Dewi Untuk Dewa

Dewi Untuk Dewa
Apa Aku Murahan


__ADS_3

Happy reading


Dewi duduk di kasur menghadap ke jendela, ia jadi teringat dengan ucapan Mamanya dulu.


'Harga diri seorang wanita itu terletak pada *********** jika kamu pasrah jika di sentuh oleh seorang laki laki itu berarti kamu telah gagal menjaga harga diri kamu.'


"Apa aku sudah gagal menjaga harga diriku? Kenapa aku begitu bodoh hanya karena nafsu? Ya Allah maafkan aku, Mama Papa maafkan Dewi."


Dewi menangis entah kenapa ia jadi cengeng seperti ini. Hari yang sangat melelahkan, setelah mengetahui dalang dari tersebarnya video Dewa dan Dewi itu. Kini ia seperti wanita gampangan yang menerima begitu saja perlakuan Dewa.


***


Sedangkan Dewa yang baru selesai teleponan dengan anak buahnya itu langsung berjalan menuju kamar Dewi tapi sepertinya gadisnya itu sangat malu dengan apa yang terjadi tadi.


Pintu kamar itu terkunci hingga membuat Dewa mau tak mau hanya bisa membiarkan kekasihnya itu di dalam kamar.


"Sayang kamu gak apa apa kan?" tanya Dewa pada Dewi.


"Aku mau sendiri," jawab Dewi dari dalam, nadanya sangat memperihatinkan. Dan Dewa menyadari perubahan suara Dewi.


"Sayang buka pintunya, jangan buat aku takut," ucap Dewa lagi. Bahkan kali ini ia sedikit menggedor-gedor pintu kamar Dewi.


"Tinggalkan aku sendiri Dewa, aku ingin sendiri," teriak Dewi dari dalam yang membuat Dewa makin khawatir. Pasalnya Dewi jarang memakai panggilan nama padanya.


Dewa yang tak habis pikir itu langsung mencari kunci cadangan kamar itu. Tapi sayang banyak sekali kunci cadangan kamar di rumahnya. Ia tak mau sampai Dewi kenapa napa.


Akhirnya Dewa masuk ke dalam kamarnya dan mencari kunci kamar menuju kamar Dewi yang berhubung dengan kamarnya. Entah apa yang menyebabkan Mama dan Papanya mendesain kamar mereka itu. Tapi sekarang Dewa mensyukuri adanya pintu itu.


Dewa memberantakkan kamarnya hanya untuk mencari kunci kamar itu tapi kemana kunci sialan itu. Saat butuh saja Dewa sampai kelimpungan mencari kunci kecil itu.


Brak


Dengan sengaja ia melempar kotak yang ada di depannya. Hingga isi dari kotak itu berceceran di kamar itu.


"Sial sekali. Dimana kunci sialan itu," gumam Dewa yang sudah lelah marah marah terus.


Hingga tak sengaja Dewa melihat sebuah kunci yang digantung di paku yang tak jauh dari PPP pintu kamar Dewi.


"Kenapa gak bilang kalau lu ada disana," ucapnya kesal mengambil kunci itu dan mulailah membuka pintu kamar itu. Walau sedikit susah tapi alhamdulillahnya setelah berberapa menit pintu menuju kamar Dewi terbuka.


Dewa yang melihat kekasihnya berbaring menghadap jendela itu membuatnya tenang. Tapi tunggu kenapa tubuh Dewi bergetar seperti itu, sepertinya ada yang tidak beres.

__ADS_1


Dewa berjalan menuju dimana Dewi terbaring. Kemudian ia naik ke atas kasur. Dewi yang merasa ada pergerakan dari belakang itu langsung menoleh dan betapa terkejutnya Dewi saat melihat Dewa ada di belakangnya.


"Kok ada disini?"


"Kamu nangis gini, masa aku tega buat ninggalin kamu," jawab Dewa dengan senyumnya seraya menghapus air mata Dewi.


"Kenapa nangis lagi sih hmm? Kamu gak biasanya kayak gini. Apa karena ucapan Mama dan Papa tadi? Atau kamu masih kepikiran tentang ucapan Beby dan Satya tadi?"


Dewi menatap Dewa dan memeluk tubuh kekasihnya.


"Aku mau cepat nikah," pintanya dengan air mata yang kembali menetes.


Syok, bahagia, dan bingung.


Kenapa tiba tiba Dewi ingin menikah? Apa karena ucapan Mama Riska dan Papa Albert tadi?


