
Happy reading
"Zi, mau makan ini gak?" tanya Karolin menyodorkan daging dan sosis yang tadi ia bakar dengan bumbu yang sudah disiapkan bibi.
"Boleh deh Kar, enak bumbunya aku suka," jawab Ozi yang sudah duduk bersila beralaskan tikar yang mereka gelar tadi.
"Kenapa kalian itu gak pacaran aja? Udah cocok kok ya gak?" tanya Andra pada teman temannya.
"Bener banget, kalian sama sama cocok kalau mau pacaran aku juga dukung kok," tambah Shasa yang memang tahu jika Karolin suka dengan Ozi.
"Enggak kita cuma teman aja kok," jawab Ozi yang tanpa sadar sudah menyakiti hati Karolin.
Ozi berpikir jika Karina tak suka dengan pembahasan ini. Bahkan Dewa dan Dewi yang sedang makan di bawah pohon itu juga bisa tahu jika Karolin itu sebenarnya sedih mendengar jawaban dari Ozi. Tapi mereka hanya bisa diam tak mau ikut campur tapi jika memang sudah terlalu membuat Karolin sakit maka Dewa dan Dewi bisa turun tangan.
"Iya, kita cuma teman," jawab Karolin dengan pelan.
Kenapa sih perempuan itu selalu mengutamakan hati dan perasaan daripada pemikirannya. Jujur saja Karolin sakit hati dengan apa yang diucapkan Ozi tadi.
Setelah memakan makanan yang tadi ia bawa. Karina izin pada mereka untuk masuk ke dalam kamar karena lelah.
"Gaes gue udah kenyang, gue ke kamar dulu ya mau tidur," pamit Karolin pada mereka.
Shasa yang melihat sahabat menjauh itu langsung mengejarnya tanpa pamit pada mereka. Mereka juga bingung dengan kepergian mereka.
"Apa kamu sepemikiran denganku ay?" tanya Dewi menyuapkan sosis bakar itu pada Dewa.
"Heem."
Suasana malam makin dingin dan Dewi ak bisa lama lama di luar. Ia takut demamnya kambuh karena terlalu kedinginan.
"Gue malam ini tidur sama Dewi di kamarnya, lu sama Beby di kamar aja. Ja.gan ganggu gue," bisik Dewa pada Satya yang sedang memakan stick itu.
"Dasar, tapi gue setuju," balasnya mengangguk.
Dewa mengajak Dewi untuk masuk ke dalam vila. Ia tak mau kekasihnya sakit lagi, bukan karena ia tak mau merawat tapi karena Dewa tak ingin Dewi merasakan sakit berulang.
***
__ADS_1
"Udah jangan nangis lagi, Ozi itu gak berperasaan memang. Udah jangan nangis gue nanti ikut nangis loh," ucap Shasa memeluk tubuh Karolin yang terus bergetar karena tangis yang tak kunjung mereda.
"Gue sakit hati Sha, Ozi gak pernah lihat cinta gue. Gue lelah mencintainya dalam diam. Jangankan dalam diam aku dekati saja dia pergi. Apa aku segitu jeleknya sampai laki laki itu tak mau melirikku?" tanya Karolin menangis di pelukan Shasa.
"Enggak kok, kamu gak jelek. Kami cantik Kar, siapa juga yang bilang kamu jelek hmm? Udah ya jangan nangis lagi, nanti kalau mas ksmu gede gede Mama sama Papa kamu malah nyalahin aku."
"Tapi ini sakit Sha, sakit."
"Laki laki gak cuma Ozi aja, banyak kok laki laki baik yang mau sama Lo."
"Tapi gue sukanya sama Ozi, bukan cowok lain."
Shasa paling tahu Karolin sejak jaman SMP sampai sekarang. Bahkan Shasa kadang sedih melihat Karolin yang sedih karena kadang melihat laki laki yang dicintainya harus jalan dengan perempuan lain.
"Cup cup cup udah jangan nangis-nangis lagi, dulu kamu bilang laki laki gak cuma satu. Tapi kenapa kamu gak bisa move on?" tanya Shasa pada Karolin.
