
Happy reading
Tak terasa hari sudah mulai sore. Rencana para cewek untuk belanja ke supermarket tadi akhirnya terlaksana. Walau ada sedikit drama anak laki laki yang ingin ikut mereka tapi dengan tegas ditolak oleh Karolin dan Shasa karena mereka jomblo. Untungnya Beby juga menolak untuk diantar pacar mereka.
Dan disinilah mereka sekarang, disebuah supermarket yang ada di puncak. Hanya butuh 25 menit dari vila untuk sampai di supermarket itu.
"Mumpung kita disini sekalian beli jajan buat ngemil nanti yuk," ajak Beby yang sudah mendorong troli sedangkan Dewi juga membawa keranjang yang tadi juga ada di supermarket itu.
"Oke, gue juga mau beli sesuatu," jawab Karolin.
Sedangkan ketiga lainnya kini sedang memilih apa yang akan mereka beli. Mereka berbagi tugas, untuk mencari apa yang dibutuhkan nanti.
Beby, Karolin, dan Shasa berbelanja ke sebelah barat sedangkan Nafisah dan Dewi ke sebelah timur. Karena supermarket itu juga lumayan besar daripada terlalu lama di sana.
"Naf, menurut kamu daging ini lebih fresh yang mana?" tanya Dewi menujuk berbagai jenis daging yang berjejer disama.
"Yang ini Dew, masih kelihatan segar. Yang lain kayak udah pucat gitu," jawab Nafisah seraya mengambil daging yang ada disana.
"Bener sih, yang segar lagi biasanya ada di pasar. Apalagi kalau pagi," tambah Dewi mengambil apa yang sekiranya nanti di pakai.
"Wah kamu pernah ke pasar?" tanya Nafisah yang tak menyangka jika Dewi bisa tahu tentang pasar.
"Wah kamu gak tahu aja, aku pernah di diemin Dewa 1 minggu gara gara aku ajak dia ke pasar buat beli ikan," ucap Dewi bercerita tentang berberapa bulan yang lalu.
Ketika Bibi yang biasanya sedang sakit dan bahan makanan yang ada di rumah habis membuat Dewi mau tak mau Dewi harus menggantikan tugas Bibi sekalian jajan di pasar.
Dan yang menjadi tumbal adalah Dewa, Dewi meminta Dewa untuk menemaninya belanja di pasar. Sempat di tolak oleh Dewa tapi rayuan Dewi membuat pria itu mau. Apapun demi kekasihnya.
Sampai di pasar dulu, Dewa sudah tak kuat dengan bau ikan dan daging ayam yang bercampur jadi satu. Tapi kenapa Dewi bisa setahan ini.
Dewa sudah mual, berkali kali ia meminta Dewi untuk pulang tapi Dewi menolak karena belum selesai berbelanja.
__ADS_1
Setelah pulang dari pasar, Dewa terus muntah dan akhirnya Dewa menyalahkan Dewi karena sudah membuat ia trauma yang namanya pasar.
Mendengar cerita Dewi membuat Nafisah tertawa hingga membuat matanya sedikit berair.
"Gak nyangka seorang Dewa bisa anti yang namanya pasar. Padahal kan, Dewa itu orangnya cuek dengan apa yang terjadi," ucap Nafisah menghapus air matanya yang sedikit berair.
"Udah malah aku yang cerita, kita selesaikan dulu belanjanya baru kita mampir ke kafe yang ada di seberang sana."
Akhirnya mereka selesai belanja, padahal list mereka sedikit tapi mereka sampai memenuhi keranjang dan troli mereka. Bahkan yang menjadi bahan utama sampai tertutup dengan belanja yang lain.
Setelah itu mereka membayar belanjaan mereka, ralat hanya Dewi yang membayar karena dia yang membawa uang hasil iuran tadi.
Walau bisa saja Dewi sendiri yang bayar tapi, hal itu tak membuat mereka lepas tangan. Bagi mereka apa yang akan mereka lakukan nanti malam, mereka juga harus turut ikut serta.