"Memangnya kenapa kok cepet cepet mau nikah. Gak mau nunggu setelah kita lulus SMA aja, nanti kita langsung adain pernikahan serta resepsi sekalian," ucap Dewa serius. Ia tak bisa menanggapi hal ini dengan bercanda jika soal keinginan Dewi. Apalagi Dewi dalam keadaan menangis seperti ini.


"Gak lama kok tinggal 4 bulan lagi," tambah Dewa mengecup pucuk kepala Dewi.


Memang dia hanya bercanda saat mengajak Dewi menikah karena ia iri dengan Tama yang sudah menikah. Tapi jika seperti ini, ia tak bisa lagi bercanda, pasalnya Dewi sendiri yang meminta.


Diam!


"Ay."


"Hmm."


"Apa aku itu murahan?" tanya Dewi mendongakkan kepalanya kemudian menatap Dewa yang sedang memeluknya.


"Siapa yang bilang kamu murahan hmm? Minta di getok kepalanya pake palu toor kayaknya," tanya Dewa menatap Dewi yang tersenyum mendengar jawabannya.


"Mama Karina," jawab Dewi dengan pelan.


"Hah Mama Karina kok bisa ngomong gitu?" tanya Dewa menatap Dewi.


"Mama pernah bilang sama aku gini 'Harga diri seorang wanita itu terletak pada *********** jika kamu pasrah jika di sentuh oleh seorang laki laki itu berarti kamu telah gagal menjaga harga diri kamu' gitu dan aku berpikir apakah aku ini murahan karena aku mau saja kamu cium seperti tadi aku bahkan takut Mama Karina akan marah sama aku saat melihat video yang tersebar itu," jawan Dewi.


"Kamu gak murahan kok sayang, aku aja yang brengsek karena tidak bisa menahan na*suku sebagai seorang laki laki."


"Kamu juga gak gagal menjaga harga diri kamu, karena kita gak pernah berbuat lebih daripada ciuman. Aku kan sudah berjanji untuk tidak menodai kamu sebelum kita menikah," tambah Dewa yang di balas anggukkan oleh Dewi.

__ADS_1


Akhirnya Dewi bisa tenang, karena Dewa selalu memberikan hal hal positif walau kelakuan Dewa membuat ia selalu bernegatif thinking.


"Udah dong jangan nangis lagi, masa calon istrinya Dewa nangis lagi. Kan kamu cewek kuat, gak pernah kamu seperti ini," ujar Dewa mengelus rambut Dewi.


"Makasih udah bikin aku gak nangis lagi. Aku takut saja jika Mama Karina marah sama aku karena video itu."


Mama Karina dan Papa Daren tak pernah tahu tentang seberapa jauh hubungan mereka itu setahu Dewi, tapi siapa sangka jika Mama dan Papa bahkan tahu jika anak anak mereka sering tidur bareng.


"Sekarang kamu mau apa? Masih jam 6 loh, gak baik tidur waktu maghrib."


"Gak tahu mau ngapain, aku cape sama semuanya," jawab Dewi dengan pelan.


"Gak boleh gitu."


"Tapi semua siswa sekolah sudah tahu kalau kita ciuman. Aku malu," ucap Dewi.


"Kenapa mesti malu? Kita udah tunangan bahkan kalaupun kita melakukan hal yang lebih pun tidak ada yang akan bisa mengeluarkan kita karena apa? Papa Albert dan Papa Daren adalah salah satu donatur terbesar di SMA kita."


"Masa iya aku baru tahu."


"Karena kamu gak minat sama bisnis sayang, kalau kamu minat sama bisnis saham yang dimiliki Papa kamu itu bisa menjadi uang," jawab Dewa.


"Mas iya."


"Hmm."


"Oh ya aku mau ke puncak, mau ngefresh otak dan mata aku."


"Louis? Naila?"


"Mereka gak bisa ikut, tapi aku takut ngerepotin Mama dan Papa. Apa aku panggil bibi di rumah aja ya buat bantuin jaga Louis."


"Gak perlu karena Mama dan Papa senang ada Louis disini. Bahkan mereka sangat memanjakan adik kamu itu. Lihat saja nanti."


"Kenapa?"


"Karena Mama ingin anak cowok lagi dulu ya api yang keluar malah Naila."


"Ohhh."


"Nanti bantuin ngomong sama Mama dan Papa ya," pinta Dewi dan dianggukkan oleh Dewa.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2