa menggenggam tangan Dewi dengan lembut.
"Terus hadiahnya kamu bagi sama anak anak kan?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.
"Udah masuk kas gang sayang, walau setengahnya masih di aku," jawab Dewa dengan pelan.
"Untuk beli bunga dan martabat itu tadi?" tanya Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.
"Sini aku suapin biar kamu juga merasakan rasanya martabak hasil dari kamu balapan," ucap Dewi mengambil sepotong martabak itu dan mulai menyuapkan ke mulut Dewa.
"Sini naik ke pangkuan aku, biar mudah menyuapinya," ujar Dewa menepuk pahanya.
"Modus ya bapak negara yang satu ini," ujar Dewi tetap naik ke atas pangkuan Dewa.
Dewi yang tadi tak tahu jika Dewa ingin kesini itu hanya memakai kaos oblong dan juga celana pendek saja.
"Sengaja ya buat aku mupeng kayak gini?" tanya Dewa dengan pelan saat tubuh mereka seperti menyatu.
"Enggak, lagian kamu gak bilang. Sini aku suapin."
Dewi menyuapkan satu potong martabak itu pada Dewa yang dengan senang hati menerimanya.
"Gimana rasanya?"
"Enak, apalagi yang nyuapi adalah wanita paling cantik setelah Mama," jawab Dewa dengan senyum manisnya.
"Cie yang salting," ucap Dewa menggoda Dewi yang tampak salah tingkah dengan ucapan Dewa yang mengatakan wanita paling cantik itu.
"Dewa udah ih."
"Kamu kesini sudah bilang Mama dan Papa belum?" tanya Dewi pada Dewa yang tanpa adik bermain dengan kancing gelang miliknya yang tak lain adalah gelang pemberian Dewa itu.
__ADS_1
"Emmm..."
Bersambung