"Wah banyak juga yang kalian beli," ucap Shasa melihat keranjang Dewi yang penuh.
"Hehehe lagi pengen beli aja, kan besok sore kita udah mau punya ke Jakarta," jawab Dewi sedangkan Nafisah tadi hanya membeli obat sariawan dan juga permen.
"Banyak. Ada kopi, teh, dan jajan lain buat nanti kalau kumpul," jawab Beby memperlihatkan barang belanjaan yang ada disana.
"Totalnya 2.256.700 ya kak," ucap mbak mbak kasir yang membuat Dewi mengeluarkan uang yang ada di dompetnya.
Dan kembalian 300 nya adalah permen dapat satu. Aishh kebiasaan memang, kalau gak ada kembalian pasti peremen. Bisa kali ya permennya kalau udah banyak dibuat beli barang.
Setelah itu mereka dibantu pegawai sana untuk memasukkan belanjaan mereka ke dalam mobil yang mereka bawa tadi.
Setelah mengucapkan terima kasih, Dewi dan teman temannya meninggalkan supermarket itu.
"Kita mau kemana lagi nih mumpung masih ada setengah jam buat jalan jalan," tanya Dewi yang sedang menyetir mobil Satya itu.
Karena di antara mereka yang bisa mengendarai mobil adalah Dewi dan Beby. Beby tadi sudah menyetir mobil saat berangkat. Sekarang gantian Dewi yang menyetir.
__ADS_1
"Ngikut aja aku mah, gak neko neko," ucap Karolin yang sedari tadi bermain ponsel.
"Gue ada rekomendasi bagus sih kalau sudah sampai sini. Buat lepas penat aja," ucap Beby yang memang sudah sangat sering berada disini dulu saat masih tinggal di vila bersama Nenek dan Kekeknya.
Dewi dan yang lain mengangguk kemudian, mulai mengikuti arahan Beby ke suatu tempat yang katanya bagus itu.
Akhirnya mereka sudah sampai di taman dengan pemandangan yang sangat membuat mata segar. Danau kecil ditengah tengah taman dan juga banyak bunga mawar yang terpasang disana membuat mereka juga betah disana.
"Bagus banget ini taman," celetuk Dewi saat sudah berada disana.
"Bener banget, Jakarta kalah kalau begini ceritanya," tambah Shasa yang sangat menyukai bunga mawar itu.
"Eits jangan di petik, semua bunga disini dilindungi Sha. Kamu tahu gak satu bunga disini bisa merubah semuanya," tanya Beby yang dijawab gelengan oleh Shasa.
"Kenapa gak boleh di petik, padahal kan bagus?" tanya Shasa dengan cemberut. Padahal ia ingin membawa bunga ini pulang, sangat indah dengan warna pinknya.
"Kalau kamu mau, disana ada yang jual. Kamu bisa beli sekalian bantu dia dengan kamu beli bunganya," ucap Beby menujuk sebuah toko bunga yang ada di pinggir jalan itu.
"Oke nanti aku beli," jawab Shasa dengan senyum. Sedangkan Nafisah sudah duduk di kayu yang memang disediakan untuk umum.
"Aku betah disini," ucap Nafisah pada mereka.
Ia jadi teringat pondok pesantren yang digunakannya dulu sebagai tepat menimba ilmu.
"Sama," jawab mereka.
Akhirnya mereka menghabiskan waktu yang tersisa 30 menit untuk menikmati pemandangan di taman itu.
Sedangkan di Vila para laki laki sedang kalut karena pacar pacar mereka belum pulang. Ingin menyusul tapi mengingat pesan cewek cewek tadi, akhirnya mereka hanya bisa menunggu dengan perasaan tak menentu. Apalagi Tama yang tahu istrinya sangat jarang berinteraksi dengan tempat baru.
Bersambung
__ADS_1