
Dewi berjalan menaiki tangga. Kini ia sudah sampai dikampusnya. Ia berniat menemui seseorang sepertinya. Dengan muka yang tidak bisa ditebak namun yakin, begitu banyak pertanyaan yang akan dia lontarkan ketika ia bertemu dengan orang itu nanti.
Dia memasukki ruangan dengan tulisan di depannya Ruangan Dosen
Menyusuri pintu demi pintu dan akhirnya ia sampai didepan Pintu orang yang ia ingin temui. Tertulis dengan Jelas nama "Dewa Ramana Phd".
Tok. . . . Tok. . . . .
Dewi pov
Aku mengetok pintu Pak Dewa untuk menanyakan hal sebenarnya terjadi antara orang tua kami berdua. Aku tau ini sangat lancang namun, karena itu aku tidak bisa tidur semalaman dan sangat menyiksa batin serta fikiran. Perasaan tidak tenang. Kuberanikan Diri namun tetap dengan jantung yang berdegup kencang.
Tok. . . tok . . . . tok. . . .
Kuketok lagi pintu di ruangannya. Namun tak ada jawaban yang menandakan sang pemilik saat ini tidak berada di ruangan itu. Aku semakin tak tenang. Tiba-tiba ponselku berdering. Nomor tak dikenal. Kumatikan dengan segera. Beberapa menit kemudian kulihat Sebuah pesan singkat terbaca olehku.
"Dewi, temui saya di cafe ***** siang ini jam 14.00 wib. Ingat jangan terlambat! Ada yang perlu kita bicarakan"
Tanpa pikir panjang siapa itu. Aku sudah mengetahui siapa yang mengirim pesan itu. Tak mungkin ini kebetulan ini pasti sesuatu yang direncanakan. Siapa yang membohongi ku sebenarnya? dan, Siapa yang mempermainkan ku sekarang?
Tak heran memang kenapa dia bisa dapat nomor handphoneku begitu cepat. Dia kan Sang pemilik yayasan tempat ku Kuliah dan banyak Mahasiswi yang sangat menggilainya. Pasti jika mereka tau kalau aku akan di jodohkan padanya, pastinya jadi bahan gunjingan mereka habis-habisan. Disaat itu terjadi, kucoba untuk merasa tebal muka, telinga, dan hati saat itu. Toh, ini semua bukan mauku, tapi perjanjian Antara kedua orang tua kami dahulunya.
#Di cafe *****
Dewa Pov
Aku menunggu Calon Istriku datang. Lucu sekali aku mengatakannya calon istri. Jika kalian menanyakan apakah aku setuju dengan pernikahan ini?. Aku menyetujuinya. Kenapa begitu?. Jujur saja perjanjian yang dibuat mereka itu sungguh gila. Pertama, Papi akan memcoret ku sebagai pewaris tunggal dan segala nya akan berpindah kepada Fanda. Yang hanya sepupuku. Dan jujur saja aku merasa kalau dia bukan sepupuku, tetapi lebih tepatnya Musuh serta Sainganku sejak dulu. Dan yang kedua, Bagaimana mungkin jika kami tak menerima perjodohan ini maka akan digantikan oleh kedua anak kami, dan jika anak kami tidak mau menerima perjodohannya nanti, maka cucu kamilah yang akan kami ajukan perjanjian selanjutnya. Kenapa ini seperti kutukan? Bukan seperti permintaan. Membuatku Gila. Aku rasa dia juga sama, merasakan hal ini seperti kutukan bagi kami berdua.
Jam sudah menunjukkan pukul 13.50 wib. 10 menit lagi sebelum 14.00 wib. Membuatku deg-degan tak karuan.
Aku melihat dari kejauhan datangnya wanita yang sedari tadi kutunggu-tunggu. Dengan rambut panjang ikal bergelombang, jaket jeans, serta sepatu kets. Meskipun gayanya seperti wanita tomboi, tapi kuakui dia manis sekali. Tunggu sebentar Dewa. Kenapa aku jadi begini?. Ada apa ini?. Sudah 3 Tahun aku menjadi dosen nya yang benar saja. Masa baru sekarang aku merasakan yang tidak-tidak. Ah Dewa, kau memang sudah sangat gila.
__ADS_1
Author Pov
Dewi datang tepat jam 14.00 wib di cafe yang Dewa minta. Tanpa perlu di beri tahu keberadaannya, Dewi sudah melihat Dewa disana. Meski matanya sedikit sipit, pengelihatannya tajam. Semakin dekat melewati beberapa orang yang sedang duduk dan bercengkarama di cafe itu. Mereka pun kini saling berhadapan.