Karolin yang mendengar itu perlahan mengurangi tangisnya. Ia menatap Shasa yang tersenyum lembut kepadanya. Hanya Shasa yang mampu memahaminya.
"Karena aku mencintai dia, Sha. Aku sudah lama mencintai dia bahkan aku menolak banyak laki laki demi dia," jawab Karolin kembali menangis.
Biasalah cewek kan orangnya perasa banget, bahkan mereka lebih mengutamakan perasaan daripada logikanya.
Karena apa? Karena Karolin sangat memuja pria tampan. Tadi tetap V BTS tetap nomor satu.
Dan benar saja, setelah memperlihatkan foto itu Karolin langsung bangun dan mulai melihat foto itu.
Gadis yang baru saja menangis itu seketika langsung berbinar. Karena melihat laki laki tampan di hadapannya itu.
Tanpa mereka sadar jika sedari tadi. Ada dua seseorang telinga yang mendengar perbincangan mereka.
***
Sedangkan di tempat lain Dewa dan Dewi sedang berada di kamar mandi untuk menggosok gigi dan juga mencuci kaki mereka.
Dewa menggosok gigi seraya melihat Dewi yang ada di depannya itu. Jangan lupakan tangan kirinya yang memeluk perut kekasihnya agar tidak kabur.
Setelah selesai dari kamar mandi Dewa menggendong Dewi ala koala dan membaringkan tubuh Dewi di kasur empuk di kamar yang tadinya untuk Dewi dan Beby.
__ADS_1
Dewa langsung menindih tubuh kekasihnya dan menatap Dewi dengan lembut. Ia masih ingat akan ucapan Dewi tadi siang.
"Kamu berat ih, sana minggir aku mau bobo," ucap Dewi dan mulai malu dengan tatapan Dewa.
"Kamu mau ingkar janji?"
"Enggak tapi aku malu, Ayang. Aku gak pernah memperlihatkan tubuh aku dengan siapa pun," ucap Dewi menahan nafasnya.
"Ayo pengen sayang, aku juga laki laki normal. Bisa saja aku mencari kepuasan yang lain, api tak aku lakukan karena aku sangat menghormati dan mencintaimu," ucap Dewa mulai menyingkir dari tubuh Dewi.
Dewi tahu, mereka masih remaja yang masih sangat labil dalam percintaan ini. Mereka masih mencari jati diri dalam diri mereka, Dewi tak bisa memungkiri jika ia juga menginginkan sesuatu yang lebih tapi ia ingat pesan Mama dan Papanya.
Dewi menatap Dewa yang berbaring membelakanginya. Ia sudah janji dan ia tak akan mengingkari janji yang ia buat.
Dewi mulai mengelus dadanya karena berdetak kencang. Dewa memang terlihat keras dan dingin jika di luar tapi beda jika bersamanya yang akan mudah ngambek.
Dewi menatap punggung dewa itu kemudian ia memeluk tubuh Dewa dari belakang. Tapi tangannya itu masuk ke dalam kaos itu. Badan Dewa selalu menghangatkan dirinya.
"Kamu marah hmm? Masa calon suamiku gampang ngambekkan?"
Dewi yang tak mendapat respon dari Dewa itu mulai mengelus perut yang sangat ingin ia sentuh.
Dewa yang tak tahan itu langsung membalikkan badannya dan menatap mata Dewi yang sangat indah jika dipandang dari dekat.
"Kata kamu janji harus ditepati," ucap Dewa yang membuat Dewi mau tak mau hanya mengangguk pelan.
"Serius boleh?"
"Iya tapi jangan bilang siapa siapa, aku malu," jawab Dewi dengan wajah memerah.
"Gila apa aku bilang bilang sama orang lain kalau mereka pengen gimana?" tanya Dewa.
Dengan perizinan Dewi, Dewa mulai membuka baju yang dipakai Dewi dan meminta Dewi untuk membuka pengait br* itu.
"Wow, apa seperti yang namanya kenik**tan?" batin Dewa menatap apa yang ada di depannya itu.
Bersambung
__ADS_1
Tahan tahan masih ada satu bab nanti.