"duduk!" titah Dewa, Dewi pun segera duduk dan meletakkan tasnya di samping nya.
"Pak.." panggil Dewi. belum sempat melanjutkan Dewa sudah memotongnya.
"jangan panggil saya Pak jika kita sedang berdua dan di luar kampus,!" ucap Dewa khas dengan tatapan sinisnya.
Membuat Dewi terkejut dan mematung seketika. Namun ia coba menyembunyikan perasaan takut, dongkol, dan sedihnya seketika.
"Baca ini!" titah Dewa sambil melemparkan map biru. Yang berisi beberapa lembar surat yang sepertinya Dewa meminta Dewi untuk membacanya dengan detail.
"Baik, Om !" ucap Dengan polosnya. Seketika mata Dewa membulat dengan panggilan yang Dewi layangkan dari Bibir nya itu.
"Kamu bilang aku apa tadi? ulang Dewa
"singkirkan panggilan itu jika kau tak mau berurusan lebih panjang dengan ku!" hardik Dewa. Menatap Dewi dengan penuh kekesalan.
"cepatlah membacanya. Setelah itu tanda tangan lalu pergilah dengan segera. Sudah cukup sering melihatmu. Jadi, segeralah berlalu." ocehan demi ocehan Dewa tumpahkan untuk Dewi dengan nada yang kasar. Dewi hanya menatap malas dan melanjutkan membaca.
beberapa menit kemudian..
"Dewi, kamu sudah membaca perjanjian nya bukan?. Aku akan menjelaskan nya dan kau hanya. . .
ditengah-tengah percakapan mereka tiba-tiba Dewi memotongnya. Tidak sopan memang memotong pembicaraan orang. Tapi asal tau saja, dia melakukan itu dengan terpaksa agar mereka fokus saja pada perjanjian mereka nantinya. Bukan perjanjian orang tua mereka.
" Maaf pak, Eh maksud saya Mas Dewa. Saya sudah tau isi semua perjanjian yang dibuat orang tua kita. Namun, disini saya ingin kamu juga harus mendengarkan permintaan dan menyetujui perjanjian baru yang kita buat setelah kita menikah nantinya." Tanpa protes Dewa langsung mengangguk tanda mengerti perkataan Dewi.
"Ada yang ingin saya tanyakan?" Ujar Dewi ditengah-tengah kalimat yang membuatnya terhenti saat ia membacanya.
__ADS_1
"silahkan!"
" Disini tertulis bahwa Istri boleh melakukan apapun atas izin dari Suaminya. Jujur saja, ini membuatku risih. padahal kan kita melakukan ini bukan atas kehendak sendiri. Melainkan orang tua kita masing-masing. . . " Dewi terus melontarkan kalimat protes hingga membuat.wajah Dewa menjadi merah padam. Menandakan ia kesal atas kalimat yang Dewi lontarkan seolah tidak terima statusnya sebagai istrinya nanti.
"Berhenti!" gertaknya dengan suara sedikit lebih keras membuat sebagian orang memperhatikan kedua pasangan itu. Dewi hanya terdiam sambil memandangi Dewa dengan tatapan takut.
Dewi Pov
"Berhenti!" teriak Dewa saat aku terus menerus tak terima akan isi surat perjanjian ini. Belum lagi ada ku baca bahwa Aku harus melayaninya sebagai seorang istri pada umumnya. Tunggu Dewi... kau sama sekali tidak mencintainya. Jika ia meminta hal-hal yang aneh bagaimana? kan kaget langsung aku.
"Baiklah jika kau mau anak kita bertemu 20 tahun dari sekarang tidak apa-apa aku bisa saja menurutinya!" Ucapannya dengan nada penuh amarah sekarang. Aku mulai takut. Ini saja belum menikah. Bagaimana jika aku menikah nanti.
"hmmm. . . " aku menghela nafas dalam. Sambil menunjukkan wajah penyesalan atas ucapanku beberaoa menit lalu.
"Maafkan Aku, aku terlalu banyak bicara dan tidak menghargaimu. Baiklah aku akan menyetujui semua perjanjian ini." Ucap dewi sambil menatap Dewa dengan wajah pasrahnya.
Dewa Pov
Hmmm....
Kudengar dia menarik nafas panjang. Dengan wajah yang sepertinya merasakan ketakutan akan bentakan ku barusan. Dia memberanikan diri melihatku.
"Maafkan aku, aku terlalu banyak bicara dan tidak menghargaimu. Baiklah aku akan menyetujui semua perjanjian ini." ucapnya. Aku sungguh suka melihat seseorang menuruti kemauan ku.
.
.
.
.
__ADS_1
BERSAMBUNG